
"Mbak, mbak Amanda tiap hari gini. Kalau nggak kerja?"
Rianti memperhatikan Amanda yang sibuk membereskan penthouse, membersihkan meja makan dan lain-lain. Sedang Rianti kini tengah mencuci piring.
"Iya, namanya juga emak-emak rumah tangga ya say." ujar Amanda seraya tertawa.
"Tapi kan mbak punya banyak pembantu dirumah satunya."
"Enakan gini, Ti. Bisa bebas."
"Maksudnya mbak?"
"Biar bisa ah, ah, ah, dimana-mana?" ujar Amanda.
Rianti tertawa.
"Emangnya mbak sama mas suka dimana-mana gitu."
"Iya, biar seru. Kalau ada pembantu kan nggak enak. Lagi begituan, dia lewat. Permisi, pak, bu. Kan buyar jadinya."
Rianti terbahak.
"Duh, Rianti jadi pengen."
"Hus, nikah dulu." ujar Amanda lalu tertawa.
"Banyak tau mbak, temen Rianti yang begituan sebelum menikah." ujar gadis itu kemudian.
"Mereka suka cerita sama Rianti." lanjutnya lagi.
"Jangan, Ti. Kalau bisa nikah dulu, bahaya."
Rianti menatap Amanda yang kini sibuk meletakkan makan malam di meja.
"Ini mbak bicara di luar konteks dosa ya. Kalau dosa ya, semua orang juga tau itu dosa. Tapi ada hal lain yang juga nggak kalah penting."
"Apa itu, mbak?" tanya Rianti.
"Nggak gampang cari laki-laki baik. Jaman sekarang itu, sangat sedikit laki-laki yang udah begituan sama pacarnya, mau bertanggung jawab. Yang ada mah, malah ditinggalin ujungnya."
"Iya sih mbak, ngeri juga."
"Iya kalau kamu nya kuat ditinggalin. Kayak cewek-cewek lain, yang udah terlanjur begituan sama pacarnya. Terus mereka ditinggalin, tapi mereka bodo amat dan pantang untuk mengemis. Nah kalau kamu rapuh?. Kamu udah ditinggalin, kamu dateng ngemis-ngemis. Makin di remehin kamu sama laki-laki." ujar Amanda kemudian.
"Temen Rianti ada mbak begitu. Di hamilin sama cowoknya, eh ditinggalin. Terus dia minta tanggung jawab sama cowoknya, sampe datengin orang tua si cowok. Terus dinikahin lah tuh, temen Rianti. Tapi sekarang suaminya itu malah selingkuh, suka kasar, kasih duit jarang. Kalau temen Rianti ngadu ke mertuanya, mertuanya bilang "Salah sendiri dulu kenapa mau dihamili". Padahal kan anaknya juga salah ya."
"Itulah perempuan, Ti. Biar kata seluruh laki-laki bilang, perempuan itu selalu benar. Iya kalau soal adu argumen. Kalau soal tanggung jawab, posisi, perlindungan, hak. Perempuan itu lebih banyak dirugikan dan disalahkan. Macem itu kan udah jelas anak laki-lakinya juga salah, hubungan itu nggak akan terjadi kalau nggak dua-duanya mau, kecuali diperkosa. Tetep aja yang salah perempuan di mata orang tuanya, dimata tetangga."
"Padahal emaknya juga perempuan ya mbak, ya."
"Iya, karena pada dasarnya girl support girl itu hanya terdapat di satu circle. Kalau bukan circle nya dia, perempuan itu justru saling menjatuhkan biasanya. Padahal kita semua ini kuat loh, kalau bersatu. Makanya kamu hati-hati banget, belum pernah kan?"
"Belum mbak, sumpah." ujar Rianti kemudian.
"Jangan kemakan sama mulut laki-laki, Ti. Lagian kita nggak tau jodoh kita siapa. Mas mu aja udah sama Maureen, nikahnya sama mbak."
Rianti tertawa.
"Iya juga ya mbak."
"Makanya."
