Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Fiona


__ADS_3

Arka, sini deh...!"


Amanda berteriak pada suaminya di pagi buta. Arka yang masih tidur itupun mendadak kaget, ia mengira telah terjadi hal buruk pada Amanda.


"Kenapa, Man?" tanya nya kemudian.


"Sini liat." ujar Amanda padanya. Wanita itu kini berada di depan laptop.


"Liat blog cerita yang kita tulis semalem, viewers nya liat."


Mendadak Arka pun sumringah, ketika matanya menatap hal tersebut.


"Serius yang baca sebanyak itu?" tanya Arka tak percaya.


"Iya padahal baru beberapa bab doang." ujar Amanda.


"Yeaaay, yes." ujar keduanya sambil high five.


"Jangan lupa di share, supaya makin banyak yang baca." ujar Arka.


"Yeyeye." Keduanya saling berpelukan.


"Mau liat komentarnya dong." ujar Arka pada Amanda.


Mereka pun membuka kolom komentar dan membaca satu persatu.


"Lanjut dong, seru nih."


"Lanjut."


"Sampe sini, ok ceritanya."


"Bagus, bikin baper."


"Apaan cerita begini, nggak ada adegan hot nya. Masa iya menikah nggak ada adegan hot."


Arka dan Amanda saling menatap satu sama lain, dengan wajah yang sama-sama melongo.


"Nih orang, kenapa ya?" tanya Amanda seraya mengernyitkan dahi.


"Siapa sih ini, username nya." ujar Arka.


"Rio Salim?"


Arka kemudian membuka profil picture milik akun tersebut, dan terdapat foto Rio yang tengah nyengir sampai kuping.


"Hmm si kampret." ujar Arka. Ia dan Amanda kompak melebarkan bibir, tak lama kemudian Rio menelpon.


"Apaan, Bambang. Masih pagi udah nelpon orang." Arka menggerutu.


"Jangan marah dong ayank beb, ntar gue sumpahin disfungsi nganu."


Arka tertawa.


"Eh ngapain lo komen di blog cerita gue sama Amanda kayak gitu?. Nyampah tau nggak, bikin yang lain males baca."


"Lagian lo, nulis bab pernikahan nggak ada adegan hot nya."


"Ya itu kan segmen nya start umur 17, Bambang. Bukan 21+. Ngapain juga gue menceritakan urusan ranjang gue ke khalayak ramai, bukan konsumsi publik."


"Pokoknya nggak seru." ujar Rio.


"Nih, kebiasaan baca novel online dewasa vulgar sih lo. Makanya otak lo rusak."


"Abis platformnya menyediakan coba, gimana bisa gue tolak. Mana adegannya penuh kekerasan lagi, kata-katanya kasar."


"Ya lo jangan baca yang begituan, ntar rusak iman lo." ujar Arka.


"Abis dikasih embel-embel terpopuler nomor sekian, ya penasaran lah gue. Pas dibaca, eh keterusan. Hehe "


"Ri, ini obrolan pagi paling nggak berfaedah di sepanjang hidup gue tau nggak."


"Hahaha." Rio tertawa.


"Ngopi kuy." ujarnya kemudian.


"Ya masih pagi, ntar kek siangan dikit. Gue aja baru bangun sama Amanda. Gue mesti ngurus anak dulu, mandi dan lain-lain."

__ADS_1


"Ribet amat, kayak mau kemana aja." ujar Rio.


"Ya kata lo tadi mau ngopi."


"Orang gue mau ngopi dirumah lo, gue udah dibawah."


"Hah?"


"Buruan jemput gue."


"Serius lo?"


"Ya serius lah, ngapain gue bercanda sama lo di jam segini."


"Ya udah deh, tunggu. Nyusahin lo jadi temen."


Arka menggerutu kesal, namun ia kini menjemput Rio. Tak lama kemudian, mereka sudah terlihat di meja makan. Sambil ngopi dan sarapan.


"Nih, gue tuh mau nganterin ini." ujar Rio seraya menyerahkan paper bag pada Arka.


"Apaan nih?"


"Perlengkapan wisuda, Bambang."


"Oh."


Arka terkejut lalu membuka paper bag tersebut, ia bahkan lupa kalau dirinya akan diwisuda dalam waktu dekat.


"Gue mah perhatian sama lo, Ka. Tante Firman mana inget lo wisuda."


Kali ini Amanda tertawa.


"Eh, gue ngurus kerjaan sama ngurus anak ya. Wajar lah kalau ada hal yang gue kadang lupa."


"Hah, klasik lo Man. Alasan emak-emak." ujar Rio.


Amanda makin terkekeh.


"Ye, emang gue emak-emak." ujar Amanda kemudian."


***


"Hari ini, aku mau ke makam ibuku. Biasanya orang Fritz akan menunggu di luar area pemakaman, karena aku nggak mau diganggu. Aku akan titip surat dan uang ke penjaga makam. Supaya dia sampaikan beberapa pesan ke kantor polisi, dan juga teman serta keluarga kamu. Kamu baik-baik, jangan melakukan tindakan yang mencurigakan. Bersikap normal aja dirumah."


