Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Arka In Trouble


__ADS_3

"Arka, kamu dimana?"


Putra menelpon Arka, usai mendengar pernyataan dari Cintara pagi itu. Ia mendadak kesal pada Arka, padahal selama ini Arka selalu baik dimatanya.


"Iya pak, kenapa?" Arka balik bertanya pada bos nya itu.


"Nanti siang kamu ke kantor, ada yang mau saya bicarakan dengan kamu."


"Oh, ok pak." ujar Arka kemudian.


"Siapa, bro?" tanya Rio pada Arka, ketika telpon telah disudahi.


"Bos gue, nyuruh ke kantor."


"Ah, bos lo nggak asik. Pindah aja sih, bro ke kantor bapak lo."


"Lo pikir mentang-mentang di kantor bokap sendiri, terus gue bisa asik gitu?. Yang ada gue digamparin sama bapak gue, kalau gue kerjanya lenyeh-lenyeh. Belum lagi kakak gue si Nino, kesayangan bokap yang selalu dia puji-puji punya etos kerja tinggi. Yang ada gangguan mental gue, dibanding-bandingkan sama Nino. Ansel aja bipolar, gara-gara insecure sama Nino."


"Ganggu balik ege, mental bapak lu. Kan lo strong."


"Strong pale lu, dikutuk jadi babi ntar gue."


"Hahaha." Rio tertawa.


"Ya udalah makan dulu kita, sebelum lo balik ke kantor."


"Ya udah, makan dimana?"


"Soto pak Darmo, yok." ajar Rio kemudian.


"Ya udah, ayok."


Mereka berdua pun pergi ketempat yang dimaksud, untuk makan siang bersama. Setelah itu Arka kembali ke kantor. Sesampainya disana, ia melihat banyak pasang mata yang menatap kearahnya. Ia tak mengerti apa yang telah terjadi.


"Ka, bos bilang. Lo bikin anaknya kecelakaan." salah satu rekan kerja Arka memberitahu pemuda itu, sebelum akhirnya Arka masuk keruangan pak Putra.


"Siang, pak." ujar Arka seraya menutup kembali pintu yang tadi sempat ia buka.


Putra yang semula menghadap ke kaca itu pun, kini berbalik menatap Arka.


"Kamu tau Cintara dimana?"


Arka menggelengkan kepalanya, karena memang ia tidak tahu.


"Cintara kecelakaan gara-gara kamu, katanya kamu mengkhianati dia. Kamu tinggal dengan perempuan lain satu rumah."


"Pak."


"Kenapa kamu sakiti hati anak saya?"


"Pak, saya."


"Dia itu anak saya satu-satunya, Arka. Kamu menyakiti hati anak saya, berarti kamu menyakiti hati saya."

__ADS_1


"Saya tidak menyakiti Cintara." tegas suara Arka terdengar. Bahkan karyawan di luar pun bisa mendengar suaranya.


"Cintara yang menyakiti dirinya sendiri. Cintara menyukai saya, tanpa paksaan dari saya. Dan saya tidak pernah ada hubungan apapun dengan dia."


"Tapi dia bilang kalian berhubungan."


"Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Cintara, dan perempuan yang dia lihat itu adalah istri saya."


Putra mundur beberapa langkah, sungguh ini sangat mengejutkan baginya.


"Amanda Marcelia Louise, yang tempo lalu bapak suruh saya mengantarkan sebuah surat ke perusahaannya. Dia istri saya."


Putra mencoba menarik nafas, di antara udara yang mendadak menipis. Seketika ia teringat saat tadi dirumah sakit, Cintara berkata seolah dirinya adalah pihak yang paling teraniaya. Hingga membuat Putra begitu geram terhadap Arka.


"Papa akan cari tau siapa perempuan itu, dan papa akan buat supaya Arka minta maaf sama kamu."


Putra teringat saat mengatakan hal tersebut, ia tampak sangat berapi-api. Kini api itu seolah membakar dirinya sendiri.


"It's ok, I'm so sorry. Saya hanya mendengarkan perkataan sepihak dari anak saya."


"Boleh saya keluar?" tanya Arka kemudian.


Putra mengangguk, Arka pun meninggalkan ruangan tersebut. Kini semua mata karyawan kembali tertuju ke arahnya, mereka mendengar semua isi percakapan antara Arka dan juga Putra. Karena tadi ia tak sempat menutup rapat pintu masuk.


Arka berlalu begitu saja, ia sudah tidak peduli apakah mereka semua terkejut dan apakah mereka akan membicarakan dirinya dibelakang nanti atau tidak..


