
Kandungan Amanda tinggal hanya menghitung hari. Jika tidak ada halangan, bulan ini juga ia dan Arka akan segera menimang bayi.
Namun meskipun begitu, aktivitas mereka di ranjang masih terpantau aktif. Malam ini saja, Amanda masih terlonjak-lonjak oleh hujaman Arka yang begitu perkasa.
Ia tersenyum saat suaminya itu mulai mengunjungi bayi-bayi mereka didalam. Entah mengapa gairahnya masih begitu meledak-ledak, padahal posisi kepala bayi sudah menjorok ke arah jalan lahir.
"Arkaaaa."
"Amanda, aku cinta kamu. Aku cinta kamu sayang."
Pemuda itu terus menghujam-hujamkan cintanya yang begitu besar. Membuat Amanda meracau seraya meremas seprai tempat tidur. Tanpa mereka sadari malam itu, masih ada tetangga yang belum tidur dan sayup-sayup mendengar erangan mereka yang begitu kencang.
"Amandaaaa."
"Arkaaaaaaa."
Keduanya terhempas begitu saja, kini mereka berusaha mengatur nafas.
"Sakit nggak perut kamu?" tanya Arka kemudian, ia takut cairan yang sengaja ditinggalkan didalam akan memicu kontraksi dini. Namun Amanda menggelengkan kepala lalu tersenyum.
"Aku sayang kamu, Ka." ujarnya kemudian.
"Apalagi aku." ujar Arka balas tersenyum.
"Ka, nama anak kita usah fix?" tanya Amanda lagi.
"Ya terserah kamu, aku sih setuju-setuju aja sama nama itu."
"Beneran nggak ada yang mau ditambahin?"
Arka menggeleng.
"Itu udah cukup bagus, koq." ujarnya Kemudian.
"Besok kamu ada syuting?"
"Iya, pulang kerja. Mungkin aku akan pulang lusa, karena iklan itu udah pasti seharian full syutingnya. Mana aku ngambil jadwal dari pulang kerja lagi."
"Ya udah, jalanin aja. Yang semangat pokoknya."
Arka tersenyum, lalu mencium kening istrinya itu.
Esok harinya, Arka berangkat kerja seperti biasa. Sementara Amanda sudah meminta cuti pada kantor dan disetujui. Lagipula permasalahan perusahaan yang ditinggalkan oleh Rani, kini berangsur membaik. Dion mengatakan jika ia dan Emil yang akan mengurus itu semua.
Jadilah kini Amanda dirumah saja, membersihkan rumah dan memasak untuk dirinya sendiri serta Arka. Meskipun Arka tidak akan pulang malam ini, ia bisa mengantarkan makanan tersebut ke lokasi syuting.
Amanda berbelanja bersama ibu-ibu tetangganya. Mereka berbincang-bincang untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya mereka kembali kerumah masing-masing. Amanda kali ini memasak rendang daging dan juga sambal goreng kentang hati ampela. Ia memasak cukup banyak, sebagian ia bagikan ke tetangga sekitar, sebagian lagi ia kirimkan via ojek online kerumah mertuanya.
Tentu saja tetangga dan mertuanya sangat senang menerima itu semua. Apalagi masakan Amanda memang rasanya tidak usah diragukan. Amanda menerima pujian dari mertuanya via telpon, sebagai menantu ia pun sangat senang. Disaat banyak menantu diluar sana yang tak akur dengan mertuanya, Amanda justru merasa ibu Arka bahkan sedekat ibu kandungnya sendiri.
"Iya, bu. Sama-sama." ujar Amanda mengakhiri telpon dengan ibu mertuanya.
Ia kini bersiap untuk menyiapkan bekal bagi Arka. Arka bilang, ia menginginkan itu semua untuk makan malam nanti. Karena siang, ia sudah mendapatkan jatah makan dari kantor.
Amanda menunggu hingga sore hari, dipanaskannya terlebih dahulu masakan yang tadi ia buat. Ia lalu memindahkan nasi berikut lauk pauknya kedalam beberapa tempat. Ia sengaja tak mencampur itu semua menjadi satu, karena takut makanannya cepat basi. Arka sendiri tak mungkin bisa langsung makan, ketika makanan tersebut sampai. Karena siapa tau dia masih harus take adegan.
Amanda kemudian mandi dan berdandan sedikit, Ia ingin mengantarkan makanan itu sendiri. Dengan diantar pak Darwis tentunya.
Beberapa hari belakangan sejak masalahnya dengan perusahaan telah selesai, Amanda memanggil kembali orang-orang yang telah ia rumahkan. Termasuk pak Darwis dan beberapa maid yang bekerja dirumah satunya.
