Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Hari Azka dan Afka


__ADS_3

"Hoaaaa."


"Brzrzrzrzr."


Azka dan Afka berceloteh dalam gendongan ayah dan ibunya. Sesekali mereka menyemburkan ludah, lalu kembali tertawa.


"Dek, busuk tangan mama. Kamu ludahin terus."


Amanda mengoceh pada salah bayi yang ia gendong. Membuat Arka yang berjalan disisinya pun, tertawa.


"Mama mah suka ngoceh, ya dek ya?" Arka bertanya pada Azka, yang kini berada dalam gendongannya.


"Hoaaaa." Azka seakan menjawab.


"Hoa, hoa." Amanda kian sewot.


"Bisanya hoa-hoa doang." gerutunya lagi. Arka makin terkekeh.


"Amanda, Amanda. Kamu tuh kayak bocil umur 17 tahun yang punya anak, terus kena baby blues tau nggak?"


Amanda tertawa.


"Abis, aku di ludahin mulu."


"Kena ludah papanya mau, di seluruh badan malah. Masa kena ludah anaknya nggak mau." goda Arka.


Amanda kian tertawa.


"Papa sama anaknya beda, kalau papanya bikin nikmat."


"Kalau anaknya?"


"Bikin emosi."


Arka kembali tertawa.


"Sembur lagi dek, ayo...!"


"Kamu tuh, ngajarin anak nggak bener." Amanda memukul lengan Arka. Tempat di mana ia sering melayangkan pukulan, bahkan sejak semasa hamil dahulu. Lagi dan lagi Arka tertawa.


"Ka, pengen soto ayam deh." ujar Amanda pada suaminya.


"Ya udah, didepan situ ada tuh." ujar Arka.


Mereka berjalan menuju tempat yang dimaksud, sebuah kedai makan dengan menu soto ayam dan lain-lain. Kedua anak mereka tetap berada dalam gendongan. Arka dan Amanda ingin menjahili kedua bayi itu hari ini.


Ketika soto ayam dan nasi yang mereka pesan tiba, Amanda dan Arka langsung makan.


"Hmm, enak."


"Sluuurp."


Azka dan Afka memperhatikan kedua orang tua mereka dengan mulut menganga.


"Hmm, lezaaat." ujar Amanda seraya melirik bayinya. Azka dan Afka tampak bengong.


"Mau?" Arka dan Amanda bertanya serentak pada si kembar, sambil menyodorkan sendok berisi nasi dan juga daging ayam.


"Hoayaaa."


Kedua bayi itu tampak mangap, Amanda dan Arka kian mendekatkan sendok itu. Ketika mereka sudah antusias, Amanda dan Arka kompak memakan makanan tersebut. Hingga si kembar pun merasa di bohongi.


"Hekheee." Keduanya menangis, Arka dan Amanda malah tertawa-tawa.

__ADS_1


"Wuuu, nggak dikasih wuuuu. Nggak boleh, kamu belum boleh mamam nasi utuh." ujar mereka berdua meledek si kembar.


Si kembar pun kian kencang menangis, namun Arka dan Amanda malah lanjut makan. Melihat kedua orang tuanya kembali makan, kedua bayi itupun lalu terdiam dan kembali memperhatikan.


"Kasian, Man. Ampe nunduk gitu tuh." ujar Arka memperhatikan Afka yang kini menunduk dalam pangkuan Amanda, dengan mata yang penuh sisa tangis.


"Tuh si Azka juga, kayak tokoh yang tersakiti." ujar Amanda. Kedua orang tua sengklek itu pun sama-sama tertawa.


"Bersyukur banget ya, Man. Mereka berdua ini jarang sakit, nggak rewel. Anak baik ya dek, ya."


Arka mengelus kepala bayi yang ada dalam gendongannya. Amanda tersenyum dan ikut mengelus kepala bayi yang ada dalam gendongannya. Mereka kini berada di sebuah supermarket sambil mendorong troli.


"Iya, paling abis imunisasi doang rewel. Sisanya ya kamu liat aja, bangun malem pun mereka jarang banget nangis." ujar Amanda.


"Ada beberapa hari yang lalu tuh, mereka bangun terus teriak-teriak." ujar Arka seraya memasukkan popok bayi ke dalam troli.


"Oh ya, kapan?" tanya Amanda.


"Pas hari Rabu deh kalo nggak salah, yang kamu tidur nyenyak banget kayak orang pingsan."


"Emang aku tidur nyenyak banget?" tanya wanita itu lagi.


"Iya, orang aku bangunin malah ngorok kamu."


Amanda tertawa


"Kenapa emangnya mereka?" tanya nya lagi.


"Bangun, hoa-hoa gitu. Tapi gantian."


"Oh ya?"


"Iya."


"Nadanya bener-bener yang pelan dulu, terus kenceng. Pelan lagi, terus kenceng lagi. Aku intip kan ke kamar mereka."


"Mereka posisinya saling noleh, berhadapan gitu. Jadi kayak janjian, si Azka dulu bersuara, terus gantian Afka. Gantian lagi abis itu."


"Mereka teriak gitu?"


