Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Tenang (Bonus Chapter)


__ADS_3

Amanda dan Arka telah melangsungkan resepsi pernikahan mereka. Meski harus berakhir, namun kenangan akan hari tersebut mereka simpan didalam hati. Kini mereka hanya bisa melihat semua kebahagiaan itu melalui foto dan juga video.


"Ka, liat deh anak-anak."


Amanda menunjukkan Azka dan Afka yang tengah mereka gendong di dalam foto.


"Ya ampun, judes banget muka mereka." ujar Arka seraya tertawa.


"Dia ngeliat ke siapa tuh?" tanya Arka lagi. Mereka memperhatikan dengan seksama, tak lama keduanya pun tertawa.


"Hahaha."


"Ngeliatin Rio, Ka." ujar Amanda masih tertawa.


"Iya, mereka dendam kali. Pas Rio nyanyi sama Ansel, kuping mereka pengang mungkin." ujar Arka.


"Hahaha." Keduanya kembali tertawa.


"Untung nggak pake banyak sound system ya, Ka. Kalau nggak, pada budek dini tuh mereka. Walau udah di pakein headphone."


"Ya iyalah, denger suara Ansel sama Rio begitu. Cakepan juga suara Giant, temennya Nobita."


Arka dan Amanda kembali tertawa, ada banyak kebahagiaan yang datang ke hidup mereka setelah acara tersebut dilangsungkan.


Azka dan Afka sudah bisa merangkak cepat dan berdiri sedikit-sedikit, pencapaian Amanda di kantornya menjadi pesat. Arka naik jabatan, dan makin banyak tawaran film untuknya.


Novel karangan mereka telah selesai dan banyak yang membaca. Bahkan pihak production house tempat dimana Arka pernah bekerjasama, meminta untuk berbicara dengan Arka dan Amanda. Perihal apakah keduanya mau mengadaptasi novel tersebut menjadi sebuah film atau tidak.


"Aku sih mau-mau aja, Ka. Tapi kan produsernya aku. Kalau nggak laku, rugi, aku lagi yang kena." ujar Amanda.


Arka baru ingat kalau istrinya pernah bergabung di production house tersebut, sebagai investor sekaligus produser. Arka pernah bertemu saat pernikahan mereka masih dirahasiakan. Dan saat itu Amanda sedang hamil, ia ingin memergoki apakah Arka bersama Maureen atau tidak di acara premier.


"Koq aku baru inget kalau kamu jadi produser ya Man?" tanya Arka.


"Aku juga baru inget, karena baru dapat proyek kali ini. Selama ini kan, mereka cuma rencana-rencana doang ke aku. Ya udah aku diemin aja. Eh, sekarang baru mau garap proyek sama aku. Dari novel kita lagi, jadi kita membayar diri kita sendiri." ujar Amanda sambil tertawa.


"Ya terserah kamu sih, mau diambil apa nggak project ini?"

__ADS_1


"Mmm, ntar deh. Aku pikirin dulu." ujar Amanda.


"Soalnya harus tepat perhitungan antara budget dan juga keuntungan. Kalau zonk bisa ambyar jiwa." lanjutnya kemudian.


***


Jauh dari kediaman Amanda, Amman kini menjalani hukumannya. Meski mungkin tuntutan yang ia terima akan ringan, karena baik Maureen maupun Citra sudah tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.


Bagi Amman sendiri, ini semacam penebusan dosa. Agar karma atas perbuatannya tak terjadi pada anaknya yang kini masih bayi. Ia dan Vera telah resmi menikah, Vera seringkali mengunjungi Amman agar pria itu tak kesepian.


Kadang ia menunjukkan video serta foto dari bayi mungil mereka. Dan itu cukup membuat Amman seperti terobati kerinduannya.


Kondisi mental Amman cukup stabil dan ia lebih tenang sekarang. Hal yang paling ia ingat adalah, ketika polisi menjemput dirinya. Ia meminta kepada pihak yang berwajib tersebut untuk bisa menemui Nino terlebih dahulu. Polisi pun mengizinkan.


Saat itulah pertama kali ia bisa memeluk Nino. Bahkan sebelum sempat keduanya bicara satu atau dua patah kata. Mungkin itulah yang dinamakan ikatan batin, atau mungkin hanya sekedar kehendak alam semesta.


Nino memeluk Amman dan itu amat sangat memberi Amman kekuatan. Bahkan ia bisa menjalani hari-harinya disini dengan tegar, karena peristiwa itu.


