Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Karaoke


__ADS_3

"Ka."


Ansel menelpon Arka.


"Apa?"


"Karaoke kata Nino, ajak Rio."


"Gue abis karaoke, anget lagi."


"Itu mah beda karaoke nya, bangsat."


Nino berujar dengan nada sewot, karena memang handphone tersebut di loud speaker oleh Ansel.


"Karaoke basah itu namanya." ujar Nino lagi. Ia geram dan ingin rasanya memukul kepala Arka dengan gas tiga kilo.


"Hehehe, enak tau." ujar Arka lagi.


"Nin, kita nggak usah temenin Arka lah ya." ujar Ansel kemudian, Arka terkekeh.


"Iya ga asik temenan sama dia, mesum." timpal Nino masih sewot.


"Hahaha." Arka kian terbahak-bahak.


"Ya, Ka. Karaoke ya." ujar Nino kemudian.


"Kapan?" tanya Arka.


"Malem ini."


"Jangan malem ini lah, durasi gue masih panjang soalnya."


"Hee, dasar mesum." Nino dan Ansel berujar diwaktu bersamaan.


"Nggak usah temenin Arka, Nin. Dia kerjanya ngebuntingin anak orang mulu." ujar Ansel.


"Hahaha." Arka kembali terbahak-bahak.


"Kan emang bini gue, anjay."


"Nggak biarin, biarin. Nggak usah temenin Arka." ujar Nino lagi.


"Iya, biarin aja dia sendiri."


"Hoaaaa." terdengar suara Azka di dekat Nino.


"Azka nggak tidur?" tanya Arka.


"Hoayaaa."


"Azka disini aja ya." ujar Nino.


"Iya, nggak usah sama papa. Bentar lagi kamu punya adek, papa kamu nggak sayang lagi sama kamu." timpal Ansel.


"Heh, anak gue jangan di rusak mentalnya." ujar Arka seraya tertawa.


"Hoayaaa."


"Iya, sama uncle Nino aja ya."


Arka masih terkekeh-kekeh.


"Ya udah besok ya, Ka." ujar Nino.


"Jam berapa?"


"Siang." ujar Ansel.


"Jangan mending sore aja." ujar Nino.


"Iya, enakan sore Sel." Arka menimpali.


"Ya udah deh, sore." ujar Ansel menyetujui.

__ADS_1


"Kita-kita aja nih, nggak ngajak daddy?" tanya Arka lagi.


"Hmm, belum tau dia." Nino dan Ansel berujar diwaktu yang nyaris bersamaan.


"Kenapa emangnya?" tanya Arka heran.


"Kasih paham, Sel." ujar Nino kemudian.


Arka siap mendengarkan.


"Nih ya, daddy itu kalau diajak karaoke an. Yang ada dari awal sampe akhir, dia nggak mau gantian nyanyi sama orang."


"Oh ya?"


"Iya, dan harus lagu pilihan dia." ujar Nino.


"Parahnya lagi, dia suka banget lagu Mandarin." timpal Ansel.


Arka tertawa terbahak-bahak.


"Bayangin dah tuh ya. Tiga jam lo karaoke, nemenin dia nyanyi lagu mandarin." ujar Nino.


Arka makin terpingkal-pingkal.


"Anjir, gue ngebayangin muka lo berdua waktu nemenin daddy nyanyi." ujar Arka.


"Mukanya Nino kayak anemia." ujar Ansel.


"Lo, kayak abis ditinggal nikah muka lo. Kalau nemenin daddy nyanyi."


"Hahaha."


Arka benar-benar tak dapat membendung tawa. Karena ia adalah orang yang gampang memvisualisasikan sesuatu dibenaknya. Bahkan tawanya itu mengundang perhatian Amanda, yang saat ini tengah menyiapkan makan di meja.


"Ya udah deh, besok yak." ujar Nino.


"Ok, ntar gue samper."


"Hoayaaa."


"Udah biarin aja dulu dia disini. Lo produksi lagi sono, kalau mau produksi." ujar Ansel.


Gigi Arka sampai kering karena terus tertawa. Tak lama kemudian, obrolan tersebut pun di sudahi.


