
Kembali ke rumah sakit.
Amman bergegas menerobos kamar, tempat dimana Nino dirawat. Ia melihat pria muda itu tengah terlelap, bahkan mungkin dalam kondisi tak sadarkan diri.
"Dia anakku dengan Aston." ujar Citra kemudian. Seakan berusaha memperjelas sebuah keadaan.
"Kalau aku telpon Aston sekarang, bagaimana?"
Amman mendekat ke arah Citra. Wajah Citra berubah pucat, dendamnya yang terkubur bertahun-tahun lalu kini seolah kembali bangkit.
"Plaaak."
Citra menampar wajah Amman.
"Bajingan kamu." teriaknya kemudian.
Seketika bayangan kelam itu pun melintas di benak Citra. Puluhan tahun lalu, ia mengantar Aston untuk melanjutkan S2 nya di London. Mereka berjanji setelah itu akan menikah, bahkan Aston sudah melamar Citra sebelum tiba keberangkatannya.
Hari-hari berbalas surat pun mereka jalani, Citra kerapkali mengadu pada Amman mengenai kerinduannya terhadap Aston. Amman, Aston, dan Citra sempat kuliah bersama di Amerika saat mengambil gelar strata 1. Disana pula mereka bertemu dengan Ryan.
Namun untuk S2, Amman dan Citra lanjut didalam negri sedang Aston pergi ke London. Amman menanggapi setiap keluh kesah yang dikeluarkan oleh Citra. Bahkan Citra pun telah menganggap Amman sebagai saudaranya sendiri, saking dekatnya mereka.
Namun sebuah kepahitan terjadi, tatkala Amman meminta citra untuk datang ke apartemen miliknya. Saat itu Amman mengatakan jika dirinya sedang sakit dan membutuhkan obat. Citra yang saat itu tinggal sendirian, karena orang tuanya masih bertugas di luar negri itu pun, menyambangi Amman.
Ia membawa obat-obatan dan juga makanan. Tak disangka jika itu adalah jebakan, Amman memperkosa Citra dan menyekapnya berhari-hari bahkan selama beberapa bulan. Ia menggagahi wanita itu hingga hamil.
Saat itu belum ada teknologi handphone yang beredar di tanah Air. Bahkan telpon rumah di apartemen tersebut sudah tidak tersambung lagi, semua telah direncanakan secara matang oleh Amman.
"Kamu sudah tidak perawan?" tanya Amman ketika pertama kalinya memperkosa Citra, Citra tak menjawab. Ia terus menerus memberontak dan memukul Amman.
"Apa punya Aston seenak ini?. Hmm?"
Amman terus menghujam-hujamkan miliknya, hingga menyemburkan cairan yang begitu banyak di rahim Citra. Bahkan ia melakukan hal tersebut berkali-kali.
Tak ada yang mencari Citra, karena ia pun anak tunggal dan tak memiliki banyak kerabat. Hanya orang tuanya yang sering menelpon kenrumah orang tua Amman, dan bertanya perihal keberadaan anak mereka itu. Amman mengatakan jika Citra tengah berlibur ke suatu tempat.
Orang tua Citra percaya saja dengan ucapan Amman. Karena mereka sudah menganggap Amman sekeluarga, seperti keluarga mereka sendiri.
Setiap hari Amman selalu berusaha bersikap lembut pada Citra, pasca pemerkosaan pertama itu dilakukan. Namun Citra selalu menunjukkan sikap bencinya pada Amman. Setiap kali Citra menolak Amman, maka setiap itu pula Amman akan menunjukkan powernya sebagai laki-laki.
__ADS_1
Ia terus menggauli wanita itu dan berharap akan tumbuh benih cinta dihatinya. Namun itu tak pernah terjadi, Amman hanya bermimpi di siang bolong.
Bahkan setelah perutnya kian membuncit pun, tembok di hati Citra tak jua bisa diruntuhkan. Malah setiap kali Amman melakukannya, setiap kali itu pula Citra bertambah jijik pada Amman.
Sementara disisi lain, Amman mulai dijodohkan oleh orang tuanya. Ia dipaksa menikah saat Citra masih berada didalam tawanannya.
