
"Amanda, temui aku di plaza Indonesia ya."
Arka mengirimkan pesan singkat pada istrinya itu, ketika sore hari mulai menjelang.
"Ada, apa Ka?" balas Amanda pada Arka.
"Pokoknya datang aja, temui aku di tempat biasa. 😚"
"Kamu mau ngapain sih?. Jangan ngadi-ngadi deh. Kamu pasti mau surprise in aku kan?. Aku deg-degan nih. 😀"
"Selamat deg degan, Firman. 😛😘"
"💩💩💩"
Amanda senyum-senyum sendiri di kantor, meski Arka tak menyampaikan maksud dan tujuannya dengan jelas. Namun ia mengetahui jika suaminya itu ingin mengajaknya hangout. Entah untuk belanja atau sekedar makan dan berbincang.
"Senyum-senyum mulu bu, kayak mau di lukis."
Intan masuk dan membuat Amanda terhenyak.
"Eh, sejak kapan kamu disini?" tanya nya kemudian.
"Sejak tiga tahun lalu bu, kan udah tiga tahun kerja disini."
Amanda keki, namun ia menahan tawa.
"Maksudnya di ruangan ini, Jamilah." ujarnya kemudian.
"Oh." Intan tertawa.
"Udah dari tadi sih." lanjutnya lagi.
"Terus kamu ngeliatin saya senyum-senyum gitu, dari tadi?"
"Iya." ujar Intan sambil nyengir.
Wajah Amanda mendadak tersipu merah. Bisa-bisanya ia tuli dan tak mendengar suara pintu yang dibuka, akibat terlalu memikirkan Arka.
"Oh ya, ini laporannya udah selesai. Saya pulang ya, bu."
"Cepet amat, biasa ngegosip dulu."
Lagi-lagi Intan nyengir, saat itu memang sudah jam pulang. Hanya saja Amanda memang masih disana karena menunggu Arka. Berhubung Arka mengajaknya bertemu di suatu tempat, maka mungkin ia akan memanggil pak Darwis untuk mengantarkannya.
"Iya bu, mau jalan sama Ansel." ujar Intan lagi.
"Hmm, mau kemana nih?" Amanda memberikan lirikan yang mencurigakan.
"Nggak, nggak ke arah sana koq."
"Terus ke arah mana?" ledek Amanda lagi.
"Mau belanja bareng, bu." ujar Intan kemudian.
"Oh ya udah, have fun ya kalian."
"Ok, pulang ya bu."
"Hati-hati."
"Iya."
Intan pun pergi meninggalkan ruangan Amanda. Sekitar setengah jam kemudian, Arka menelpon.
"Hallo, Ka."
"Kamu dimana tante Firman?. Aku udah sampe nih."
"Lah, udah berangkat kamu?"
"Terus kamu dari tadi ngapain?" tanya Arka.
"Nungguin update dari kamu, jam berapa kamu jalan."
"Kenapa kamu nggak jalan aja tadi, katanya kamu udah pulang." lagi-lagi Arka berujar.
"Iya, tapi kan kamu nggak kasih tau juga, jam berapa tepatnya."
__ADS_1
"Iya deh, iya. Aku yang salah, aku tunggu sekarang." ujar Arka.
Sejatinya ia sudah melebarkan bibir sampai kuping, di seberang sana. Hanya saja Amanda tak bisa melihat kedongkolan yang terdapat di wajah suaminya itu.
"Tungguin yak, hehehe." ujar Amanda kemudian.
"Hahehahe, buruan...!" ujar Arka seraya tertawa.
"Jangan marah dong, ntar disfungsi loh."
"Apanya yang disfungsi?"
"Si anu."
"Dasar mesum." ujar Arka kian tertawa.
"Ya udah, aku telpon pak Darwis dulu."
"Ya udah, aku pesenin makan dulu ya." ujar Arka.
"Kamu ditempat biasa, Ka?"
"Iya."
"Pesen yang ekstra daging sapi ya, nggak pake lada."
"Ok."
"Bye Arka."
"Bye "
Amanda menyudahi telponnya lalu beralih menghubungi pak Darwis. Kebetulan pak Darwis memang sedang berada tak begitu jauh dari kantor. Maka wanita itupun menyusul suaminya.
Sesampainya disana, Amanda langsung menghampiri Arka. Ditempat biasa mereka makan bersama, apabila sedang mengunjungi tempat tersebut. Kebetulan makanan yang dipesan sudah tersedia di meja.
"Kamu mau membiarkan aku nggak minum, Ka?" ujar Amanda seraya memperhatikan makanannya yang tanpa minuman.
Aku sengaja, pesennya pas kamu dateng. Biar pas kamu duduk, itu minuman es batunya belum cair. Jangan prasangka buruk napa, sama aku." ujar Arka kemudian.
Amanda terkekeh, tak lama ia pun memesan minuman. Mereka lalu makan bersama-sama sambil berbincang.
"Kapan." tanya Amanda.
"Akhir bulan ini."
"Wah, semangat ya papa Arka." ujar Amanda seraya mengepalkan tangan.
Arka tertawa.
"Anak-anak tadi nggak rewel, kan?" tanya Amanda.
"Nggak, lagi nonton Dora sama Rianti." ujar Arka.
Amanda tertawa geli.
"Aku belum ada menghubungi kerumah." ujar Amanda kemudian.
