Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sebuah Keluarga


__ADS_3

Ryan mengajak ketiga anaknya makan siang bersama hari itu. Tak ada Amanda, Intan maupun Nadine. Hanya ada mereka berempat.


"Arka, kamu bisa nggak nanti malam menginap di apartemen daddy. Sama Ansel, Nino juga." Ryan berujar, ketika acara makan hampir selesai dan hanya menyisakan beberapa suapan lagi.


Arka menatap ayahnya itu.


"Well, kita kan keluarga. Kamu yang paling nggak pernah tinggal bersama kami. Daddy mau kalian bisa dekat satu sama lain sebagai keluarga, sesekali kamu harus berkumpul dengan saudara kamu. Jadi suatu saat kalau daddy sudah nggak ada, daddy tenang meninggalkan kalian."


Arka diam dan berfikir, sementara Nino dan Ansel kompak menatap kearahnya. Menunggu persetujuan.


"Kalau mau bilang Amanda, bilang saja dulu." ujar Ryan kemudian, Arka pun mengangguk.


Tak lama setelah makan, ia pun menelpon Amanda.


"Kenapa, Ka?" tanya Amanda, ketika akhirnya wanita itu menerima telpon dari suaminya.


"Man, daddy nyuruh aku nginep disini malam ini. Boleh nggak?"


"Ya boleh, dong. Nginep aja, kan dia orang tua kamu juga. Nino sama Ansel itu saudara kamu."


"Beneran kamu nggak apa-apa aku tinggal?"


"Iya nggak apa-apa, orang apartemen daddy kamu aja masih di Jakarta. Bukan di Wakanda."


"Hehe, ya udah makasih ya. Kamu masih di kantor?"


"Masih, kamu emangnya nggak di kantor?"


"Nggak, aku tugas diluar mulu. Udah kayak sales, kesana-sini. Pak Putra minta awasin ini itu, ke aku."


"Oh ya udah, udah makan siang kamu?"


"Udah, ini lagi sama daddy, Nino, sama Ansel."


"Oh, kamu sama mereka?"


"Iya, tadi daddy ngajak makan siang bareng. Kamu sendiri udah makan?"


"Udah dong, makan nasi sama sambel udang bikinan ibunya Satya."


"Enak?"


"Enak dong, ibunya punya rumah makan."


"Ya udah, nanti berkabar aja ya. Aku mau ngobrol lagi dulu sama daddy dan dua makhluk itu." ujar Arka kemudian.


Amanda tertawa.


"Ya udah sana."


"Dah, Amanda."


"Dah, Arka."


Arka pun menyudahi telponnya dan kembali pada Ryan serta kedua saudaranya.


***


"Ti, ambilin handphone ibu."


Ibu Arka menyuruh Rianti, untuk mengambil handphonenya yang ada di atas meja makan. Dengan sigap Rianti pun mengambil dan memberikan perangkat tersebut kepada sang tante.


"Ini, bu." ujar Rianti.


"Makasih, ya."


"Iya, bu."


Rianti kembali kedalam, ibu Arka mencoba menghubungi puteranya. Arka yang saat itu masih berbincang dengan ayah dan saudaranya itu pun terhenyak, ketika notifikasi panggilan itu muncul di layar.


"Siapa, Arka?" tanya Ryan padanya.


"Mm, ibu." ujar Arka kemudian. Pemuda itupun lalu menjauh dari Ryan dan menjawab panggilan ibunya.


"Iya, bu. Kenapa, bu?"


"Ka, kamu kerja?" tanya ibunya di seberang.

__ADS_1


"I, iya bu. Arka kerja." ujar Arka seraya melirik sekilas ke arah ayah dan juga saudaranya.


"Kenapa, bu." tanya nya lagi.


"Nggak, ibu cuma pengen nanya kabar aja. Ibu nggak tau, kenapa tiba-tiba punya firasat nggak enak. Kamu hati-hati ya nak, ya."