Maureen kembali menemukan pesan tersebut ditempat biasa, yakni didekat pintu kamarnya. Perasaan cemas pun kini melanda, ia takut jika aksi Jordan akan ketahuan. Meskipun Fritz saat ini masih berada di luar negri, namun ada banyak orang-orang berbahaya yang bekerja padanya. Orang-orang tersebut akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Fritz.


Sementara di sebuah pemakaman, Jordan tampak berdiri. Ia menghela nafas beberapa kali, lalu mengambil bunga dari tangan seorang pembantu yang menemaninya. Sudah lama ia tak mengunjungi tempat ini, ada sebuah kerinduan besar yang tersimpan dihatinya.


"Kalian tunggu disini dan jangan ganggu saya, saya mau berdua saja dengan ibu saya." ujar Jordan kemudian.


Salah satu pengawas yang ikut dalam perjalanan itu hanya diam, ia kini berdiri di sisi mobil bersama pembantu dan juga supir. Jordan menatap sekilas ke arah sang pembantu, seraya memberi sebuah kode. Pembantu tersebut pun mengangguk.


Jordan berjalan menyusuri makam, kebetulan makam ibunya agak jauh kedalam. Namun masih bisa sedikit terlihat dari pintu gerbang, meski terhalang beberapa pohon bunga seperti kamboja dan bougenville.


Jordan celingukan, karena sepanjang perjalanan menuju ke makam ibunya itu. Tak ada satu petugas makam pun yang menghampiri. Biasanya salah satu dari mereka sudah mendekat sejak tadi, entahlah mungkin mereka sibuk atau apa. Karena pengunjung makam hari ini cukup ramai.


Jordan pun mulai khawatir, bagaimana ia bisa menyampaikan surat dan meminta bantuan atas Maureen. Jika petugas makam itu saja tidak ada. Ia menoleh ke belakang, namun ia bertemu tatap dengan petugas pengawas yang memperhatikan dirinya dari kejauhan.


Khawatir petugas itu menjadi curiga, Jordan melangkah saja terus kedepan. Sesampainya di makam sang ibu, Jordan terkejut melihat ada bunga mawar merah segar di sana. Ia bertanya-tanya dalam hati, siapa yang baru saja mengunjungi makam tersebut. Sedang ibunya tak memiliki kerabat lain, selain dirinya dan Fritz.


"Braak."


Jordan merasa menginjak sesuatu dan segera menghindar. Ternyata sebuah handphone, dan saat ini sedang terdapat panggilan di handphone tersebut. Jordan pun lalu mengangkatnya.


"Hallo." Terdengar suara laki-laki di seberang sana.


"Iya hallo, pak." jawab Jordan kemudian.


"E, maaf pak. Ini handphone saya yang jatuh, kalau boleh tau ini posisi nya dimana ya?" tanya si pemilik handphone.


"Di makam, pak." ujar Jordan.


Ia mengira handphone ini telah terjatuh dari pengunjung makam yang kebetulan lewat, atau bisa jadi pengunjung makam disebelah ibunya.


"Ya udah, saya kesana sekarang. Mohon maaf ya pak." ujar si pemilik handphone sekali lagi.


"I, iya nggak apa-apa. Ambil aja kesini." ujar Jordan kemudian.

__ADS_1


Tak lama si pemilik handphone itu pun sampai.


"Maaf pak, eh." Ia melihat ke arah Jordan yang ternyata masih muda.


"Maaf dek, bapak mau ambil handphone bapak." ujarnya kemudian.


"Oh ini pak, handphone nya." Jordan menyerahkan handphone tersebut.


"Makasih ya dek." ujarnya kemudian.


"Saya tadi mengunjungi istri saya." lanjutnya seraya menunjuk makam ibu Jordan. Seketika waktu pun terhenti.


"Saya permisi." ujar pria itu.


"Tunggu...!" Jordan menghentikan langkah pria itu, dan pria itupun menoleh kepadanya.


"Anda bilang apa tadi?. Ini makam istri anda?" tanya Jordan dengan tubuh yang mulai gemetaran. Saat ini ia tengah coba mengatur nafas, yang perlahan memburu.


"Ya, mendiang istri pertama saya."


Air mata Jordan jatuh, membuat pria itu menjadi bingung.


"Jadi benar apa yang dikatakan paman saya, anda pergi dengan wanita lain dan mengkhianati ibu saya."


Pria itu kini terkejut menatap Jordan dan perlahan mendekat. Tubuhnya kini sama gemetarnya dengan Jordan.


"Kamu hidup?" tanya nya dengan suara seperti terisak.


Jordan bingung.


"Kamu hidup, nak?" ujarnya lagi.


Pria itu mulai menangis dan memeluk Jordan, ada rasa sakit yang kini bergumul dihatinya.