"Tadi sih mereka terakhir ngirim foto, lagi nonton Dora." Arka memperlihatkan foto yang dikirim Rianti, Rianti sendiri tengah berada di penthouse.
"Ya ampun. Ampe fokus gitu muka mereka, serius banget." Amanda kian tertawa.
"Itu rambut mereka udah harus di cukur, Man. Udah panjang gitu." ujar Arka lagi.
"Kamu aja deh, Ka. Aku takut."
"Ya udah, nanti biar aku aja yang cukur rambut mereka."
Mereka lanjut berjalan dan masuk ke beberapa store, namun tak ada yang menarik minat mereka satupun. Sampai kemudian, Arka mengajak Amanda ke sebuah store yang menjual tas mewah dengan brand tertentu.
"Man, kayaknya tas kamu itu-itu doang deh. Kamu beli tas ya." ujar Arka pada sang istri.
Amanda terhenyak, lalu menatap suaminya itu.
"Ka, ini kan tas mahal." ujar Amanda.
"Ya nggak apa-apa, aku ada koq, budget 100juta an. Kamu pilihlah yang mana kamu mau."
__ADS_1
Amanda masih menatap suaminya itu.
"Ah kamu mah, tas aku juga masih bagus Ka. Ngapain sih buang-buang duit?"
Amanda berkata dengan nada pelan.
"Nggak apa-apa, aku emang udah niat dari jauh-jauh hari. Udah sana pilih...!" ujar Arka kemudian.
"Selamat sore."
Karyawan yang bekerja di store tersebut langsung menghampiri Amanda dan juga Arka. Mau tidak mau Amanda pun akhirnya menjawab, lalu melangkah dan melihat-lihat kesana kemari.
Sejujurnya ia tak perlu dibelikan barang mewah seperti ini, karena ia pun tahu jika Arka juga tak mudah dalam mencari uang. Suaminya itu kadang harus mengurangi tidurnya jika ada callingan syuting di malam hari. Namun ia pun tak bisa menolak begitu saja, ia takut Arka akan tersinggung.
Harga tas ditempat itu terbilang tinggi. Ada beberapa model dengan harga puluhan juta yang Amanda sukai, dan mungkin Arka pun akan mampu membayar. Sebab Arka sendiri sudah mengatakan jumlah budget yang ia miliki.
Namun lagi-lagi Amanda berfikir, jika ia mengambil tas yang harganya tinggi tersebut. Akan sangat tidak bijak dan terkesan tidak memikirkan suaminya, yang bekerja keras mencari uang. Meski Arka pun sejatinya tak masalah dengan hal itu, tetap saja ia merasa tidak enak
Amanda lalu memutuskan, pilihannya jatuh kepada sebuah model seharga 18juta rupiah. Karena yang termurah tampaknya hanya tersisa itu saja.
"Kamu yakin mau yang ini?" tanya Arka.
"Nggak mau yang lain?" tanya nya lagi.
"Udah ini aja, Ka. Fungsinya juga sama koq."
"Ya kalau kamu suka dan mau ambil yang lain, nggak apa-apa." ujar Arka lagi.
"Udah yang ini aja. Aku suka, koq."
"Jangan sampe nyesel dan dongkol hati nanti ya, pas sampe rumah."
Amanda tersenyum.
"Nggak lah, Ka. Masa iya 18 juta masih dongkol hati, nggak bersyukur banget hidup aku."
Arka tertawa.
"Ya udah, kalau emang itu mau kamu." ujarnya kemudian.
Arka lalu membayar tas tersebut, tak lama setelah itu mereka pun keluar dari store tersebut.
"Skincare nya masih nggak?" tanya Arka ketika mereka telah berjalan cukup jauh.
"Mumpung kita belum pulang kerumah." lanjutnya lagi.
"Udah, Ka. Kamu dulu gih yang belanja, masa aku mulu. Kamu nggak beli apa-apa." ujar Amanda kemudian.
"Aku mah gampang." ujar Arka.
"Ya jangan gitu, uang yang kamu cari dengan kerja keras. Masa buat aku dan anak-anak semua, kamu nya nggak."
"Yang penting kalian dulu."
"Tuh kan kamu suka gitu tuh, ntar pokoknya aku gantian ya beliin kamu ini itu."
"Iya, udah nggak usah dipikirin." ujar Arka lagi.
"Eh, Ka. Nyalon yuk..!" ajak Amanda.
"Nyalon?" tanya Arka kemudian.
"Jadi anggota Dewan Perwakilan, gitu?"
Amanda terbahak.
"Ke salon, Bambang. Ngapain kita jadi anggota dewan."
Arka tertawa karena telah keliru.
"Lagian ya, walau punya duit juga, aku ogah mencalonkan diri. Kerjaannya riweh, ngurusin rakyat. Ngurus rumah tangga aja kadang pengennya rebahan, itu lagi ngurus rakyat." ujar Amanda lagi.
"Iya juga sih, aku juga ogah, Mager. Ya udah mau ke salon mana nih?" tanya Arka.
"Sini aja nih, kan ada nih naik dikit."
"Ya udah ayok." ujar Arka.
__ADS_1
Lalu sepasang suami istri itu melakukan berbagai macam perawatan di sebuah salon terkemuka, yang ada ditempat tersebut. Kini baik Arka maupun Amanda sudah tak lagi canggung untuk mengambil foto berdua dan mengunggahnya di laman insta story.