
I'm jealous of the rain
That falls upon your skin
It's closer than my hands have been
I'm jealous of the rain
Arka mulai bernyanyi di sebuah kafe tempat dimana ia sering bernyanyi. Menghadap ke arah pengunjung kafe dan juga istrinya yang duduk disebuah meja.
Ia tidak sedang merasa cemburu, seperti makna lagu yang tengah ia nyanyikan. Hanya saja itu memang masuk dalam list lagu yang diberikan pihak pemilik kafe, untuk ia nyanyikan malam itu.
I'm jealous of the wind
That ripples through your clothes
It's closer than your shadow
Oh, I'm jealous of the wind
Amanda tersenyum seraya menyedot minuman yang ada dihadapannya. Arka meminta wanita itu untuk menemaninya, dan Amanda pun memang sedang tidak banyak kerjaan. Si kembar dijaga oleh Lastri dan juga Anita.
Cause, I wished you the best of
All this world could give
And I told you when you left me
There's nothing to forgive
But I always thought you'd come back, tell me all you found was
Heartbreak and misery
It's hard for me to say, I'm jealous of the way
You're happy without me.
Mungkin bagi keduanya, makna lagu itu memang sedang tak bersinggungan dengan mereka. Amanda dan Arka tengah berada dalam fase tenang dan bahagia dengan pernikahan yang mereka jalani.
Sekalipun begitu banyak badai yang menghantam rumah tangga mereka selama hampir dua tahun ini.
Namun bagi orang lain, terutama bagi seorang gadis yang duduk di pojokan kafe tersebut. Lagu itu sangatlah berarti, karena sama dengan apa yang sedang ia rasakan. Ya, siapa lagi kalau bukan Cintara.
Gadis itu kini tengah berada di tempat yang sama, dengan dimana Arka serta Amanda berada. Bahkan dari tempat dimana ia duduk, gadis itu dapat menyaksikan Arka maupun Amanda dengan jelas.
Hatinya terbakar cemburu, ingin rasanya ia menghampiri Amanda dan menyiram wajah wanita itu dengan minuman yang kini ada ditangannya. Namun itu tak mungkin ia lakukan, mengingat ini adalah tempat yang sering ia kunjungi. Ia tak ingin namanya di blacklist dan tak bisa melihat Arka tampil untuk selanjutnya.
***
Pada saat yang bersamaan, dengan saat dimana lagu itu mengalun, Ryan tengah duduk terdiam di balkon apartemennya. Beberapa detik lalu ia baru saja melihat insta story Arka, yang mengucapkan selamat ulang tahun pada ayah tirinya.
__ADS_1
Dan pada slide-slide berikutnya, Arka menampilkan banyak foto-foto dirinya tengah bersama laki-laki itu. Caption yang ia buat pun penuh emosional.
Arka mengatakan, jika ayah tirinya itu adalah salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Selain anak, istri dan juga ibunya. Ia juga mengunggah sebuah foto, saat Arka baru lahir dan di gendong oleh ayah tirinya itu.
Ada pula foto saat dimana Arka pertama masuk sekolah, ayah tirinya pula lah yang mengantar pemuda itu. Ryan kini hanya bisa menghela nafas dan mencoba merelakan semuanya.
Sama seperti makna lagu yang tengah dimainkan oleh Arka, ia cemburu pada keadaan yang terjadi. Sepanjang hidup, ia telah disibukkan dalam urusan mengejar harta dan segala hal kemewahan didalamnya. Kerja kerasnya dibayar mahal untuk itu.
Ia tidak pernah kekurangan uang, bisa mendirikan sebuah perusahaan besar berskala internasional. Namun satu yang hilang dalam dirinya, yakni waktu. Waktu kebersamaan dengan anak-anaknya sendiri.
Meskipun ia terbiasa mengurus Ansel sejak kecil, ditambah pula ada Nino. Namun ia tak sebaik ayah tiri Arka dalam mengurus anak. Waktu yang dimiliki Ryan lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan. Hanya beberapa saat, ia bisa memperhatikan Ansel dan juga Nino. Sisanya, kedua anak itu tumbuh dengan sendirinya.
Ryan bahkan tak memiliki banyak foto kebersamaan dengan kedua anaknya itu. Tak seperti Arka dan juga ayah tirinya.
Sementara di lain pihak, masih di waktu yang sama. Belum lagi lagu yang dinyanyikan oleh Arka itu berakhir, Amman sudah duduk termenung di ruang kerjanya.
