Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Titik Balik


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Amanda datang, Amman membuka mata dari tidurnya yang cukup panjang. Ia menyadari tak ada seorang pun di sampingnya. Vera juga entah dimana, bahkan Rachel sama sekali tak terlihat sejak pertama ia siuman.


Pria tua itu menghela nafas, ada perasaan kosong yang kini merayapi batinnya. Mendadak kesombongannya selama ini runtuh, Ia sadar ternyata hal yang paling menyakitkan bukanlah ketiadaan uang. Melainkan ketiadaan orang yang peduli terhadap kita.


Ia boleh jadi memiliki harta, kuasa, dan berhasil membangun image yang membuat semua karyawan takut serta tunduk padanya. Namun semua itu tak berguna sedikitpun. Bahkan uang dan kekuasaan yang ia miliki tersebut, tak mampu membeli cinta dan perhatian sekecil apapun.


Saat ini ia hanya ingin dicintai, namun sadar jika dirinya tak pernah sekalipun menebar cinta. Bagaimana bisa memanen padi, sedang benihnya tak pernah ia tanam. Bagaimana ia bisa menanam, sedang ia sendiri tak memiliki benih tersebut.


Satu dua orang perawat masuk. Memeriksa infus, dan juga memberi makan padanya. Namun itu bukanlah bentuk cinta yang diinginkan Amman. Mereka tak saling mengenal dan perawat itu hanya sedang melakukan tugasnya.


Meski tugas tersebut dilakukan dengan sepenuh hati, perawat itu tetap bukan orang yang mencintai Amman. Amman tak memiliki cinta sedikit pun dalam hidupnya. Baik dari pasangan, anak, maupun orang-orang yang selama ini berada didekatnya.


***


"Jawab!"


Ryan memerintahkan Amman untuk menjawab pertanyaannya. Perihal mengapa Amman ingin menghancurkan pernikahan Arka dan juga Amanda.


Aman sendiri bingung harus memulainya dari mana, yang jelas saat ini ia merasa begitu bersalah. Ia memang berniat memisahkan kedua orang tersebut sejak waktu itu. Lantaran niat hatinya ingin menjodohkan Amanda dengan anak Ryan.


Namun sejak kejadian tempo hari, bahkan ia telah melupakan hal tersebut. Saat bangun dari tidurnya tadi saja, sejatinya ia sudah berniat ingin menghentikan semua kejahatan yang telah ia rencanakan.


Ia merasa tak ada gunanya lagi mengejar harta, ketika kematian begitu dekat dengan kita. Mungkin selama ini ia selalu berusaha mengingkari, jika dirinya sudah tua. Ia merasa tubuhnya sangat sehat dan masih bisa melakukan banyak hal.


Namun kematian bukan saja mendekat, karena kondisi alami tubuh yang menua. Namun bisa saja terjadi karena orang lain, seperti apa yang ia alami sekarang. Ya, pengeroyokan itu bisa saja merenggut nyawanya.


Amman benar-benar dibuat dekat dengan kematian oleh kejadian itu. Apalagi darahnya yang langka dan hanya bisa ditolong oleh sesama penyintas. Sedikit saja Aaron menusuk lebih dalam dan kemudian terlambat, ia mungkin sudah lewat. Sungguh harta tak akan bisa menolong, jika semuanya sudah ditakdirkan akan berakhir.


"Amman, I bicara sama you."


Ryan berujar sekali lagi, namun mata Amman masih menatap jauh ke depan.


"Ok, kalau lo belum mau ngomong. Atau mungkin lo berat untuk membicarakan ini semua, gue akan pergi sekarang. Tapi gue minta jangan pernah usik rumah tangga mereka lagi, Arka itu anak baik. Sekalipun seandainya dia bukan anak gue dan dia miskin, lo jangan main langsung pisah-pisahkan mereka. Lo harus pikirkan kebahagiaan Amanda, jangan cuma mikir mengejar harta. Apalagi sih yang lo cari?. Kita udah tua, Man. Kita bukan yang dulu lagi. Dan lagian lo, gue, kita semua kaya. Kalau mau nurutin hati, nggak akan pernah ada puasnya."


Amman masih tak menjawab sepatah pun, namun ia mendengar dan meresapi semua ucapan Ryan. Tak lama kemudian, Ryan pergi meninggalkan tempat itu.


***


"Arka."


Amanda menghambur ke pelukan Arka, ketika akhirnya mereka bertemu di penthouse. Arka yang tak tahu apa-apa itupun langsung memeluk sang istri.


"Kamu koq pulangnya telat?" tanya Arka. Karena biasanya mereka pulang bersama atau Amanda yang lebih dulu.

