Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Ingin Berdua


__ADS_3

Ibu Arka mengirimkan hadiah yang ia temukan di teras tadi malam, via ojek online. Pada waktu sore di keesokan harinya, tepat pada saat Arka sudah pulang dari kantor.


"Kado dari siapa ini, Man?" tanya Arka seraya menatap tumpukan kado tersebut.


"Dari ibu, Ka. Tapi kata ibu, dia nggak tau yang ngirim ini siapa." ujar Amanda.


"Maksudnya?" Arka mengerut kening.


"Kata ibu semalem ada suara di teras. Ibu, Rianti, sama papa pikir, itu suara maling. Pas mereka buka gorden, beneran ada orang di teras. Terus pas papa buka pintu, orang itu lari. Dan tau-tau di teras udah ada hadiah-hadiah ini."


"Ibu atau papa sama Rianti nggak ngeliat mukanya itu orang?"


"Kata ibu, lampu teras depan kebetulan rusak. Dan si orang ini ketutupan sarung. Kayak ninja gitu loh, Ka."


"Dari siapa ya kira-kira?"


"Bu Mawar nggak sih menurut kamu?" Amanda bertanya pada suaminya.


"Ah masa iya tukang gosip begitu bisa baik dan perhatian gini."


"Eh, jangan ngejudge orang dari covernya Ka. Sebaik-baiknya orang pasti punya sisi buruk dan seburuk-buruknya orang pasti punya sisi baik."


"Iya, iya, mamanya si kembar. Bijak banget sih kamu." Arka mencubit hidung istrinya itu.


"Aku mau mandi, ah." ujar Arka lagi. Ia kemudian mengambil handuk dan pergi mandi.


"Arka, kamu lagi apa?"


Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Arka, sesaat setelah ia selesai mandi. Ia melihat pesan tersebut, ternyata dari Cintara. Rekannya sesama pekerja di kantor.


"Lagi dirumah, kenapa?"


Arka membalas karena takut Cintara ingin membicarakan perihal pekerjaan. Takutnya penting, pikir Arka.


Pesan tersebut terkirim, namun Cintara belum membacanya. Arka kini beralih ke kamar anak-anaknya.


"Sayang, kamu udah makan?" tanya Arka pada Amanda yang tengah membereskan lemari si kembar.


"Belum, kamu mau makan sekarang?" tanya Amanda.


"Biar aku siapin." lanjutnya lagi.


"Nggak usah, kamu beresin aja itu. Aku ambilin kamu makan, ya." ujar Arka.


"Ok, makasih ya Ka."


"Sama-sama, mama." Arka berkata seraya tersenyum dan dibalas oleh istrinya.


Tak lama Arka pun menuju ke ruang makan, ia mengambil makan untuk dirinya dan juga Amanda.


"Man, nih makannya." ujar Arka seraya meletakkan piring diatas lantai. Sementara dirinya duduk di karpet bulu dekat box bayi Azka. Amanda menyudahi aktivitasnya lalu beranjak.


"Mau kemana?" tanya Arka."


"Ambil minum dulu."


"Oh iya."


Amanda lalu keluar untuk mengambil minuman, tak lama kemudian ia pun duduk disisi Arka. Lalu mereka sama-sama makan.


"Hoaaa." Tiba-tiba bayi Azka bersuara.


"Kenapa dek, bau sambel terasi ya?" tanya Arka. Ia dan Amanda pun menoleh kepada Azka seraya tertawa.


"Keganggu kali dia ya, Ka. Sama bau makanan kita." ujar Amanda.


"Mungkin, tapi nggak tau deh indera penciuman mereka udah sebaik kita apa belum." Arka kembali makan seraya menahan senyum.


Usai makan, Arka meletakkan piring di wastafel kitchen set. Sementara Amanda kembali membereskan lemari anak-anaknya.

__ADS_1


"Zreet."


"Zreet."


"Zreet."


Banyak sekali notifikasi pesan yang masuk. Arka segera meraih handphonenya, ternyata dari Cintara.


"Ka, koq nggak bales. Aku ganggu ya?"