Amanda diantar pak Darwis sore itu, mereka menyambangi lokasi. Tempat dimana Arka menjalani proses syuting. Amanda hanya menunggu di mobil saja, ia tak mungkin menampakkan diri disana.
Orang manajemen peace production boleh saja mengetahui rahasia Arka. Tetapi syuting ini diadakan oleh production house lain yang bahkan tidak mengetahui, jika Arka telah memiliki seorang istri. Maka dari itu, untuk menjaga privasi. Amanda menunggu saja suaminya itu didalam mobil.
"Man, aku agak lama. Kamu kalau mau pergi kemana dulu nggak apa-apa. Di dekat sini ada kafe, diujung jalan dekat minimarket. Kamu pergi aja dulu kesitu." ujar Arka melalu pesan singkat di WhatsApp.
"Takutnya nanti kamu bosen di mobil terus." lanjutnya lagi.
Amanda pun membalas.
__ADS_1
"Iya." jawabnya kemudian.
Untuk beberapa saat, Amanda masih bertahan di dalam mobil. Namun lama kelamaan ia pun mulai bosan.
"Pak, saya mau ke kafe yang diujung jalan sana ya." ujar Amanda pada pak Darwis.
"Ya udah bu, ayo saya anterin."
"Jalan aja, pak." ujar Amanda.
Pak Darwis pun mengantar Amanda menuju ke kafe tersebut.
"Bapak disini aja kalau nggak."
"Saya mau ngerokok bu, di warung sana. Kalau ibu mau balik lagi, telpon saya aja." ujar pak Darwis kemudian.
"Oh, ya udah pak." ujar Amanda.
Ia lalu masuk ke dalam kafe tersebut dan memesan dessert, serta minuman dingin manis favoritnya. Mumpung Arka tidak ada, pikirnya. Kalau tidak, pastilah suaminya itu akan mengoceh. Dan isi ocehannya selalu seputar itu-itu lagi.
"Kamu tuh minum dingin manis, ntar bayinya jumbo loh. Kamu sendiri yang susah ngeluarinnya."
Begitulah kata-kata yang sering diucapkan Arka, dan Amanda tak peduli. Ia melahap dessert, puding, bahkan memesan minuman manis dingin sampai dua kali.
Cukup lama ia berada di kafe tersebut. Jika bosan, ia akan mulai menscroll toko online lalu memasukkan barang yang ia suka ke keranjang. Meskipun entah kapan proses checkout nya akan terjadi, namun aktivitas tersebut meningkatkan kebahagiaan tersendiri di dalam dirinya.
"Man, aku bentar lagi break."
Arka mengirim pesan singkat pada istrinya, setelah beberapa saat. Peringatan baterai akan habis pun terlihat di handphone Amanda, bahkan itu sudah terjadi sejak tadi. Namun Amanda mengabaikan begitu saja karena masih asyik bersosial media.
Tak lama baterainya pun habis, ia membuka tas dan merogoh isi dalamnya. Bermaksud mencari kabel charger. Namun kabel tersebut tidak ada, Amanda kemudian melirik kesana kemari dan kebetulan kafe tengah sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang berkunjung ke tempat itu.
"Mas, ada charger iPhone nggak?" tanya Amanda pada salah seorang pengunjung.
"Maaf mbak, saya nggak pake iPhone." ujar orang tersebut.
Amanda lalu beralih pada yang lainnya bahkan pada pelayan juga. Namun rata-rata mereka menggunakan handphone merk lain, Amanda pun akhirnya menyudahi pencarian. Ia melihat ke luar, ke arah parkiran mobil yang ada nun jauh didekat lokasi syuting. Agak panjang jalanan menuju kesana dan sedikit gelap.
Yang ada dipikiran Amanda adalah, bagaimana caranya agar ia segera sampai ke halaman parkir. Toh kunci mobil juga ada padanya. Namun, belum sempat ia mencapai tempat itu tiba-tiba.
"Amanda."
Sesosok laki-laki muncul dihadapan wanita itu. Amanda terkejut dan mengenalinya sebagai sosok laki-laki, yang pernah bertemu dengannya di premiere beberapa bulan yang lalu. Ya, laki-laki yang disinyalir adalah kencan terakhir Amanda yang tak jadi ia temui.
"Ka, kamu."
Amanda mundur perlahan, karena ia menangkap ada pesan jahat lewat tatapan pemuda itu.
"Arka hebat juga ya, bisa bikin kamu melendung gitu?" Pemuda yang tak lain adalah Doni tersebut berkata, dengan nada dan pandangan yang terkesan melecehkan.
"Ah, aku tegang." ujarnya seraya memperlihatkan gundukan yang menggembung di balik celananya. Seketika Amanda pun panik sekaligus emosi.
"Mau apa kamu?" ujar Amanda kemudian.