"Iya, bu. Arka baik-baik aja koq." ujar Arka kemudian.


"Ya sudah, ibu tutup telponnya ya. Kabari ibu kalau ada apa-apa."


"Iya, bu. Pasti."


Ibu Arka pun menyudahi telponnya, Arka lalu kembali pada Ryan, Nino dan juga Ansel.


"Ibu kamu kenapa?" tanya Ryan pada puteranya itu.


"Mm, nggak apa-apa. Cuma nanya aja."


"Enak ya, masih punya ibu." Ansel berujar usai menghabiskan air putih yang ada di gelas.


Seketika wajahnya pun berubah sedih, Nino menghela nafas lalu menepuk bahu saudaranya itu.


"Ibu kalian?" tanya Arka seraya menatap kedua saudaranya.


"Sudah meninggal 6 tahun lalu." jawab Ansel.


"Oh, sorry." ujar Arka kemudian. Ia tak tahu jika seperti itu kejadiannya.


"Daddy kenapa nggak menikah aja sama ibunya Arka?"


"Ansel."


Ryan mencoba membuat Ansel untuk tidak menanyakan hal tersebut. Sementara Arka terhenyak mendengar pernyataan itu.


"Kan biar kita punya ibu. Iya nggak, Nin?"


"Ansel." lagi-lagi Ryan berujar.


"Ibunya Arka itu punya suami, Ansel." Nino berujar seakan hendak menjitak kepala saudaranya itu.


Nino melebarkan bibir sampai kuping, sementara Arka hanya tertawa kecil.


"Mana mau ibunya Arka, kan udah ditinggalin daddy, dulu."


"Kenapa nggak mau?" tanya Ansel lagi.


"Ya mana saya tau, saya kan ikan." ujar Nino kesal.


"Kan kamu manusia?"


Nino menghela nafas.


"Pikir aja, Bambang. Misalkan kamu hamilin si Intan, terus kamu pergi gitu aja. Suatu saat kamu tiba-tiba kembali dan mau nikahin dia. Emang dia mau?" Nino berujar sambil menahan emosi.


"Iya mungkin aja Intan mau."


"Iya, mau ngelempar kamu pake gas 25kg." ujar Nino sewot.


Kali ini Arka tertawa, sementara Ryan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ansel memang terkadang sangat lemot dan mengesalkan hati banyak orang dengan kepolosannya itu. Padahal usianya terbilang cukup dewasa untuk bisa mengerti banyak hal.


Malam itu Arka menginap di apartemen Ryan, namun ia tetap menelpon Amanda untuk menanyakan kabar wanita itu dan juga anak-anak mereka. Ryan membiarkan ketiga anaknya tumplek dalam satu kamar yang besar. Dan malam ini, mereka terlihat tengah memasak bersama.


"Beh, Arka pinter nih masaknya. Nggak kayak lo." ujar Nino pada Ansel yang tengah mengurus timun. Sedang Nino sendiri tengah memperhatikan Arka.


"Eh, jangan meremehkan gue ya. Sini gue yang masak." Ansel mendekat dan mencoba menggeser posisi Arka, yang tengah berdiri di depan kompor.


"Jangan, jangan. Jangan kasih, Ka." ujar Nino menghalangi.


"Terakhir kali gue radang tenggorokan gara-gara dia. Dia masukin bubuk cabe kebanyakan dalam nasi goreng."


"Oh ya?" tanya Arka seraya tertawa.


"Itu mah, Nino aja yang lemah. Makan pedes pingsan, katanya orang Indonesia."


"Emang lo makan pedes, pingsan?" Arka kembali bertanya pada Nino.


"Kagak, dia aja yang berlebihan. Suka gosip, lambe turah tau dia. Bule, bule lambe memble tau nggak."

__ADS_1


"Lambe mu tuh." ujar Ansel.


"Lambe mu, Paijo." balas Nino sengit.


