
"Apakah saudara Maureen pernah menghubungi saudara Chanti, dalam waktu belakangan ini?"
Salah Sorang anggota polisi di ruang penyidik, bertanya pada Chanti. Ini adalah gilirannya, setelah tadi banyak pihak terkait yang juga memberikan keterangan mengenai Maureen.
Chanti pun menjelaskan dengan jujur kapan terakhir persisnya ia menerima pesan dari Maureen. Termasuk kapan terakhir kali ia melihat gadis itu di kampus.
Sementara itu di kantor polisi lainnya, para korban kecelakaan mulai berdatangan dan melapor. Mereka umumnya adalah korban yang hanya mengalami luka ringan, namun motor mereka mengalami kerusakan cukup berat. Mereka melapor, karena harus ada yang bertanggung jawab atas kerugian yang mereka alami.
Sedang Amman sendiri kini tengah diamankan oleh beberapa orang kepercayaannya, di sebuah rumah sakit. Ia belum menemui para korban yang celaka akibat ulahnya tersebut.
"Apa mereka semua menuntut?" tanya Amman pada salah satu orang kepercayaannya.
"Iya, pak. Saat ini juga pihak kepolisian sudah melayangkan panggilan kepada bapak, untuk dimintai keterangan. Kalau sampai besok bapak tidak datang, maka mereka akan melakukan penjemputan."
"Hhhh."
Amman menghela nafas. Meskipun tak mengalami luka serius, namun jujur ia syok berat. Ia kini dihadapkan pada situasi yang sedemikian runyam.
Masalah Citra, Nino, Ryan, Arka dan lain sebagainya. Terasa begitu rumit hingga membentuk simpul kusut yang carut marut di kepala pria itu. Belum lagi perihal korban kecelakaan ini, yang sudah pasti akan menuntut ganti rugi yang tidak sedikit kepadanya.
***
"Tante, yang sabar ya."
Chanti dan Widya berbicara pada ibu Maureen, sesaat setelah mereka selesai di interogasi. Ibu Maureen pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada kedua gadis itu.
Memang mereka sudah tak lagi berteman dengan Maureen sejak lama, lantaran tak begitu menyukai gaya serta sikap gadis itu.
Namun biar bagaimanapun juga, mereka tetap tidak bisa membiarkan jika terjadi apa-apa terhadap Maureen. Apalagi jika ada orang yang mencoba melakukan tindak kriminal terhadapnya.
Lagipula Maureen masih memiliki seorang ibu yang menantikan kepulangannya. Meski si anak kadang membangkang dan tak bisa diatur sekalipun, seorang ibu tetaplah seorang ibu. Kasih sayang mereka tak ada batasnya, mereka pasti akan sedih jika terjadi sesuatu terhadap anak mereka.
Hari itu ibu Maureen menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah ibu Arka. Ia tahu jika kini Arka sudah menikah, namun Arka adalah orang yang pernah dekat dengan Maureen selama bertahun-tahun.
Jadi mungkin saja Arka akan sedikit bisa memberikan keterangan ataupun kesaksian, mengenai tindak-tanduk putrinya itu selama beberapa waktu belakangan ini.
Hal ini akan sangat berguna bagi ibu Maureen. Karena siapa tau informasi dari Arka, akan sangat membantu proses pencarian.
***
Sementara itu Arka dan Amanda tiba di penthouse. Tampak si kembar sedang mengamuk dalam gendongan kedua pengasuhnya. Mereka menangis bahkan sampai berteriak-teriak.
"Sayang, kenapa?"
Amanda dan Arka langsung menyambut bayi-bayi tersebut dan mencoba menenangkan mereka.
"Nggak tau, bu. Dari tadi nangis kejar." ujar Lastri. Arka dan Amanda meraba kening anak-anak itu, namun suhu tubuh mereka biasa saja.
"Ini mama, nak."
"Ini papa, ya."
__ADS_1
Kedua bayi yang histeris itupun sedikit mereda. Mereka menurunkan volume suara tangisan, seraya memperhatikan kedua orang tuanya.
"Ini mama."
"Ini papa."
Mendadak kedua bayi itu pun diam, bahkan tertawa di sela air mata mereka yang masih mengalir. Hati Amanda dan Arka pun terenyuh, seketika perasaan bersalah datang menyerbu keduanya.
"Kangen ya sama mama, sama papa?" tanya Amanda pada keduanya.
"Heeee." Azka dan Afka tertawa.
"Sayang."
Arka dan Amanda memeluk serta mencium kedua bayi itu. Selama dua hari ini memang mereka tampak tersisihkan oleh urusan orang tua mereka.
Namun hari ini Arka dan Amanda telah kembali. Mereka kemudian mengurus bayi itu secara bersama-sama dan memberikan waktu lebih untuk mereka.
"Man, mandi gih!. Aku jagain mereka." ujar Arka, usai beberapa menit mereka berdua bercengkrama dengan anak-anak itu.
