Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Semenjak mengenal Ryan sebagai ayahnya, baik Arka maupun Amanda lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua itu. Hingga mereka pun sedikit jarang bertemu, maupun berinteraksi dengan ibu dan ayah tiri Arka.


"Mas mu udah lama nih nggak nginep." ujar Ibu Arka pada Rianti, di suatu sore.


"Iya, ya bu." Terakhir hampir sebulan lalu loh." ujar Rianti sambil menyapu lantai rumah.


"Iya, mas mu sibuk kali, Ti." ujar ibunya lagi.


"Iya, bu. Secara mas Arka juga lagi nyusun skripsi, deadline nya udah bentar lagi."


"Mas mu skripsi nya udah mau jadi?"


"Paling juga dikit lagi, bu." ujar Rianti lagi.


"Udah nggak sabar liat mas mu lulus dan di wisuda."


"Iya, bu. Mudah-mudahan skripsinya mas Arka cepat selesai dan nggak mengulang."


"Iya, Ti. Ibu juga sebenarnya ngerti kalau mas mu sibuk, tapi kadang suka kangen sama si kembar. Walaupun mbak Amanda mu selalu WA ibu, ngasih foto dan video kegiatan si kembar. Tetap aja ibu kangen."


"Iya, si kembar udah aktif banget sekarang." ujar Rianti.


"Iya, ngoceh terus. Hoaaaa, hoaaaa. Kalau kita deketin."


"Kayak mau ngajak ngobrol ya, bu."


"Iya, bayi jaman now, Ti. Tingkahnya udah kayak orang gede."


Ibu Arka dan Rianti sama-sama tertawa.


***


"Amanda."


Ryan menelpon Amanda di suatu malam.


"Iya kenapa, dad?" tanya Amanda pada ayah mertuanya itu.


"Besok anak-anak kamu boleh dibawa ketempat daddy?. Daddy kangen sama mereka."


"Oh, mmm, boleh-boleh dad. Emangnya daddy nggak kerja besok?" tanya Amanda lagi.


"Besok daddy dirumah, pengen main saja sama mereka."


"Ya udah, besok Amanda suruh orang nganterin mereka kesana."


"Ok, jangan nggak ya."


"Iya, dad. Paling mereka diantar sama supir dan pengasuh besok."


"Kalian kerja?" tanya Ryan.


"Iya, besok Amanda sama Arka masih kerja."


"Ok, daddy tunggu ya besok."


"Ok."


"Bye."


"Bye."


Amanda menutup telpon.


"Siapa yang nelpon?" tanya Arka yang baru keluar dari dalam kamar mandi.


"Daddy Ryan."


"Kenapa, daddy?"

__ADS_1


"Minta anak-anak besok ketempat dia."


"Kan besok kita kerja."


"Ya kan yang mau pergi kesana si kembar, bukan kita." ujar Amanda seraya tertawa.


"Iya juga sih, besok kita nganterin mereka dulu gitu?"


"Minta Anita atau Lastri sama pak Darwis aja lah yang nganterin, biar si kembar di urus dan dimandiin dulu disini. Masa ke kakeknya pada bau tai, mereka kan suka berak kalau pagi."


Amanda dan Arka kini terkekeh.


"Iya, kalau berak udah bau banget, Man. Apalagi si Afka tuh, kayak abis makan sampah."


keduanya sama-sama tertawa.


"Padahal aku makan nggak sembarangan loh, ASI aku juga bagus."


"Itu mah dasar anaknya aja, terlalu banyak bakteri baik kali dalam ususnya."


Lagi-lagi keduanya tertawa. Mereka sejenak menyambangi kamar si kembar, dan bercengkrama dengan mereka. Sebelum akhirnya mereka diberi ASI lalu terlelap.


"Man." ujar Arka ketika pintu kamar anak-anak mereka telah ditutup.


"Apaan?" tanya Amanda seperti gusar, namun penuh tawa. Ia tau isi kepala Arka malam ini.


