
Hai, namaku Amanda. Aku ingin bercerita kepada kalian. Mengenai pertemuanku dengan seseorang yang tak terduga, didalam hidupku. Seseorang yang akhirnya menjadi bagian dalam keseharian ku.
Amanda mulai mengetik awalan untuk bab cerita yang akan ia buat. Wanita itu tersenyum menatap laptopnya, sambil mengingat perjalanan hampir dua tahun ini bersama Arka.
Tak jauh berbeda dengan Amanda, Arka pun kini tengah melakukan hal yang sama. Ia juga menulis cerita tersebut berdasarkan sudut pandangnya.
Hai, panggil aja gue Arka. Ini cerita mengenai perjalanan cinta gue, yang tak terduga. Sebuah kisah yang sebelumnya nggak pernah sekalipun, terbayang di benak gue.
Malam mulai beranjak naik, keduanya sama-sama larut dalam cerita yang kini tengah mereka kerjakan. Ditemani segelas minuman hangat, mereka mengetik pada dua ruangan yang berbeda. Arka dan Amanda sama-sama tersenyum, diwaktu yang nyaris bersamaan pula. Mereka telah hanyut didalam dunia fiksi yang mereka ciptakan, sampai kemudian.
"Hoayaaa."
Suara penuh penekanan dari para bayi, menyadarkan mereka berdua. Arka dan Amanda segera bergegas menutup laptop dan keluar dari dalam ruangan masing-masing.
"Gubrak."
Keduanya tidak sengaja saling bertabrakan, ketika hendak menuju ke kamar anak mereka.
"Aduh."
Mereka mengaduh akibat kepala yang beradu kencang, keduanya kini tertawa geli.
"Kamu Ka, ah." Amanda mengusap-usap kepalanya.
"Ye orang kamu nabrak duluan." ujar Arka.
Lagi-lagi keduanya tertawa.
"Hoayaaa." Para bayi kembali ngegas.
Arka dan Amanda buru-buru membuka pintu kamar anak mereka tersebut. Waktu pun terhenti, ketika mereka mendapati sebuah pemandangan yang tak biasa. Keduanya terpaku dengan bibir yang sama-sama menganga.
Namun akhirnya mereka pun tertawa satu sama lain, antara percaya dan tidak percaya. Azka dan Afka kini telah merangkak di dalam box mereka.
"Ka, mereka bisa merangkak."
Amanda berujar seraya menatap sejenak suaminya, Arka pun membalas tatapan itu dengan sumringah.
"Aaaa, kalian udah merangkak." ujar Amanda seraya mendekat, lalu mengeluarkan salah satu anaknya dari box. Sementara Arka mengeluarkan yang lainnya.
"Good boy." ujar Arka kemudian.
Para bayi itu pun diletakkan di atas kasur lantai. Arka dan Amanda bermaksud, agar kedua anak mereka itu lebih leluasa dalam belajar merangkak. Namun begitu diletakkan di kasur, mereka malah tengkurap dengan malas.
"Yah, Ka. Malah jadi kadal." ujar Amanda seraya memperhatikan Azka dan Afka. Sementara Arka kini tertawa.
"Dek, ayok merangkak lagi. Papa mau liat." ujar Arka.
"Iya, mama juga mau videoin kalian." timpal Amanda.
"Hoayaaa."
"Eheeee."
Kedua bayi malah makin malas dan tampak sangat nyaman di kasur bawah.
"Kalian mah, ngeliatinnya sebentar doang ke mama sama papa." Amanda menggerutu.
"Yuk, merangkak lagi yuk." ajak Arka.
__ADS_1
"Hoayaaa." Azka meletakkan kepalanya sedatar mungkin ke sisi lain.
"Hmm, makin ceper aja. Awas nyatu sama kasur loh." ujar Arka.
Ia dan Amanda yang tadinya memiliki segudang ide untuk menulis, kini malah menjadi malas dan sangat ingin rebahan. Mereka pun lalu berbaring disisi si kembar. Tak lama kantuk pun menyerang, keduanya lalu sama-sama terlelap.
Satu, dua, tiga.
Tiga jam telah berlalu.
"Hah."
Amanda terbangun kaget dari tidurnya. Suara wanita itu juga membangunkan sang suami yang tertidur didekatnya.
"Ka, anak-anak mana?"
Amanda mulai panik, karena tak menemukan Azka dan juga Afka. Mereka melihat kesana-kemari dan ternyata, salah satu dari mereka tadi tak menutup pintu dengan rapat. Maka segera saja keduanya beranjak, mencari letak keberadaan Afka dan juga Azka.
