Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sebuah Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Amman tiba dirumah sakit pada keesokan harinya. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dasar, diketahui jika Amman dalam kondisi memungkinkan untuk mendonorkan sejumlah darahnya.


Darah pria itu pun diambil, dan siap di transfusi ke dalam tubuh Nino yang kini masih terbaring lemah. Bahkan lebih sering terlelap akibat kadar hemoglobinnya yang begitu rendah.


Amman kemudian beristirahat sejenak, usai 470ml darahnya dikeluarkan dan disimpan di dalam kantong darah. Setelah beberapa saat berlalu, ia pun bergerak untuk pulang.


Setidaknya ia telah memiliki tabungan. Jika kelak ia membutuhkan darah, maka orang tersebut pun wajib memberikan timbal balik padanya.


"Pak Amman, keluarga penerima donor ingin bertemu dengan bapak."


Salah seorang perawat mengatakan hal tersebut pada Amman, ketika ia baru saja hendak keluar dari rumah sakit.


"Oh, ok."


Amman pun mengiyakan hal tersebut. Inilah saatnya menunjukkan tampang hero-nya ke hadapan keluarga si penerima donor darah. Agar mereka mengenali betul wajah Amman. Dan apabila Amman kelak membutuhkan darah, keluarga tersebut haruslah membalas budi.


Amman berjalan mengikuti langkah si perawat, menuju ke ruangan tempat dimana Nino berada. Dengan penuh percaya diri, pria tua itu menapakkan kakinya pada lorong koridor.


Lalu waktu pun terhenti.


"Citra."


Amman mengenali seseorang yang tengah berdiri di muka sebuah kamar, disisinya ada seorang perawat yang juga Amman kenali. Ya suster Zefanya, entah mengapa kedua orang itu ada disana. Sedang kini perawat yang membawanya pun menghentikan langkah.


"Pak Amman, ini ibu Citra. Orang tua dari si penerima donor, Zionino Andhika." ujar si Perawat.


"Bu Citra, ini pak Amman yang mendonorkan darahnya untuk anak ibu." lanjutnya lagi.


Perawat itu kemudian berlalu. Sementara ketiga orang yang tersisa kini saling menatap, dengan tubuh yang membeku satu sama lain. Tubuh mereka gemetaran ditengah perasaan yang campur aduk.


***


Beberapa jam sebelum kejadian ini.


Suster Zefanya yang menyaksikan tubuh Nino terbaring di ruang instalasi gawat darurat pun, kian mendekat. Ia ingin memastikan jelas-jelas wajah anak yang sudah belasan tahun tak dilihatnya itu. Ia mendekat ke arah team yang sedang sibuk menangani.

__ADS_1


"Degh."


Batinnya bergemuruh.


Ternyata benar, meski ia telah tumbuh dewasa. Namun suster Zefanya teringat jelas akan wajah anak itu. Anak yang dulu sempat ingin dibunuh oleh Citra, ibu kandungnya sendiri.


Kemudian di rawat asal-asalan oleh orang tua angkatnya. Kini ia telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang tampan dan gagah, hanya saja hari itu ia tengah terkena musibah.


Suster Zefanya pun menguping pembicaraan sekitar, antara Ryan dan anak-anaknya yang lain. Hingga didapatlah sebuah kesimpulan, jika Nino telah ditusuk oleh orang tak dikenal. Mendengar penjelasan itu, suster Zefanya lalu bergegas untuk pulang. Kebetulan jadwal tugasnya sudah selesai.


Suster Zefanya tak langsung kembali ke kediamannya, melainkan menyambangi kediaman Citra Vidyasara. Seorang pengusaha skincare terkenal, yang saat ini boleh dibilang bisnisnya sedang maju pesat.


"Saya menemukan anak itu."


Suster Zefanya berujar pada Citra, di halaman depan rumah perempuan itu. Karena jika berbicara didalam, Citra takut perkara ini akan didengar oleh suami dan juga anak-anaknya.


"Dimana?" tanya Citra dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.


"Dia di rumah sakit tempat dimana saya bekerja, kondisinya kritis." ujar suster Zefanya lagi.


Air mata Citra pun tak terbendung.


"Kenapa bisa begitu?" tanya nya kemudian.


"Menurut yang saya dengar, dia ditusuk oleh orang yang tidak dikenal. Kemungkinan besar dia terlibat sebuah perkelahian."