"Iya kayak manggil. Makin nggak didenger, makin kenceng. Pas udah mau nangis, aku masuk. Langsung dah tuh ketawa-ketawa mereka."


"Ternyata laper?" tanya Amanda.


"Berak." ujar Arka.


Amanda tertawa.


"Ya abis itu laper juga sih kayaknya. Selesai ganti popok, aku kasih ASI. Aku ajak main bentar, abis itu aku tinggalin. Nggak lama tidur, nggak ada nangis-nangis."


"Anak mama sama papa, nggak ada yang bikin repot ya dek ya?"


"Hoaaaa."


"Dijawab tuh." ujar Arka.


Amanda kembali tertawa.


Usai berbelanja, Arka dan Amanda mengajak anaknya bermain mandi bola. Arka tak takut lagi dilihat oleh netijen yang super kepo, ia hanya ingin menjadi ayah yang normal hari ini.


Beruntung di mall tersebut, para pengunjungnya tak terlalu norak apabila melihat artis tengah berjalan. Mereka hanya melihat sejenak lalu pergi, atau bahkan pura-pura tidak mengenali sama sekali.


Arka dan Amanda berinteraksi dengan anak-anak mereka, seolah anak-anak itu sudah besar. Malah Arka dan Amanda yang kini justru terlihat seperti bocah.

__ADS_1


"Ka, kita malu-maluin nggak sih?" tanya Amanda kemudian. Mereka masih berada ditengah kolam bola beserta kedua bayi mereka.


"Sebenarnya sih, iya. Malu-maluin banget, tapi bodo amat." ujar Arka kemudian.


Mereka pun kembali bermain. Bahkan setelah itu mereka mengajak Azka dan Afka ketempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Seperti taman, restoran, dan lain sebagainya.


Hingga kemudian si kembar pun tertidur dalam gendongan ayah dan ibunya. Arka dan Amanda sedikit beristirahat, mereka kini duduk pada dua buah ayunan yang terdapat diatas rooftop sebuah hotel. Mereka tampak sedang menikmati es krim.


"Ka, nanti jadi kan kerumah ibu?" tanya Amanda pada Arka.


"Ya jadi dong, ibu aja udah masak. Masa kita nggak jadi dateng. Yang ada di lempar panci kita, dari sono kesini melayang."


Amanda tertawa.


"Kenapa ya, emak-emak itu suka banget ngelempar panci?"


"Ntar juga kamu, kalau anak-anak udah gede. Bakalan expert juga ngelempar mereka. Apalagi kalau udah remaja tuh, udah mulai keluar rumah ya kan. Pasti kamu nanti bakalan ngomel mulu. Kalau mereka nggak denger nih, gas tiga kilo melayang."


Amanda nyaris tersedak karena menahan tawa, ia tengah berusaha menghabiskan es krimnya yang mulai meleleh.


"Terus kamu jadi bapak-bapak apa?"


"Jadi bapak-bapak nggak bersalah, yang ikut jadi korban kena omel sama lemparan."


"Hahaha." Amanda kian tak kuasa menahan tawa.


"Jangan sampe deh, aku semenyebalkan itu." ujarnya kemudian.


Arka dan Amanda terus memakan es krim yang ada ditangan mereka, sambil menatap lepas ke depan. Hingga tanpa mereka sadari jika kedua anak mereka telah bangun sejak tadi. Dan kini mereka menjilati lelehan es krim yang jatuh ke bibir mereka.


"Heeeh."


Amanda setengah berteriak, ketika menyadari apa yang terjadi. Arka pun sama kagetnya, ketika mendapati Azka yang menjulurkan lidah dan memakan lelehan es krim.


"Nggak boleh."


Mereka berdua berujar dengan nada panik, sambil mengelap bibir anak mereka dengan tangan.


"Eheeee."


Azka dan Afka tertawa setelah menjulurkan lidah.


"Aha, ehe, aha, ehe. Nggak boleh dimakan, kalian belum waktunya makan beginian." ujar Arka dan Amanda diwaktu yang nyaris bersamaan.


"Eheeee."


"Duh Ka, gimana ini?. Aku takut mereka kenapa-kenapa." ujar Amanda dengan nada panik.


"Aku juga takut, tapi kayaknya cuma sedikit deh tadi."


"Duh, kalian tuh ya. Pantes aja anteng banget, bukannya tadi kalian tidur?" Amanda mulai mengoceh.


"Eheeee."


Lagi-lagi kedua bayi itu tertawa, Arka dan Amanda kini sudah membuang es krim mereka ketempat sampah.


"Enak?" tanya Arka kemudian.


"Eheeee."


Arka dan Amanda menggelengkan kepala, di sela-sela kecemasan mereka yang masih tersisa.


"Kita harus lebih hati-hati, Ka."

__ADS_1


"Iya." ujar Arka.


Usai dari tempat tersebut, Amanda dan Arka membawa bayi mereka kerumah orang tua Arka. Disana mereka disambut dengan pelukan yang hangat, mereka semua tampak bahagia. Tanpa mereka sadari bahwa di suatu sudut, Ryan tengah memperhatikan mereka dari dalam mobil.


__ADS_2