Amman tak bisa berbuat banyak. Karena orang tuanya mengancam tak akan mewariskan kekayaan, apabila Amman menolak. Orang tuanya juga mengetahui jika Citra sebelumnya telah dilamar oleh Aston.
Maka tidak mungkin Amman mengatakan jika ia ingin menikah dengan Citra. Citra telah menganggap orang tua Amman seperti orang tua kandungnya sendiri. Hingga jika terjadi apapun ia akan bercerita, termasuk soal percintaan.
Amman menjadi kalut, di satu sisi ia ingin bersama Citra. Namun di sisi lain ia hendak dijodohkan. Saking kalutnya ia saat itu, ia mabuk didalam kantor hingga malam hari.
Ia juga sempat memperkosa seorang office girl yang baru bekerja di perusahaan. Saat itu perusahaan masih menjadi milik ayahnya.
Singkat cerita Amman kemudian menikah dengan ibu Amanda. Namun ia masih menyekap Citra, tanpa seorang pun yang mengetahui kebejatannya.
Suatu ketika entah mengapa Citra tiba-tiba berubah manis. Bahkan Amman pun menjadi sangat bingung. Selama hampir satu bulan itu, Citra agaknya menunjukkan tanda-tanda jika ia telah jatuh hati pada Amman. Saat itu kandungan Citra sudah memasuki bulan ke tujuh.
Amman senang bukan kepalang. Betapa tidak, itulah hal yang paling ia nantikan selama ini. Ia berfikir untuk jujur pada orang tuanya, jika Citra telah ia hamili.
Ia ingin menceraikan istri yang bahkan tidak di kenalnya sama sekali itu. Ia muak pada sikap kampungan serta sok lugu yang dimiliki ibu Amanda.
Citra kemudian mengelabui Amman dan kabur dari cengkraman pria itu. Ia pergi mengontrak sendiri di suatu tempat, hingga melahirkan. Masalah uang, ia masih memiliki didalam rekeningnya. Saat Amman menyekapnya, ia membawa tas dan dompet saat itu.
Pun juga orang tuanya di luar negri tak pernah berhenti memberinya uang setiap bulan. Citra tak masalah soal itu, yang menjadi masalah adalah bayi didalam perutnya.
Ia melahirkan sendiri di sebuah klinik kecil. Lalu memberikan bayi itu pada seorang perawat, yang tiada lain adalah suster Zefanya. Saat itu suster Zefanya masih berstatus sebagai seorang perawat muda.
"Bawa bayi itu!" ujar Citra dengan nada dingin.
"Ibu nggak mau melihat dulu wajahnya?" tanya Zefanya saat itu.
"Habisi bila perlu!" ujar Citra dengan hati yang kian membatu.
Suster Zefanya pun membawa bayi itu, bahkan bayi itu belum dinamai. Ia membawa bayi itu kepada sepasang suami-istri, yang berniat mengadopsinya.
Di jaman itu pihak orang tua asuh tak memakai surat-menyurat, dan Citra pun enggan memusingkan hal tersebut. Yang ada dipikirannya adalah, bagaimana mengaburkan semua kepahitan yang ia rasakan.
Ia membenci anak itu, sama halnya saat ia berhadapan dengan Amman. Suster Zefanya menyerahkan bayi itu pada pasangan muda, yang tampangnya sedikit tidak meyakinkan tersebut. Pasalnya mereka tampak begitu dingin, namun saat itu suster Zefanya pun tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Siapa nama bayi ini?" tanya istri dari pasangan yang mengadopsi tersebut. Suster Zefanya yang bingung pun, akhirnya asal sebut saja.
"Z, Zi, Zio. Zionino." ujarnya kemudian. Inspirasinya adalah dari namanya sendiri yang berawalan huruf Z. Bayi itu pun kemudian dibawa.
Dan entah karena takdir atau apa, ternyata pasangan yang mengadopsi anak itu tinggal di dekat kontrakan suster Zefanya. Awalnya suster Zefanya begitu senang. Karena ia bisa melihat bayi tak berdosa itu tumbuh, di dalam keluarga yang diharapkan akan menyayanginya.
