Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Arka I'm Sorry


__ADS_3

Saat pulang dari rumah sakit, Arka lebih banyak diam. Amanda mengerti pastilah hati suaminya itu sangat terluka, mengingat apa yang tadi dikatakan Amman terhadap dirinya. Ketika sampai dirumah pun, Arka masih enggan berbicara banyak pada istrinya itu.


"Ka, maafin ucapan papa aku ya." ujar Amanda seraya menatap Arka. Jujur ia merasa tak enak hati sekali pada suaminya itu.


Arka mengangguk.


"Aku nggak apa-apa, Man. Emang aku miskin, mau diapain. Papa kamu nggak salah soal itu, tapi yang jelas walaupun miskin, aku bukan pengangguran."


Amanda membawa Arka ke dalam pelukannya.


"Aku yang pengangguran sekarang." ujar Amanda. Arka lalu sedikit tersenyum.


"Aku tau kamu sedih, Ka. Nggak mungkin semudah itu bisa memaafkan perkataan orang yang menyakiti hati kita. Tapi jangan biarkan omongan orang itu mengontrol diri kamu, kamu berhak memilih untuk selalu mikirin omongan itu atau nggak. Kamu yang pegang setir kemudi di otak kamu, jangan sampe omongan orang menguasai diri kamu. Kamu adalah pemegang dan pengendali penuh atas pikiran kamu sendiri."


Arka mengangguk, lalu kini ia memeluk Amanda dengan erat. Esok harinya, mereka sama-sama kembali memulai aktivitas. Amanda mengerjakan pekerjaan sekaligus pekerjaan rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci baju, piring dan juga memasak.


Sementara Arka kini disibukkan dengan tugas di kantornya. Rio hari ini sudah mulai terlihat sedikit bertenaga, orang tuanya sudah datang dan begitu senang atas kesembuhannya.


Meski gosip tentang Arka masih menyebar luas, namun orang-orang di kantor barunya justru tak mau ambil pusing. Ia beruntung masuk ke perusahaan yang isi didalamnya adalah manusia-manusia yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri, bukan sibuk dengan urusan orang lain dan membicarakan sesama.


Ia mendapat beberapa rekan yang memiliki visi misi jelas dalam hidupnya. Setiap kali istirahat dan berbincang, isi perbincangan mereka tak jauh-jauh dari pekerjaan atau film yang ratingnya sedang tinggi. Sama sekali tidak ada yang terlalu kepo terhadap kehidupan masing-masing.


"Amanda."


Arka menelpon istrinya saat istirahat makan siang.


"Ka, kamu koq telat istirahatnya." tanya Amanda yang saat ini tengah memasak untuk sore.


"Iya nih, tadi sibuk banget. Kamu nungguin aku, ya?"


"Iya, akhir-akhir ini aku kangen mulu sama kamu. Tau deh, rasanya pengen gelendotan terus aja sama kamu. Pengen manja tiap saat."


"Bawaan si Hilir-Mudik itu pasti." Arka menyinggung soal bayi mereka, yang disambut tawa oleh istrinya.


"Iya nih, kayaknya gara-gara mereka deh." ujarnya kemudian. Amanda kini mengusap-usap perutnya sendiri.


"Bilangin sama mereka, jangan nakal."


"Tuh dek, papa bilang jangan nakal."'


"Gerak nggak mereka?"


"Iya, tangan aku ditendang." ujar Amanda. Arka terkekeh.


"Kamu udah makan, Man?"


"Udah, ini lagi masak buat kamu ntar sore."

__ADS_1


"Makasih ya, sayang. Kalo emang kamu misalkan lagi males, nggak usah masak juga nggak apa-apa. Ntar aku beli."


"Iya, tapi sekarang aku lagi mau ngelakuinnya."


"Iya sayang, makasih ya."


"Iya." jawab Amanda.


"Kamu ada jadwal periksa kan hari ini?"


"Iya, nanti aku minta anterin pak Darwis. Rianti katanya mau nyamper."


"Rianti?"


"Iya. Ibu sama papa juga masih hubungin aku, Ka. Mereka nanyain kamu terus, dan aku udah berusaha jelasin ke mereka kalau kamu itu nggak salah."


"Terus apa kata mereka?"


"Ya, ibu sih kayak masih nggak percaya. Tapi ya udalah, yang penting kita udah jujur. Toh kebenaran juga pada akhirnya pasti terungkap koq." ujar Amanda kemudian.


Mereka pun lanjut berbincang.


***


Di kantor Amanda.


Bos Rani semakin menjadi-jadi, banyak kebijakan-kebijakan spontan yang tiba-tiba saja ia terapkan pada para karyawannya. Seperti harus datang lebih pagi, potong gaji untuk yang terlambat dan tidak boleh izin sakit lebih dari tiga hari.


"Itu tolong pindahkan kearah sana, ini kesana. Yang disana pindah kesini."


Rani mulai memerintah para karyawan untuk merombak furniture dan tatanan yang sudah ada didalam kantor tersebut. Membuat para karyawan mengumpat dibelakangnya.


