Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Mulai Bertingkah


__ADS_3

Pagi itu para karyawan di kantor Amanda mulai bertingkah. Sejak sebelum kedatangan Rani, mereka sudah banyak yang menaruh makanan diatas meja kerja. Lebih banyak makan ketimbang serius bekerja, ada yang sibuk berdandan, bermain game online dan lain sebagainya.


"Heh, apa-apaan kalian?" tanya Rani dengan mimik wajah marah. Ia memperhatikan seluruh karyawan yang ada di ruangan itu.


"Mau saya pecat?" tanyanya lagi.


Satya menunjuk ke arah sebuah papan pengumuman besar, yang entah sejak kapan berdiri disitu. Rani pun mulai membaca poin-poin yang tertera disana.


Satu, dua, tiga. Semua masih biasa saja, sampai kemudian ia membaca sebuah butir yang membuatnya terhenyak.


"Pemimpin sementara dan belum dilantik oleh dewan, tidak memiliki wewenang memecat atau merumahkan karyawan. Tidak boleh berlaku kasar, ataupun melakukan hal-hal yang bersifat mengintimidasi karyawan."


"Siapa yang membuat peraturan seperti ini?" tanya Rani dengan penuh emosi. Matanya menjelajah ke sekeliling ruangan, namun tak ada seorang pun yang terlihat takut padanya.


"Itu udah ada sejak dulu kali, mbak." ujar Deni pada Rani.


"Apa?. Kamu panggil saya mbak?" Rani menatap Deni dan berkata dengan nada yang sangat sinetron able. Membuat para karyawan kompak menahan tawa.


"Terus mau dipanggil apa, nenek?"


"Hahaha." Seisi kantor kini tertawa.


"Diam semuanya, saya minta copot ini semua.!"


Rani meminta agar papan pengumuman itu di lepas. Namun salah satu anggota dewan direksi yang kebetulan melintas akhirnya mendekat dan bertanya.


"Ada apa ini?" tanya laki-laki itu kemudian. Para karyawan diam.


"Ada apa?" tanya nya lagi.


"Itu pak, bu Rani nggak suka ada peraturan itu. Katanya copot aja, soalnya kan dia yang berkuasa penuh atas perusahaan ini." Nur menambah-nambahkan sendiri ucapan Rani, padahal Rani tak berkata seperti itu.


"Begini ya bu, Rani. Peraturan ini baku dan sudah ada sejak saya, Amanda dan yang lainnya merintis perusahaan ini. Jadi tidak ada yang bisa di ubah. Lagipula ibu Rani kan hanya ditunjuk berdasarkan mandat, bukan resmi dipilih oleh pemegang saham ataupun petinggi lainnya. Bu Rani itu hanya ditempatkan sementara, sebelum ada pemimpin yang baru."


Petir menyambar seketika.


"Jadi, saya ini bukan pemimpin tetap begitu?" Rani bertanya dengan suara yang gemetaran, ada emosi dan ketakutan yang ikut terdengar disana.


"Perusahaan tidak akan mengambil resiko, hanya karena sebuah mandat. Masih banyak petinggi lain yang jauh lebih mengerti tentang perusahaan ini. Kenapa kami harus memilih orang lain, sementara di dalam jajaran sendiri banyak kandidat yang lebih mumpuni."


Rani terdiam seribu bahasa dengan jantung yang berdegup kencang, padahal selama ini ia sudah merasa memenangkan segalanya.


"Jadi, tidak ada peraturan yang bisa diubah dan yang lain tolong jangan buat keributan. Kerja dengan benar."


Anggota dewan direksi tersebut, berlalu meninggalkan tempat itu. Para karyawan kembali bekerja seraya menahan senyum. Sementara kini Rani kembali ke ruangannya dengan penuh kekesalan.


"Hhh, brengsek-brengseeek."


"Aarrgghh."


"Susah payah gue meraih posisi ini, sekarang mau diambil gitu aja."


"Hhhh"


"Nggak bisa, ini nggak bisa."

__ADS_1


Rani meraih telpon dan menghubungi sebuah nomor.


"Hallo." terdengar sebuah suara laki-laki diseberang.


"Hallo." Rani berkata dengan nada setengah berteriak saking emosinya.


"Ada apa, Ran?" tanya orang itu lagi.


Rani kemudian mengoceh panjang lebar, menceritakan apa yang baru saja dialaminya kepada orang itu. Orang itupun menjelaskan banyak hal kepada Rani, namun tampaknya Rani tak terima.


"Braaak." Ia menutup telpon dengan penekanan yang keras, ketika percakapan diantara mereka telah usai.


"Brengsek." ujarnya sekali lagi.


***


"Hahaha."


"Hahaha."


"Hahaha."


Amanda tertawa terbahak-bahak pagi itu, Arka yang tegah libur akibat demam semalam pun bertanya pada istrinya.


"Ngetawain apaan sih, bumil?"


Arka mengelus rambut istrinya lalu menarik kursi meja makan dan duduk disana.


"Eh, kamu udah enakan badannya, Ka?" tanya Amanda seraya memperhatikan suaminya itu.


"Sama-sama." jawab Amanda.


"Kamu ngetawain siapa sih?" tanya Arka lagi.


"Ini si Rani, direkam sama anak-anak kantor." ujar Amanda seraya memperlihatkan video tentang Rani. Mulai dari marah hingga terdiam didepan anggota dewan direksi. Arka pun tersenyum lalu tertawa kecil.


"Kamu kenapa nggak langsung ungkap aja sih kejahatan dia." tanya Arka kemudian.