"Arka, aku mau nanyain soal kerjaan nih."


"Ka, ya udah deh."


Arka melihat pesan itu satu persatu, kemudian membalasnya.


"Maaf, tadi aku lagi makan. Soal kerjaan yang mana yang mau ditanyakan, Cin?"


Arka meletakkan handphonenya, lalu Cintara membalas.


"Udah aku kerjain, Ka. Hehehe. Kamu lagi apa?"


Arka membalas dengan jujur, bahwa saat ini ia sedang ingin mengerjakan tugas kampus. Namun Cintara malah bertanya terus-terusan. Arka tak peka terhadap maksud Cintara, bahwa gadis itu memiliki pandangan lain terhadap dirinya. Cintara sendiri tak mengetahui jika Arka telah menikah. Orang-orang dikantornya memang tidak saling menceritakan hidup pribadi masing-masing.


Sebagian besar dari mereka pun tak begitu ngeh jika Arka adalah aktor. Sebab mereka jarang menonton film produksi negri ini. Apalagi televisi, rata-rata dari mereka sudah sejak lama meninggalkannya. Terhitung sejak tayangan televisi makin tidak jelas.


Arka membalas pesan Cintara seadanya, dan lebih banyak mengabaikan. Karena ia ingin fokus pada tugas kampusnya yang menumpuk. Tak lama ia pun mematikan handphone dan menilik lagi ke dalam kamar anaknya. Tampak Amanda tengah berbaring di tengah-tengah para bayi sambil bercerita, meski mereka tidak mengerti. Amanda menidurkan mereka di kasur lantai kecil sementara dirinya berbaring di karpet bulu.


"Udah turun aja kalian. Koq nggak bobok." ujar Arka lalu mendekat.


"Ditanyain tuh sama papa, kenapa nggak bobok?"


Bayi Azka dan Afka hanya melirik ke kanan-kiri.


"Umur baru mau dua minggu, tapi lagu udah kayak 3 bulan. Kayak ngerti aja orang ngomong. Ya, nak ya?" Arka mendekat dan berbicara pada bayi-bayinya.


Mereka fokus menatap Arka, Arka lalu berbaring disisi mereka semua dan berbincang dengan Amanda. Tak lama kemudian, kedua bayi itu sama-sama menguap lalu tertidur.


"Ka."


"Hmm."


Kalau kamu mau tidur, tidur aja. Jangan kamu terus yang begadang, bangun buat mereka. Biar aku aja malem ini, kan besok kamu mau kerja."


"Udah nggak apa-apa, aku nggak masalah koq begadang buat mereka. Di lokasi syuting aja aku begadang mulu."


"Ya, tapi kan kita harus jaga kesehatan. Kalau misalkan kita begadang dua-duanya, terus sakit dua-duanya. Gimana mereka?"


Arka tersenyum lalu membelai pipi istrinya itu.


"Aku kangen berdua sama istri aku."


Amanda tersentuh hatinya, lebih tepatnya terhenyak. Sejak melahirkan dirinya dan Arka memang lebih fokus pada bayi. Kadang berbicara mengenai satu sama lain pun, harus dibarengi dengan mengurus bayi.


"Aku terlalu fokus sama mereka ya, Ka?" tanya Amanda kemudian.


Arka menghela nafas.


"Nggak apa-apa, aku malah seneng kamu ngurusin mereka. Aku cuma kangen aja berdua kayak gini."


Amanda mendekat, lalu mereka kini saling berpelukan.


Arka dan Amanda ketiduran di kamar bayi mereka, beruntung malam itu bayinya tak bangun hingga menjelang subuh. Arka dan Amanda mendapatkan istirahat full pertama mereka sejak bayi itu dilahirkan. Meski setelahnya masih harus berkutat dengan si bayi, namun mereka memiliki energi lebih.


"Oeeeek."


"Oeeeek."


Kedua bayi itu menangis, Arka dan Amanda bangun dan menggendong mereka satu persatu. Amanda kemudian memompa kembali ASI nya hingga bisa diberikan pada mereka.

