
Cintara masih mengurung diri dikamar, sudah beberapa hari ini ia bahkan tak menampakkan batang hidungnya. Jangankan pergi ke kantor, keluar untuk makan bersama kedua orang tuanya pun tidak.
"Cintara, kamu mau sampai berapa lama didalam sana."
Putra berbicara di muka pintu kamar anaknya, namun gadis itu tak menjawab sepatah katapun. Ia masih betah duduk di lantai, dengan wajah kusut serta rambut yang acak-acakan.
Bahkan matanya tampak begitu sembab. Ia telah menangis sejak hari dimana Arka mengadakan konferensi pers, dan mengakui jika Amanda adalah istrinya yang sah dimata hukum maupun agama.
Belum lagi penolakan di telpon yang dilakukan Arka, saat Cintara menelponnya beberapa hari lalu. Cintara begitu sakit menerima semua ini. Belum pernah sekalipun ia ditolak atau bahkan gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Cintara, mau sampai kapan kamu menangisi laki-laki yang sudah menjadi suami orang. Masih banyak laki-laki lain di luar sana yang bahkan lebih baik dari Arka, tinggal kamu nya aja mau atau nggak."
Cintara diam, masih tak menjawab sedikitpun.
"Kamu pikir papa nggak tau, kamu menelpon Arka malam-malam, memaksa menjadi yang kedua. Arka cerita semua sama papa, nggak punya harga diri kamu. Udah jelas-jelas suami orang, masih aja kamu mau."
Tetap tak ada jawaban sama sekali.
"Nggak ada yang namanya takdir, menjadi istri kedua orang. Yang ada itu, kamu memilih melakukannya atau tidak. Sekalipun kamu papa jodohkan dengan suami orang, itu bukan takdir. Karena otak dan hati kamu seharusnya bisa berfikir, mau menerima atau nggak. Mau melawan itu semua atau hanya berpasrah diri. Ngapain coba, kamu ngemis-ngemis sama suami orang. Nggak kecari kamu laki-laki lain?"
Putra terus mengoceh di kamar Cintara. Namun sampai mulutnya berbusa pun, Cintara tetap teguh dalam diam. Seolah hatinya telah menjadi batu. Saat ini di dalam benaknya hanyalah Arka dan Arka. Ia ingin memiliki pemuda itu, ingin menjadi bagian dari hidupnya dan ingin mengandung anak-anaknya. Ia tak peduli pada status Arka yang sudah menjadi milik orang lain, ia bahkan siap bersaing jika itu memang diperlukan.
Sementara disuatu tempat, Amman tampak memukul samsak tinju berkali-kali dengan penuh emosi. Ia membayangkan Arka kini ada didepan matanya. Ia begitu kesal dan marah, sejak konferensi pers itu digelar dan publik mengetahui jika anaknya telah menikah dengan pemuda itu.
Ia yakin Ryan pun telah mengetahui hal ini, dan bahkan mungkin teman sekaligus musuh lamanya itu akan membatalkan semua yang mereka telah rencanakan.
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
Amman kembali memukul samsak tinju tersebut, bahkan sekeras apapun itu tak terasa apa-apa di tangannya.
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
Ia terus memukul hingga tubuhnya dibanjiri keringat, ia tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan.
"Pak, ada yang mau bertemu."
Salah seorang asisten rumah tangganya berujar pada Amman. Amman pun menghentikan aktivitas dan mengelap keringatnya dengan handuk. Ternyata yang datang adalah team lawyer, yang ia bayar untuk melayangkan tuntutan terhadap suami dari anaknya.
"Selamat siang, pak Amman." Sapa salah seorang lawyer tersebut.
"Ya." ujar Amman mempersilahkan mereka duduk. Wajahnya biasa saja, bahkan terlihat tak begitu ramah. Emosi seolah sudah melekat dan menjadi bagian dari kesehariannya.
"Tuntutan ini sudah lengkap, apa bisa kita layangkan sekarang?" Salah seorang lawyer tersebut berujar, setelah berbasa-basi sejenak.
Amman diam, ia tak bisa berfikir jernih saat ini. Bayangan akan Arka yang mengakui jika Amanda adalah istrinya didepan publik, membentuk simpul yang carut-marut di benak pria tua itu.
"Bisa saya pelajari?" ujar Amman kemudian.
__ADS_1
Team lawyer tersebut memberikan sebuah file kepada Amman, yang berisi rincian tuntutan terhadap menantunya Keenan Arka Adrian.
"Saya mau mempelajari ini terlebih dahulu untuk beberapa hari kedepan, saya mau semuanya perfect. Jangan ada lagi celah, supaya dia bisa bebas. Saya mau sekalinya kita menuntut, dia tidak bisa bergerak lagi."
"Baik pak, silahkan dipelajari terlebih dahulu, Kapanpun bapak membutuhkan, kami selalu ada dan siap membantu."
Amman mengangguk, lalu mereka lanjut berbincang untuk sejenak. Ada banyak hal yang ditanyakan Amman secara mendetail kepada mereka. Hingga akhirnya waktu pun berlalu, team lawyer tersebut berpamitan.
Amman kembali ke samsak tinju, dan lanjut memukul hingga tangannya terlihat merah bahkan membiru.
"Buuuk."
"Buuuk."
"Buuuk."
***
"Apa, nggak ada barang baru?" Maureen bertanya dengan nada setengah marah, kepada para maid yang ia panggil ke kamar.
"Iya non, nggak ada. Bapak nggak membelikan apa-apa dari kemarin-kemarin."