Namun ternyata justru suster Zefanya malah menjadi saksi atas kepalsuan pasangan tersebut. Pada saat keluarga mereka datang, mereka tampak antusias menunjukkan si bayi. Bahkan suster Zefanya mendengar mereka mengakui, jika bayi itu adalah anak kandung mereka sendiri.
"Karena kalian sudah punya anak, papa dan mama akan wariskan rumah ini. Beserta isinya."
Orang tua si suami dari pasangan yang mengadopsi Nino itu pun berujar, kedua anak manusia itu senang bukan kepalang. Belakangan diketahui jika mereka mengadopsi bayi, hanya supaya mendapat warisan. Setelah warisan didapat, bayi itu lebih banyak ditelantarkan.
Bahkan kadang Nino berada didalam stroller yang dibiarkan saja di luar rumah. Tak jarang ia menangis hingga mengundang perhatian sekitar. Suster Zefanya sering menegur pasangan itu, dan setiap kali ditegur mereka selalu menunjukkan ekspresi yang tidak senang.
Beberapa kali suster Zefanya membujuk Citra untuk mengambil kembali anaknya. Kebetulan ia mengetahui tempat tinggal Citra, dari data yang didapat saat ia melahirkan di klinik. Namun Citra telah beku sama seperti hatinya.
Suster Zefanya menjadi saksi tumbuh kembang Nino. Bahkan ia seringkali memberi Nino uang saku, saat anak itu mulai sekolah. Andai saja dirinya memiliki gaji tetap, ia ingin rasanya mengasuh Nino.
Namun saat itu ia juga masih berstatus sebagai perawat honorer dan juga seorang rantauan. Ia juga tak ingin membuat banyak masalah dalam hidupnya.
Jadilah ia selalu menjadi ibu peri bagi Nino. Dikala anak itu sedih, atau sedang habis dimarahi. Nino akan mengadu pada tetangganya yang tak lain adalah suster Zefanya.
Ketika Nino masuk SMP, suster Zefanya menemukan jodohnya dan menikah. Ia masih sempat tinggal disana beberapa tahun, hingga awal Nino masuk SMA. Setelah itu ia dipindah tugaskan ke kota lain, karena sudah lulus CPNS.
Sejak itu ia tidak pernah lagi melihat Nino. Namun beberapa tahun belakangan ia kembali ke kota ini dan tanpa sengaja ia bertemu dengan Citra lagi. Akhirnya keduanya pun berbagi cerita, Citra tampaknya telah sangat menyesal atas perbuatannya yang terdahulu.
Sejak Nino menghilang dari hidupnya, Citra berusaha keras melupakan peristiwa itu. Ia kembali pada Aston dan mereka menikah. Tak jelas bagaimana ia memberi pengertian pada Aston. Mengenai dirinya yang tak memberi kabar selama beberapa bulan belakangan.
Yang jelas ia dan Aston pada akhirnya tetap menikah. Amman yang mengetahui hal tersebut pun semakin gila serta hancur.
Ia ingin mengatakan pada Aston, jika ia telah menghamili Citra selama ini. Namun Amman tidak memiliki bukti, karena anak itu sudah dibuang oleh Citra.
Amman berjuang mendapatkan informasi dimana Citra melahirkan, namun itu tak semudah membalikan telapak tangan.
Pada akhirnya, setelah suster Zefanya kembali ke kota ini. Amman mendapat informasi jika wanita itu pernah membantu Citra melahirkan. Amman mendapatkan informasi tersebut setelah berjuang selama belasan tahun.
Ia menemui suster Zefanya, namun suster Zefanya bungkam. Ia enggan bekerja sama dengan Amman dalam menghancurkan rumah tangga Citra dan juga Aston. Meski acap kali Amman memberinya iming-iming berupa kekayaan.
Citra sendiri pada akhirnya menanyakan perihal anaknya. Sementara suster Zefanya sudah tidak mengetahui dimana Nino berada.
__ADS_1
Hanya ia pernah mendengar jika anak itu telah diadopsi oleh orang asing. Sampai kemudian mereka bertemu dirumah sakit semalam.