"Man, man, man. Taman?" selorohnya lagi.


"Firman dong." ujar Arka seraya tersenyum. Ia mendekat dan memeluk Amanda dari belakang, ada sesuatu yang mengeras dibawah sana.


"Arka, kamu tuh ya. Kalau misalkan beranak itu bisa tiap hari, udah tiap hari kali aku hamil dan beranak gara-gara kelakuan kamu."


Arka tertawa.


"Abis gimana dong, kamu nya cantik banget. Kalau ngeliat kamu rasanya pengen aku, Hmmh, hmmh, hmmh in tiap hari."


Amanda tertawa, ia kini menoleh pada suaminya itu. Perlahan tangannya mulai menyentuh bagian yang tadi mengeras.


Arka kini mengatur nafas, menikmati setiap jengkal sentuhan Amanda yang halus dan lembut. Amanda mulai mencium bibir suaminya itu, sementara Arka melakukan hal yang sama.


"Aku sayang kamu, Amanda." ujarnya kemudian, ia lalu kembali berciuman dengan wanita itu.


Amanda melepaskan kancing yang ada dibawah, lalu ia pun mulai merendahkan tubuhnya hingga menghadap pada milik Arka. Yang sudah siap menerima segala sentuhan kenikmatan dari bibirnya.


"Hmmh."


Arka mulai tak karuan, ketika istrinya itu perlahan memberinya kesenangan.


"Amanda, hmmh."


Amanda terus melakukannya sampai Arka benar-benar tidak tahan. Ia lalu menarik istrinya itu lalu merebahkannya ke atas sofa, yang tak jauh dari sana. Dikecupnya seluruh tubuh Amanda hingga wanita itupun meracau tak karuan.


Satu demi satu helai benang yang menutupi keduanya mulai dilucuti. Hingga mereka kini tak memakai apa-apa.


Arka menindih tubuh istrinya itu, seraya terus memberi kecupan dan sentuhan dimana-mana. Sampai kemudian, Amanda merasakan sesuatu melesak dibawah sana. Masuk menerobos liangnya hingga penuh sesak.


"Aaakkh." Keduanya mengerang nikmat.


Arka pun mulai memberi tusukan-tusukan yang membuat istrinya kian meracau.


"Arka, aku sayang kamu."


"Aku sayang kamu, hmmh, Arkaaaa."


"Iya sayang, aku juga. Hmmh."


"Aku sayang kamu, Amanda."


Irama-irama penyatuan pun terdengar. Berbarengan dengan ******* demi *******.

__ADS_1


"Ssssh."


"Haaaah, cantik banget sih kamu. Sayaaang, hmmh."


"Ah, ah, Arkaaaa. Hmmh."


"Amanda sayang, hmmh."


Keduanya berganti-ganti posisi dan bermain cukup lama seperti biasa. Hingga disuatu titik, keduanya pun terhempas dengan teriakan yang sama panjang.


"Huuuh." Mereka kini terbaring, dalam posisi saling berpelukan satu sama lain.


Esok paginya, mereka berangkat ke kantor seperti biasa. Si kembar pun berangkat kerumah kakek mereka beberapa saat setelah ayah dan ibu mereka berangkat. Keduanya diantar oleh Anita dan juga pak Darwis, setelah dimandikan dan diberi ASI.


Ryan mengasuh cucu-cucu nya hari itu, ia tak begitu keberatan karena terbiasa mengurus Ansel dari kecil.


Awalnya si kembar agak takut pada Ryan, namun setelah beberapa saat mereka akhirnya lengket juga. Si kembar adalah tipikal bayi yang sangat mudah akrab terhadap orang lain.


Amanda pernah mengatakan pada Arka, jika sifat anak mereka ini membuat mereka rawan penculikan.


"Sok ramah banget ini anak dua." ujar Amanda saat itu pada suaminya.


