Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Celebration


__ADS_3

Hari berlalu, tak ada keributan apapun yang dibuat oleh Amman. Kondisi Amanda pun perlahan stabil. Ia dan Arka meningkatkan keamanan, dengan memformat ulang akses card yang mereka miliki.


Artinya, akses lama sudah tidak bisa dipakai lagi. Dan setiap orang yang datang harus melapor serta dilihat dulu dari CCTV. Amanda sudah lebih tenang.


5,4,3,2,1


"Yeaaaay."


Ia dan Arka bersorak kegirangan.


"Selamat 1 bulan sayang." ujar mereka pada kedua bayi kembar, yang kini berbaring didalam box. Bayi mungil itu sudah tidak mungil lagi, berat badannya bertambah dengan pesat. Hingga terlihat seperti bayi berusia 2 atau 3 bulan.


"Liat tuh papa, para tukang nyusu sedang melek, sedang melek." Amanda mendekatkan wajahnya pada mereka, mereka pun tampak kaget lalu tersenyum.


"Dih udah bisa senyum, emang ngerti mama ngomong apa?" tanya Amanda.


"Ngerti ya dek, kan pinter anak papa." Arka ikut berbicara pada bayi-bayinya.


"Brooot."


Arka dan Amanda saling menoleh.


"Brooot."


"Hmm, baru ganti popok." ujar Amanda. Arka pun tertawa. Kedua bayi itu pup, padahal baru saja di ganti popoknya beberapa menit lalu.


"Ih nggak mau ah." ujar Amanda gusar.


"Ih bau anak papa, bau, bau, bau." ujar Arka.


Tak lama kemudian, drama pun terjadi. Sejak kelahiran mereka, Amanda memang terlihat lebih jijik ketika mengurusi pup anaknya. Berbeda dengan Arka yang justru santai saja dan tidak terlihat jijik sama sekali.


"Kamu gimana sih, Ka. Bisa nggak jijik begitu, iyuuuh."


Amanda menutup hidungnya.


"Kotoran mereka itu belum bau banget, Amanda. Ntar kalau mereka udah mulai makan tuh, bau sampah kotorannya."


Amanda tertawa.


"Dari mana kamu tau?"


"Kan ibu sama bapak punya saudara banyak. Terus mereka kadang ada yang punya bayi, aku sering ngasuh mereka, tau-tau berak. Mana bau banget lagi."


"Hahaha." Amanda tertawa.


Usai diganti popok, bayi-bayi itu terlihat resah.


"Hmm, udah mau susu lagi nih pasti." ujar Amanda.


"Mama semenjak jadi emak-emak, galak ya dek. Terus bisa meramal." Arka meledek istrinya.

__ADS_1


"Ini sih nggak perlu jadi peramal juga bisa tau, Ka. Mereka laper abis berak."'


Arka tertawa.


"Mau pake botol susu nggak?" tanya Arka.


"Nggak usah, sama aku aja satu-satu. Mumpung belum pada nangis."


Amanda meraih Afka lalu memberikan ASI pada bayi itu, tak lama bayi itupun tertidur pulas. Azka yang sabar dalam gendongan Arka, kini mendapatkan giliran untuk diberi ASI. Setelah itu Azka pun tertidur.


Esok harinya ketika libur tiba, Arka mengisi waktu dengan mendongeng pada kedua bayinya. Mereka tampak antusias meskipun belum begitu bisa memberi respon.


Mereka suka berada didekat Arka. Sedangkan apabila melihat Amanda, mereka membuat gerakan seakan-akan minta digendong.


"Kenapa sih dek, kalau di dekat mama. Kayak mau minta susu mulu, emang mama bau susu?"


Arka tertawa.


"Mereka tau, mana yang suka kasih makan."


"Mama kan mau santai?" ujar Amanda kemudian.


"Kamu udah mau masuk kerja, Man?"


"Iya, tunggu 40 hari Ka."


"Nanti mereka sama Anita aja dirumah, atau sekali-sekali aku bawa ke kantor."


"Anita atau Lastri juga ikut. Paling hari-hari biasa aja aku ajak, kalau lagi ada meeting penting, nggak."


"Perlu bantuan ibu nggak?"


"Ibu kan ada kerjaan tiap hari, janganlah memberatkan orang tua. Anita bisa dipercaya koq. Lagian ini ada CCTV, aku tau rumah Anita di kampung. Kalau emang ada apa-apa ya gampang nyarinya."


"Ya udah terserah kamu aja. Senyaman kamu, ok."


Amanda tersenyum, lalu mencium bibir suaminya itu. Arka pun membalasnya.


"Love you, Man." ujarnya kemudian.


"Aku kangen kamu, Ka."


