
"Hai, Amanda."
Sebuah suara terdengar menyapa, membuat Amanda yang baru saja tiba di muka lobi kantor itu pun menoleh.
"Gareth?"
Amanda melihat rekan lamanya itu dengan penuh keterkejutan. Betapa tidak, Gareth adalah seorang pengusaha sukses dan biasanya sangat sibuk. Kini tiba-tiba pria itu ada di depan matanya. Gareth mendekat lalu mereka pun bersalaman.
"Hey, apa kabar. Koq ada disini?" tanya Amanda heran.
"Aku kebetulan lagi meninjau usaha baru aku, ada di dekat sini. Jadi sekalian mampir. Aku pikir kita udah lama nggak ketemu." ujar Gareth.
"Oh ya?. Usaha apa?"
Amanda kembali bertanya pada pria itu dan pria itu pun lalu menjawab.
"Resto, di seberang jalan sana. Sebelah kiri deretan SPBU."
"Oh, jadi sekalian promosi nih?" tanya Amanda lagi seraya tersenyum.
"Ya, bisa dibilang begitu." jawab Gareth sambil balas tersenyum.
"Disana harganya terjangkau, barangkali bisa direkomendasikan kepada karyawan kamu." lanjutnya lagi.
Amanda tertawa kecil.
"Kita ngobrol di dalam aja yuk." ajak wanita itu.
"Aaa, aku takut kamu sibuk. Tapi kalau nggak keberatan, hari ini aku full meninjau restoran itu. Nanti jam makan siang kamu kesana aja. Free untuk grand opening, khusus buat kamu. ujar Gareth.
"Mmm, oke." jawab Amanda.
"Aku kembali kesana dulu." ujar Gareth.
Amanda menganggukkan kepala.
"Oke." ujarnya kemudian.
"Nama restonya, the great people." tukas Gareth lagi.
"Sip, nanti aku kesana." jawab Amanda.
"Jangan nggak, aku tunggu."
"Iya, Gar. Aku pasti datang koq, tenang aja."
"Oke deh."
__ADS_1
Gareth pun kemudian berpamitan dan Amanda kini berjalan lalu masuk ke pintu lobi. Pada saat kejadian tadi berlangsung, Intan, Satya, dan Deni ada menyaksikan hal tersebut.
"Siapa tuh yang sama bu Amanda?. Ganteng juga." seloroh Intan.
"Lu mah kagak bisa liat yang bening dikit, Tan. Udah punya cowok juga lu." seloroh Satya.
"Tau, gue kasih tau Ansel lo nanti." Deni menimpali.
"Dih, jahat lo berdua. Pengaduan!" seru Intan.
"Emang."
Satya dan Deni high five, sementara Intan tampak sewot. Mereka berdua kini turut berjalan mengarah ke pintu lobi. Sejatinya mereka sudah tiba di kantor sejak tadi, namun mereka baru saja selesai membeli kue dan nasi uduk di samping kantor.
Siang harinya di jam makan siang, Amanda memenuhi janjinya pada Gareth. Ia mengunjungi restoran yang dimaksud. Ternyata restoran tersebut dibangun di atas lahan dan bangunan yang selama ini tampaknya terbengkalai.
Bangunan lamanya telah dirobohkan dan diganti dengan bangunan yang baru. Amanda ada beberapa kali melihat pembangunan yang dilakukan, tetapi ia benar-benar tidak mengetahui jika tempat tersebut sudah dibeli oleh Gareth.
"Hai, Amanda."
Gareth menyapa lalu mendekat.
"Hai, Gar. Aku pikir ini dibangun buat apa, eh ternyata buat restoran. Aku nggak tau kalau ini punya kamu." ujar Amanda pada pria itu.
Gareth pun tersenyum.
"Iya sih, kamu kan gila usaha." tukas Amanda sambil tertawa.
Gareth pun jadi ikut-ikutan tertawa.
"Yuk, kita ke dalam!" ajak Gareth.
Amanda lalu berjalan mengikuti langkah teman lamanya itu. Gareth memilihkan untuknya sebuah meja yang terdapat di balkon luar restoran.