Amanda selesai menyiapkan makan malam. Ia kini mengambil sebotol orange juice lalu menuangnya untuk Rianti dan dirinya.
"Tapi, kalau ada temen kamu atau orang sekitar kamu yang belum menikah. Tapi udah begituan, mereka jadi korban. Jangan kamu hujat juga, ya." ujar Amanda.
Rianti mengangguk.
__ADS_1
"Istilahnya, kita jangan merasa sok paling suci. Sebab bisa aja entah besok atau lusa, kita melakukan kesalahan yang lebih parah dari orang tersebut."
"Iya, mbak."
"Kayak Liana, dia jadi korban pemerkosaan. Tapi begitu berita itu sampai ke kampungnya, dia malah dihujat. Padahal dia itu korban, begitu juga dengan orang-orang yang hamil diluar nikah tapi laki-lakinya nggak mau tanggung jawab. Mereka juga korban."
"Koq korban, mbak?. Bukannya hubungan yang didasari atas dasar suka sama suka itu consent ya jatuhnya, hubungan sadar."
Amanda menghela nafas.
"Korban rayuan, Ti." ujarnya kemudian.
Rianti menatap Amanda.
"Perempuan kalau laki-laki udah ada diatas tubuhnya, udah megang bagian-bagian tubuhnya. Udah sulit buat nolak."
"Kayak mbak yang nggak bisa nolak rayuan mas Arka?"
"Iya, makanya keponakanmu lahir." ujar Amanda kemudian. Rianti tersenyum, tak lama kemudian Arka pulang.
"Lagi pada ngomongin apa, ayo?" tanya Arka seraya duduk lalu melepaskan sepatu, jas dan dasinya.
"Lagi ngomongin kamu lah." ujar Amanda seraya mendekat lalu mencium tangan Arka.
"Aku mau cium kamu tapi nanti, abis mandi aja." ujar Arka.
Rianti tersenyum, memperhatikan keharmonisan hubungan kedua kakaknya itu.
"Mau minum dulu nggak?" tanya Amanda.
"Tadi udah dijalan, aku mau mandi dulu."
"Ok, aku tunggu di meja makan." ujar Amanda kemudian.
Arka pun masuk ke kamar lalu mandi. Usai mandi, Arka menyusul Amanda dan Rianti yang sudah menunggu di meja makan.
"Nih sambel jengkol, sayur lodeh, tempe goreng, ayam goreng. Sambel jengkolnya bikinan Rianti, ayam gorengnya juga. Aku bikin tempe goreng sama sayur lodeh."
"Hmm, ok. Kita makan." ujar Arka kemudian.
"Nih nasinya." ujar Amanda seraya menyerahkan sepiring nasi.
"Kurang nggak?"
"Nggak, cukup. Ntar nambah lagi aja."
"Ok."
"Ti kamu nginep, ya." ujar Arka.
"Nggak ah, takut ganggu." Rianti berseloroh seraya tertawa.
Amanda pun ikut tertawa.
"Nggak malem ini, Ti. Masih capek." ujarnya kemudian.
"Halah kamu sok sok takut ganggu. Tiap masuk kamar, kuping di sumpel headphone, dengerin k-pop sampe budek."
"Sok tau nih mas Arka." ujar Rianti kemudian.
"Emang suka gitu, Ti?" tanya Amanda.
"Nggak mbak, mas Arka aja berlebihan.
"Berlebihan, emang iya kan?" ujar Arka seraya tertawa. Rianti pun hanya mesem-mesem sambil mengambil nasi
***
__ADS_1
Jauh di sebuah rumah mewah nan megah, princess Maureen tengah mendapatkan segala barang-barang yang ia inginkan. iPhone seri terbaru, perhiasan berbahan dasar emas putih bertahtakan berlian dan kristal swarovski, tas mewah mahal dan barang-barang lain kini ada dihadapan matanya. Diletakkan dalam nampan-nampan yang dibawakan oleh para pembantu.
Tak lama kemudian, para pembantu lain membawakan sepatu-sepatu dari desainer ternama dunia, yang harganya mencapai belasan juta.