"Masih ada satu orang lagi, Ka. Yang belum ketahuan. Big dalang dari semua ini. Kalau misalkan ini dibiarkan, dia akan selalu jadi duri dalam daging di hidup aku dan juga di perusahaan. Orang ini harus diketahui dulu dan dibasmi, karena sama aja kayak penyakit. Lama-lama bisa jadi silent killer."


Arka menghela nafas lalu tersenyum pada istrinya.


"Ya udah, terserah kamu aja. Aku selalu mendukung kamu, yang pasti kamu jaga kesehatan dan jangan sampe kecapean. Lusa udah masuk bulan ke sembilan loh kandungan kamu."


"Iya." ujar Amanda seraya tersenyum. Mereka pun lalu sarapan bersama dan berbincang.


***


"Tan, gue minta maaf atas semuanya."


Rio berkata pada Intan, yang kini tengah berdiri dihadapannya. Hari ini keduanya sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Rio dijemput oleh ayahnya, sedang Intan dijemput oleh Ansel. Karena kedua orang tua Intan tengah bertugas diluar kota.


Tadinya Amanda ingin menjemput gadis itu, namun karena Arka masih sakit dan ia sendiri terbentur deadline pekerjaan freelance nya. Maka ia pun meminta maaf karena tak bisa melakukan hal tersebut. Intan memaklumi Amanda, lagipula Ansel saja sudah cukup baginya.


"Iya, gue juga minta maaf." ujar Intan pada Rio.

__ADS_1


"Kalau nggak gara-gara gue terlalu kepo sama mbak Rani, dia nggak akan sewa orang buat celakain gue. Dan hari itu gue nggak harus lari-lari sampe ketabrak sama lo."


Intan tersenyum pada Rio.


"Tapi dari semua kekepoan lo itu, lo berhasil membuktikan sebuah kejahatan."


"Iya, gue seneng akhirnya kekepoan gue bermanfaat." ujar Intan kemudian.


Mereka pun lalu sama-sama tertawa. Usai saling berpamitan, keduanya berpisah.


Sementara nun jauh di perusahaan Amman, laki-laki itu kini tengah berdiri di depan kaca ruangan, yang menghadirkan pemandangan kearah gedung bertingkat.


"Bagaimana, Man?" Rachel sang istri bertanya pada Amman.


"Sebentar lagi, cucu mu dari benih orang biasa itu akan lahir. Apa rencana kamu selanjutnya?"


Amman hanya diam, Ia terus menatap ke arah gedung-gedung pencakar langit itu. Seraya mereguk wine nya berkali-kali.


"Sebaiknya kamu keluar dan biarkan aku berfikir." ujarnya kemudian.


"Ok, yang jelas kamu harus sudah mendapatkan ide. Sebelumnya kompetitor kita yang hebat itu, menghancurkan bisnis ini."


Rachel melihat ke arah Amman yang terus membelakanginya.


"Atau, kamu akan puas menua dan mati sebagai orang yang gagal dan juga miskin." lajut Rachel lagi.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Amman setelah itu. Bahkan sampai Rachel berlalu, ia masih saja membisu.


***


Hari berlalu, rapat rahasia antara Amanda dan para loyalisnya terus diadakan. Beberapa bukti kecurangan dan kejahatan Rani, telah sampai pada team investigasi.


Mereka mulai menyelidiki banyak hal tentang wanita itu. Pada siapa saja ia berhubungan, ke nomor mana saja telpon yang digunakan olehnya tertuju.


Semua gerak-gerik Rani kini diawasi tanpa ia sendiri menyadari. Amanda telah membuktikan jika dirinya tak pernah sekalipun menandatangani sebuah mandat. Apalagi yang isinya meminta Rani untuk menggantikannya sebagai pemimpin perusahaan.


"Kalaupun saya memberikan mandat, lebih baik saya menunjuk Dion Haryadi selaku rekan saya sesama pendiri. Dia lebih berhak memimpin daripada Rani, yang hanya seorang karyawan divisi pengadaan barang."


Amanda berujar kala itu dihadapan team investigasi perusahaan. Mereka pun menampung pernyataan tersebut, lagipula memang mustahil rasanya. Jika Amanda memberikan mandat secara spontan tanpa berfikir terlebih dahulu.


Mengenai uang perusahaan yang mengalir ke rekeningnya, ada sebuah transaksi yang dilakukan melalui perangkat komputer di ruangannya. Amanda mengatakan hanya dirinya yang tau password tersebut. Namun tak lama setelah itu, ia menyadari sesuatu.


Ya, Pia sang sekretaris sering membantunya memperbaiki bug dan lain-lain. Pia sendiri dulunya berasal dari divisi IT. Karena Amanda sering bolak-balik meminta tolong pada anak IT, maka ia mengangkat Pia sebagai sekretaris sekaligus programmer dan teknisi pribadinya.


Tiba-tiba Amanda terhenyak.


"Apa mungkin, Pia terlibat?" gumamnya kemudian.


Team investigasi mencatat dugaan tersebut dan memasukkan Pia ke dalam daftar penyelidikan.


Hari berlalu, disebuah ruangan tertutup. Rani tampak berbicara dengan seorang laki-laki berpakaian rapi. Laki-laki itu adalah satu dari ketiga pendiri lain yang dulunya sama-sama bahu-membahu membangun perusahan ini bersama Amanda. Rani tersenyum duduk di dekatnya, sambil menggenggam tangan lelaki itu.


"Kamu sudah bawa apa yang aku inginkan?" tanya laki-laki itu pada Rani. Rani pun tersenyum,


"Pia, bawa semua yang kita butuhkan."

__ADS_1


Pia melangkah seraya tersenyum. Lalu senyuman itu, disambut oleh Rani dan juga si laki-laki.


__ADS_2