Lastri dan Anita telah di suruh Amanda untuk beristirahat, dan mereka memilih pulang ke rumah satunya. Karena takut mengganggu waktu istirahat Amanda, Arka, beserta para bayi.
"Ya udah, aku mandi dulu. Abis itu kamu."
Amanda bergegas pergi mandi. Setah beberapa saat berlalu, ia pun selesai dan telah berganti pakaian.
"Sana Ka, mandi!" ujar Amanda kemudian.
Amanda tertawa seraya mendekati kedua anaknya, yang kini terbaring di kasur lantai.
"Ini mama, ya. Jangan ada yang ngambek, papa mandi dulu."
"Eheee." Kedua bayi itu sama-sama tertawa.
Arka menatap istrinya seraya tersenyum, lalu ia pun pergi menuju ke kamar mandi. Usai Arka mandi, mereka berdua kembali mengajak Azka dan Afka bermain. Kali ini sembari di beri ASI oleh Amanda. Kebetulan kedua bayi itu kini sudah mau meminum ASI, di kedua sisi ibunya.
"Aku siapin makan dulu ya." ujar Arka.
"Kamu mau masak?" tanya Amanda.
Si kembar yang tengah asik mengenyot, melirik sekilas ke arah ayah mereka.
"Kenapa melirik papa?" tanya Arka pada kedua anak itu. Mereka pun melepaskan sejenak, lalu tertawa.
"Iya aku mau masak, mau bikin ayam saos tiram."
"Ayamnya masih ada?" tanya Amanda lagi.
"Masih di freezer." jawab Arka.
"Ya udah, yang enak ya papa."
__ADS_1
Arka tertawa, ia kini beranjak menuju dapur dan memasak makanan untuk dirinya dan sang istri. Setelah semua selesai, Arka menyambangi kamar si kembar. Tampak keduanya kini sudah terlelap dan dipindahkan oleh Amanda ke dalam box bayi.
"Sssst."
Amanda menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Tak lama mereka pun keluar dari dalam kamar tersebut.
"Kasian mereka." ujar Arka kemudian.
"Iya, ntar kita tidur di situ aja yuk." ajak Amanda. Arka pun mengangguk.
"Ya udah sekarang kita makan dulu." ujar Arka lagi.
Mereka berdua pun makan bersama, usai makan mereka berpindah ke sofa lalu berbincang.
"Sini." ujar Arka menarik sang istri ke pelukan. Amanda pun melabuhkan kepalanya di dada sang suami.
"Kamu masih kepikiran?" tanya Arka, seraya membelai kepala dan rambut istrinya itu. Ia seolah tau isi kepala Amanda dan wanita itu pun mengangguk.
"Iya." jawabnya kemudian.
Arka menghela nafas dan mendaratkan sebuah ciuman di kening Amanda.
"Kamu udah terselamatkan, dengan Nino di adopsi daddy waktu itu. Tuhan mempertemukan dan memisahkan orang itu, bukan tanpa alasan dan bukan karena suatu kebetulan."
Arka mencium kembali kening istrinya lalu kembali berujar.
"Tuhan bikin daddy ninggalin ibu, untuk kemudian dipertemukan dengan papa. Lalu papa sakit, dan kami terlilit hutang. Itu juga Tuhan takdirkan supaya akhirnya aku ketemu sama kamu. Kalau kita pikirkan secara rinci, semua yang ada di sekitar kita itu berhubungan satu sama lain."
"Tapi alurnya ribet, Ka. Kayak sinetron ikan terbang."
Amanda berkata dengan mimik wajah polos, sementara Arka terkekeh.
"Ya, kita kan cuma bisa menjalani. Skenario nya tetap Tuhan yang pegang kendali. Yang penting kan pada akhirnya semua clear." tukas Arka.
"Aku masih khawatir papa punya anak lain."
Arka menghela nafas, lalu tersenyum.
"Mudah-mudahan nggak. Oh ya aku denger si Doni udah di sidang, si Rani gimana?"
"Nggak tau, aku belakangan ini belum kesana lagi. Anak-anaknya udah riweh nanyain ibu mereka, kata Anita."
"Ya udah, ntar kalau sempet carilah informasi. Dan minta Rani buat video untuk dikirim ke anak-anaknya. Kasihan mereka, Man. Udalah bapak mereka nikah lagi, emak mereka di penjara. Kakek mereka tau sendiri. Kamu doang tantenya yang waras."
Amanda menghela nafas.
"Iya, Ka. Nanti aku kesana secepatnya."
Arka lalu mencium dan memeluk istrinya itu dengan erat, bahkan ia membiarkan wanita itu terlelap didalam pelukannya.
Sesuai janji mereka akan beristirahat di kamar si kembar hingga esok pagi menjelang. Arka pun lalu membawa tubuh istrinya itu, menuju ke kamar si kembar.
__ADS_1