Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Hidup Indah (Bonus Chapter)


__ADS_3

"Kenapa kamu nangis?"


Arka bertanya pada istrinya yang tiba-tiba saja mengeluarkan air mata, saat menatap Azka dan Afka yang tengah merayap kesana kemari.


"Aku sedih, Ka. Ngeliat mereka." jawab Amanda.


"Loh, sedih kenapa?" tanya Arka heran.


Amanda menyeka air matanya dengan tissue.


"Sedih mikirin masa depan mereka?" tanya Arka lagi.


"Bukan itu, sedih karena mereka cepet banget gedenya. Nggak bakal ada lagi hoaya-hoaya, ehe-ehe yang aku denger nantinya, kalau mereka udah umur dua tahun ke atas."


Kali ini Arka terkekeh, ia memperhatikan Azka dan Afka yang masih berkeliaran. Ada perasaan emosional dalam dirinya kini. Jujur apa yang dikatakan Amanda barusan, cukup mengusik pikiran pria itu.


Sebentar lagi Azka dan Afka akan segera memasuki tahun pertama, dari hitungan usia sejak mereka dilahirkan. Arka ingat bagaimana pertama kali mengetahui Amanda hamil, mereka bahkan nyaris tak teraba di dalam perut ibu mereka.


Lama kelamaan seiring berjalannya waktu, kedua anak itu tumbuh dalam rahim sang ibu. Arka selalu memantau perkembangan mereka dan selalu memberikan kasih sayang serta perhatian, dalam proses tumbuh kembang mereka di dalam kandungan.


Lalu kedua bayi itupun lahir dalam suasana yang penuh emosional. Arka menyaksikan sendiri dan turut menyambut kedua anak itu ke dunia.


Kini dalam hitungan bulan mereka tumbuh begitu cepat. Meski repot, namun masa-masa bayi mereka adalah masa dimana penuh kelucuan tersendiri. Bagi orang tua muda seperti Arka dan Amanda.


Kini dihadapan matanya sendiri pula, Arka mengakui jika apa yang dirasakan oleh Amanda adalah perasaan senang sekaligus sedih.


Senang karena mereka tumbuh dengan baik, namun sedih karena mereka akan segera kehilangan momen-momen paling menggemaskan dalam hidup mereka.


Hoaya akan terganti dengan kata papa ataupun mama, dan juga kata-kata yang lainnya. Sedang ehe akan berganti menjadi tawa yang lebih riang.


Amanda menyudahi tangisnya, Arka merangkul wanita itu seraya masih memperhatikan Azka dan Afka.


"Kita harus kasih mereka banyak waktu, sebelum mereka makin gede." ujar Arka.


Amanda pun mengangguk.


"Iya, Ka." jawabnya kemudian.

__ADS_1


"Hoayaaa."


Azka duduk dan menggigit bola kecil yang ia temukan, Arka dan Amanda tersenyum. Arka menarik istrinya untuk duduk di lantai, persis didekat kedua anak kembar itu.


"Main yuk!" ujar Arka seraya mengambil bola di tangan Azka, lalu duduk berseberangan dengan Amanda. Namun dengan posisi yang cukup jauh.


Arka lalu menggelindingkan bola tersebut ke arah Amanda, Amanda kemudian menangkapnya. Si kembar memperhatikan, lalu dalam sekejap, mereka mengejar bola tersebut.


Amanda menggelindingkan bola itu kembali pada Arka. Afka dan Azka merayap mengejar ke arah ayah mereka dan begitupun sebaliknya.


"Hoayaaa."


"Eheeee."


Kedua anak itu kesenangan, namun tak jarang juga mereka gusar. Kadang mereka semangat mengejar, kadang pula hanya duduk diam dan melengos. Seperti marah pada kedua orang tua mereka dan enggan melakukannya lagi. Arka dan Amanda pun jadi tertawa-tawa.


Hari demi hari berlalu. Amanda dan Arka kini jadi lebih sering merekam momen kebersamaan mereka dalam video singkat di handphone. Meski tak menguploadnya di media sosial dengan alasan privasi.