"Tau, tapi belum bisa kan?"


Keduanya kini sama-sama tersenyum.


"Sabar ya, tunggu berapa hari kedepan."


Arka kembali mencium bibir istrinya, sementara para bayi kini telah tertidur pulas.


Hari kembali berlalu, Amanda kini sibuk berolahraga dirumah. Sudah sejak bayi mereka berusia 3 Minggu, ia mulai membuat program olahraganya sendiri. Ia ingin mengembalikan bentuk tubuhnya seperti dulu. Kebetulan hari ini bayi-bayinya sedang tidak rewel, Amanda memiliki waktu lebih untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Usai berolahraga, biasanya ia akan mandi dan merawat tubuh. Dengan menggunakan lulur rempah serta wewangian alami dari bunga. Terkadang juga ia berendam di bathtub sambil memakai masker wajah, setelah mandi kulit wajahnya pun ikut glowing.


Ia patut bersyukur, saat ini bayinya tak terlalu ingin ditemani sang ibu. Setelah mendapat ASI biasanya mereka tertidur pulas dan itu cukup lama. Sehingga Amanda pun tak kehilangan waktunya untuk diri sendiri.


Usai mandi, ia biasa mengoleskan body butter maupun lotion. Saat hamil hormon kehamilannya meningkat tajam, kulitnya menjadi lebih glowing dari biasanya. Tetapi ketika para bayi telah keluar, semua kembali normal dan kini kulitnya butuh perhatian ekstra.


Begitulah ia mengisi hari-harinya, sampai kemudian waktu untuk kembali masuk ke kantor pun tiba. Ini sudah hari ke 50 pasca melahirkan. Ia meminta tambahan 10 hari dari waktu 40 hari yang telah ditentukan. Tentu saja perusahaan memberikannya.


Dan hari ini ia mulai bersiap, yang datang ke penthouse untuk menjaga bayinya adalah Lastri, karena Anita sedang terkena flu.


"Las, kamu udah tau kan cara menghangatkan ASI nya?"


"Tau dong bu, kan saya punya anak." ujar Lastri. Amanda pun tersenyum.


"Anggap seperti anak kamu sendiri ya. Nanti ada Rianti kesini, dia lagi dijalan. Biar kamu nggak repot ngurus sendiri."


"Iya bu, tadinya mbak Siti mau ikut. Tapi seisi rumah itu kena flu semua, gara-gara Anita."


"Tapi kalian udah ke dokter?"


"Pada minum obat warung, bu."


"Loh, kan saya siapin uang itu di bude. Kalau kalian sakit."


"Uang untuk berobatnya malah dipake buat beli seblak, bu."


Amanda tertawa.


"Ya sudah, terserah kalian aja. Tapi kalau emang tersiksa, jangan lupa ke dokter. Lebih baik sebelum parah."


"Iya bu, nanti saya sampaikan." ujar Lastri.


Amanda masuk ke dalam kamar si kembar, inilah momen yang paling tak diinginkannya. Yakni harus berpisah walau barang sejenak. Ternyata sekeras-kerasnya hati Amanda selama ini, jika sudah melihat anaknya. Ia pun tak kuasa serta tak tega meninggalkan. Namun mau bagaimana lagi, ada tanggung jawab lain yang mesti ia penuhi.


Amanda mencium bayi-bayinya berkali-kali, lalu dengan berat hati meninggalkan tempat itu. Tak lupa sebelum itu, ia memompa ASI nya terlebih dahulu, agar bayi-bayi itu mendapatkan hak mereka sebagai anak.


Amanda berangkat ke kantor, sedang Arka sudah berangkat terlebih dahulu tadi pagi. Akhir-akhir ini kantor Arka memang selalu sibuk di jam pagi. Dan ada kebijakan baru pula, yakni waktu pulang dipercepat. Sementara waktu masuk dijadikan lebih awal.


***


"Oh, jadi dia itu suami bayaran?"


Amman bertanya pada Rani yang kini berada di ruangannya.


"Ya, Amanda membayar Arka untuk memberikan anak padanya. Semata agar Amanda memiliki pewaris dari seluruh kekayaan dan bisnis yang dia miliki."


"Amman tersenyum sinis, lalu mereguk wine yang ada ditangannya.


"Ceroboh dan bodoh." ujarnya kemudian.


Rani ikut tersenyum, meski ia juga memiliki kebencian terhadap Amman. Jika bukan karena memiliki kepentingan, rasanya ia sudah akan menghabisi pria tua itu.

__ADS_1


Ia teringat bagaimana menderitanya ia dan ibunya selama ini. Sementara Amman leha-leha dengan kehidupannya yang bergelimang harta.


__ADS_2