"Ma, maksudnya?" tanya Jordan seraya melepaskan pelukan. Ia benar-benar tak mengerti pada apa yang dikatakan pria itu.


"Fritz bilang Fiona meninggal gara-gara melahirkan kamu, dan kamu juga tidak selamat."


Pria itu makin terisak.


"Ibu saya meninggal karena anda mengkhianati nya." Jordan menatap ayahnya itu dengan penuh kemarahan.


"Mengkhianati?"


"Iya, anda pergi dengan perempuan lain kan?"


Seketika ayah Jordan pun terpukul, ia mengingat peristiwa kala itu dengan hati yang tercabik pilu.


"Saya tidak pernah mengkhianati dia, sekalipun."


Pandangan mata ayah Jordan terbuang ke suatu arah.


"Fritz mengancam saya dan keluarga, agar saya segera menjauhi Fiona. Karena status sosial saya dianggap tidak pantas untuk menjadi suami Fiona."


Jordan kian gemetaran mendengar hal tersebut.


"Dulu saya bekerja di kantor Fritz, dan suatu ketika saya bertemu dengan ibu kamu. Saat dia berkunjung, sepulang dia menyelesaikan pendidikannya diluar negri. Kami saling jatuh cinta, dan saya serius dengan dia. Saya mungkin orang yang paling tidak tahu diri, karena berani mencintai adik bos saya sendiri. Dan benar saya berasal dari keluarga miskin saat itu."


Ayah Jordan menghela nafas. Sementara anaknya perlahan membeku ditempat, dengan telinga yang terus mendengarkan.


"Hubungan kami baik-baik saja, sampai suatu ketika kami berencana menikah dan membicarakan hal ini pada Fritz. Fritz marah besar, dia bilang saya mendekati adiknya karena menginginkan harta mereka."


"Saya sudah ingin mundur, karena saya tau diri. Tapi Fiona, dia tidak mau kami berpisah. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menikahi Fiona, tanpa persetujuan Fritz. Fiona kemudian berpindah keyakinan, sama seperti saya. Dan pernikahan kami di wakilkan oleh hakim wali. Kami hidup berpindah-pindah, untuk menghindari Fritz. Sampai kemudian Fiona dinyatakan hamil, saat itu adalah saat paling bahagia dalam hidup kami. Kami sudah membuat banyak rencana kedepannya, sampai kemudian Fritz dan orangnya menemukan kami. Dan ternyata ibu saya sudah di sandera oleh Fritz. Dia meminta agar saya mengembalikan Fiona, dengan begitu dia akan mengembalikan ibu saya. Saya tidak punya pilihan lain, satu ibu saya. Satu lagi, wanita yang sangat saya cintai."


"Fiona kembali pada Fritz, saya mendapat ancaman bertubi-tubi. Tapi saya masih terus memperjuangkan Fiona, saya terus meminta pada Fritz untuk membiarkan saya bertemu Fiona. Lalu Fritz mengatakan jika Fiona sudah dikirim keluar negri. Saya tidak tahu, kalau dia mengarang cerita soal perselingkuhan saya kepada Fiona. Karena saya tidak pernah selingkuh, saya masih berharap hati Fritz akan terbuka suatu saat."


"Tapi beberapa bulan kemudian, kabar yang saya dengar adalah Fiona meninggal. Saya berlari ketempat ini dan melihat Fiona sudah terkubur. Fritz menyalahkan saya, dia bilang Fiona meninggal karena melahirkan janin saya yang terkutuk. Saya bertanya dimana anak saya. Fritz bilang, anak itu mati."


Air mata keduanya kian deras mengalir, ada rasa sesak yang kini membuncah di hati Jordan. Ia baru menyadari jika Fritz telah membohonginya selama ini, Fritz lah yang sejatinya menyebabkan sang ibu meninggal.


Ayah dan anak itu kian larut dalam kesedihan yang tak terbatas, keduanya terpaku tepat di sisi makam Fiona. Sementara dari kejauhan, seorang perempuan yang tiada lain adalah Ningsih. Kini melihat suaminya tengah menangis dan berpelukan dengan seorang pemuda, yang mungkin seumuran atau lebih tua sedikit dari Arka.


Suaminya itu lalu beranjak dan pergi, sementara si pemuda duduk disisi sebuah makam. Karena penasaran Ningsih pun mendekat ke arah sana, tak lama pemuda itu dipanggil oleh seseorang. Pemuda itupun bergegas meninggalkan makam. Ningsih masih mendekat, lalu ia melihat makam tersebut. Matanya tertuju pada nisan yang bertuliskan,


"Fiona Frederica Wilson."


Ningsih menutup mulutnya yang menganga, karena saking terkejutnya ia. Ternyata Fiona yang ia lihat di dalam foto, telah berada ditempat ini. Namun, siapa Fiona ini, apa hubungannya dengan sang suami?.

__ADS_1


__ADS_2