"Ini mau, yang ini nggak."
"Ini ok, yang ini iyuuuh." ujarnya sok queen, kepada para pembantu yang menyediakan barang-barang.
Dari kejauhan, Rachel dan Amman memperhatikan gadis itu.
"Kamu percaya, dia anak kamu?" tanya Rachel pada Amman.
"Dan kamu percaya, kalau saya percaya semua itu?" Amman mengeluarkan pernyataan yang membuat Rachel bingung.
"Maksudnya?" tanya Rachel tak percaya.
"Rachel, aku ini laki-laki brengsek berusia 60 tahun. Apa aku terlihat bodoh, mempercayai ucapan anak ingusan seperti Maureen?"
Rachel agak sedikit terkejut, namun masih sedikit bingung.
"Ular kecil seperti dia, mau membohongi ular tua berbisa seperti kita berdua. Heh."
Amman tersenyum tipis pada salah satu sudut bibirnya, lalu ia mereguk wine yang ada ditangannya.
"Lalu, untuk apa kamu memelihara dia?" tanya Rachel.
"Hhhhh."
Amman menghela nafas dan menatap Rachel.
"Kita masih punya musuh lain selain Ryan, yang perlu kita tundukkan."
"Jadi maksudnya, kita akan menggunakan Maureen?"
"Yes, you right."
Amman tersenyum, begitu pula dengan Rachel kini.
"Amanda akan kita gunakan untuk pernikahan, setidaknya anak Ryan adalah laki-laki yang baik. Kita pernah bertemu Ansel beberapa tahun lalu, dia terpelajar, sopan santun, pintar. Amanda akan beruntung memiliki Ansel. Sedang si ular kecil Maureen, akan kita serahkan pada Fritz."
"Fritz?" Rachel menyebut salah satu saingan bisnis Amman, yang terkenal suka pada perempuan muda.
"Ya, kamu pikir untuk apa aku rugi membelikan ini itu untuk si ular kecil itu, kalau tidak ada tujuannya. Aku tidak punya anak lain, selain Amanda dan Rani."
Rachel menatap Amman.
"Rani?"
"Ya, Rani itu anakku. Aku pernah memperkosa ibunya sampai hamil, sebelum menikah dengan ibu Amanda."
Rachel tercengang, ia tak menatap Amman dengan penuh keterkejutan.
"Jadi Rani itu?"
"Ya, aku mengetahuinya bahkan sejak lama. Kamu lihat kan wajahnya dia, dia mirip dengan Amanda."
Rachel masih tak percaya.
"Lantas waktu itu, kenapa kamu menyuruh Rani menghancurkan Amanda. Padahal keduanya anak kamu?"
"Aku hanya ingin Amanda juga berada di pihak kita, membantu kita. Aku tidak pernah menyuruh Rani untuk mencelakai dia. Tapi Rani bodoh, dia malah menuruti semua keinginan Fadly. Sampai akhirnya dia dipenjara, karena kebodohannya sendiri."
"Kenapa kamu tidak keluarkan saja Rani, dia bisa kita manfaatkan untuk kepentingan kita."
"Aku tidak mau terlibat kebodohan yang dia buat, lagipula dia membenci ayahnya. Dia berkali-kali ingin membunuh aku, sejak dia masih SMP. Setiap kali dia menginap dirumah bersama Amanda, dia pasti melakukan niatnya. Tapi selalu ketahuan, dia tidak pernah berhasil karena ayahnya sudah pergi ketika dia mengambil benda tajam dari dapur. Rani tidak bisa dipercaya 100%, jadi biarkan dia dipenjara untuk beberapa waktu kedepan."
" Apa Rani tau, kalau kamu sudah tau?"
__ADS_1
Amman menggelengkan kepalanya. Rachel menghela nafas, ia tak ingin bicara apapun lagi. Semuanya terserah Amman saja, ia hanya akan mengikuti. Yang penting status sosialnya masih ia pegang, dan uang belanjanya masih lancar. Hanya itu yang diinginkan oleh Rachel.