
Arka dan Amanda tertidur hingga siang menjelang, mereka terbangun oleh panggilan telpon dari Anita.
"Bu." Suara Anita terdengar cemas di seberang sana.
"Iya, kenapa Anita?" tanya Amanda tak kalah cemas. Ia takut telah terjadi apa-apa pada si kembar.
"Azka sama Afka nggak mau minum susu, melengos mulu kalau dikasih. Mereka belum makan dari tadi."
Amanda sudah menduga pasti ada yang tak beres.
"ASI nya basi nggak?" tanya wanita itu kemudian.
"Nggak bu, orang nyimpennya bener."
"Ya udah, ya udah. Aku suruh pak Darwis deh, kesana. Kamu anterin mereka kesini, ya."
"Iya bu."
"Kenapa anak-anak, Man?" tanya Arka setelah Amanda menutup telpon.
"Tau dah, kata Anita mereka nggak mau minum susu. Melengos mulu kalau dikasih, padahal belum makan dari tadi."
"ASI nya udah nggak enak kali." ujar Arka kemudian.
"Tau deh, makanya ini aku suruh bawa pulang dulu. Biar kasih ASI baru."
Azka dan Afka pun diantarkan Anita kembali ke penthouse. Usai Amanda mengucapkan terima kasih, Anita berpamitan pada majikannya itu.
Kini Azka dan Afka coba diberi ASI secara langsung oleh Amanda. Namun apa yang terjadi, Afka dan Azka sama-sama melengos. Berkali-kali Amanda mencoba, namun hasilnya selalu sama.
"Oh ngambek ceritanya, marah sama mama?. Gara-gara ditinggalin jalan sama papa seharian?"
Amanda mencoba menebak-nebak. Didalam hatinya ia juga khawatir, apakah rasa ASI nya telah berubah karena suatu sebab.
"Hoaaaa." Azka bersuara.
"Hoaaaa." Afka pun ikut bersuara.
Amanda memompa ASI nya dan memasukkan Asi tersebut kedalam dua buah botol. Kini ia dan Arka mencoba merayu kedua anak mereka.
"Ayo dek, minum susu yuk." ajak Arka kemudian.
"Hoaaaa." Azka dan Afka melengos ke kanan dan kiri.
"Iya, maafin papa sama mama ya." ujar Arka lagi.
"Nanti kita jalan berempat, ok?"
Arka membesarkan kedua matanya, hingga mirip seperti lemur Madagaskar.
"Hokhoaaaa."
Kedua bayi itu seperti berbicara pada ayah mereka.
"Masa papa nggak boleh ngajak mama, kan kasian mama nggak pernah jalan. Kalian sayang mama kan?"
__ADS_1
"Hoaaaa."
"Hoaaaa."
"Eheeee."
Mereka tertawa, Arka lalu menggelitik kedua bayi itu. Mereka makin tertawa, Arka pun menggunakan kesempatan itu, untuk memasukkan ujung dot pada mulut keduanya. Hingga akhirnya mereka semua mau menerima ASI dan meminumnya hingga habis.
"Huuuh." ujar Amanda dan Arka seraya menghela nafas, ketika botol susu sudah dalam keadaan sama-sama kosong.
"Bocil jaman now, piyik-piyik udah bisa ngambek ya, Ka." ujar Amanda kemudian.
"Baru pergi seharian full, gimana seminggu ya?" tanya Arka seraya tertawa.
"Ngamuk-ngamuk kali Ka, mereka." ujar Amanda kemudian.
"Hoaaaa."
"Hoaaaa." Kedua bayi mereka kian bersuara.
"Bobok sama papa, sama mama ya, malem ini." ujar Arka lagi. Kedua bayi itu tampak antusias, mereka menggerakkan kaki serta tangan berkali-kali.
"Nanti mama sama papa bobok disini, tapi jangan ngamuk lagi. Ok?" Amanda berpesan pada kedua anaknya, tampak kedua anak tersebut tertawa-tawa.
Tak lama kemudian, Amanda dan Arka beranjak untuk mandi. Setelah itu mereka membereskan rumah, Arka menemani anak-anaknya bermain
Sementara Amanda sibuk menyiapkan makan siang.
***
Keesokan paginya di hari Senin, Arka tiba kekantor di waktu yang sudah mepet jam masuk.
Tiba-tiba Cintara nyeletuk, namun dengan wajah super jutek, serta nada suara yang tak terlalu bersahabat.
