
Ryan masih kepikiran, saat ia melihat Arka, Amanda, beserta kedua cucunya berada dirumah Ningsih. Ia teringat bagaimana cara keluarga itu tertawa, bahagia dan membaginya satu sama lain.
Jujur ia masih menaruh hati pada Ningsih, setelah sekian tahun mereka tak pernah bertemu. Kini wanita itu telah menjalani kehidupan barunya, bersama seorang laki-laki yang tampaknya begitu penyayang terhadap keluarga.
Bahkan Arka dan Amanda pun terlihat sangat akrab dengan suami dari mantan kekasihnya itu.
"Ti, anak-anak mana?" tanya Amanda dan Arka ketika tak menemukan si kembar didalam kamar maupun di teras. Mereka kembali mengunjungi orang tua Arka hari ini.
"Lagi sama bu Mawar dan teman-temannya, mas. Noh disana."
Rianti menunjuk ke suatu arah, Arka dan Amanda menoleh ke arah yang ditunjuk Rianti. Tampak si kembar tengah di gendong oleh bu Mawar dan teman-temannya.
"Tenang aja mbak, mas. Udah Rianti bilangin, si kembar jangan di cium. Mereka ngerti koq." ujar Rianti lagi.
Amanda dan Arka pun tersenyum, mereka kini duduk di teras.
"Bu Mawar sekarang udah nggak kayak dulu." Ibu Arka keluar dari dalam dan nyeletuk, ia membawakan teh hangat beserta pisang goreng yang baru dibuat.
"Makasih, bu." ujar Arka serta Amanda di waktu yang nyaris bersamaan.
"Papa mana?." tanya Arka kemudian.
"Mandi." jawab ibunya.
"Iya, mas. Bu Mawar berubah sejak si Fathan anaknya, nikah sama perempuan lulusan pesantren."
"Oh ya?" tanya Arka sambil mengunyah pisang goreng.
"Lulusan universitas Al-Azhar Kairo juga." timpal ibunya.
"Oh, waw?"
Arka masih tak percaya, namun ia sumringah mendengar kabar baik itu. Sementara Amanda memperhatikan, karena ia sendiri tak mengenal anak bu Mawar.
"Bu Mawar teh, malu sendiri. Dia nya tukang gosip, tapi menantunya sholehah." ujar Rianti lagi. Kali ini Arka tertawa kecil.
"Tapi si Fathan itu baik loh orangnya. Dari jaman sekolah dulu juga nggak neko-neko, ibadahnya rajin. Wajar aja dia dapet jodoh baik."
"Seangkatan ya mas?" tanya Rianti.
"Nggak, dia kakak kelas dulu. Tapi kenal luamyan baik sih." ujar Arka kemudian.
"Jadi sekarang bu Mawar ada tobat. Tiap kali mau menggosip, menantunya lewat. Dia nggak jadi." ujar ibu Arka seraya tertawa.
Arka, Amanda dan Rianti pun tersenyum. Dari kejauhan tampak si kembar tertawa-tawa, bermain bersama geng bu Mawar.
***
Di suatu tempat.
Amman telah sepakat dengan Fritz. Dua pria tua tak ingat usia itu kini terjalin dalam sebuah kerjasama, yang diawali dengan transaksi penuh kebejatan.
"Saya puas dengan hadiah yang anda berikan, pak Amman." Fritz tersenyum penuh kemenangan, seraya mereguk wine yang ada didalam gelas.
__ADS_1
"Untuk kerjasama kita." ujar Amman mengangkat gelas.
"Untuk kerjasama kita." ujar Fritz.
Mereka pun lanjut berbincang. Sementara di suatu kamar yang terkunci rapat, Maureen berusaha mencari pertolongan. Ia menggedor-gedor pintu kamar tersebut dan berharap ada yang mendengar.
"Tolooong."
"Dor, dor, dor."
"Tolooong."
Ia berusaha keras, namun sampai suaranya habis tak ada seorang pun yang datang. Hal terakhir yang ia ingat adalah, ia mendorong pria tua yang memperkosanya, dan memukul pria tua itu dengan lampu duduk yang ada dikamar rumah Amman.
Namun kemudian ia merasakan seseorang memukulnya dari belakang. Hingga ia berakhir disini, di sebuah kamar baru yang tampak asing. Ia sendiri tak tau dimana tempat ini.
"Tolooong."
"Buka pintunyaaa."
"Tolooong."
Maureen terus berteriak. Karena semenjak sadar tadi, ia sama sekali tak menemukan dimana handphonenya berada. Andai saja perangkat itu ada didalam genggaman tangannya, pasti tak sulit untuk meminta bantuan.
"Tolooong."
"Tolooong."
"Tolooong."
Tapi ini perihal consent. Meski ia sering menjual diri, tapi apa yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu tetaplah sebuah kasus pemerkosaan. Sebab ia melakukannya tanpa kerelaan sedikitpun.
