
"Pokoknya ibu nggak mau mendengar, kamu menanyakan soal ayah kandungmu lagi."
Ibu Arka berujar beberapa hari setelah Arka dan Amanda menyelesaikan istirahatnya dirumah. Mereka kini sudah kembali bekerja meskipun tidak full time. Orang-orang di kantor Arka pun baru mengetahui jika Arka mengalami kecelakaan.
Putra, bos Arka sendiri tau dari Ryan. Namun Ryan mengatakan pada Putra untuk merahasiakan hal tersebut. Guna meminimalisir kunjungan ke rumah sakit, agar tak menimbulkan kehebohan. Lagipula Arka masih berstatus sebagai public figure. Jika hal ini sampai diketahui wartawan infotainment, maka akan lebih rusuh lagi nantinya.
Mereka bisa saja berebut untuk mencari tau informasi tentang Arka, tanpa mempedulikan Arka yang butuh istirahat. Lagipula disisi Arka saat itu, ada istrinya yang masih ia rahasiakan dari publik.
"Bu, Arka cuma nanya. Kalau seandainya ada ayah Arka disini, apa Arka boleh ketemu sama dia."
"Nggak, ibu nggak akan izinkan. Sudah cukup waktu itu ibu menceritakan tentang dia, ibu nggak mau kamu meminta lebih. Ibu yang mengandung dan melahirkan kamu, ibu juga yang mengurus dan membesarkan kamu. Papa tiri kamu yang membiayai hidup kamu, jadi tolong jangan meminta hal yang lebih lagi."
Arka menunduk, sementara disuatu sudut Amanda hanya diam sambil menggendong Azka. Karena Afka sudah tidur sejak tadi. Amanda tak ingin ikut campur dalam hal ini.
Beberapa hari sebelumnya, dihari akhirnya mereka terbangun dari koma. Ryan datang beberapa jam setelah dokter memeriksa. Saat itu pula bertepatan dengan beberapa saat setelah Arka, Amanda, Rio dan pihak kepolisian sepakat. Bahwa mereka harus menjalankan rencana, untuk mengetahui siapa dalang dibalik kecelakaan itu.
Saat itu Arka dan Amanda baru saja diberi obat dan siap untuk tertidur kembali, namun Ryan datang dan memberi sebuah pengakuan. Ia mengatakan jika Arka adalah anaknya, anak kandungnya. Tentu saja Arka terkejut, begitu pula dengan Amanda.
Ketika Ryan pulang, Arka membuka mata dan terdiam. Tak lama setelah itu Amanda berusaha bangun dan mendekati Arka. Ia memeluk suaminya itu dengan erat, Arka menangis di pelukan Amanda.
"Aku tau dia ayah aku, Man. Aku udah ngerasa sejak waktu itu. Tapi kenapa dia harus mengakuinya sekarang, aku lebih baik nggak mendengar semua itu. Hati aku sakit, Man. Aku benci sama dia."
"Ka, janganlah kayak gitu."
__ADS_1
Amanda mencium kening suaminya.
"Bukannya kamu waktu itu nanya ke ibu tentang siapa ayah kandung kamu. Sekarang setelah kamu tau, kenapa kamu juga yang menolak."
"Hati aku sakit, Man. Inget dulu dia pernah ninggalin aku sama ibu."
"Kamu nggak inget apa-apa, Ka. Dia ninggalin kamu saat kamu baru berusia satu bulan dalam kandungan, bahkan kamu belum punya nyawa saat itu."
Amanda melepaskan pelukan dan menatap suaminya.
"Saat kamu lahir, kamu punya papa. Kamu nggak bener-bener lahir tanpa ayah."
"Tapi dia yang seharusnya bertanggung jawab."
"Aku tau, tapi kamu denger sendiri kan yang dia bilang tadi. Dia mau bertanggung jawab dengan cara lain, dengan cara membiayai kehamilan ibu kamu sampai dia melahirkan. Tapi ibu menolak diberi uang dan memaksa menikah, sampai akhirnya dia terpaksa harus pulang ke negaranya karena suatu sebab."
