Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Nah Kan


__ADS_3

Rani tengah mengisap vape miliknya disebuah ruangan, anak-anaknya sudah berangkat ke sekolah sejak tadi. Maureen juga belum datang ke kediamannya.


Entah mengapa hari ini Maureen datang agak telat. Mungkin karena sibuk kuliah, pikirnya. Rani terus menghisap vape tersebut, hingga asapnya mengebul memenuhi ruangan.


"Tok, tok, tok."


Terdengar suara ketukan pintu, Rani diam sejenak.


"Hmm, si Maureen. Ngapain sih dari pintu depan segala, kan biasa juga dari pintu yang ini." gerutu Rani.


"Tok, tok, tok."


Ketukan tersebut terdengar lagi.


"Iya, iyaaa."


Rani menyambangi pintu depan dan,


"Cekrek."


Ia membuka pintu tersebut, namun seketika dirinya terdiam. Tatkala melihat beberapa orang petugas kepolisian yang berdiri disana.


"Selamat siang, ibu Rani."


Salah seorang petugas kepolisian itu berujar padanya.


"Iya, siang." ujar Rani dengan takut-takut.


"Ada apa ya, pak?" tanyanya kemudian.


"Ini surat penangkapan ibu, tolong ikut kami ke kantor polisi sekarang juga."


"Tu, tunggu dulu pak. Ini penangkapan soal apa ya?" Wajah Rani mulai terlihat resah, ia merasa tidak memiliki salah apapun.


"Ibu disinyalir memiliki hubungan dengan kecelakaan, yang terjadi dengan bapak Keenan Arka Adrian dan juga ibu Amanda Marcelia Louise."


"Te, terlibat?" Rani tak percaya dengan apa yang dituduhkan padanya.


"Saya nggak terlibat apa-apa, pak. Saya nggak tahu-menahu soal itu."


"Tapi ada bukti rekaman yang menunjukkan, saat ibu masuk ke ruangan tempat dimana ibu Amanda dan pak Arka dirawat. Disana ibu mengatakan banyak perkataan, yang menimbulkan kecurigaan dari team penyidik."


"Nggak mungkin, pak. Saya bicara itu baik-baik, bapak jangan ngarang cerita. Lagipula CCTV tidak ada rekaman suaranya."


"Itu bukan dari CCTV bu, tapi dari handphone."


"Handphone?" Rani tak mengerti, namun seketika ia pun terperangah. Ia kini mengetahui satu hal.


Ya, jika ada yang merekam dengan handphone, sudah pasti ada orang lain ditempat itu selain dirinya.


"Oh, tidak."


Rani kini dilanda kecemasan akut, keringat dingin mulai mengucur deras dari sekujur tubuhnya.


"Ayo bu, ikut kami."


"Tapi, pak."


Rani akhirnya dibawa paksa oleh team kepolisian tersebut. Sesampainya di dekat mobil polisi, Rani melihat Maureen yang baru tiba di muka pagar rumah dan berusaha memanggilnya.


"Maureen, tolongin gue. Mereka nuduh gue mencelakai Arka dan Amanda. Lo tau gue nggak salah, kan?"


Jauh diluar dugaan, Maureen hanya berpaling dan pura-pura tidak mengenali Rani.


"Maureen, Maureen?"


Maureen terus mengerutkan keningnya, seakan tak mengerti sama sekali. Petugas kepolisian hanya membiarkan saja perempuan itu berlalu. Karena mereka mengira Maureen hanya orang yang kebetulan lewat, dan Rani sengaja bersikap demikian untuk mengalihkan perhatian polisi.

__ADS_1


"Pak saya nggak salah, pak. Maureen, Maureeen."


Rani pun akhirnya dibawa ke kantor polisi. Sesampainya disana, ia langsung dibawa ke ruang penyidik untuk dimintai keterangan.


"Saudara Rani, dimana anda saat kecelakaan yang menimpa saudara Amanda dan saudara Arka terjadi?"


"Saya saat itu, se, sedang mengantar anak saya pak."


"Kemana?"


"Se, sekolah pak."


Rani saat itu memang tengah mengantar anaknya ke sekolah. Namun karena gugup, ia jadi terbata-bata dalam menjawab. Hingga menyebabkan anggota polisi yang menginterogasinya itu, makin curiga.


"Kenapa didalam rekaman video ini, anda mengatakan jika anda menginginkan kematian dari saudara Amanda. Anda memiliki dendam dengan saudara Amanda?"


"Iya, pak."


Polisi itu menatap Rani.


"Hmm, maksud saya. Saya memang memiliki kebencian terhadap Amanda, tapi bukan saya pelakunya."


"Kebencian soal apa?"


"Banyak hal."


"Sebutkan salah satunya."


"Mmm." Rani menarik nafas.


"Silahkan menjawab, saudara Rani."


"Dia, dia sok hebat. Saya tidak menyukainya, pak."


"Sejak kapan anda sudah menaruh rasa tidak suka pada saudara Amanda?"


"Anda sudah lama mengenal saudara Amanda?"


"Su, sudah pak."


"Jika ada kesempatan, apakah anda akan membunuh saudara Amanda?"


"Iya, pak. Mmm, maksud saya tidak, pak."


Rani makin gugup menghadapi sesi tanya jawab ini.


"Lantas mengapa anda mengatakan jika anda ingin membunuh saudara Amanda, jika tidak ada CCTV dirumah sakit tersebut?"


"Mmm, saya. Pak, percayalah saya tidak terlibat dalam kecelakaan mereka. Saya hanya pernah mencoba mencelakai Amanda waktu itu saja. Saat saya ingin menggulingkan dia dari perusahaannya."


