
Amanda kembali mengajar di kampus, Ia senang dan antusias sekali. Setelah sekian lama, ia tak masuk karena hamil dan melahirkan.
Tentu saja kedatangannya kali ini disambut baik, oleh para rekan sesama dosen maupun mahasiswa serta mahasiswinya. Ia pun mengajar dengan baik hari itu.
Setelah mengajar, ia menyempatkan diri untuk menjemput kedua anak Rani yang masih disekolah.
"Tante Amandaaa."
Rasya dan Rania berlarian menuju ke arah Amanda dan memeluk wanita itu. Hal itu terjadi sesaat setelah Amanda tiba dan keluar dari dalam mobilnya.
"Yuk kita pulang." ajak Amanda kemudian.
"Tante, tante. Masa tadi kita ketemu papa." ujar Rasya kemudian.
"Papa?" Amanda mengerutkan kening.
"Papa kalian maksudnya?" tanya Amanda lagi.
"Iya tante, tadi papa turun dari mobil. Mampir di warung itu, terus Rania kejer deh sama kak Acha. Eh papanya kayak pura-pura nggak kenal gitu sama kita."
Hati Amanda begitu terpukul mendengar pernyataan tersebut, apalagi itu di ucapkan oleh anak yang masih belum berdosa seperti mereka. Sungguh malang nasib kedua anak ini, hampir saja Amanda menitikkan air mata karenanya.
"Mmm, kita makan fried chicken aja yuk. Mau nggak?" Amanda berusaha mengalihkan perhatian kedua anak itu dan ternyata berhasil.
"Mau, mau, tante." ujar keduanya antusias.
Amanda pun lalu mengajak kedua anak itu untuk masuk kedalam mobil. Mereka kemudian mengunjungi restoran cepat saji dan makan disana.
Kedua anak itu sangat gembira, bahkan seperti anak yang jarang sekali diajak bepergian. Tanpa terasa air mata Amanda pun menetes, dulu juga Amman selalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Amman bahkan tak pernah sekalipun mengajak Amanda untuk sekedar makan bersama seperti ini, sedang ibunya selalu diliputi kesedihan. Teman Amanda semasa kecil hanyalah maid yang bekerja untuk ibunya. Merekalah yang selalu menghibur dan mengajak Amanda kesana-kemari.
"Tante, Rania boleh beli es krim nggak nanti kalau kita udah pulang kerumah. Rania pengen beli es krim yang luarnya ada coklat gitu. Disini es krimnya nggak manis?" tanya Rania pada Amanda, sambil menjilati saos tomat dijari jempolnya.
"Boleh, tapi makannya di abisin dulu." ujar Amanda.
"Iya tante, nasinya tapi udah. Nggak apa-apa?" tanya Rania lagi.
"Ya udah nggak apa-apa kalau kamu emang udah kenyang."
"Buat kak Acha aja boleh nggak, nasinya?" ujar Rasya pada adiknya itu.
"Rasya nasinya kurang?" tanya Amanda.
"Kalau nggak pesen lagi tuh, sama ayamnya juga. Gih...!"
"Nggak apa-apa tante, Rasya abisin yang ini dulu. Nanti kalau masih laper, Rasya pesan lagi." ujar Rasya seraya mengambil nasi milik Rania yang tak habis.
"Ok." jawab Amanda seraya tersenyum.
Amanda tak memarahi Rania, karena ia tahu nasi tersebut adalah nasi porsi orang dewasa. Ada anak yang sanggup menghabiskannya, ada pula yang lambungnya sempit.
Memang kita harus mengajari anak untuk menghargai makanan. Tetapi kita juga harus ingat untuk memperhatikan porsi dan daya makan si anak. Jangan memaksa anak untuk menghabiskan porsi seukuran orang dewasa. Lantas menghakimi jika mereka telah merasa kenyang dan tak mampu menghabiskannya.
Karena tak semua anak bisa makan banyak, dan jangan membandingkan mereka dengan anak lain yang mampu menghabiskan banyak makanan. Karena itu hanya akan membuat anak tumbuh, cenderung berkecil hati dan merasa terlalu dituntut seperti orang lain.
"Ayamnya udah habis tante."
__ADS_1
"Ya udah, bekasnya kamu buang ke tong sampah. Terus cuci tangan, ya."
Rania mengangguk, ia lalu membereskan bekas makannya dan membuangnya ke tong sampah. Orang-orang yang tengah makan memperhatikan Rania, namun Amanda biasa saja. Karena sejak ia kuliah di Amerika dulu, orang-orang disana biasa membereskan bekas makan mereka sendiri dan membuangnya. Tanpa harus menunggu karyawan yang bekerja di restoran tersebut. Jadi Amanda sendiri terus terbawa-bawa kebiasaan itu hingga detik ini.
Usai membuang bekas makannya, Rania pun mencuci tangan, sementara Rasya dan Amanda lanjut makan.
Beberapa saat kemudian, Amanda beserta kedua keponakannya itu telah keluar dari restoran cepat saji tersebut. Mereka kini berjalan ke arah mobil yang terparkir di halaman depan.
"Amanda."
Tiba-tiba Ansel muncul dihadapan Amanda.
"Ansel?. Hey." ujar Amanda lalu tersenyum. Ia tak menyangka akan bertemu kakak iparnya itu disini.
"Kamu di sini?" tanya Ansel padanya.
"Iya, ini ngajak keponakan." jawab Amanda.
Ansel memperhatikan Rasya serta Rania, dan begitupun sebaliknya.
