
"Anak mama koq ganteng sih?"
Amanda yang baru selesai mandi kini mendekat ke arah si kembar yang tengah menonton tayangan kartun sambil meminum susu. Saat itu si kembar sudah ada bersama Arka.
"Eheee."
Azka tertawa sejenak menatap Amanda, lalu kembali memperhatikan layar televisi.
"Afka koq nggak menanggapi mama?"
Amanda bertanya pada kembaran Azka tersebut, membuat Arka jadi menoleh pada anaknya itu.
"Hoh." Afka hanya mengeluarkan suara sedikit dan terus fokus pada apa yang ia lihat.
"Mama ngajak ngomong itu nak, nggak boleh kayak gitu." ujar Arka memberi nasehat. Meski ia tau anak itu belum akan mengerti.
"Eheee."
Afka tertawa, namun dengan mata yang masih tertuju pada arah yang sama. Tak ingin mengganggu sang anak, Amanda pun jadi ikut-ikutan nonton dan berhenti berkomunikasi dengan mereka. Tak lama si kembar tertidur, begitupula dengan kedua orang tuanya.
***
Esok hari.
"Ka, ada iklan nih. Mau nggak lo?"
Mbak Arni mengirim pesan singkat pada Arka, saat Arka tengah berkutat dengan komputer di kantor.
"Iklan apaan?" tanya Arka pada perempuan itu.
"Salep kudis." jawab mbak Arni.
"Anjir, wkwkwkwk. Serius mbak?" tanya Arka lagi.
"Kagak ege, lagian kagak pantes lu cakep-cakep jadi model iklan salep kudis. Ntar lo dikira penuh keburikan lagi." ujar mbak Arni.
"Wkwkwkwk."
Arka mengetik seraya menahan tawa. Sebab suasana kantor sedang hening kala itu.
"Terus iklan apa dong?" tanya nya kemudian.
"Obat panu."
"Wkwkwkwk."
Mbak Arni kembali berkata, kali ini ia benar-benar sambil tertawa karena sudah tidak tahan lagi. Sementara Arka masih bisa, meskipun ia kini tampak senyum-senyum sendiri.
"Iklan Frozen food, Ka." ujar mbak Arni.
"Oh, oke deh boleh. Budget berapa?" lagi-lagi Arka bertanya.
Mbak Arni lalu menyebut fee yang akan diterima Arka, jika ia bersedia menerima tawaran tersebut.
"Lumayan kan?" tanya mbak Arni padanya.
"Mau nggak lo?" lanjutnya lagi.
"Ya mau lah, kalau segitu." jawab Arka.
"Ya udah cus, abis pulang kantor kesini lo."
__ADS_1
"Oke mbak, ntar gue langsung kesana."
"Sip, gue tunggu ya Ka."
"Oke mbak." jawab Arka.
Tak lama mbak Arni pun berpamitan dan menyudahi chat tersebut. Arka lalu melanjutkan pekerjaannya.
Sepulang dari kantor ia langsung menyambangi kantor management Peace Production. Dimana klien telah siap menunggunya disana. Arka sendiri di temani oleh Amanda, sebab tadi ia sekalian menjemput istrinya itu.
Amanda menunggu di lobi ruang tunggu, saat Arka sendiri berada di dalam untuk membicarakan kerjasama.
"Man, maaf ya tadi lama."
Arka meminta maaf pada sang istri, ketika akhirnya semua selesai dan mereka memutuskan untuk pulang.
"Iya nggak apa-apa koq, Ka." jawab Amanda.
"Aku takut kamu bosen aja tadi nunggunya."
"Nggak sih, biasa aja. Kan dalam ruangan dan ber-AC pula." ujar wanita itu lagi.
Arka tersenyum lalu menggenggam tangan Amanda untuk sejenak.
"Makasih ya." ujarnya kemudian.
"Sama-sama, Ka."
"Oh ya, jadi gimana tadi?. Syutingnya mulai kapan?" tanya Amanda.
"Lusa." jawab Arka.
"Di studio atas management."
"Oh, nggak jauh-jauh ya berarti." ujar Amanda.
"Iya, kalau mau ikut, ikut aja. Ajak anak-anak sekalian."
"Iya deh, nanti aku pikir dulu. Takut nanti malah ganggu dan kamu nya nggak konsentrasi."
"Ya nggak apa-apa, asal jangan berisik aja." ujar Arka.
"Nah, itu yang nggak bisa. Takutnya pas kamu lagi take adegan, si kembar ngamuk atau panggil-panggil kamu."