"Ka, kita punya anak, seberapapun sakitnya hati kamu sama dia. Jangan membenci orang tua berlebihan. Liat sikap aku ke papa aku, ada nggak aku maki-maki dia. Teriak-teriak berlebihan di depan mukanya. Aku nggak pernah kayak gitu, Ka. Sebenci-bencinya aku sama dia, karena dia pernah menyakiti mama aku. Tapi aku tau caranya bersikap."
"Tadi tuh rasanya pengen aku maki, tau nggak." ujar Arka penuh dendam.
"Tapi aku takut rencana kita ini berantakan. Aku takut ada orang yang masuk dan menemukan kalau kita berdua udah sadar."
"Jangan, saat ini kamu itu cuma lagi emosi aja. Inget, Ka. Kita punya anak, dan kita nggak akan pernah bisa jadi orang tua sempurna sampai kapanpun. Suatu saat, kita akan melakukan kesalahan entah itu besar atau nggak terhadap anak-anak kita. Jangan budayakan membenci orang tua berlebihan, kalau kita nggak mau dibenci juga sama anak-anak kita nantinya."
__ADS_1
Amanda kemudian memeluk Arka dengan erat. Esok harinya Ryan kembali datang, Rio yang sudah diberitahu tentang siapa Ryan pun memberitahu kepada Arka soal kedatangan ayahnya itu. Arka dan Amanda kembali berpura-pura tak sadarkan diri.
Dihari itu lagi-lagi Ryan meminta maaf, agaknya ia memang sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Arka kembali terdiam saat Ryan pulang, dan lagi-lagi Amanda menasehatinya. Hingga kemudian, Arka pun luluh dengan sendirinya. Lagipula ia sedang tak ingin menambahi masalah yang terjadi. Sudah terlalu banyak orang-orang yang membuat hidupnya runyam akhir-akhir ini.
Ia pun lalu berdamai dengan Ryan dihari kepulangannya dari rumah sakit. Tak ada caci maki maupun drama disana. Karena Arka merasa dirinya adalah laki-laki, yang tak harus memperpanjang masalah seperti perempuan. Sakit hati tinggal lah sakit hati, kini bagaimana caranya memperbaiki dan menerima semua itu.
Sebab hidup harus terus berjalan, dan ia enggan menyimpan kemarahan apapun didalam dirinya. Karena kemarahan hanya akan merugikan diri sendiri.
Lain Arka, lain pula ibunya. Mungkin karena ibunya dulu mengalami langsung, apa yang dilakukan oleh Ryan pada mereka. Sedang Arka saat itu masih berada dalam kandungan, bahkan belum ditiupkan nyawa oleh sang maha pencipta. Ia tak melihat dengan jelas bagaimana sikap Ryan waktu itu, hingga membuat ibunya begitu dendam.
Arka tak memaksa ibunya untuk bersikap sama seperti dirinya dalam menyikapi Ryan. Karena Arka tidak tahu, seberapa berat beban yang saat itu ditanggung oleh ibunya.
Arka hanya mencoba meminta izin, agar kelak ibunya tidak sakit hati. Jika Arka kedapatan berbicara ataupun dekat dengan ayah biologisnya tersebut.
Namun kini ia telah mengetahui jawabannya, dan Arka pun tak bisa membantah lagi. Biar bagaimanapun ibunya lah yang membesarkannya dengan susah payah selama ini.
Mungkin Arka akan tetap merahasiakan, jika dirinya sudah bertemu dengan Ryan. Ia tak ingin ibunya menjadi marah ataupun sedih akibat ulahnya.
"Pokoknya Amanda, awasi suami mu itu. Jangan sampai kalau ayah kandungnya tiba-tiba datang, dia malah dekat dan mau memaafkan ayahnya itu." Ibu Arka berujar pada menantunya.
"Memangnya, ayahnya Arka ada disini bu?. Atau akan datang kesini?"
Amanda sengaja memberikan pertanyaan tersebut agar ibu mertuanya percaya pada dirinya maupun Arka, jika mereka tak tahu menahu soal keberadaan ayah Arka.
__ADS_1
"Mmm, nggak. Nggak mungkin juga dia datang kesini, sudah bertahun-tahun berlalu dan dia nggak ada kabar. Orang seperti bapaknya Arka itu nggak bisa diharapkan."
Amanda hanya mengangguk, tak menjawab lagi. Sementara Arka kini terpaku ditempatnya.