Arka bergerak pulang, ia sudah tidak in the good mood untuk bekerja siang itu. Ia juga tak peduli jika Putra ingin memecatnya. Toh ia punya pekerjaan lain di dunia entertainment, yang saat ini masih terus berjalan. .


***


Cintara bertanya pada ayahnya, ketika gadis itu tengah makan di sore hari. Ia masih berada dirumah sakit dan berharap Arka akan datang menemuinya sore ini.


"Mulai sekarang, kamu harus selesaikan masalah kamu sendiri."


"Ma, maksud papa apa?" tanya Cintara tak mengerti. Namun ia mulai menangkap ada hal ganjil dalam ucapan ayahnya tersebut.


"Jangan selalu membenarkan tindakan dan posisi kamu Cintara. Dan jangan pernah lagi kamu mengadukan sesuatu kepada papa, yang tidak sesuai fakta."


Cintara makin tak mengerti.


"Papa ngomong apa sih?. Cintara nggak ngerti."


"Kamu nggak ada hubungan apa-apa dengan Arka."


Cintara terdiam.


"Pasti Arka yang bilang begitu. Arka tuh manipulatif orangnya, pa."


"Kamu yang manipulatif, tapi gagal total."


"Pa, jelas-jelas Arka itu nyakitin Cintara. Dia bawa cewek lain di belakang Cintara."


"Itu istrinya, Cintara."

__ADS_1


Seperti disambar petir, Cintara pun terdiam.


"I, istri?. Istri dari mana, Arka itu single pa."


Nada bicara Cintara mulai gemetar, seperti hendak menangis namun berusaha ia tahan.


"Arka dan Amanda itu suami-istri."


"Amanda?. Papa tau nama perempuan itu?"


"Ya, siapa yang nggak tau dengan dia. Semua pebisnis dan pengusaha tau dengan perempuan itu. Dia seorang pebisnis yang sukses, perusahaannya bekerjasama dengan perusahaan papa."


"Nggak mungkin, Arka nggak mungkin menikah. Dia itu artis, dimana-mana diberitakan dia itu single."


"Tapi Arka mengakuinya sendiri. Dan setahu papa, Amanda itu sudah punya anak."


"Itu bukan anak Arka, itu pasti bukan anak Arkaaa." Cintara berteriak histeris, ia tak terima dengan kenyataan ini.


"Kamu harus terima kenyataan ini, dia itu suami orang. Jangan pernah kamu ganggu rumah tangga orang, Cintara."


"Cintara cinta sama diaaa."


"Kamu pikir istrinya nggak cinta sama dia?. Kamu pikir di dunia ini, cuma kamu yang punya perasaan. Cuma kamu yang perasaannya harus dimenangkan?"


"Pa."


"Cintara, papa sedikit menyesal selalu memanjakan kamu. Sampai di usia kamu yang sekarang, kamu nggak bisa mengatasi masalah kamu sendiri. Kamu selalu ingin di backup, di turuti, dilindungi. Sampai kamu lupa, bahwa di dunia ini, ada banyak hal yang tidak bisa kamu paksakan."


Air mata Cintara mengalir dengan deras.


"Harusnya kamu tau caranya bersikap, kamu tau posisi kamu. Jangan bertindak seenaknya, memojokkan orang lain. Demi supaya kamu dianggap sebagai pihak yang paling tersakiti dan harus dimenangkan, selalu dimenangkan."


Cintara kian menangis.


"Papa nggak mau dengar, kamu mengusik suami orang. Nggak akan pernah kamu bahagia, ketika kamu mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain."


"Papa percaya Arka beneran nikah?. Atau itu cuma akal-akalan dia aja, supaya Cintara yang terpojok."


"Sekarang papa tanya, ada hubungan apa kamu sama Arka?"


Cintara diam dan mengalihkan pandangan.


"Ya, pacaran." ujarnya kemudian.


"Bohong."


"Cintara nggak bohong, pa."


"Papa ini papa kamu ya, Cintara."


"24 tahun papa melihat kamu tumbuh, dan papa hafal kamu siapa. Manja, egois, manipulatif, semua hal buruk ada di kamu. Meskipun papa sadar, sebagian besar sifat kamu itu adalah salah papa dan juga mama kamu."


Cintara menyeka air matanya dengan tissue, namun lagi-lagi tangisnya kian pecah.

__ADS_1


"Lupakan Arka, cari laki-laki lain."


Putra meninggalkan kamar anaknya itu, karena ada sebuah telpon yang masuk. Sementara kini Cintara kian larut dalam tangis.


__ADS_2