"Oh ya, anda pernah mencoba mencelakai saudara Amanda sebelum itu?"


Rani terdiam, ia terjebak ucapannya sendiri.


"Mmm, maksud saya itu bukan saya pak. Itu suruhan teman saya, namanya Fadly Kusuma."


"Jadi anda ada hubungannya dengan tersangka Fadly?"


"Aaak, mmm."


Rani sudah seperti akan menangis. Entah mengapa ia begitu bodoh, terjebak dalam pertanyaan yang diberikan oleh penyidik tersebut.


"Maksud saya,...."


"Penyidik tersebut terus-menerus menghujani Rani dengan pertanyaan demi pertanyaan, yang membuat Rani kian gugup. Hingga akhirnya ia terpojok berkali-kali akibat ucapannya sendiri.


Rani tak dibebaskan, ia malah makin ditahan usai sesi tanya jawab itu selesai. Kecurigaan penyidik tentang adanya indikasi Rani terlibat, dalam kecelakaan yang menimpa Arka dan Amanda pun semakin kuat

__ADS_1


Dan lagi ia memiliki hubungan dengan Fadly, tersangka yang juga melakukan kejahatan terhadap Amanda beberapa waktu yang lalu.


"Pak, saya nggak bersalah pak." teriak Rani pada sipir penjara.


Ia kini ditempatkan diruang tahanan yang bercampur bersama 3 tahanan wanita lainnya. Jujur Rani takut sekali, karena ketiga wanita itu kini menatap sinis kearahnya.


"Pak, saya nggak salah paaak."


"Diem, atau gue tonjok lo."


Salah satu tahanan wanita itu berujar padanya. Rani pun seketika diam dan tak berani berteriak lagi.


Esok harinya, petugas mengatakan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengan Rani. Rani langsung bersemangat, karena ia mengira jika tidak Maureen, sudah barang tentu itu Rachel. Yang akan membantunya untuk segera bebas dari tempat ini.


Rani sumringah dan bersiap diri. Namun yang datang ternyata bukan kedua orang yang tadi ia harapkan, melainkan seseorang yang ia tak sangka akan tiba.


"A, Amanda?"


Rani terperangah sekaligus syok menatap kehadiran wanita itu. Amanda datang dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh Intan.


"Hai, Ran?" ujar Amanda seraya menatap Rani, yang kini masih terpaku dengan tubuh gemetaran.


Rani diam, tak menjawab sepatah kata pun.


"Udah berapa episode, gue nggak hadir dalam kehidupan sinetron lo?"


Amanda berdiri dengan dibantu oleh Intan, kini ia mendekat ke arah jeruji dan menatap penuh kemarahan pada Rani.


"Lo pengen bunuh gue?. Ayo coba, lakuin sekarang. Emang tangan lo bisa nyampe, kalau gue mundur?"


Amanda tersenyum tipis namun sinis di salah satu sudut bibirnya. Ia seakan menertawai keadaan Rani.


"Lo pikir, semudah itu menghancurkan gue?. Hah?"


Rani masih diam.


"Lo pikir saat lo dateng itu, gue sama Arka masih nggak sadarkan diri?"


Rani menatap Amanda dengan bibir yang menganga. Ia kini tau siapa pelaku yang merekam suaranya.


"Gue sama Arka, udah bangun dihari ketiga. Tapi gue sama dia dan team penyidik kepolisian sepakat, untuk berpura-pura kalau gue dan Arka masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Polisi juga sudah mengantongi izin dari pihak rumah sakit, demi kepentingan penyidikan."


Amanda menghela nafas.


"Tujuannya ya ini, untuk melihat siapa aja yang terlibat. Apakah lo, Maureen, Rachel atau bapak kita yang tercinta memiliki keterlibatan soal ini. Dan ternyata yang paling menggebu untuk menghabisi nyawa gue itu ya, elo."


"Gue nggak terlibat, gue nggak terlibat sama sekali dalam hal ini." Rani berusaha membela dirinya.


"Mungkin, tapi lo terlibat dalam kasus yang disebabkan oleh Fadly, dan lo sudah mengakuinya sendiri dihadapan penyidik tanpa paksaan. Padahal gue udah nggak niat memenjarakan lo selama ini, karena gue masih kasihan sama nyokap dan anak-anak lo."


Rani menjadi begitu ketakutan, ia tak ingin tinggal lama dipenjara.


"Man, please. Anak-anak gue masih kecil-kecil, kasihani mereka sekali lagi."


"Apa lo pernah kasihan sama anak-anak gue?. Pernah lo kasian sama mereka yang masih bayi?" Amanda berkata dengan penuh kemarahan. Namun nadanya terisak dan matanya berkaca-kaca menahan tangis.


Sementara kini Rani makin terdiam.


"Gue udah bawa nyokap lo ke salah satu panti, gue bayar mahal supaya dia diurus dengan baik disana. Rania dan Rasya, tinggal dirumah gue yang satunya, dia diurus oleh para pembantu gue. Setidaknya gue masih punya hati, nggak iblis kayak lo. Gue nggak mau keponakan gue tumbuh, bersama ibu yang sakit kayak lo."


Amanda kembali duduk di kursi rodanya, karena ia belum terlalu kuat untuk berdiri.


"Selamat membusuk disini, Ran." ujarnya kemudian.


"Maafin gue, Amanda. Keluarin gue dari sini, Amandaaa."


Intan mendorong kursi roda itu, dan mereka pun meninggalkan Rani begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2