"Kalian udah mau pulang atau baru sampai?" tanya Ansel lagi.
"Udah mau pulang." ujar Amanda kemudian.
"Yah, aku pikir baru datang. Nggak niat mau makan lagi?"
"Kenapa emangnya?"
"Mau cerita soal Intan sekalian, atau kamu sibuk?. Arka mana?"
"Anak-anak dimana?"
"Dirumah, ada yang jagain."
"Oh, ya udah yuk makan lagi." Kali ini Ansel sedikit memaksa.
"Kalau makan lagi kayaknya nggak, tapi kalau mau cerita, ayo."
Ansel sumringah.
"Beneran, ya?" tanya nya memastikan.
"Iya." jawab Amanda.
"Tadinya aku mikir mau nelpon kamu, tapi nggak punya nomor kamu. Nanya ke Nino lama banget jawabnya."
"Emangnya kenapa lagi sih, sama Intan?"
"Ya makanya ini mau cerita, mumpung ketemu kamu. Kalau cerita sama Nadine, yang ada aku di gebukin. Dia pasti belain Intan. Cerita sama Nino tau sendiri, isinya pasti nasehat. Nino kan kayak daddy, cerewet."
Amanda tertawa.
"Ya udah, Rasya, Rania. Balik lagi kedalam, yuk." ajak Amanda kemudian.
"Balik lagi tante?" tanya Rasya pada Amanda.
"Iya."
__ADS_1
Kedua anak itu memperlihatkan Ansel.
"Ini kakaknya om Arka."
Ansel tersenyum pada Rasya dan juga Rania, kedua anak itu menyalami Ansel. Ansel agak sedikit terkejut karena tradisi itu tak ada di negaranya.
"Emangnya om Arka punya kakak?" tanya Rania.
"Punya dong, ini orangnya." ujar Amanda lagi. Rania agak bingung menatap wajah Ansel yang bule dan sedikit berbeda dengan Arka.
Tak lama kemudian, mereka kembali masuk kedalam. Ansel makan, Amanda hanya minum sambil ngemil kentang goreng. Sedang anak-anak tampak memakan es krim. Ansel pun lalu mulai bercerita soal Intan.
Sementara jauh di sebuah sudut, Amman tersenyum melihat kebersamaan antara puterinya dengan putera Ryan Moralez itu.
Amman mengira jika Amanda diam-diam telah berkenalan dan sedang melakukan pendekatan dengan Ansel. Amman tidak tahu jika Ansel sendiri adalah saudara Arka. Dan Amanda bahkan sudah mengenalnya jauh sebelum ia tahu jika Ansel dan Arka itu bersaudara.
***
Disudut lain sebuah tempat, Ryan mengajak Arka untuk menghabiskan waktu bersama. Kebetulan Arka pun sedang ditugaskan di lapangan, hingga ia bebas mau pergi kemana saja.
Ryan sendiri sengaja ingin berdua dengan anak bungsunya itu. Karena diantara ketiga anaknya, hanya Arka lah yang tak pernah dekat dengannya sejak kecil. Nino dan Ansel sudah sangat puas menikmati kasih sayang serta perhatian dari laki-laki itu. Kini ia ingin memberikan apa yang menjadi hak Arka sebagai anak.
"Look, bagus kan?" tanya Ryan pada Arka ketika Arka mencoba jam tangan yang diberikan oleh Ryan.
"Ya, thank you." ujar Arka kemudian.
Ryan menganggukkan sedikit kepalanya lalu mereguk kopi yang ada di atas meja. Keduanya kini terlibat perbincangan hangat.
"Habis ini kamu temani daddy, ya." ujar Ryan seraya menatap Arka.
"Mau kemana, dad?" tanya Arka pada ayahnya itu.
"Ke sebuah acara pelelangan, nggak keberatan kan?" Ryan balik bertanya.
"Mmm, nggak. " jawab Arka.
Mereka lalu menghabiskan kopi dan menghisap Vape masing-masing. Tak lama setelah itu, keduanya pun beranjak. Mereka berjalan menuju mobil dengan langkah tenang, sampai kemudian.
"Arka." tiba-tiba ibu Arka sudah muncul dihadapan pemuda itu.
Ryan terkejut bukan alang kepalang, namun ia sudah siap jika ibu Arka akan mencacinya detik itu.
"Arka kamu ngapain disini?" Ibunya seperti sudah siap meledak. Namun diluar dugaan, Arka bersikap sangat tenang dan seolah tak tahu apa-apa.
"Bu, ini pak Ryan. Kliennya bos Arka di kantor. Arka hari ini ditugaskan di lapangan dan disuruh menemui beberapa klien." Arka yang pandai berakting ternyata berhasil mengelabuhi ibunya.
"O, oh."
Ibu Arka memaksakan sebuah senyum palsu. Ia telah mengira jika Ryan sudah mengaku di depan anaknya itu, padahal memang iya.
"Eh, Hai. Saya Ryan."
Ryan mengulurkan tangannya untuk melengkapi kebohongan Arka. Ibunya yang mengira jika itu semua benar pun, ikut mengulurkan tangan. Ia pikir agar Arka tak curiga atas sikapnya. Karena jika dirinya terlihat ketus pada Ryan, bisa jadi Arka akan curiga dan bertanya mengapa.
"Saya Ningsih, ibunya Arka." ujar nya Kemudian.
Mereka berdua sama-sama melayangkan senyum palsu, sementara Arka memasang wajah tanpa dosa. Seolah-olah ia memang tidak tahu soal siapa Ryan sebenarnya.
__ADS_1