Mereka mencari di luar kamar, kedalam kamar utama, ke bawah meja makan. Namun kedua anak itu tidak ada.
"Hoayaaa."
Terdengar suara salah satu dari mereka.
"Azka, Afka, dimana kalian?" tanya Arka.
"Eheeee."
"Diruang musik, Man." ujar Arka.
Mereka pun beranjak ke ruang musik, Arka dan Amanda mencari-cari, ternyata ada di bawah piano.
"Cuma satu, Ka. Satunya nggak ada." ujar Amanda kemudian.
"Afka ini."
Arka mulai beranjak ke ruangan lain.
"Azka."
"Azka."
"Hoayaaa."
Suara Azka bernada rendah, seakan mengajak ayahnya untuk bermain petak umpet.
"Azka papa lagi nggak mau main." ujar Arka sambil melihat ke segala ruangan dan juga kolong meja.
"Ketemu, Ka?" tanya Amanda yang kini membawa Afka, dan mencoba membersikan anak itu dengan tissue basah. Karena ada beberapa debu yang menempel di tubuhnya.
"Ini lagi ngajak maen petak umpet." ujar Arka seraya tertawa.
"Azka." Amanda memanggil Azka.
"Eheeee."
Terdengar tawanya yang cukup keras, Arka dan Amanda menoleh. Tampak salah satu bagian gorden bergoyang-goyang. Amanda dan Arka saling menatap lalu tersenyum satu sama lain.
"Hoayaaa, dimana ya hoayaaa?" ujar Arka seraya mendekat perlahan.
__ADS_1
"Eheeee."
"Mana ya, hoayaaa?" ujar Arka lagi.
"Eheeee."
Arka berjalan perlahan sambil menatap Amanda dan menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Baaaaa."
"Eheeee."
Azka merangkak dengan cepat ke arah lain, seakan menghindari ayahnya. Namun secepat-cepatnya seorang bayi, masih akan kalah dengan orang dewasa. Arka pun menangkap anaknya itu, Azka berteriak sambil tertawa.
"Udah mulai main petak umpet ya dari papa."
"Eheeee."
"Bobok kalian, nggak ada ehe-ehe." ujar Amanda.
Kedua bayi itu pun dibawa kembali ke kamar mereka masing-masing, mereka lalu di beri ASI oleh Amanda. Kini keduanya tampak tengah berbaring di dalam box bayi, sambil memegang botol susu.
"Bentar lagi mulai berdiri nih, Man. Mulai ngacak-ngacak tempat." ujar Arka seraya memperhatikan si kembar.
"Ya, itu artinya kita harus kerja keras Ka." ujar Amanda seraya tersenyum.
Arka mengangguk lalu merangkul istrinya itu.
"By the way koq udah lancar banget ya merangkaknya?" tanya Arka pada Amanda.
"Udah dikit lagi delapan bulan, Ka."
"Iya sih, mungkin selama ini sering ditinggal sama Anita atau Lastri. Mereka udah belajar banyak kali ya?" tanya Arka.
"Iya, kayaknya kita yang agak melewatkan tumbuh kembang mereka. Gara-gara kita sibuk." ujar Amanda.
"Hoayaaa."
"Iya, hoayaaa bobok ya sayang." ujar Arka.
"Eheeee."
"Good night Azka, good night Afka." ujar Amanda dan Arka di waktu yang nyaris bersamaan. Kedua bayi itu melepaskan sejenak botol susu dari mulut mereka, lalu keduanya pun tertawa pada Arka dan juga Amanda.
"Bye-bye sayang."
Amanda mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur. Keduanya pun lalu meninggalkan kamar tersebut.
"Kamu mau langsung tidur?" tanya Arka pada istrinya?"
"Paling beberapa menit lagi lah, nambah bab tulisan dulu." jawab Amanda.
"Aku belum kelar tuh satu bab." ujar Arka. Ntar aku terusin dikit, abis itu tidur.
Arka mendekat ke arah kulkas, lalu mengambil air dingin dari dalam sana.
"Judulnya fix nih?" tanya Amanda.
"Ya udah itu aja, lucu kan?" tanya Arka.
__ADS_1
"Berondong Bayaran, CEO Cantik. Pasti rame novelnya nanti." lanjutnya kemudian.
Amanda menatap Arka dan mereka pun tersenyum satu sama lain..