Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Rencana


__ADS_3

"Gimana kalau kita liburan?"


Amanda mencetuskan ide brilian pada Arka, yang kini berbaring dalam pangkuannya. Mereka berdua tengah berada diatas sofa didalam kamar.


"Liburan?"


"Iya sama anak-anak."


"Mau kemana?" tanya Arka seraya mendongak, menantikan jawaban dari istrinya.


"Deket-deket sini aja, Bandung kek, puncak Bogor kek, atau kemana. Cari tempat yang ada kolam renangnya."


"Rumah kamu dong yang satunya, ada kolam renang."


"Ya itu namanya bukan liburan, Arka." ujar Amanda seraya tertawa.


"Balik kandang itu namanya." lanjutnya lagi.


"Hmmm, boleh deh. Suntuk banget tau aku." ujar Arka.


"Ya udah, ntar kita atur waktunya dulu ya. Dalam minggu-minggu ini."


"Ya udah, para bocil kan udah mau 5 bulan tuh. Udah enak ngajaknya." ujar Arka kemudian.


"Iya, makin berat tapi." tukas Amanda.


"Minum susunya kuat banget ya."


"Makanya aku makan kayak orang gila tapi masih kurus. Nggak apa-apa sih, membantu diet ibunya." ujar Amanda lagi.


"Iya bener. Nggak perlu bayar ahli gizi, cukup mereka aja yang ngabisin badan emaknya."


Amanda tertawa, wanita itu lalu mencium kening Arka dengan lembut.


***


"Bagaimana?"


Amman bertanya pada Rachel di suatu pagi yang dingin. Hujan turun semalaman dan masih menyisakan rintik hingga pagi ini.


"Fritz setuju." ujar Rachel sambil memberikan senyum misterius.


"So kita akan berbesan dengan musuh?" tanya Amman seraya tertawa, Rachel pun demikian.


Sementara tak jauh dari situ, Vera terkejut mendengar percakapan diantara keduanya. Apa Amanda akan dijodohkan dengan Fritz, pikirnya.


"Ya, tidak ada salahnya membesarkan ular kecil seperti Maureen. Untuk diberikan pada ular besar seperti Fritz." Rachel kembali berujar.


Vera tak mengerti, ia masih menyelinap di balik tembok dan menguping pembicaraan tersebut.


"Papaaaa."


Maureen tiba-tiba berlarian dari suatu arah dan langsung mendekati serta memeluk Amman. Dengan penuh kepalsuan, Amman pun membalas hal tersebut.


"Papa?. Maureen?" gumam Vera tak percaya.


"Hai, Rachel." ujar Maureen pada Rachel.


"Hai." ujar Rachel tak kalah palsunya dengan Amman.


"Pa, aku mau beli tas Chanel yang terbaru." Maureen merengek pada Amman.


"Ya sudah nanti kita beli."


"Hari ini ya, pa." ujarnya kemudian.

__ADS_1


"Iya, kamu tadi dari mana?"


"Dari kampus, sengaja mampir buat minta persetujuan papa soal tas itu. Kalau cuma ditelpon, nanti takutnya nggak dikasih. Kalau aku datangi gini kan, minimal bisa ngambek kalau nggak dikasih."


Amman tertawa. Dalam hatinya ia mengumpat, betapa liciknya perempuan ini.


"Pasti dikasih koq." ujar Amman kemudian.


"Yeay, asik." Maureen berujar dengan gembira.


"Ya udah, aku mau ke salon dulu." ujarnya lagi.


"Sana pergi, ke salon paling bagus ya." ujar Rachel.


"Ok, bye papa. Bye Rachel."


"Bye." jawab mereka berdua diwaktu yang nyaris bersamaan.


"Maureen."


Vera menyusul Maureen hingga ke halaman parkir kantor.


"Ada apa, ya?" tanya Maureen pada Vera. Ia memperhatikan wanita hamil itu dari atas ke bawah.


"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Vera pada Maureen.


"Maksudnya apa ya mbak?" Maureen balik bertanya.


"Kamu siapanya Amman?" tanya Vera kemudian. Maureen menangkap sesuatu dimata Vera.


"Kenapa memangnya?" tanya Maureen lagi.


"Kenapa kamu memanggil Amman, dengan sebutan papa?"


"Ya emang papa saya, kenapa?"


"Dari benih yang dia tabur sembarangan." Maureen tersenyum lalu buru-buru membuka pintu mobil.


"Kamu pikir, kamu bisa membodohi Amman?"


"Mbak pikir, mbak bisa membodohi Rachel?"


Maureen menatap perut Vera yang membuncit lalu menatap mata wanita itu. Maureen pun tersenyum disalah satu sudut bibirnya, lalu masuk ke dalam mobil.


"Maureen saya hanya mau bilang sama kamu, Amman itu berbahaya. Kamu belum tau dia siapa."