Air mata Citra kian deras mengalir.


"Apa dia bisa selamat?" tanya Citra lagi.


"Sekarang,l pihak rumah sakit sedang menunggu donor darah. Karena kabarnya rhesus yang dimiliki anakmu itu negatif."


Citra kian terisak dalam tangis, ia telah menyesali hal ini bahkan bertahun-tahun lamanya. Nino adalah anak yang tak pernah di inginkan Citra, tidak sekali-kali. Semua karena perbuatan bejat Amman padanya puluhan tahun lalu.


Ya, Nino adalah anak dari Amman. Usianya tidak begitu jauh dengan Rani, maupun Amanda. Semua berawal ketika Citra pindah rumah, saat ia berusia masih 8 tahun. Ia berkenalan dengan anak tetangga yang seumuran dengannya.

__ADS_1


"Armando." ujar anak itu pada Citra.


"Citra." Balas Citra seraya tersenyum.


Singkat cerita mereka pun menjadi teman sepermainan. Awalnya Citra memanggil Amman dengan sebutan "Arman."


Namun lama kelamaan, huruf R dalam kata tersebut pun hilang. Ia jadi lebih sering memanggil temannya itu dengan sebutan "Aman." yang huruf M nya terkadang terdengar double ditelinga. Sejak saat itu, seluruh teman mereka memanggil Amman dengan sebutan yang sama.


Pertemanan mereka berjalan baik-baik saja, kadang mereka akur, kadang pula bertengkar. Seperti kebanyakan sahabat pada umumnya.


Hingga kemudian keduanya sama-sama masuk SMP. Mereka pun melanjutkan sekolah di tempat yang sama. Disanalah mereka berkenalan dengan Aston. Anak indo yang memiliki mata biru, serta wajah yang lebih tampan dari Amman.


Sejak awal pertemuan, tampaknya Citra sudah jatuh hati pada Aston. Hingga hari-hari berikutnya Amman kerap kali tersisihkan. Dari sanalah perkara itu dimulai. Mereka tetap berteman bertiga, meski Amman lebih sering tak diajak. Apabila Citra dan Aston sering jalan berdua.


Hingga suatu ketika Amman menyadari jika dirinya telah jatuh hati pada Citra. Apalagi sejak masuk SMA, pertumbuhan Citra makin pesat. Karena kebiasaannya yang sering berolahraga, ia tumbuh menjadi remaja seksi yang memiliki dada serta bagian belakang padat berisi. Membuat lelaki manapun berdesir apabila melihatnya.


Amman hendak mengungkapkan isi hatinya di suatu hari. Namun ketika ia tiba, ia telah didahului oleh Aston. Citra dan Aston bahkan berciuman didepan mata Amman sendiri.


Itulah kali pertama dan terakhir, Amman merasakan cinta dalam hidupnya. Sebelum ia menutup pintu hati dari segala kebaikan, selama-lamanya.


"Amman lo mau kemana, rapi amat?" tanya Citra pada Amman saat itu.


Ia memperhatikan pakaian Amman yang begitu necis, serta membawa satu buah buket bunga mawar merah di tangannya.


"Mau ngajak cewek kencan lo, ya?" timpal Aston dengan suara dan tatapan yang menggoda.


Amman tersenyum getir. Sejatinya ia ingin menitikkan air mata saat itu juga, namun berusaha keras ia tahan. Hatinya telah patah, dipatahkan oleh kedua sahabatnya sendiri.


Citra yang bersamanya sejak kecil, Citra yang selalu ada bahkan dari mulai ia membuka mata sampai malam menjelang. Kini telah direnggut oleh orang yang bahkan baru saja masuk ke kehidupan mereka.


Sejak hari itu, Citra semakin jarang bersama Amman. Kerena ia telah sibuk dengan urusan memadu kasih bersama Aston. Tinggallah Amman sendirian, dengan segala kenangan yang mereka miliki.


Bahkan pria itu selalu merindukan saat-saat mereka kecil dulu. Ia selalu mendatangi halaman belakang rumah, apabila merindukan Citra. Dimana terdapat dua buah ayunan yang sering ia gunakan bersama gadis itu.


Ditempat itu, kadang ketika mereka ada masalah, mereka selalu bercerita dan membaginya bersama. Ada banyak tawa disana, yang kemudian hilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2