"Sayang, makan dulu." ujar Amanda pada suaminya. Arka tersenyum lalu mendekat dan memeluk istrinya itu dari belakang.


"Aku mau kamu dulu, sekali lagi."


Amanda tersenyum, tak lama setelah itu mereka telah berpindah ke kamar. Dan segala rintihan, erangan dan ******* terdengar dari dalam ruangan tersebut. Arka benar-benar tak melewatkan istrinya barang sedikitpun, dan Amanda menikmati semua itu.


***


Hari itu, Vera yang sebentar lagi akan melahirkan. Keluar dari sebuah pusat perbelanjaan. Ia membeli beberapa pakaian serta perlengkapan untuk bayinya.


Dulu, ia memang menggoda Amman agar bisa mendapatkan kehamilan ini. Ia ingin memanfaatkan bayi yang tumbuh di rahimnya itu, untuk mengeruk segala kekayaan yang Amman miliki dan juga mendapatkan posisi tinggi di kantor.


Namun seiring dengan berjalannya waktu, serta banyaknya peristiwa tak terduga yang telah ia lewati. Pun juga hormon kehamilannya yang meningkat tajam, Vera kini berubah drastis. Ia tak lagi berambisi untuk melakukan semua rencana jahatnya.


Yang ada dipikirannya saat ini adalah, bagaimana melahirkan anak yang ia kandung dengan selamat. Lalu mereka bisa hidup tenang tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Bayi itu perlahan merubahnya, menjadi pribadi yang lebih baik.


Vera membawa barang belanjaannya dengan susah payah ke depan, ia ingin menyetop sebuah taxi. Namun ia menemukan Amman telah berdiri dihadapannya. Hal yang sama sekali tak pernah dilakukan Amman selama ini.


Lama keduanya bersitatap, sampai kemudian Amman mendekat dan meraih semua barang belanjaan Vera. Ia lalu menggamit lengan wanita itu dan membawanya berjalan menuju ke mobil.


Vera terus memperhatikan pria itu. Selama mengenal Amman, belum pernah sekalipun ia melihat Amman bersikap sedemikian rupa.


"Thank you." ujar Vera pada Amman ketika mereka telah duduk didalam mobil.


Pria yang hendak menekan pedal gas mobilnya itupun terdiam. Ia lalu menoleh ke arah Vera dan menatapnya barang sejenak.


"Dia baik-baik saja kan?" tanya Amman seraya mengelus perut wanita itu. Vera mengangguk lalu tersenyum, tak lama kemudian mobil mereka pun melaju.


Amman mengantar Vera hingga ke apartemen miliknya, ia juga yang membawakan barang-barang belanjaan wanita itu.

__ADS_1


"Lain kali belanja lah di online shop, jangan pergi sendirian lagi. Atau kalau memang perlu untuk keluar rumah, telpon aku." ujar Amman seraya mengambil segelas air putih, lalu memberikan air tersebut pada Vera.


Wanita itu tersenyum penuh haru. Selama hamil bahkan belum pernah Amman sebegitu perhatiannya terhadap ia dan bayinya. Amman membantu membereskan barang belanjaan Vera, namun tiba-tiba Vera memeluk pria itu. Amman terkejut sekaligus terdiam, namun tak lama setelah itu ia pun membalas pelukan tersebut.


Ia mencium kening Vera beberapa kali, Vera mendekatkan bibirnya dan mencium bibir pria itu. Lalu semuanya pun berlanjut, Vera tampaknya sudah sangat ingin disentuh. Setelah sekian bulan mengandung, Amman selalu sibuk dan tak ada waktu bagi mereka.


Pun juga mereka menghadapi banyak masalah, termasuk Amman yang pernah memukul Vera waktu itu. Praktis hubungan keduanya merenggang belakangan ini. Namun hari ini, mereka kembali bersatu. Dalam erangan, rintihan dan teriakan. Amman melakukannya tak terburu-buru seperti biasanya, kali ini ia memberikan kenikmatan lebih lama untuk Vera.


***


Esok harinya sesuai janji, Arka mendatangi kediaman Ryan dan menjemput kedua saudaranya untuk karaoke bersama. Ansel telah memesan room di sebuah tempat karaoke keluarga.