__ADS_1


Amanda tak menjawab, ia hanya sedang meresapi aroma tubuh suaminya itu. Bermaksud mencari ketenangan disana.


"Kenapa kamu?"


Arka curiga ada sesuatu yang telah terjadi. Meski Amanda tak mengatakannya, namun ia tahu gelagat wanita itu. Ia mengenal Amanda bahkan lebih baik dari orang terdekatnya sekalipun.


"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Arka kemudian. Amanda masih tak memberikan reaksi apa-apa.


"Papa, Ka." ujarnya kemudian.


"Papa kenapa?" tanya Arka pada istrinya itu.


"Dia mau nuntut pernikahan kita, masa. Drama banget nggak sih?"


Arka tertawa, ia lalu melepaskan pelukannya dan menatap istrinya itu.


"Kamu kan tau kalau pernikahan kita udah sah, yang nikahin kita juga adik papa kamu. Terus kenapa kamu mesti kesel, marah, dan bete gini?. Kelebihan energi kamu, jadi mau dibuang gitu aja separuhnya?"


Amanda menekuk bibirnya, dan kedua matanya kini membesar. Persis seperti lemur Madagaskar.


"Ya abisnya aku kesel, Ka. Sedih aja gitu, kita berdua berusaha keras supaya rumah tangga ini adem-ayem. Ada aja orang lain yang mau mengusik, nggak bisa apa tenang dikit hidup kita."


"Sebenarnya mau ada badai atau apapun dari luar, tergantung responnya kita. Mau santuy apa nggak?"


"Nah justru ketika santai, kita bisa mikir mau menyelamatkan diri kemana. Kalau panik, ya makin kebawa." Arka membela diri.


Amanda baru hendak menjawab kembali, namun Arka lalu mencium bibir istrinya itu. Seketika Amanda pun terdiam, lalu membalas pada beberapa detik berikutnya.


"Gimana kalau kita makan bakso?" Arka memberi ide.


"Mau pesan pake ojek?" tanya Amanda.


"Nggak usah, orang aku udah beli." ujar Arka seraya melirik ke arah meja makan.


Amanda pun menoleh ke sana, tampak ada dua mangkuk berisi bakso yang masih berada didalam bungkus plastik.


"Wah, terbaik emang kamu." ujar Amanda sumringah.


"Makan yuk!" ujar Arka lagi.


"Ayo."


Amanda tersenyum lalu berjalan ke arah meja makan, diikuti suaminya.

__ADS_1


"Man, aku lupa."


Arka berujar kepada Amanda ketika mereka mulai makan.


"Aku tempo hari ketemu ibunya Maureen. Maureen beneran ilang, katanya."


Amanda agak memperlambat proses makannya yang semula binal.


"Maksud kamu, dia beneran nggak ada lagi ditempat papa?" tanya wanita itu.


"Mana aku tau." jawab Arka.


"Terus kamu bilang apa ke ibunya?"


"Ya, aku bilang aja nggak tau. Aku juga bingung, kalau mau bilang pernah ketemu dia ditempat papa kamu. Takut ibunya nanya panjang lebar."


"Ya bilang aja soal kelakuan anaknya, yang pengen jadi princess dadakan. Sampe menghalalkan segala cara."


"Justru itu, Man. Aku takut kalau misalkan aku bilang Maureen disana, pas tau-tau ibunya datang tapi Maureen-nya nggak ada. Gimana?"


"Emang dia kemana sih, kalau nggak ada dirumah papa?"


"Nah itu dia yang aku nggak tau, coba deh kamu tanya orang rumah papa kamu."


"Masalahnya kontak mereka nggak ada, Ka. Aku tuh nggak begitu kenal sama orang-orang dirumahnya dia, cuma ada satu dua orang yang aku tau. Itupun aku nggak tau, mereka masih kerja disana apa nggak. Kebanyakan orangnya Rachel semua sekarang yang kerja disana, aku mau ketemu papa lagi tuh males."


"Kamu udah kesana, emangnya?"


"Udah tadi, aku marah soal surat gugatan yang dikirim sama pengacaranya bodohnya itu."


"Terus reaksi papa kamu gimana?"


"Dia diem aja, kayak mau ngomong tapi nggak aku kasih kesempatan. Terus aku pergi deh, selesai marah."


Arka meraih gelas berisi air putih yang ada dihadapannya, lalu meminum air tersebut hingga setengah bagian. Ia kini menghela nafas sambil menatap Amanda.


"Lain kali datang baik-baik ya." ujarnya kemudian.


"Iya." jawab Amanda gusar, sambil melahap bakso terakhirnya.


"Koq gitu jawabnya?"


"Iya, Arka."

__ADS_1


Amanda berkata dengan nada penuh penekanan, Arka sendiri lalu tertawa mendengar semua itu.


__ADS_2