"Kalau bukan cewek aja, udah gue pecahin tuh palanya si Rani." gerutu Dewa, karyawan yang berasal dari divisi pemasaran.


"Apalagi gue, pengen banget gue jenggut rambutnya terus gue jedotin ke dinding." ujar Sisca


"Heh, udah. Ntar dia denger, lo pada dapet masalah lagi." ujar Satya.


"Noh Sari, di rumahkan gara-gara ngomongin dia. Bahaya tau, uler itu mah." lanjutnya lagi. Dewa dan Sisca menghentikan gunjingannya.


"Gue mah bodo amat. Lo rumahkan gue, ya gue cari kerja lain. Dasar OKB." ujar Sari sengit seraya masuk ke dalam lift.


"Bos tolol." teriaknya kemudian. Pintu lift pun tertutup.


***


Philip dan Jeremy dari kantor manajemen peace production hari ini mendatangi pihak admin akun lambe, yang pertama kali menyebarkan berita tentang Arka.

__ADS_1


Berdasarkan informasi dari seorang informan terpercaya, mereka berdua berhasil mengetahui bahkan menyambangi kediaman admin tersebut.


Awalnya si admin tidak mengakui, jika memanglah benar ia yang memegang akun gosip tersebut. Namun Philip dan Jeremy kini menekannya.


"Saya dan Philip sudah punya bukti kuat. Hacker yang kami sewa untuk menhack akun kamu, mengabarkan dan menunjukkan bahwa nomor kamu adalah nomor yang dipakai di akun ini. Saya kesini datang baik-baik, saya hanya ingin bertanya dari mana kamu mendapat foto-foto tentang Arka. Foto yang kamu sebar itu, saat dia menggendong Liana."


Admin tersebut diam.


"Kenapa diam?" tanya Jeremy.


"Dia sudah bayar saya untuk bungkam." ujar admin tersebut.


"Kami bisa kasih ratusan kali lipat dari itu." ujar Philip.


"Katakan pada kami, siapa orangnya?"


Admin tersebut masih ragu, namun akhirnya ia pun menjawab.


"Namanya Maureen."


Jeremy dan Philip saling menatap.


"Masih ada bukti DM atau chat nya?"


Admin tersebut mengangguk. Tak lama kemudian, ia membeberkan segala bukti direct message yang dikirim oleh Maureen. Philip mengumpulkan semua bukti, lalu meninggalkan sebuah cek disana.


"Saya harap ini cukup, dan jangan coba-coba ganggu anak-anak manajemen saya lagi. Karena sekali lagi kamu mencemarkan nama baik salah satu dari mereka, saya dan Jeremy tidak akan segan untuk memenjarakan kamu." ujar Philip.


"Saya tau kamu hanya mencari uang dengan jalan seperti ini." timpal Jeremy.


Ia memperhatikan rumah admin tersebut yang sudah sangat memperhatikan. Juga ibunya yang tengah berada di kursi roda.


"Tapi saya berharap dengan uang ini, kamu bisa hidup dengan lebih baik lagi. Jangan memberi ibu kamu makan, dengan uang hasil dari menyakiti orang lain." lanjut Jeremy lagi.


Philip dan Jeremy pun meninggalkan tempat itu. Sementara kini di kost Liana, mbak Arni selaku perwakilan manajemen datang menemui wanita itu. Arka sudah menceritakan semuanya, bahwa Liana pernah ia datangi baik-baik. Namun Liana menolak untuk membersihkan nama Arka, kecuali dengan syarat. Yakni Arka harus menjadi pasangannya.


"Li, saya harap kamu memiliki sedikit perasaan terhadap sesama. Kalau kamu memang benar mencintai Arka, harusnya kamu tidak makin menambah runyam suasana. Cinta itu tidak menyakiti."


"Tapi Arka menyakiti saya." ujar Liana.


"Arka nggak menyakiti kamu. Kalau dia menolak kamu seperti yang tadi kamu bilang sebelumnya, itu karena dia berusaha jujur sama kamu. Akan lebih sakit lagi kalau ada orang yang berpura-pura mencintai kita. Arka jujur sama kamu, dia cinta sama Amanda. Dan perasaan orang nggak bisa kamu paksakan."


Liana menunduk lalu menangis.


"Li, mungkin Arka nggak tau kamu hamil akibat perkosaan itu. Aku yakin baik Arka maupun Amanda juga akan membantu kamu, asal kamu nggak jahatin mereka. Lagipula egois, kalau kamu menginginkan Arka bersama kamu. Kamu memisahkan laki-laki dari istri yang sedang mengandung anaknya."


Liana menyeka air matanya.

__ADS_1


"Kamu juga hamil sekarang, posisi kamu sama dengan Amanda, kalian calon ibu. Jangan sekali-kali kamu menyakiti orang lain demi kepentingan kamu sendiri. Pikirkan omongan aku malam ini baik-baik. Jangan karena kita marah atas apa yang terjadi dalam hidup kita, lantas kita melampiaskannya pada orang lain. Membuat orang lain turut menjadi korban."


Mbak Arni lalu memeluk Liana, wanita itu kini menangis tersedu-sedu.


__ADS_2