Mereka kini lempar-lemparan timun dan juga tomat. Sementara Arka menghindar sebisa mungkin sambil terus mengaduk nasi goreng didalam wajah besar.


"Hmm, enak banget. Ka." Nino memuji masakan Arka ketika mereka bertiga makan di meja makan.


"Iya, enak." ujar Ansel mendukung ucapan Nino. Arka hanya tertawa dan lanjut makan.


"Ini nih, baru namanya nasi goreng enak." ujar Nino kemudian. Ansel hanya melirik saudaranya itu dengan sengit.


"Ya udah sih, ntar gue belajar sama chef Jono."


"Juna." Nino dan Arka berujar diwaktu bersamaan. Tak lama kemudian Ryan pun mendekat.


"Wah, siapa yang masak?"


"Arka." ujar Nino, sementara Ansel mengangkat tangan. Ryan menoyor kepala Ansel.


"Kamu masak, disuruh bikin spaghetti instan aja lengket di panci."


Arka tersedak karena menahan tawa.


"Salah pancinya kenapa nggak anti lengket."


"Salah lo airnya kedikitan, Bambang." Nino berujar pada Ansel.


Ansel pun nyengir lalu lanjut makan. Sementara kini Ryan mulai mengambil piring dan menyendok nasi goreng yang ada dihadapannya. Perlahan ia pun mulai makan.


"Ow, it's good." ujarnya kemudian.


"Nggak kayak masakan Ansel." lanjutnya lagi.


"Dad, janganlah engkau membandingkan satu anak dengan anak yang lainnya. Karena itu hanya akan menimbulkan lara di hati anakmu yang terluka." ujar Ansel membuat Nino dan Arka tersedak.


Mereka kini terkekeh-kekeh, entah dari mana Ansel belajar berpuisi. Yang jelas itu membuat mereka merasa begitu geli.


"Napa lo berdua tawa-tawa." ujar Ansel sewot.


Usai makan, Ansel bertugas mencuci piring. Sementara Nino menyapu dan mengepel lantai dapur, sedangkan Arka duduk santai karena tadi ia sudah masak. Kini ia bermain Mobile legends didalam kamar.


"Ka, ikut Ka." ujar Ansel kemudian. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya dan langsung ke kamar.


"Ntar dulu ah, nanggung."


"Niiiin." Ansel memanggil Nino.


"Apa?"


Nino masuk lalu menutup pintu kamar.


"Arka nggak mau berhenti, Nin. Nggak mau main bareng."


Nino pun mendekat dan,


"Tuuuut." Nino memencet tombol keluar yang menyebabkan permainan out begitu saja.


"Nino, arrrgggh." Arka kesal setengah mati.


Nino dan Ansel nyengir layaknya Patrick dan Spongebob yang tengah membuat kesal Squidward.


"Ini tuh lama lagi, masuknya." ujar Arka kemudian.


"AFK ntar gue." lanjutnya lagi.


"Makanya ikut." ujar Ansel dan Nino berdua kompak.


"Ya kan bisa nanti, gue udah dua kali AFK. Awas aja kalau abis ini gue nggak bisa main di mode ranked."


"Kan ada mode lain." ujar Nino.


"Pala lu mode lain." Arka semakin sewot, sementara Nino dan Ansel tak kuasa menahan tawa.


Tak lama kemudian mereka pun sudah terlihat bermain bertiga. Terkadang mereka fokus, terkadang saling mengumpat dengan mode anying-tod dan segala jenis kebun binatang. Persis bocil yang baru pertama bermain game online dengan kuota ketengan.


Ryan membiarkan saja ketiga bersaudara itu menyatu layaknya persaudaraan yang lain. Kadang akur, kadang seperti hendak saling menelan satu sama lain. Sebagai orang tua, kini ia merasa lega bisa menyatukan anak-anaknya. Ia bahagia memiliki mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2