Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Keluarga Baru


__ADS_3

Amanda sedang berada di rumah ibu Arka, dan saat ini ia sedang membantu mertuanya itu memasak di dapur. Karena katanya sebentar lagi, Jordan akan mampir. Untuk menemui keluarga sang Ayah.


Arka dan ayah tirinya sendiri, saat ini tengah berada di kantor polisi, guna memberikan keterangan yang mereka ketahui soal Maureen. Sementara si kembar, kini tengah berada didepan rumah. Bersama Rianti dan geng bu Mawar.


"Hoayaaa."


"Hekheee."


"Eheeee."


"Anak-anakmu suaranya besar sekali ya sekarang." ujar sang ibu mertua. Ketika telah beberapa kali mereka mendengar suara si kembar, yang tengah berteriak dan tertawa di luar rumah


"Iya bu, kadang Amanda sama Arka suka kaget jam 3 pagi. Mereka teriak-teriak, ketawa-tawa. Pas di samperin, pura-pura kalem."


"Jam segitu mereka bangun?"


"Iya kadang nggak nangis, nggak apa. Kayak lagi bercanda doang berdua. Tapi kadang ada kalanya nangis, kalau popok mereka penuh. Pernah juga nggak tau ngetawain apa, saking gelinya. Ketawa mereka tuh jadi mirip kayak ketawa kuntilanak. Kan Amanda sama Arka kaget ya, denger itu tengah malem."


Ibu Arka tertawa geli, sambil mengecek gorengan tempe nya.


"Jangan lupa kamar anakmu selalu didoain."


"Iya, bu. Selalu." ujar Amanda.


"Nggak perlu dipasangkan jimat-jimat, yang penting di doakan, dibacakan ayat-ayat suci."


"Iya, bu. Rutin koq, kadang Arka, kadang Amanda, kadang kami berdua."


"Oh ya, si Jordan nya, udah jalan kesini bu?" tanya Amanda.


"Sudah, tadi papa mu barusan WA ibu. Arka sama papa mu juga bentar lagi pulang."


"Oh." Amanda manggut-manggut.


Tak lama mereka pun mempersiapkan segala sesuatu di meja makan. Beberapa saat berselang, Arka dan ayah tirinya tiba dirumah. Mereka sempat berbincang sebentar dengan geng bu Mawar diluar, sambil bercanda. Azka dan Afka mengamuk saat dibawa kedalam, mereka masih ingin bersama geng bu Mawar. Namun mau tidak mau, mereka harus minum ASI dan mungkin tidur siang.


Waktu berlalu.


Sebuah mobil mendarat didepan rumah, jantung semua orang dilanda ritme yang begitu cepat. Sesosok tubuh tinggi tampan, keluar dari dalam mobil tersebut. Ia menatap pada ayahnya yang kini berdiri di muka pintu, tak lama kemudian Ningsih keluar mendampingi sang suami.


Jordan datang menghampiri lalu memeluk ayahnya itu dengan erat, isak tangis haru pun terdengar disana.


"Ini istri papa." ujar Attar memperkenalkan Ningsih pada sang putera. Ketika mereka telah sedikit tenang dan sama-sama menyeka air mata.


Jordan pun lalu mencium tangan Ningsih dan memeluk wanita itu. Tak lama ia pun dipersilahkan masuk, lalu Arka mendekat.


"Ini Arka saudara kamu. Ini Amanda istrinya Arka dan itu Rianti, keponakan papa. Dua bayi itu anaknya Arka dan Amanda, keponakan kamu." Attar berujar pada Jordan.


Jordan tersenyum, ia dan Arka lalu berpelukan barang sejenak. Tak lupa juga ia menyapa Amanda dan Rianti.


"Hoayaaa."

__ADS_1


"Eheeee."


Si kembar yang tengah berada di baby Walker itu pun menyapa sang paman. Membuat Jordan tertawa dan kian menangis haru diwaktu yang bersamaan.


"Sudah, jangan nangis lagi." ujar Ningsih sambil menepuk bahu pemuda itu.


"Eee."


Mata Jordan menjelajah ke segala arah.


"Apa saya punya saudara lain?" tanya nya kemudian.


Ibu Arka tersenyum.


"Ada tapi sudah meninggal."


"Oh." Jordan terkejut.


"Ibu dan papa kamu sempat mempunyai anak 3 kali. Tetapi semuanya nggak sampai dilahirkan, ibu selalu keguguran. Mungkin memang bukan rejeki kami." ujar ibu Arka lagi.


Amanda pun baru mengetahui hal tersebut, namun ia tak ingin banyak bertanya. Mereka lalu terlibat obrolan panjang di meja makan, mencoba menjalin keakraban dengan anggota baru di keluarga mereka tersebut. Jordan pun ternyata adalah orang yang santai saja, ia malah kelihatan senang memiliki keluarga.