"Sama siapa aja, mau. Ntar di culik orang loh, dek. Cakep begini kalian, mau orang beli kalian mahal. Dijual sama orang yang nggak punya anak." lanjut Amanda lagi. Sementara Arka dan para bayi hanya tertawa.


Waktu berlalu. Ketika semua pekerjaan selesai, Arka dan Amanda pun kini ingin menjemput si kembar. Namun Ryan mengatakan, jika ia tengah mengajak cucu-cucunya itu berjalan-jalan di sebuah taman. Ada Ansel dan Nino juga yang tengah menuju kesana.


"Ya udah, nanti kami kesana." ujar Arka pada ayahnya itu ditelpon.


"Ok." ujar Ryan kemudian.


Tak lama setelah itu, Arka dan Amanda menyambangi taman yang dimaksud. Sebuah taman yang cukup luas, dipenuhi pepohonan dan juga bunga-bunga. Ada sebuah danau buatan disana. Taman itu dibangun diatas tanah, yang masih menjadi wilayah dari apartemen yang kini ditempati Ryan.


Ketika sampai, Arka dan Amanda melihat Ryan yang tengah menggendong kedua cucunya di kanan dan kiri. Ryan bertubuh tinggi besar dan masih atletis. Hingga ketika ia menggendong si kembar, tampak seperti tengah menggendong dua boneka.


"Sama siapa ini?" tanya Arka kemudian. Ia hendak menyambut salah satu anaknya, namun bayi itu malah melengos dan terus memeluk kakeknya.


"Baru sehari dek, udah nggak mau sama papa."


Amanda tertawa, begitupula dengan Ryan. Tak lama kemudian Ansel dan Nino pun datang. Mereka berbincang sejenak di taman tersebut, lalu Ryan mengeluarkan ide yang brilian.


"Kita makan bareng yuk." ujar pria tua itu kemudian.


"Ayok." ujar Ansel antusias.


"Hmm, dia mah makan nomor satu." Ryan menoyor kepala Ansel. Semua yang ada disana pun tertawa, termasuk si kembar.


"Eheeee." ujar mereka kemudian.


"Dih, ikut ketawa." Ansel menggoda keponakannya, lagi-lagi mereka semua tertawa.


Mereka lalu pergi makan bersama sore itu. Meskipun agak sedikit kerepotan, karena si kembar tak mau jauh dari Ryan. Masing-masing dari mereka ingin terus digendong. Terpaksa Ryan mengalah dulu dan membiarkan anak-anak serta menantunya untuk makan.


Sebenarnya Amanda tak enak, ia sudah menawarkan diri untuk menggendong si kembar dan membiarkan Ryan makan. Namun Ryan menolak.


"Udah, udah. Kalian makan dulu saja, habis itu gendong mereka dan daddy makan." ujar Ryan kemudian.


"Santai aja makannya, nggak usah buru-buru." lanjut Ryan lagi.


Amanda dan Arka pun lanjut makan, Nino selesai duluan dan menggendong Azka. Kebetulan sekali Azka mau diambil dari gendongan Ryan. Sementara Afka masih bertahan, ia akan menangis jika ditarik paksa.


Sampai kemudian, Arka selesai dan mengambil Afka. Afka menangis berteriak, Arka pun membawa bayinya itu agak menjauh. Ryan makan dengan perasaan yang tak tega, mendengar tangisan cucunya itu. Tak lama Amanda pun selesai dan mendekat ke arah Afka, lalu menggendongnya.


***


"Arka, Amanda."


Tiba-tiba ibu Arka muncul dihadapan anak dan menantunya beserta Ryan, Ansel dan Nino. Seketika Arka, Amanda dan Ryan pun terkejut. Sementara Nino dan Ansel hanya saling memandang, karena tak mengerti apa-apa.


"I, ibu?"

__ADS_1


Arka dan Amanda berujar diwaktu yang nyaris bersamaan. Perlahan suasana pun seperti dipenuhi kabut tebal.


__ADS_2