
Tiba-tiba saja Arka mendapatkan banyak job untuk iklan dan FTV. Padahal ia sudah mewanti-wanti pihak manajemen peace production, untuk tidak menerima tawaran dulu selama satu bulan ini. Dikarenakan Arka ingin fokus menunggu kelahiran anak-anaknya.
"Udah, Ka. Ambil aja." ujar Amanda, ketika akhirnya Arka memberitahukan hal tersebut pada istrinya itu.
"Itu rejekinya kamu, rejeki anak-anak. Nggak baik loh nolak rejeki, sementara di luar sana banyak orang yang bingung mau makan apa besok. Karena nggak punya uang, nggak punya kerjaan." ujar Amanda lagi.
"Aku tuh takut ninggalin kamu sendirian, lagi hamil besar kayak gini. Kalau ada apa-apa gimana?"
"Kan ada tetangga, Ka. Masih ada pak Darwis juga, yang rumahnya deket sini. Kecuali kita tinggal di penthouse, boleh kamu khawatir."
"Emang pak Darwis rumahnya deket sini?" tanya Arka.
"Iya, masih di wilayah ini. Nggak jauh koq. Lagipula kalau ada apa-apa, tetangga kanan-kiri, depan, juga bakalan denger duluan. Cukup teriak aja."
Arka menghela nafas.
"Ya udah deh, aku terima ya jobnya."
"Terima Ka, itu rejeki. Bukan aku haus akan uang, tapi nolak rejeki itu emang nggak baik. Kalau kata orang bijak, mah. Sekali ditolak, rejeki bakal sulit datang lagi."
"Orang bijak mana yang ngomong kayak gitu?"
Arka bertanya seraya menahan tawa.
"Aku orang bijaknya." ujar Amanda sambil nyengir. Arka pun lalu mencium istrinya itu, Amanda kini bersandar di dada Arka.
"Ka."
"Hmm?"
"Kamu deg-deg an nggak sih?. Takut nggak kamu ngadepin kelahiran ini?"
Arka menghela nafas lalu menggenggam tangan istrinya itu. Jujur ia takut, bahkan sangat khawatir. Namun ia tak ingin menunjukkan itu semua didepan Amanda, karena ia adalah kepala keluarga. Jika dirinya saja merasa takut, lantas Amanda akan bersandar pada siapa. Kemana Amanda akan mengadukan dan menumpahkan seluruh ketakutannya.
"Nggak, Man. Biasa aja." Arka berkata dengan nada yang begitu tenang. Ia berusaha keras menetralisir perasaan, agar jantungnya tak ikut berdegup kencang.
"Ntar dirobek nggak ya, sama dokter?"
Arka menghela nafas, ia sudah membayangkan adegan itu pastilah sangat menyeramkan. Melihat bagian anggota tubuh di robek dengan gunting. Apalagi itu bagian sensitif, sudah pasti akan sangat sakit sekali. Belum lagi ditambah mengeluarkan dua kepala bayi. Karena Amanda masih bersikeras ingin merasakan lahiran normal.
"Kan ada metode water birth, nanti kita komunikasikan dulu sama dokter."
"Kalau nggak bisa water birth, aku di robek dong nanti?. Huhu."
Amanda membenamkan wajahnya di dada Arka, sementara suaminya itu kini mengusap-usap punggungnya.
"Mudah-mudahan bisa. Inget, pikirin hal positif aja. Pikirin semuanya akan mudah dan berjalan dengan lancar. Tubuh itu, mengikuti pikiran dan hati kita, jadi arahkan aja ke arah yang baik."
Amanda mengangguk lalu kian memeluk suaminya itu.
***
__ADS_1
"Arrgghh."'
"Haaaaaa."
"Braaaaak."
"Praaaang."
Amman mengamuk di kantornya. Semua file, asbak, peralatan tulis dan lain-lain ia banting hingga berserakan di lantai.
"Masa mengatur itu saja tidak bisa."
Pria tua itu berteriak di muka kepala divisi humas, yang tengah berdiri dihadapannya.
"Maaf, pak. Sudah sangat diusahakan, tapi pihak Ryan menolak."
"Ya pake metode lain kek, apa kek. Kasih perempuan cantik, bayar perempuan itu untuk bisa meloby Ryan."
"Maaf pak, Ryan masih di luar negri."
"Kan bisa cari perempuan di negaranya. Tinggal komunikasi dengan orang cabang kita yang ada disana."
"Maaf pak, tapi Ryan menginginkan hal yang lebih erat lagi. Supaya dia bisa percaya sepenuhnya dengan bapak. Dia mau rencana kita yang awal dijalankan, dia bukan tipikal yang bisa gampang dirayu dengan wanita cantik."
