
Amman, dialah biang kerok dari semua petaka yang muncul dalam hidup orang-orang di sekitarnya. Ya, dia adalah penyebab semua kekacauan yang terjadi belakangan ini.
Aston hampir saja membunuh istrinya, yang merupakan korban pemerkosaan oleh lelaki bejat itu. Bahkan Amman pula lah yang memberitahu pada Aston, mengenai Nino dan juga masa lalu mereka melalui sambungan telepon.
Selama puluhan tahun ini, Amman mengetahui keberadaan Aston dan juga Citra. Karena mereka pun bahkan masih tinggal di kota yang sama. Namun Amman tak pernah dapat kesempatan untuk bertemu kedua orang itu.
Dan lagi ia tidak mempunyai bukti, jika Citra pernah mengandung dan melahirkan anaknya. Andai ia besar di jaman ini, pastilah ia akan sangat mudah untuk membuktikan hal tersebut. Ia bisa dengan mudah menghancurkan hubungan antara Aston dan juga Citra.
Di jaman ini semua serba canggih. Tinggal pasang saja kamera handphone, rekam semua tindakan itu lalu sebarkan. Citra pasti malu dan akan memilih menikah dengannya.
Karena kebiasaan buruk di negri ini, apabila ada kasus pemerkosaan. Maka korban akan dipaksakan menikah dengan si pelaku.
Sebuah solusi yang menyudutkan pihak korban, tetapi menguntungkan bagi pelaku seperti Amman. Jika itu benar terjadi padanya.
Namun apa daya di jaman itu, ia bahkan tak bisa membuktikan apa-apa. Kamera perekam di masa itu masih besar-besar dan akan sangat sulit menyembunyikannya.
Lagipula pasti akan sangat repot, melaksanakan aksi pemerkosaan sambil membawa kamera dengan berat 2kg an lebih. Sedang ia ingin menikmati setiap inchi tubuh Citra yang ia cintai.
"Pak Amman dari CCTV jalan, kita bisa melihat bahwa bapak memang berada di jalur yang tidak semestinya. Pada saat kecelakaan beruntun kemarin berlangsung."
Salah seroang anggota kepolisian berkata pada Amman, yang kini duduk terdiam di sebuah kursi.
"Saya mengantuk berat, pak. Tetapi saya tidak sedang berada dibawah pengaruh Alkohol." jawab pria itu kemudian.
"Saya habis melaksanakan donor darah di sebuah rumah sakit. Saya masih ingat siapa dokter yang menghubungi dan siapa perawat yang menangani saya saat itu." lanjutnya lagi.
Polisi kemudian mengetik semua pernyataan Amman di dalam komputer. Tak lama kemudian salah seorang pengacara kepercayaan Amman pun datang.
Berbagai pertanyaan di jawab oleh pria tua itu. Sementara disisi lain, tepatnya di kantor perusahaannya. Ada beberapa orang yang datang meminta pertanggung jawaban. Agaknya itu juga merupakan korban kecelakaan, yang enggan menempuh jalur hukum.
Namun bukan berarti orang-orang seperti itu tidaklah berbahaya, melainkan mereka lebih patut diwaspadai. Karena dikhawatirkan akan bersikap barbar, apabila permintaan mereka tidak dipenuhi.
Mereka kini berhadapan dengan salah satu humas di kantor Amman, karena Amman sendiri masih berada di kantor polisi.
***
Hari itu Arka dan Amanda masih di bayang-bayangi rasa bersalah. Karena telah meninggalkan bayi kembar mereka terlalu sering, hingga menyebabkan bayi-bayi itu mengamuk dan merajuk pada kedua orang tuanya.
Tak ingin anaknya kekurangan waktu serta perhatian lagi, Arka dan Amanda membawa masing-masing bayi mereka ke kantor.
Amanda sendiri tak masalah, karena ia adalah bos di kantornya dan memiliki ruangan sendiri. Sehingga ia bisa leluasa membawa Afka.
Sedang Arka harus meminta izin terlebih dahulu. Beruntung bosnya tak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Apalagi itu adalah hari Jum'at, dimana kantor mereka agak lebih santai dari biasanya. Dan Arka pun tak akan membawa sang anak selamanya ke tempat itu.
Amanda mengerjakan pekerjaannya, sementara Afka tertidur lelap. Kebetulan bayi yang satu itu memang doyan molor.
Sedangkan Azka yang kini bersama Arka, tampak berada didalam stroller dengan posisi setengah duduk. Ia tak tidur sama sekali. Arka membuka penutup stroller tersebut, agar bayinya itu bisa melihat kesana-sini.
"Baaaa."
__ADS_1
Rekan-rekan kerja Arka menjadi agak sulit berkonsentrasi, mata mereka selalu tertuju pada bayi yang menggemaskan itu.
Apalagi Azka sangat mudah tersenyum pada orang lain. Akibatnya seisi kantor itu mondar-mandir, hanya untuk menyentuh pipinya atau sekedar bercengkrama sejenak.
"Sedotannya mana?"
Seorang rekan kerja Arka berujar sambil menatap minuman dalam kantong, yang baru saja ia ambil dari dalam kulkas.
"Eh, itu ASI anak gue." ujar Arka panik seraya mendekat.
"Waduh, gue pikir susu produk baru. Untung nggak ke minum." ujar rekannya itu dengan ekspresi kaget. Arka dan yang lainnya pun lalu tertawa.