Maureen tak peduli, ia kini meninggalkan Vera sendirian. Vera pun lalu buru-buru mengambil handphone dan mencoba menghubungi Amanda.


"Hallo, Amanda."


"Ini siapa?" tanya Amanda kemudian, ia tidak menyimpan nomor kontak Vera. Hanya Vera yang sempat meminta kontak Amanda dan menyimpannya.


"Ini Vera, Man." ujarnya Kemudian.


"Vera yang di kantor papa?"


"Iya."


"Oh iya, ada apa Ver?" tanya Amanda.


"Man, Maureen kayaknya ngaku-ngaku jadi anak papa kamu deh."


"Ngaku jadi anak papa?. Maureen?"


"Iya."

__ADS_1


Vera lalu menceritakan apa yang ia lihat dan dengar barusan. Amanda pun terkejut mendengar itu semua.


"Jadi menurut kamu, papa berencana memanfaatkan Maureen untuk kepentingan dia?"


"Iya, kayaknya papa kamu dan Rachel mau menjual Maureen kepada saingan bisnis mereka. Supaya mereka bisa berkoalisi."


Amanda terdiam, jujur hatinya mulai resah.


"Aku tau hubungan kamu sama Maureen itu buruk, tapi sebagai sesama perempuan. Apa kamu tega kalau dia jadi korban ketamakan Rachel dan papa kamu?"


Amanda makin diam.


"Dulu, aku nggak peduli papa kamu mau ngapain aja. Tujuan aku berhubungan sama dia, supaya aku punya posisi kuat di kantor. Supaya aku bisa mendapatkan warisan harta dia. Tapi setelah aku hamil, semua berubah gitu aja. Tiba-tiba aja aku nggak mau bersikap jahat, aku nggak mau anakku punya ibu yang licik." lanjutnya lagi.


"Ver, kamu nggak jahat koq. Udah, Maureen biarin aja. Lagian bukan salah kita kan, ngapain coba dia ngaku-ngaku jadi anaknya papa. Pengen harta, pengen uang?"


"Nggak tau, Man. Yang jelas aku takut aja kalau sampai dia jadi korban kebiadaban Rachel dan juga papa kamu."


Amanda menghela nafas, jujur ia juga khawatir akan hal ini. Namun mau bagaimana lagi, ini semua adalah perbuatan Maureen sendiri.


"Ya udah, nanti aku coba bicara sama Maureen." ujar Amanda kemudian.


"Makasih ya, Man." ujar Vera.


"Iya, udah nggak usah dipikirin. Kamu kan lagi hamil sekarang."


Vera tersenyum penuh haru, sejak hamil ia memang menjadi lebih sensitif.


"Ya udah, Man. Aku balik kerja dulu ya." ujar Vera kemudian.


"Ok, bye."


"Bye."


Vera menutup telpon dan hendak melangkah, namun kemudian ia membeku. Tatkala menyaksikan Amman yang berdiri dihadapannya.


"A, Amman?"


"Plaaaak." sebuah tamparan keras mendarat di wajah wanita itu.


"Plaaaak."


Air mata Vera seketika jatuh. Apalagi tak lama kemudian, Amman menjambak rambutnya dengan kasar.


"Sekali lagi kamu ikut campur urusan saya, saya akan pecat kamu dari kantor dan saya akan siksa kamu habis-habisan.


Amman menarik rambut Vera, tak lama kemudian ia pun mendorong wanita itu hingga nyaris terjatuh.


Amman berlalu, Vera kini menangis ditempatnya berdiri. Ia bahkan tampak begitu tersedu-sedu. Tadinya ia berencana kembali ke ruangannya untuk bekerja, namun kini ia melangkah keluar dari kantor dan bermaksud meninggalkan tempat itu.


"Hey, kamu kenapa?" Seorang pria tua menghampiri Vera yang tengah menangis, sambil mencoba mengorder taxi online.


"Ryan?"


Vera mengenali laki-laki itu sebagai saingan bisnis Amman, mereka juga pernah bertemu beberapa kali. Saat Ryan minta diantarkan menuju ruangan, tempat dimana Amman berada.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Ryan padanya.


Vera menggeleng, namun Ryan melihat memar di wajah dan sudut bibir wanita itu. Ia paham jika wanita itu baru saja mendapatkan kekerasan fisik. Dan tidak menutup kemungkinan, ia mendapatkan kekerasan secara verbal pula.


"Ayo ikut saya, saya antar kamu pulang." ujar Ryan kemudian. Vera terdiam menatap pria itu, taxi online yang ia pesan pun tiba-tiba membatalkan.


"Ayo." ajak Ryan lagi.


"Saya nggak jahat, Vera." ujarnya lagi.

__ADS_1


Vera mengangguk lalu mengikuti langkah Ryan dan masuk kedalam mobil pria itu.


__ADS_2