Jauh sebelum ia terduduk diam ditempat itu, ia telah mengalami sebuah peristiwa yang tak mengenakkan hati. Pasalnya beberapa hari ini Vera tak masuk ke kantor, dan itu terjadi tanpa konfirmasi atau alasan apapun.
Ia sadar jika Vera marah padanya, atas perlakuan kasarnya waktu itu. Hingga wanita itu melakukan mogok kerja, bahkan tak membukakan pintu ketika Amman datang.
Amman begitu percaya diri jika Vera sangat tergantung padanya. Hingga tak ada satu kata maaf pun yang keluar dari bibir pria tua itu, untuk meredam masalah. Ia membiarkan saja wanita hamil itu marah padanya. Toh wanita itu tengah mengandung anaknya. Seberapa jauh ia bisa pergi, pikir Amman.
Namun tadi, ia benar-benar syok. Lantaran ia harus melihat Vera yang diantar oleh Ryan ke dokter kandungan. Ia hampir saja membuat keributan dengan mendatangi Ryan dan marah pada rekan sekaligus saingan bisnisnya itu.
Namun ia teringat jika mereka hampir menjalin kerjasama, dan lagipula Amman tiba-tiba mendapat telpon dari Fritz. Mengenai Maureen yang menawan dan menusuk pembantunya dengan gunting di dalam kamar. Jadilah Amman terpaksa memilih masalahnya dengan Fritz terlebih dahulu, untuk mengamankan Maureen.
Kini setelah semuanya selesai, ia kembali teringat pada Vera. Hatinya terbakar cemburu, sama seperti makna lagu yang kini dinyanyikan Arka. Bagaimana mungkin wanita itu berani mengkhianatinya.
"Braaak."
Amman kemudian melempar handphone nya ke lantai, hingga perangkat itu berserakan.
***
"Hai sayang."
Arka mendekati Amanda, ketika lagu bertajuk "Jealous" tersebut telah selesai ia mainkan. Itu adalah lagu terakhir dari 8 lagu yang diminta kepadanya, untuk dinyanyikan. Arka mencium bibir Amanda lalu duduk disisi istrinya itu."
"Kamu belum pesan minum, Ka." ujar Amanda kemudian.
"Iya ini aku mau pesen." Arka memanggil pelayan kafe dan memesan minuman. Tak lama setelah itu, minuman yang ia pesan pun tiba.
"Anak-anak nggak ada rewel?" tanya Arka seraya mengaduk gula yang ada di dasar gelas, dengan menggunakan sendok kecil.
"Nggak, tadi kata Anita lagi pada nonton TV. Aku video call juga, mereka cuek aja."
"Nonton apaan mereka?" tanya Arka lagi.
"Nonton Diego."
Arka tertawa.
__ADS_1
"Aku dulu nontonnya Dora." ujar Arka.
Amanda terkekeh.
"Koq kamu ketawa, emang kamu nggak pernah nonton Dora?" tanya Arka lagi.
"Ka, Dora muncul. Aku udah gede."
"Oh iya, ya."
"Aku mah Doraemon tontonannya."
"Iya deh yang anak 90 an."
Amanda nyengir.
Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke handphone Arka. Amanda melihat pesan tersebut.
"Ibu Maureen?" tanya Amanda seraya mengerutkan kening.
"Iya ibunya Maureen." ujar Arka.
"Oh, aku pikir kamu namain kontak Maureen jadi "Ibu Maureen". Baru mau marah, aku."
"Nggak." ujar Arka seraya tersenyum.
"Kenapa emangnya ibunya?" tanya Amanda lagi.
"Nanyain Maureen."
"Kenapa Maureen?"
"Nggak tau, Man. Kata anak-anak dia ngilang."
"Ngilang?"
"Iya, nggak ngampus-ngampus. Nggak bisa di telpon, wa, dan lain-lain. Sosmed nya juga udah lama nggak update."
"Palingan juga dirumah." ujar Amanda.
"Iya sih." ujar Arka.
"Terus itu kamu jawab apa ke ibunya?"
"Ya aku bilang aja nggak tau, orang aku emang nggak tau dia dimana sekarang. Hari itu doang ngeliat dirumah papa kamu."
"Lagi liburan kali, Ka. Kan papanya banyak duit."
Amanda berseloroh, seolah-olah ia tak ada hubungannya dengan Amman.
"Maybe, buat caper doang kali." Arka tertawa lalu menyedot minumannya. Dan perbincangan mereka malam itu pun berlanjut.
__ADS_1