"Ah, sudah sana keluar...!"
Amman mengusir kepala divisi humas tersebut, lalu dia duduk pada kursi dan membenamkan wajahnya di tangan.
"Please, Rachel. Keluar, tinggalkan aku sendiri."
"Tapi, Man. Ini harus dibicarakan sekarang."
Amman membuka laci dan mengambil senjata api, lalu ia menodongkan senjata api itu kepada Rachel. Rachel pun lalu keluar sebelum mati konyol.
Sementara di sebuah negara, bos dari perusahaan yang kini telah melebarkan sayapnya di beberapa negara lain. Tampak tengah duduk sambil menghadap ke arah kaca ruangannya.
"Ryan."
Seseorang masuk kedalam ruangan pria itu.
"Where is he?" tanya Ryan pada orang tersebut.
"Where is my son?" lanjutnya lagi.
"Keduanya sedang berada di negara yang sama, dengan aktivitas yang sama. Yakni bersama perempuan."
Orang tersebut berujar pada Ryan.
"Dari mana kamu tau?"
"Sosial media mereka."
__ADS_1
***
Nadine merajuk pada Nino, kini ia melangkah cepat mendahului laki-laki itu dan masuk kedalam kamar hotel. Ia lalu duduk pada sebuah sofa, sementara Nino masih bersikap biasa saja.
"Pak Zio kenapa sih, nggak peka banget gitu loh." Nadine menggerutu dengan muka yang sangat asam. Bibirnya ditekuk serta keningnya kini berkerut.
"Peka apa lagi?" tanya Nino.
"Ya liat dong itu tadi, Ansel sama Intan mesra banget. Ansel tau banget cara melelehkan hati Intan. Intan dikasih bunga, mereka kejar-kejaran di pantai. Foto-foto, bikin insta story bareng, suap-suapan pas lagi makan."
"Ya udah, kamu bikin foto dan suap-suapan juga sama mereka."
Nino berkata seraya membuka laptopnya, ia bahkan tak menoleh sama sekali pada Nadine.
"Sebenernya bapak cinta nggak sih sama saya?"
Nadine bertanya dengan nada berteriak pada Nino, ia sudah sangat tidak tahan menghadapi sikap cuek laki-laki itu selama ini. Ia bahkan merasa hubungan mereka kadang tak seperti orang pacaran pada umumnya.
"Jadi menurut kamu sayang itu harus bikin insta story?. Harus foto-foto, harus suap-suapan?"
Nino berbalik dan menghujani Nadine dengan pertanyaan.
"Ya terus dengan cara apa lagi, selama ini bapak aja nggak pernah romantis sama saya."
Nino mendekat secara serta merta, lalu mencium bibir wanita itu.
"Pak Zio." ujar Nadine gemetaran, ia terkejut dengan hal tersebut.
Nino menarik gadis itu ke dalam pelukannya, disandarkannya gadis itu ke dinding lalu ia pun kembali menciumnya.
"Pak, saya."
"Sssttt."
Nino terus mencium bibir Nadine dan menekan tubuhnya ke tubuh gadis itu.
"Pak, hmmh."
Perlahan ciuman itu pun dibalas oleh Nadine, hingga semakin lama kian terasa panas. Nino membawa gadis itu ke atas tempat tidur, namun semuanya tak berlanjut terlalu jauh. Karena Nino merasa ini belum saatnya.
***
Maureen melihat sosial medianya yang kini masih begitu penuh dengan hujatan. Bahkan kolom direct messagenya pun, dipenuhi sumpah serapah yang sengaja tak ia baca.
Hidupnya hancur seketika, kini ia menjadi buah bibir. Bahkan disana, dikediaman orang tuanya. Ibunya marah besar atas sikap Maureen dan menolak berbicara lagi dengan puterinya itu.
Maureen menjadi begitu stress, tak ada tempat yang bisa ia mintai tolong untuk membersihkan namanya. Ia juga kini mogok pergi ke kampus, karena disana pun ia mendapat hujatan. Bahkan Chanti dan Widya menghilang begitu saja dan tak tampak membelanya sedikitpun.
Ia mencoba mengadu para Robert, namun Robert tak mau tau. Pemuda itu mengatakan jika apa yang diperbuat oleh Maureen adalah murni urusan Maureen. Ia tidak akan pernah membela sebuah kesalahan.
Kini Maureen sendirian dikamar kostnya, dengan segala kepenatan yang seolah tak akan pernah menemui akhir.
__ADS_1
Gadis itu terdiam, menatap pisau kecil yang sering ia gunakan untuk mengupas buah. Perlahan ia pun memejamkan mata dan meraih pisau tersebut.