Ia dan Arka ingin menjadikan semua itu sebagai kenangan suatu saat nanti, ketika Azka dan Afka dewasa kelak. Saat mereka telah memiliki kehidupan sendiri dan mungkin sudah tidak tinggal lagi bersama kedua orang tua mereka.


Arka berujar pada Amanda di suatu siang.


"Apaan solusinya, direkam hoaya nya?" tanya Amanda.


"Iya bener, aku udah rekam banyak suara hoaya mereka."


Arka memperdengarkan hal tersebut pada Amanda, wanita itu pun tertawa.


"Ka, Ka. Ada -ada aja kamu." ujarnya kembali tertawa.


"Ada satu lagi solusinya." ujar Arka seraya memeluk Amanda dari belakang.


"Apa?" tanya Amanda penasaran.


Arka menghela nafas, lalu menyingkap rok kerja Amanda dan tanpa aba-aba langsung melakukannya. Amanda terkejut, namun ia tak bisa memberontak lagi. Karena posisi Arka kini telah siap didalam. Agaknya pemuda itu sudah mencuat sejak tadi.


Dalam hitungan detik, Amanda sudah menghadap ke dinding dan Arka melakukannya dengan penuh keperkasaan. Solusi kedua yang ia lakukan adalah, memberi bayi lagi pada Amanda.

__ADS_1


Ketika keduanya mencapai puncak, Arka menarik istrinya untuk duduk dipangkuan. Kini mereka berdua berada di sofa dengan nafas yang memburu.


"Ini solusi kedua, biar kita tetep bisa dengerin hoaya. Kalau anak dua itu udah gede. Aku bikinin kamu adeknya mereka.


"Iya kalau mereka suaranya hoaya juga, kalau beda gimana?" tanya Amanda.


Arka tertawa, yang jelas misi me and sum-nya kali ini berhasil. Ia telah mendapat kenikmatan yang tiada tara rasanya.


"Hoayaaa."


Terdengar suara Azka dan Afka dari dalam kamar mereka.


"Tuh dipanggil, Ka." ujar Amanda kemudian.


"Ya udah kita buruan mandi, yuk. Sebelum mereka ngamuk." tukas Arka.


Tak lama setelah itu mereka mandi, dan menyambangi kamar si kembar. Mereka memandikan Azka dan Afka karena ini sudah sore, lalu sama sama Arka dan Amanda menyuapi kedua anak itu.


Usai makan dan beristirahat sejenak, mereka mulai diperbolehkan untuk bermain. Arka dan Amanda menemani mereka, kebetulan setiap pekerjaan selalu mereka usahakan untuk dikerjakan di kantor saja. Agar dirumah mereka punya waktu lebih untuk anak-anak.


Sebab berinteraksi dengan anak itu sangat diharuskan. Penting bagi mereka untuk merasa dicintai dan diperhatikan oleh orang tua mereka.


***


Sementara itu YouTube Rio mulai berkembang, sudah bertambah beberapa ribu orang lagi yang menjadi subscriber kanal miliknya.


Tentu saja Rio amat sangat senang dan makin menyusahkan teman-temannya. Kali ini merambah Robert dan anak manajemen lain yang jadi korban.


Mereka pun rata-rata tak bisa menolak Rio meski dongkol. Karena Rio terkenal sebagai orang yang juga selalu siap sedia jika membantu teman-temannya.


Hidup mereka semua berjalan dengan baik, Arka dan Amanda masih sering mengunjungi orang tua mereka. Kadang ke rumah ibu dan ayah tiri Arka, kadang menjenguk Amman, kadang pula menginap dirumah Ryan.


Nino mengajak Arka dan Ansel membuka sebuah bisnis, namun hal tersebut saat ini masih diperbincangkan secara serius oleh mereka.


Mengingat mereka bertiga sama-sama sibuk, ditambah Ansel yang getol mempelajari cara beribadah karena ingin menikahi Intan. Meski Intan nya sendiri masih abu-abu mengenai pernikahan.


Amara belakangan sering sakit, Vera cukup stress dan nyaris terkena baby blues. Namun Amanda kemudian menyarankan Vera untuk berkonsultasi pada ahli, dan ia mencarikan baby sitter untuk Amara. Agar Vera tak begitu pusing mengurus bayinya itu.

__ADS_1


__ADS_2