Ia tak sedang menjual dirinya dan sedang tak ingin berhubungan dengan laki-laki manapun. Apalagi pria tua yang memperkosanya itu, pria yang sudah mirip seperti kakeknya sendiri. Memiliki wajah mesum menyebalkan, serta perut buncit yang menjijikkan.
Ia tidak rela cairan pria itu menggenangi rahimnya. Apalagi saat ini ia tidak sedang menggunakan kontrasepsi, baik injeksi maupun oral.
"Arrgghhh." teriak Maureen penuh kemarahan. Namun sampai air matanya mengering, tak ada seorang pun yang datang menolongnya.
***
Beberapa hari kemudian, di kampus.
"Gue koq nggak ngeliat Maureen, ya?" tanya Widya pada Chanti di suatu pagi yang dingin. Hujan turun semalaman dan masih menyisakan rintiknya hingga pagi ini.
"Tau, udah tenggelam kali didalam kubangan tas Hermes nya dia." seloroh Chanti sambil menghirup kuah bakso.
"Iya, biasanya kan udah petantang-petenteng didepan sana. Pamer tas baru, sepatu baru."
"Sakit kali dia, keselek sepatunya sendiri." ujar Chanti membuat Widya hampir tersedak.
"Inget nggak sih yang waktu itu, dia udalah ngegas nyebutin merk tas nya didepan orang banyak. Padahal salah sebut."
"Oh iya, yang dia nyebut Luis piton ya?" tanya Chanti seraya tertawa.
__ADS_1
Tak lama kemudian ingatan mereka pun melayang, pada Maureen yang tengah pamer dihadapan teman-temannya beberapa waktu yang lalu.
"Nih, gue dibeliin tas baru sama bokap gue. Luis Piton asli."
Chanti dan Widya tersedak menahan tawa, saat itu mereka tengah berjalan sambil memakan makaroni level 10.
"Nyebutnya Lui Vuttong, anjir." ujar Widya mengkoreksi ucapan Maureen untuk menyebut brand Louis Vuitton. Namun dengan suara yang pelan.
"Udeh diemin aja, biasa norak." ujar Chanti saat itu.
Mereka pun kini tertawa-tawa mengingat hal tersebut.
"Chan, Wid."
Seseorang muncul menghampiri mereka. Ternyata Aulia, teman satu kelas mereka yang juga teman satu gedung kost dengan Maureen.
"Kenapa, Au?" tanya Chanti kemudian.
"Lo liat Maureen nggak sih?" tanya nya kemudian.
"Lah, kan lo temen satu kosannya. Dan lagian kan lo tau, kalau belakangan ini Maureen tinggal sama yang dia sebut papa-papa itu. Yang dia bilang bapaknya." ujar Chanti panjang lebar.
"Iya, tau gue. Tapi tuh kan, dia masih sering balik ke kosan. Entah ngapain aja, terus nomor handphonenya juga masih aktif. Nah beberapa hari ini, sampe sosmednya pun nggak update. Lo tau kan kalau Maureen itu artis sosmed, yang nggak pernah absen dari media manapun."
"Iya sih." ujar Widya.
"Ilang kali hp nya atau ganti hp." Chanti masih berfikir realistis.
"Kalaupun ilang, masa iya papa kaya nya itu nggak mengganti segera." ujar Aulia lagi.
"Iya juga sih." ujar Chanti.
"Soalnya nyokapnya nanyain Maureen ke gue." ujar Aulia.
"Oh, nyokapnya nyari ke elo." tanya Chanti.
"Iya, dia bilang Maureen nggak menghubungi ibunya selama beberapa hari ini. Biasanya tuh anak entah transfer duit lah atau kirim barang ke ibunya, ini tiba-tiba ngilang gitu aja."
Chanti dan Widya saling menatap satu sama lain.
"Gimana ya, gue juga nggak tau dia dimana. Udah lama juga, gue sama Widya nggak tegur sapa sama tuh anak." ujar Chanti kemudian.
"Gue juga nggak tau si papa-papa nya itu siapa. Beneran papa nya atau gadun nya dia." lanjutnya lagi.
"Gua juga bingung mau cari tau dimana lagi." ujar Aulia.
"Nyokapnya sampe nangis-nangis. Nggak tega gue, kalau udah denger emak-emak nangis." lanjut Aulia lagi.
"Ntar deh gue coba cari tau, ya." ujar Chanti kemudian.
"Mudah-mudahan tuh anak nggak kenapa-kenapa. Walau gue sebel sama dia, tapi kalau udah nyangkut soal nyawa mah. Nggak bisa gue diem aja."
"Ya semoga dia cuma sakit biasa atau ilang hp aja sih, nggak kenapa-kenapa." ujar Aulia.
__ADS_1
"Ya udah, ntar gue infoin kalau gue denger sesuatu." ujar Chanti.