__ADS_1


Usai mereka terlelap kembali, Arka pun ikut terlelap pula. Sementara Amanda kini membereskan penthouse dan menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Saat matahari menjulang, Arka terbangun dalam keadaan penthouse telah rapi. Dua bayi itupun bangun, lalu dimandikan oleh Arka. Karena Amanda masih takut memandikan bayinya.


Usai mandi, mereka kembali disusui. Kali ini tidak menggunakan botol. Karena satunya masih aman dan belum mengamuk. Amanda menyusui Azka sampai terlelap, lalu gantian menyusui Afka hingga tertidur pula.


"Papanya nggak?" tanya Arka ketika Amanda keluar dari dalam kamar anaknya. Ia telah membuka gorden agar cahaya matahari masuk.


"Mau juga?. Nih. Kalau sakit aku gebuk ya?"


Arka tertawa mendengar celotehan istrinya itu, ia lalu duduk di meja makan untuk menikmati sarapan.


"Ini kamu yang masak?" tanya Arka Kemudian.


"Iya."


"Berarti tadi kamu nggak tidur lagi dong?"


"Nggak." ujar Amanda lalu duduk didepan Arka.


"Kamu panggil aja Anita atau siapa kesini, biar nemenin kamu ngurus mereka. Ntar sendirian stress, bisa baby blues loh kamu."


"Nggak apa-apa, Ka. Aku masih bisa menghandle mereka. Ntar kalau udah kerepotan banget, pasti aku suruh Anita atau siapa kesini. Aku mau kita berdua lebih intim dengan anak-anak. Only kamu, aku dan anak-anak, biar kita semakin dekat satu sama lain."


"Ya udah terserah kamu, pokoknya senyamannya aja ya." ujar Arka.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Amanda.


"Nggak apa-apa dong, nggak apa-apa banget malah. Orang mereka anak-anak aku, aku seneng koq dilibatkan dalam mengurus mereka."


Amanda tersenyum, mereka melanjutkan makan. Tak lama kemudian muncul notifikasi pesan dari Cintara.


"Pagi, Arka." ujarnya lalu diikuti emoticon seperti memeluk. Arka menatap layar handphonenya lalu melanjutkan makan.


"Siapa, Ka?. Koq nggak kamu bales?" tanya Amanda.


"Orang kantor, dari semalem katanya mau nanyain soal kerjaan. Pas ditanya balik, katanya udah dikerjain."


"Oh." Amanda cuek saja lalu lanjut makan.


Sementara di sebuah rumah, tampak seorang gadis tengah senyum-senyum sendiri.


"Anak papa kenapa sih, mikirin cowok ya?" tanya seorang laki-laki berusia kira-kira 50an tahun padanya. Gadis itu tersipu malu.


"Pa, karyawan papa yang baru itu..."


"Arka?. Kamu mikirin Arka?" tanya ayahnya sambil tersenyum. Ibunya yang berada disisi sang ayah pun ikut tersenyum.


"Baru kali ini loh, pa. Mama liat Cintara senyum-senyum mikirin cowok. Sejak dia bubaran sama Iqbal."


Ayahnya hanya tertawa.


"Arka itu karyawan yang kerjanya cepat dan rapi. Kalau nggak salah dia itu bintang film juga kan?"


"Oh ya?. Koq Cintara nggak tau, pa?"


"Kamu sering nonton film dan sinetron produksi negara kita nggak?"


"Nggak pernah."


"Ya mana kamu tau, nonton kamu aja drakor melulu. Tiap hari mengkhayalkan itu si Lee Min Ho, Kim Bum, Cha Eun Woo, Lee Dong Wook."


"Ih papa, mama juga suka mereka." ibu Cintara membela puterinya.


"Karena cakep kan ya, Ma?"


"Iya cakep, papa mah nggak ngerti."


"Ngapain jauh-jauh ke Korea, ini didepan kalian ganteng."

__ADS_1


"Ih si papa mah, suka kepedean." Ibunya berujar sementara Cintara tertawa.


"Kalau Arka tuh baru ganteng." ujarnya kemudian. Ayah dan ibunya saling menatap sambil tersenyum.


__ADS_2