"Nggak mungkin, papa itu selalu membelikan saya sesuatu dalam seminggu. Walaupun itu cuma gelang seharga dibawah lima jutaan. Nggak mungkin nggak bawa hadiah buat saya, pasti kalian sembunyikan. Iya, kan?"
"Nggak ada, non. Bapak Amman memang tidak membelikan apa-apa lagi, kami tidak menyembunyikan apapun."
"Bohong, pasti ada sesuatu yang papa belikan untuk saya dan kalian sembunyikan itu. Atau kalian jual dan uangnya kalian bagi-bagi. Saya tau kalian miskin, kalian cuma pembantu. Tapi kalian disini tuh di gaji oleh papa saya. Harusnya kalian bersyukur, jangan malah menyembunyikan barang yang menjadi hak saya."
"Ada apa ini?. Sinetron apa lagi?" Amman tiba-tiba muncul dan berkata dengan nada marah kepada Maureen.
Maureen menghampiri ayah palsunya itu dan berkata dengan nada manja, seolah dirinya adalah princess didalam drama Korea.
"Mereka bilang, papa nggak ada kasih hadiah apa-apa buat Maureen. Bahkan udah beberapa hari ini papa nggak beliin apa-apa. Itu bohong kan, pa?. Pasti ada barang mahal untuk Maureen kan?"
"Memang tidak ada." ujar Amman dengan nada tegas.
"Koq gitu?" Maureen mendadak emosi.
"Baju, sepatu, tas?. Nggak ada?" tanyanya lagi.
"Tidak ada." jawab Amman masih dengan nada yang sama.
Emosi Maureen pun kian memuncak.
"Maureen mau ngampus, pa. Nggak mungkin Maureen pake baju, tas, dan sepatu yang sama. Mau tarok dimana muka Maureen, Maureen malu sama temen-temen. Maureen udah bilang kalau Maureen anti pake barang yang sama dua kali."
"Lantas bagaimana dengan pekerjaan kamu?" Kali ini Amman berkata dengan nada marah.
"Ma, maksud papa?"
"Kamu ingat, kan. Kamu yang menyarankan supaya kita menyebarkan gosip tentang Arka. Supaya kariernya hancur dan dia memohon pada kita, untuk dikembalikan kariernya. Lalu kita memberi penawaran, kalau dia mau kariernya kembali, dia harus meninggalkan Amanda. Tapi apa hasilnya?"
Amman mendekat ke arah Maureen dengan tatapan tajam penuh dendam. Hingga Maureen pun mundur dan berakhir didinding.
"Nggak ada satupun rencana bodoh kamu yang berhasil, malah Arka dengan berani mengakui Amanda sebagai istrinya di muka publik. Lalu sekarang seenaknya saja kamu meminta ini itu, sedangkan kamu tidak memberikan impact apa-apa terhadap saya."
__ADS_1
Maureen terdiam bahkan tercengang.
"Jadi papa nyalahin Maureen soal itu?"
"Iya, karena kamu membuat sebuah rencana yang bodoh, bahkan sangat bodoh. Liat hasilnya sekarang."
"Tapi, pa. Yang namanya gagal itu wajar."
"Wajar kamu bilang?. Sementara saya mengeluarkan uang yang tidak wajar untuk kamu."
"Sa, saya anak papa. Wajar kalau saya minta ini itu."
"Oh ya, dan kalau begitu. As a parent, saya juga wajar untuk meminta sesuatu dari kamu. Kamu akan saya berikan kepada saingan bisnis saya."
"Ma, maksud papa apa?. Papa mau menjual saya?" Maureen kian tercengang, sejuta ketakutan kini menyelimuti pikirannya.
"Yes, bukankah dulu kamu juga biasa menjual diri?"
"Nggak, saya nggak mau."
Maureen mencoba menghindar, namun Amman menarik rambut gadis itu dengan kasar.
"Maureen nggak mau, pa."
"Kamu pikir saya rugi banyak uang untuk apa?. Kalau kamu tidak mau berbuat sesuatu untuk saya."
Amman menyeret dan memaksa Maureen masuk ke dalam kamar, sementara Maureen terus memberontak."
"Pa, lepasin Maureen...!"
"I'm not your father. Kamu pikir saya bodoh selama ini, hah?. Saya hanya mengikuti permainan kamu."
"Pa."
"Plaaak."
Amman menampar Maureen, hingga gadis itu jatuh terjerembab ke tempat tidur. Tak lama kemudian seseorang laki-laki seumuran Amman masuk ke dalam kamar itu.
Maureen kian terkejut, Amman segera bergerak keluar. Maureen pun berlarian ke arah pintu, namun ia ditarik paksa oleh pria tua itu. Amman mengunci pintu dari luar.
"Menjauh dari saya...!" ujar Maureen sambil mundur dan mencoba mencari benda tajam disekitar. Pria tua itu hanya tertawa menyeringai.
"Pergi...!"
Pria itu mendekat dan mencoba memeluk Maureen. Namun Maureen memberontak, ia memukul-mukul pria itu. Namun si pria tua itu tak mampu ia lawan, apalagi ketika tubuh besarnya menindih tubuh Maureen. Dalam beberapa saat, rintihan dan teriakan terdengar dari dalam kamar tersebut.
Maureen menangis sambil meremas sprei tempat tidur. Sementara si pria tua terus memompa benda keras panjang miliknya ke dalam diri Maureen.
"Ssshh ah, aaah, aaah."
"Kamu enak, dasar pelacur kamu."
"Aaaaaakh."
Cairan hangat menyembur di rahim Maureen, sementara perempuan itu masih terus menangis. Amman menyelesaikan satu perkara di hidupnya, meskipun perkara dengan Ryan masih abu-abu.
__ADS_1