"Santai sayang." Doni mulai mengangkat tangan dan mencoba menyentuh lengan Amanda, namun wanita itu dengan cepat menepisnya.
"Jauhi saya atau saya teriak." Suara Amanda terdengar cukup keras, namun sayang disekitar parkiran itu gelap dan sepi.
"Ssstt, jangan kenceng-kenceng sayang teriaknya. Tunggu sampai ini masuk ke dalam punya kamu aja, baru boleh teriak."
Amanda begitu jijik mendengar perkataan itu. Ia lalu berbalik dan berjalan cepat menjauhi Doni. Ingin rasanya ia berlari, namun itu tak mungkin ia lakukan. Mengingat perutnya yang kini sudah sangat besar sekali.
"Toloooong." teriaknya kemudian. Namun dengan sekejap Doni mendapatkannya dan mencoba memeluknya dari belakang.
"Lepasin, saya, Arrghh, toloooong." Amanda memberontak lalu melayangkan pukulan ke wajah Doni."
"Plaaaak...!"
Emosi Doni pun memuncak, ia mengangkat tangan dan balas memukul wanita itu.
__ADS_1
"Plaaaak...!"
Amanda terjatuh, Doni memukulnya hingga tiga kali.
"Plaaaak...!"
"Plaaaak...!"
Pukulan itu terasa begitu kuat, hingga Amanda merasa kupingnya pengang dan kepalanya pusing. Ia masih berusaha menghindar dan memberontak ketika Doni mencoba menyibak bajunya.
"Toloooooong."
"Nggak akan ada yang menolong kamu. Dasar pelacur tua "
"Toloooooong."
"Buuuuk."
"Anjeeeeng."
Arka muncul dan menghajar Doni dengan membabi buta.
"Brengsek lo, anjeng."
"Buuuuk."
"Buuuuk."
"Lo apain dia, bangsat. Lo apain bini gueee?"
"Buuuuk "
Arka menghajar Doni tanpa ampun, bahkan ia tak memberikan Doni celah sedikitpun untuk melawan. Arka terus-menerus memberikan pukulan yang akhirnya membuat Doni terjatuh.
"Dia pukul aku, Arka. Dia pukul aku sampai jatuh." teriak Amanda seraya menangis.
"Gue nggak pernah mukul dia, bangsaaat."
Arka berteriak seraya masih terus menghajar Doni.
"Arkaaa."
Tiba-tiba Rio muncul bersama mbak Arni dan juga Bianca, yang kebetulan terlibat dalam proses syuting hari ini. Rio langsung menahan Arka, sementara mbak Arni dan Bianca menolong Amanda.
"Arka, Arka. Mati anak orang, ka. Lo bisa masuk penjara, bini lo lagi hamil."
"Dia memukul dan mau memperkosa bini gue, Ri."
Teriakan Arka tersebut, membuat Rio melepaskan cengkraman tangannya yang menahan Arka. Tadinya ia pikir ada masalah apa antara Arka dan juga Doni. Namun demi mendengar semua itu, Rio tak lagi menahan Arka. Emosinya pun memuncak bahkan melebihi Arka sendiri. Rio mendekat ke arah Doni dan ikut menghajar mantan sahabatnya itu.
"Brengsek lo, Don."
"Buuuk."
"Buuuk."
Arka dan Rio mengeroyok Doni hingga babak belur. Tak lama kemudian, terlihat beberapa orang yang terlibat syuting bergerak ke arah parkiran. Arka dan Rio berhenti, Doni memanfaatkan situasi untuk kabur. Sedangkan Kini Arka menggendong istrinya dan membawa wanita itu ke arah mobil, sebelum disadari oleh orang lain..
Tak lama pak Darwis datang.
"Kemana aja sih, pak?. Dia hampir diperkosa orang." teriak Arka penuh emosi pada pak Darwis.
"Ka, pak Darwis nggak salah. Aku yang salah." ujar Amanda kemudian.
Rio membuka pintu mobil dan Arka meletakkan istrinya di dalam, wajahnya masih diliputi ketakutan dan juga rasa bersalah.
"Maafin aku, Amanda. Maafin aku." ujar Arka dengan air mata yang kini mengalir, di kedua sudut matanya.
"Kamu nggak apa-apa kan, nggak pendarahan kan?" Arka begitu khawatir.
__ADS_1
Amanda menggeleng, wanita itu masih menangis karena ketakutan. Seandainya ia tidak sedang hamil, ia bisa melawan Doni lebih dari apa yang ia bisa lakukan tadi. Rio pergi, lalu kembali dengan membawa air minum.
"Amanda kasih minum dulu, Ka." ujar Rio. Arka memberikan istrinya itu air minum dan Amanda pun menerimanya. Untuk beberapa saat ia bahkan berhenti bicara dan terus memeluk istrinya itu.