"Saudaraan lo ntar, sama anaknya Arka." seloroh rekan kerja Arka yang lain. ASI tersebut lalu kembali diletakkan ke tempat semula.
"Ogah banget anak gue bersaudara sama lo, lo makannya banyak." ujar Arka.
Lagi dan lagi mereka semua tertawa, hanya Cintara saja yang diam sejak tadi. Ia sepertinya tidak senang pada Arka yang tiba-tiba membawa bayinya itu.
"Tunggu disini ya, papa mau fotocopy.ini dulu." ujar Arka pada anaknya.
Arka lalu beralih ke ruangan sebelah, untuk memfoto copy beberapa file. Tinggallah Azka sendiri di dekat meja kerja ayahnya itu.
"Hoayaaa." ujarnya bersuara.
Cintara yang tengah berusaha fokus, menoleh pada anak itu. Dan ternyata Azka sedang melirik ke arahnya. Cintara tak menggubris, rasanya ingin sekali ia menjitak kepala anak itu. Sebab ia kesal dengan ibu dari bayi tersebut, yang dirasa telah merebut belahan jiwanya.
"Hoayaaa." Azka kembali bersuara.
"Weeek." ujarnya kemudian. Tanpa diduga ternyata Azka malah tertawa.
"Eheeee."
Cintara makin kesal dibuatnya. Gadis itu lalu kembali menjulurkan lidah, agar supaya anak itu menangis. Ia ingin Arka merasa tak enak pada sekitar karena tangisan anaknya, lalu berfikir membawa bayi itu segera pulang.
"Weeek." ujar Cintara lagi.
"Eheeee."
Kali ini suara tawa Azka lebih besar ketimbang tadi. Membuat para karyawan lain akhirnya menoleh, dan mendapati perbuatan Cintara.
Cintara pun menaikkan bagian hitam matanya ke atas, lalu kembali mencoba fokus pada pekerjaan. Beberapa saat berlalu, Arka tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Ndi, tolong liatin anak gue bentar ya. Gue lupa ada yang mesti gue urus di lantai 3." ujar Arka pada salah satu rekan kerjanya, ketika ia telah keluar dari ruangan foto copy.
"Ya udah, tinggalin aja nggak apa-apa." ujar Andi.
"Kalau dia nangis telpon gue ya, Ndi."
"Iya."
__ADS_1
Arka pun menghilang di balik pintu lift, sementara Azka kini sendirian. Ia memperhatikan karyawan yang sibuk mengurus pekerjaan. Sesekali para karyawan itu melintas, lalu mengelus kepalanya.
Beberapa saat berlalu, Arka belum juga kembali. Sementara karyawan lain mulai fokus, karena jam sudah semakin sore.
Semakin cepat selesai pekerjaan, akan semakin cepat pula mereka pulang. Apalagi ini menjelang weekend, banyak karyawan yang berencana untuk berlibur.
"Hoayaaa."
Azka mulai bersuara lagi, kali ini sambil melihat ke arah kursi dan meja ayahnya yang kosong.
"Hoayaaa."
Tak ada yang memperhatikan.
"Hekheee."
Ia pun mulai menangis dan berhasil menarik perhatian sekitar. Para karyawan yang semula sibuk itu pun, mencoba menenangkan anak itu. Satu demi satu bergantian menggendong Azka, sementara yang lainnya sibuk bercilukba, atau menampilkan wajah jelek mereka dihadapan anak itu.
Bermaksud agar Azka tertawa, namun anak itu malah makin menjerit-jerit. Cintara begitu kesal, ia mengambil dan menggendong bayi tersebut. Lalu keajaiban pun terjadi, entah mengapa Azka mendadak diam dan langsung tertawa.
"Eheeee." ujarnya menatap Cintara.
"Jangan ngeliatin saya kayak gitu." ujar Cintara dengan nada ketus, namun Azka makin tertawa.
"Eheeee."
"Aha, ehe, aha, ehe. Nggak lucu tau nggak, kamu biasa aja."
"Eheeee."
"Makin ketawa lagi."
Putra yang tak sengaja melintas dan melihat pemandangan tersebut, hanya bisa menahan senyum. Begitu juga dengan karyawan yang lain.
Masalahnya seisi kantor tahu jika Cintara menyukai Arka, dan ia membenci istri serta anak-anak Arka. Tapi kini ia justru malah terjebak menjadi baby sitter dadakan.
Cintara meletakkan kembali Azka ke dalam stroller. Namun baru saja ia berbalik menuju ke arah meja kerjanya, bayi itu sudah kembali menangis.
Mau tidak mau ia pun kembali menggendong Azka, dan lama kelamaan ia menjadi tak waras dengan sendirinya. Pasalnya kini ia berkomunikasi dengan bahasa aneh kepada Azka, sementara Azka tertawa-tawa.
"Abuzubuzubuzu."
"Abuzubuzubuzu."
"Eheeee."
Arka kembali setelah menyelesaikan urusannya, ia sangat khawatir Azka akan menangis. Saat keluar dari lift, buru-buru pria muda itu menghampiri stroller anaknya.
Namun Azka tidak ada disana, Arka melirik sekitar dan juga para rekannya. Lalu rekannya melirik ke arah Cintara yang berada disebuah pojokan.
__ADS_1
Arka terdiam ditempatnya berdiri lalu tersenyum. Cintara dan anaknya kini berdiri di dekat kaca, jauh di pojok dekat ruangan Putra. Tampak gadis itu tengah berbicara pada Azka, seraya menatap ke arah gedung-gedung yang menjulang.