Sebelum itu, ia telah menelpon Rio terlebih dahulu. Rio mengatakan jika ia akan menyusul dalam beberapa menit ke depan.


"Dad, pergi ya." ujar Nino dan Ansel di waktu yang nyaris bersamaan. Sementara Arka kini baru keluar dari mobilnya. Ryan sendiri berdiri di muka pintu, sambil menggendong Azka.


"Eh kamu, nggak pulang-pulang." Arka mencoba menggendong Azka. Namun Azka malah menolak dan memeluk Ryan.


"Hoayaaa." ujarnya kemudian.


"Dia tau tuh, kalau lo gendong mau di ajak pulang berarti." ujar Nino.


"Mana mau dia pulang, orang disini apa-apa diturutin sama daddy." ujar Ansel menimpali.


"Mau nonton di temenin, di bacain dongeng, diajak ngobrol, main ke taman."


Arka tertawa.


"Kalau dirumah di dalam box mulu, ya dek. Disuruh tidur atau main berdua sama Afka ya."


Arka masih berusaha untuk meraih anaknya itu, namun lagi-lagi Azka melengos.


"Hoayaaa." ujarnya memalingkan wajah.


"Oh ya udah, papa pulang. Dadaaa."


"Hekheee." Azka mulai menangis.


"Ooo, nggak sayang." Arka kembali mendekat, Azka berhenti menangis. Namun ketika Arka hendak menggendong kembali anaknya itu, Azka kembali melengos.


"Ya udah deh, sakit hati papa." ujar Arka seraya tertawa.


"Udah sana kalian pergi, nanti dia nangis." ujar Ryan.


"Hmm, di usir kita Ka." ujar Ansel.


"Mentang-mentang udah punya cucu." Nino sewot, sementara Ryan hanya tertawa.


"Bye dad." ujar mereka semua lalu masuk ke dalam mobil, Nino kini berada di sisi Arka.


"Lah gue dimana?" tanya Ansel pada kedua saudaranya itu.


"Ini mobil kan cuma muat berdua, kampret." ujarnya kemudian. Arka dan Nino pun tertawa, mereka juga baru menyadari hal tersebut.


"Ya udah pake mobil gue aja." ujar Nino kemudian.


Mereka lalu berganti mobil dan pergi menuju ke tempat karaoke. Sesampainya disana, ternyata Rio telah menunggu. Mereka pun lalu menghabiskan waktu beberapa jam kedepan untuk bernyanyi.


Kadang suasana syahdu, kadang juga harus menutup telinga lantaran suara Ansel serta Rio yang cempreng. Dari mereka berempat, hanya Nino dan Arka yang bisa bernyanyi bagus.


Mereka juga melengkapi malam itu dengan rokok, beberapa cemilan serta juga minuman beralkohol. Karena suasana yang riuh dan penuh tawa, serta pengaruh sedikit alkohol yang diminum, belum lagi cahaya lampu sorot yang membuat mata silau. Arka tak begitu konsentrasi ketika ada pesan masuk di WhatsApp.


Ada sebuah pesan dari Ryan yang melarang anak-anaknya untuk terlalu mabuk.


"Jangan mabuk ya, nanti kita mau barbeque bareng Amanda, Nadine dan Intan."


Begitulah bunyi pesan Ryan di handphone Arka. Arka sesekali masih menertawai Ansel dan Rio, yang saat ini tengah menyanyikan lagu milik Nassar Oppa sambil berjoget.


Hingga tanpa sadar ia mengklik satu pesan lagi dari ibunya. Ia tak begitu membaca pesan tersebut, karena masih mengira jika itu pesan dari Ryan. Ia hanya mengklik balas.


"Iya dad, nggak mabok koq. Azka nggak nangis kan?. Daddy sekarang sama siapa?. Amanda dan yang lainnya udah datang?. Nanti Arka ajak Rio nginep di rumah daddy, boleh kan dad?"


Klik, send.

__ADS_1


Arka kembali pada keceriaannya, tanpa ia ketahui jika sebuah masalah telah menunggunya didepan. Sebab sang ibu tengah memegang handphone, saat pesan tersebut terkirim.


__ADS_2