"Emangnya ini kantor punya bapak moyang kalian?"
Ia berujar lagi lalu duduk di tempatnya. Para karyawan mulai melirik ke arah Arka, salah satu rekan yang ada di sampingnya bahkan bertanya.
"Si anak bos kenapa, Ka?" tanya rekan kerjanya itu pada Arka.
"Mana gue tau, emang gue bapaknya."
Seloroh Arka, membuat beberapa karyawan yang mendengar pun tertawa.
"PMS, kali." celetuk karyawan yang lainnya.
Tanpa diduga Cintara menengok ke arah mereka, seketika mereka semua pun pura-pura fokus pada pekerjaan sambil menahan tawa.
Saat jam istirahat tiba, berkali-kali Cintara melintas didepan Arka. Namun masih menunjukkan wajah sewotnya yang bernuansa asam pekat. Ia tak bersikap ramah-tamah bahkan kecentilan seperti biasanya.
"Ka, kayaknya Cintara marah deh ke elo. Lo ada ngapa-ngapain dia nggak?" tanya rekannya yang duduk persis disebelah. Mereka kini tengah menikmati makan siang, yang dipesan secara online.
"Gue ngapain dia?. Kagak ada." ujar Arka.
"Emang gue ngapain?" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Ya mana gue tau, Ka. Lo yang punya badan, kali aja gitu. Abis lo apain, terus lo cuekin."
Rekan Arka nyengir pada pemuda itu.
"Enak aja, lo jangan bikin gosip ya. Mana pernah gue ngapa-ngapain dia, nyolek aja belom pernah gue."
"Nah justru itu, Ka. Kali aja si Cintara ngambek gara-gara belum lo colek." celetuk rekannya yang lain.
"Sabi, sabi, bro." Rekan-rekannya mulai antusias dan tertawa-tawa.
"Ngapain gue ngapa-ngapain dia?" tanya Arka kemudian.
"Lah, lo bukannya jadian ya sama dia?"
"Jadian dari mana?. Kagak, siapa bilang?" Arka mengerutkan kening.
Rekan-rekan kerjanya kini saling menatap satu sama lain.
"Cintara sendiri, bro. Yang bilang kalau dia jadian sama lo."
"Hah, kapan dia bilang gitu?" tanya Arka kaget, ia tak menyangka jika ada gosip seperti ini yang tersebar.
"Berapa hari yang lalu ya, bro?" salah satu temannya bertanya pada teman yang lain.
"Iya, dia bilang pacaran sama lo. Makanya tadi pas kita liat dia begitu, kita kira lagi marahan sama lo."
"Kagak, mana ada gue jadian sama dia."
"Jadi lo nggak ada hubungan apa-apa sama dia?"
"Nggak ada, orang gue udah punya...."
Kata-kata tersebut terhenti, seketika Arka teringat akan peraturan manajemennya, yang tak memperbolehkan rahasia soal pasangan bocor ke publik.
"Maksudnya, lo udah punya pasangan?" tanya temannya lagi. Arka mengangguk karena sudah terjebak, namun ia tak mengatakan jika telah menikah.
"Oh ya udah, bro. Pantes lo biasa aja pas Cintara ngambek."
"Cintara tau, lo punya pasangan?" tanya rekan yang lainnya.
Arka menggeleng.
"Nggak tau gue, lagian gue disini tuh mau kerja. Bukan mau ngurusin perasaan orang. Makanya tempo hari, waktu dia bilang soal perasaanya ke gue. Gue iya, iya in aja."
"Lo bilang apa ke dia?" tanya rekannya lagi.
"Ya gue bilang, terserah dia mau punya perasaan kayak apa ke gue. Itu urusan dia. Nah masalah gue mau ngebales atau nggak, itu urusan gue dong."
"Iya sih, mungkin itu yang bikin dia ngambek."
"Tau, iya kali."
"Baek-baek, lu. Dilaporin bapaknya, ntar."
"Ya silahkan aja, orang gue kagak demen. Dah dibilang gue udah punya. Mau gimana, ayo. Pak Putra mau ngeluarin gue dari sini juga terserah."
__ADS_1
"Ya jangan dong, bro. Nggak ada lo, nggak seru."
"Bener, bro. Ah payah lu." ujar temannya yang satu lagi. Arka pun lalu tertawa sambil melanjutkan makan.