Selama hidup dengan Fritz, ia bahkan tak mengerti apa itu kebersamaan. Fritz adalah pamannya, namun terasa seperti orang lain. Ia bersikap layaknya tuan besar, yang harus melulu di hormati oleh Jordan.


Kini di tengah-tengah keluarga barunya, Jordan merasakan sebuah kehangatan dan juga cinta.


***


"Nad, tunggu...!"


"Nad, kenapa sih?"


Nino mencekal lengan Nadine dan menghentikan gadis itu.


"Lepasin...!" ujar Nadine kemudian.


"Ya kenapa, aku salah apa. Ngomong...!"


Nadine diam.


"Udah lama banget aku nyariin kamu, bahkan aku datangi rumah orang tua kamu beberapa kali. Mereka selalu menutupi keberadaan kamu, ada apa sebenarnya?. Kamu nggak ada omongan, nggak ada apa. Tau-tau ngilang gitu aja. Kamu pikir aku ini apa?."


Nino mengoceh panjang lebar pada Nadine. Betapa tidak, ia telah begitu kesal pada gadis itu. Cukup lama Nadine ghosting tanpa kabar berita. Nino pun telah melakukan upaya supaya bisa bertemu dan berbicara, namun Nadine selalu menghindar.


"Kalau mau udahan, ngomong. Seenggaknya kasih aku alasan yang masuk akal. Karena aku ngerasa nggak ada masalah sama kamu dan hubungan kita baik-baik aja."


Nadine menunduk dalam.


"Aku mau udahan, pak." ujarnya dengan suara berat.


Nino terpukul mendengar semua itu, namun ia berusaha bersikap tegar. Ansel yang ikut mendengar hal tersebut pun hanya bisa diam.

__ADS_1


"Ya udah, kasih aku alasan kenapa. Kenapa kita harus mengakhiri semua ini?"


"Aku..." Nadine menelan ludah, seakan kata-katanya tercekat di tenggorokan.


"Aku di diagnosa menderita lupus." ujarnya seraya makin menunduk.


"Lantas?" tanya Nino kemudian.


"Aku takut nantinya nggak bakal bisa kasih keturunan buat bapak, karena penyakit itu mempengaruhi."


Nino menghela nafas kesal.


"Nad, orang dengan lupus itu banyak yang punya anak. Kamu menderita autoimun bukan kelainan nggak punya rahim."


"Iya tapi setidaknya itu akan mempengaruhi, aku nggak mau menikah kalau hanya untuk dicampakkan pada akhirnya. Karena aku nggak berguna?"


"Nggak berguna apanya, kamu pikir kamu barang, mesin gitu?"


"Ya kalau nggak bisa punya anak, percuma. Bapak juga pasti ninggalin aku suatu saat nanti?"


Emosi Nino naik ke ubun-ubun, namun berusaha keras ia tahan. Ia tak suka pada seseorang yang buru-buru menyimpulkan sesuatu atas dirinya, tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Emang aku ada bilang, mau ninggalin kamu. Kalau seandainya nanti kita nggak punya anak?"


Nadine terdiam.


"Kamu nanya aja nggak ke aku, main bikin kesimpulan aja."


"Ya aku takut, daripada aku diceraikan nantinya. Lebih baik aku nggak usah nikah sama sekali. Setidaknya aku nggak ngerasa sakit-sakit banget, kalau hubungan ini udah kandas sebelum kita lebih serius lagi."


"Nad, kita masih bisa berjuang nantinya. Ada banyak cara untuk mendapatkan anak. Kalaupun kamu emang nggak bisa hamil dan melahirkan, ya sudah. Kita bisa adopsi, atau nggak punya anak juga nggak apa-apa. Itu bukan masalah besar buat aku. Aku nggak suka kamu ngilang-ngilang tanpa kabar kayak gini. Kamu pikir aku nggak khawatir, nggak kepikiran?"


Kali ini Nadine menangis, Nino lalu memeluk gadis itu dengan erat.


"Lain kali apa-apa itu ngomong. Seneng, sedih, sehat, sakit. Kasih tau ke aku, biar aku nggak salah menduga. Jangan giring orang supaya salah paham sama kamu."


Nadine mengangguk, Nino kian memeluknya dengan erat.


"Jangan aneh-aneh lagi." ujar Nino kemudian.


Nadine kembali mengangguk, tak lama setelahnya ia pun melepaskan pelukan.


"Aku pulang dulu ya, soalnya mau nganterin pesanan mama."


"Kamu dari mana tadi?"


"Nih, dari beli kue kering buat arisan mama ntar sore."


"Mau aku anter?"


"Aku bawa mobil."

__ADS_1


"Ya udah, hati-hati." ujar Nino lalu mencium kening gadis itu.


Nadine berpamitan, tak lupa ia melambaikan tangan pada Ansel dan Ansel pun membalasnya.


__ADS_2