"Iya sih, nanti mau papa-papa terus lagi." ujar Arka.
"Makanya." balas Amanda.
Arka hanya tertawa kecil dan terus mengemudikan mobil.
***
Di lain pihak, Citra yang mencoba menemui Nino harus menelan pil pahit. Sebab anaknya itu menolak secara gamblang dan mengatakan jika dirinya tidak mau bertemu dengan wanita itu.
Hal tersebut tentu saja membuat Citra menjadi sangat sedih. Ia masih merasa begitu bersalah dan ingin memperbaiki semuanya.
Tetapi Nino seakan tak memberi dirinya kesempatan. Citra pun akhirnya mengadu pada Ryan, dan Ryan berjanji akan berbicara pada Nino.
Kini Ryan telah pulang dari bekerja seharian, dan kebetulan Nino serta Ansel ada di kediamannya. Ia memanggil Nino dan mencoba berbicara serta memberi nasehat pada anaknya itu di meja makan.
"Bisa nggak kita nggak usah ngomongin dia?"
__ADS_1
Nino berkata pada Ryan seraya membuang tatapannya ke arah lain. Pandangan mata pria itu terlihat lesu dan juga tak bersemangat. Padahal sebelum itu ia masih baik-baik saja dan masih bercanda dengan Ansel.
"Nin, sebagai ayah daddy nggak bisa diam saja melihat hal ini. Apapun sikap kamu kepada orang lain, orang pasti akan menyoroti daddy. Karena daddy adalah orang tua kamu."
"Harusnya kalau orang tersebut sadar apa yang sudah dia lakukan, dia nggak akan menyalahkan daddy atas sikap yang Nino tunjukkan. Harusnya dia menyadari bahwa Nino bersikap kayak gitu ke dia, adalah berkat ulahnya sendiri. Nino belum bisa menerima dia, dia aja butuh bertahun-tahun untuk bisa menerima Nino sebagai anaknya. Kenapa dia marah saat Nino masih butuh proses untuk bisa melakukan hal yang sama?"
Ryan agak terdiam, namun dengan tatapan mata yang tak terlepas dari anaknya itu. Sementara Nino belum berani menatap Ryan dan masih membuang pandangannya.
"Sebagai orang tua, daddy cuma berusaha memberi pandangan untuk kamu. Terserah kamu mau berubahnya kapan. Yang jelas sikap seperti itu nggak baik untuk dipertahankan. Biar bagaimanapun Citra itu ibu kamu, dia perempuan yang sudah melahirkan kamu ke dunia."
Nino diam dan tak lagi menjawab. Ryan menatap anaknya itu sekali lagi, kemudian berlalu. Meninggalkan Nino dalam kebekuan yang mendalam.
***
"Hoayaaa."
Azka dan Afka yang baru saja di keluarkan dari dalam box bayi, kini kabur merayap keluar dari kamar.
"Mau kemana?"
Amanda mengiring mereka dari belakang, dan mereka terlihat seperti dikejar. Mereka menoleh, kemudian tertawa dan makin cepat merayap.
"Loh, mau kemana?. Kita mau mandi dek.
Arka yang baru saja menanggalkan pakaian kerjanya dan hanya mengenakan kaos serta celana pendek, mendekat ke arah anak-anaknya tersebut.
"Eheee."
Azka dan Afka tertawa dan kini seakan hendak menghindar.
"Ya udah pa, kita tangkap aja. Bandel nih, pada nggak mau mandi."
Amanda berkata seraya tertawa kecil. Ia dan Arka kemudian membiarkan si kembar agak menjauh, kemudian kedua anak itu mereka kejar dan tangkap.
"Aku dapat satu." ujar Arka seraya mengangkat Azka. Azka seakan memberontak tapi sambil tertawa-tawa.
"Eheee."
Afka juga kini telah berada dalam tangkapan sang ibu dan ia pun sama tertawa-tawa.
"Mau coba-coba lari ya kalian nggak bisa."
"Hmmh."
"Hmmh."
"Hmmh."
Amanda mencium anaknya itu dengan gemas, sementara yang dicium makin tertawa.
"Eheee."
"Ya udah kita mandi yuk!" ajak Arka.
"Ayo!" jawab Amanda.
"Yoyo."
Azka bersuara.
"Lah ngejawab." ujar Amanda dan Arka di waktu yang nyaris bersamaan. Tak lama kemudian mereka semua masuk ke kamar mandi.
__ADS_1