Sementara Citra sendiri, ia belum bisa menyentuh Nino. Karena Nino masih enggan untuk ditemui. Nino bukan durhaka pada ibunya tersebut, hanya saja ia sedang mengobati luka yang ada dalam dirinya selama ini. Ia tidak ingin menemui ibunya dalam kebencian, dan Citra pun tidak bisa memaksakan hal tersebut.


Lain halnya dengan Ansel. Bule karbitan itu kini fokus belajar agama, mengikuti keyakinan Intan. Ryan sendiri tak masalah asal Ansel bisa bertanggung jawab pada apa yang menjadi pilihannya.


Arka tak masalah dengan hal itu, ia tak memiliki rasa iri sedikitpun pada Jordan. Ia pun tak lagi takut jika ayah tirinya tersebut akan melupakan dirinya. Sebab sampai hari ini, semua itu tak pernah terjadi. Kasih sayang ayah tirinya selalu sama dan adil untuk anak-anak.


***


"Ka, besok ke mama aku yuk!"


Amanda duduk di sisi Arka yang kini tengah bermain game online di laptopnya.


"Ayo, udah lama juga kan nggak kesana." ujar Arka.


"Iya, terakhir beberapa bulan yang lalu." ucap Amanda.


"Besok pagi-pagi aja, biar enak." ujar Arka lagi.


"Anak-anak udah boleh dibawa belum ya, Ka?" tanya Amanda.

__ADS_1


"Waduh, kalau itu aku masih ngeri Man. Bukan apa-apa, kalau takhayul lain aku masih bisa menentang. Tapi soal bawa bayi ke kuburan, aku masih agak takut. Nggak apa-apa aku dibilang kolot." ujar Arka.


"Iya sih, ya udah deh. Kita tinggal aja mereka." ujar Amanda.


"Hoayaaa."


Tiba-tiba Azka dan Afka yang tengah merayap di ruang tengah, bersuara. Arka dan Amanda yang sedang duduk di balkon itu pun tertawa.


"Tinggal dulu ya dek. Ntar kalau udah agak gedean, baru kita ke oma ya." ujar Amanda.


"Hoayaaa." Azka dan Afka menggelengkan kepala.


"Tau dia arti kata tinggal, udah bisa geleng." ujar Arka seraya tertawa.


"Besok ke rumah grandpa, kemarin lusa kan udah ke rumah nenek-kakek. Mau?" tanya Arka.


"Hoayaaa."


Kedua bayi itu pun tampak berkeliaran kesana kemarin. Arka dan Amanda membiarkan saja tempat mereka berantakan oleh mainan kedua anak itu, yang penting mereka bahagia.


Esok harinya Arka dan Amanda mengadakan ziarah rutin ke makam ibu Amanda. Dan seperti biasa, mereka menemukan bunga disana. Mereka sudah mengetahui siapa yang meletakkan.


Ya, Vera. Sejak menjadi istri ayahnya, Vera selalu rajin mengunjungi tempat ini dan mendoakan ibu dari Amanda tersebut. Amman juga mengatakan pada Vera untuk menyampaikan bunga darinya di setiap minggu.


Terakhir sebelum masuk penjara, Amman juga sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini. Ia benar-benar menyesal dan meminta maaf pada ibu Amanda. Ia juga sempat menemui ibu Rani dan meminta maaf pula pada wanita itu.


Amman juga mengakui kejahatannya terhadap ibu Rani didepan pihak yang berwajib, meski ibu Rani enggan memperpanjang.


Amman cukup beruntung, karena dimaafkan oleh orang-orang yang pernah ia sakiti. Dan itu justru membuat hatinya kian bertambah sakit, serta merasa dirinya adalah orang paling jahat sedunia.


Ia merasa telah menyakiti orang baik, yang seharusnya tak ia perlakukan seperti itu. Saat seminggu pertama di penjara, Amman selalu menangis.


Bukan menangisi dirinya berada ditempat itu, namun menangisi kenapa dirinya begitu jahat. Sedang orang yang ia jahati bisa berbesar hati dalam memaafkan dirinya.


"Ma, Amanda sama Arka dateng lagi. Maaf ya belum bisa bawa kedua cucu mama, Amanda sama Arka masih takut." ujar Amanda pada ibunya, Arka duduk di samping Amanda.


Ada banyak hal yang diucapkan Amanda saat itu, seolah ibunya masih ada di dunia. Usai mendoakan dan membaca ayat suci, mereka pun pamit.

__ADS_1


***


__ADS_2