Saat itu pengunjung cukup ramai, namun kebanyakan berada di dalam. Karena suasana di dalam juga sangat cozy dan Instagram able.
"So, apa menu andalan disini?" tanya Amanda ketika mereka telah duduk di meja tersebut, dan pelayan sudah datang membawakan menu untuk mereka.
"Oke, aku punya rekomendasi yang bagus untuk kamu."
Gareth memilihkan menu-menu andalan di resto barunya itu. Amanda pun tertarik untuk mencobanya dan mereka akhirnya memesan. Mereka kembali berbincang sambil menunggu makanan itu datang.
"Apa yang mendasari seorang Gareth, akhirnya mau berbisnis makanan?"
Amanda melontarkan pertanyaan pada pria itu.
"Seperti yang aku tau kan, kamu suka berbisnis. Tapi selama ini bisnis kamu nggak pernah soal makanan." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
Gareth sedikit tertawa.
"Aku suka menchallenge diri aja sih. Bisa atau nggak aku berbisnis di bidang ini. Tapi aku juga udah banyak konsultasi dengan beberapa orang yang aku percaya. Mereka bilang bisnis makanan itu memiliki prospek yang bagus. Apalagi di jaman sekarang sudah ada ojek online yang membantu penjualan. Jadi ya, ini jatuhnya iseng-iseng berbisnis. Kalau sukses ya syukur, nggak ya udah. Sebagai selingan aja." jawab Gareth.
Amanda mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kamu tertarik jadi investor disini?" tanya Gareth.
Amanda hanya tertawa.
"Aku mau lihat dulu aja tiga bulan ke depan. Kalau memang berjalan dengan baik ya, why not." jawab wanita itu.
"Kalau begitu aku akan berusaha membuat bisnis ini meroket to the moon dalam waktu dekat. Supaya kamu mau bekerjasama nantinya."
Amanda kembali tertawa.
"Boleh." ujarnya kemudian.
Mereka lanjut berbincang, tak lama setelah itu pelayan tiba dan membawakan pesanan mereka. Amanda mencoba makanan yang direkomendasikan untuknya dan ternyata rasanya cukup lumayan.
"Ini enak, aku suka." ujar Amanda pada Gareth.
Gareth pun terlihat senang dan puas dengan semua itu.
***
Sementara di lain pihak, Amman mulai kembali merindukan anak-anaknya. Ia ingin sekali bisa bertemu Amanda dan juga Nino. Ia juga merindukan bayi Amara dan berharap bisa memeluk anak itu dengan erat.
Amman sejatinya tak pernah menyesali cintanya untuk Citra. Ia juga telah pasrah menerima konsekuensi dari segala perbuatan yang pernah ia lakukan.
Tetapi saat ini ia hanya sedang merasa kesepian. Ia ingin dijenguk entah itu barang sejenak. Ia ingin bisa memeluk anak-anaknya sekaligus berbincang dengan mereka mengenai banyak hal.
Tak ada yang bisa ia lakukan didalam penjara kecuali diam dan merenungi segala hal. Ia hanya bisa berharap suatu saat semua ini bisa berakhir.
Ia ingin berkumpul lagi dengan mereka semua dan menebus dosa-dosanya secara perlahan.
***
"Nin, kamu nggak melihat Amman?"
Ryan bertanya pada Nino di saat yang sama, dengan saat Amman memikirkan anak-anaknya. Saat itu Nino tengah berkutat dengan pekerjaan di laptop. Ia ada di kediaman Ryan.
"Nanti, dad. Nino masih sibuk banget soalnya. Lagipula Amanda ngajak barengan, jadi mau nunggu waktu yang tepat dulu." jawab Nino.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Daddy hanya mau mengingatkan saja, supaya kamu nggak lupa sama Amman. Ya, walaupun daddy nggak tau gimana perasaan kamu terhadap dia sekarang ini. Tapi yang jelas dia ayah kandung kamu, kamu harus bisa membagi kasih sayang dengan dia."
Nino menarik nafas panjang dan mengangguk.
__ADS_1
"Iya, dad." jawab pria itu kemudian.