Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Relax


__ADS_3

Arka menemani Amanda ke dokter kandungan, ini sudah hampir masuk bulan ke sembilan. Itu artinya sebentar lagi, mereka berdua akan berganti status menjadi orang tua.


"Gimana dok?" tanya Arka pada dokter yang memeriksa.


"Kondisinya bagus, posisi bayi juga bagus. Cuma ibunya agak tegang ya, apa ada masalah?"


"Sedikit sih, dok." ujar Amanda.


"Cobalah rileks dulu, istirahat. Atau liburan ketempat terdekat, staycation mungkin dimana. Jauhin handphone, biar nggak runyam."


Arka dan Amanda saling pandang. Beberapa hari ini mereka memang sangat tegang sekali, karena masalah yang bertubi-tubi hadir di hidup mereka. Hampir tak ada waktu untuk santai sedikitpun, apalagi memikirkan sebuah liburan.


"Denger kan kata dokter tadi, ibunya tegang."


Arka berujar ketika mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Kamu jangan banyak pikiran dulu, ya. Prioritaskan dulu anak-anak kita. Aku tau masalah kamu besar, tapi pilihlah yang paling penting menurut kamu. Kalau aku sih cuma saran, pentingkan dulu diri kamu sama anak-anak. Kalau kamu sehat, anak-anak sehat, mikir kedepannya juga lebih enak."


Amanda mengangguk.


"Iya, Ka." jawabnya kemudian.


"Kita pergi aja yuk." Arka tiba-tiba memberikan ide.


"Mau kemana?" tanya Amanda.


"Ya deket-deket sini aja, Bogor kek."


"Emang kamu nggak kerja?" tanya Amanda lagi.


"Besok kan tanggal merah, lusanya emang udah libur."


"Mau?" lagi-lagi Amanda bertanya pada suaminya.


"Ya aku nanya kamu, kamu nya mau nggak?" Arka menatap Amanda.


"Ya udah, mau." ujar Amanda kemudian.


"Ya udah, kita pulang dulu, beresin baju dan cari penginapan di online travel. Ok?"


Amanda tersenyum lalu mengangguk. Arka membawa istrinya pulang kerumah, tak lama setelah itu mereka pergi menuju ke daerah puncak Bogor. Arka menyewa resort pada sebuah ketinggian yang menyajikan pemandangan menakjubkan.


"Ka, uang dari mana kamu sewa penginapan ini?. Kan kamu belum gajian." tanya Amanda pada suaminya, seraya berjalan ke arah anjungan yang menjorok ke pinggiran bukit.


Dari sana, Amanda dapat memandang rumah-rumah serta persawahan yang ada dibawah. Sungguh sebuah pemandangan yang amat menyejukkan hati.


"Man, kan aku freelancer juga. Aku punya sumber dana lain, nggak usah khawatir."


"Aku tuh takut kamu nggak pegang uang, terus maksain demi aku. Aku nggak apa-apa koq, kalau kita belum bisa jalan-jalan."


Arka menghela nafas lalu mendekat. Ia kini membelai wajah istrinya itu.


"Tenang aja ya, rejeki itu selalu ada koq. Asal dicari." Arka tersenyum pada Amanda, begitupun sebaliknya. Tak lama kemudian terdengar perut Amanda berbunyi.


Keduanya terdiam, saling tatap, lalu tertawa.

__ADS_1


"Nih anak nggak bisa kalem dikit ya, bikin malu mamanya deh di depan cowok ganteng." Amanda berujar kepada bayi-bayi yang ada didalam perutnya. Arka kini tertawa seraya memberi usapan lembut pada mereka.


"Kalian ya dek, makanan mama jangan dimakan semua. Laper tuh mamanya, malu-maluin mama nih. Mamanya cantik-cantik laper mulu jadinya, gara-gara kalian."


Keduanya tersenyum lalu saling memberi kecupan di bibir pasangan mereka.


"Makan, yuk." ajak Arka kemudian.


Amanda pun mengangguk, Arka memesan makanan pada pihak penginapan. Ia mematikan handphone, begitupula dengan Amanda. Setidaknya untuk hari ini dan besok, mereka ingin melarikan diri sejenak dari kepenatan. Semua demi kesehatan mental Amanda serta bayi-bayi mereka.


Karena jika pikiran terlalu tegang, maka itu bisa berdampak buruk bagi kondisi bayi yang ada didalam. Tak lama kemudian, makanan tiba. Arka dengan sabar menyuapi istrinya.


"Aku sendiri aja, Ka. Kamu makan gih."


"Nggak apa-apa, aku lagi pengen nyuapin kamu."


Amanda menatap Arka lalu tersenyum.


"Kamu tuh udah ganteng, baik lagi."


Arka tersenyum dan sedikit menunduk. Biar kata Arka adalah laki-laki, Amanda tau betul jika pujian adalah hal yang paling membuat suaminya itu menjadi lemah. Pipi pemuda berusia 21 tahun itu selalu bersemu merah, tiap kali Amanda memberikan pujian padanya. Seolah ia tak terbiasa dengan kata-kata itu.


"Jangan gitu, Man. Kamu mujinya kelewatan. Harusnya sampe Kemang village malah nyelonong ke holywings."


"Itu kelewatannya dikit, Ka. Nyelonong tuh sampe ke Ciledug, itu baru mantap. Lewat Cipulir dah tuh." ujar Amanda sewot. Sementara Arka kini tertawa.


"Nih, Aa'k lagi." ujar Arka. Amanda kembali mangap untuk mendapatkan makanannya.


"Ka."


"Bentuk aku udah ga karuan ya sekarang?" tanya Amanda seraya mengunyah makanannya.


"Nggak, biasa aja."


"Malu nggak sih kamu, punya istri udalah bentukannya sekarang kayak paus. Kalau makan mangapnya gede banget, banyak lagi makannya."


Arka tertawa, begitupula dengan Amanda.


"Nggak malu, koq. Gemes aja sih, lucu."


Amanda tersenyum, entah mengapa percakapan ini membuatnya begitu bahagia. Usai makan, Arka melayani istrinya dengan baik. Ia memberikan pijatan di sekujur tubuh Amanda, hingga wanita itu tertidur lelap.


Setelah itu, ia meminta satu paket bunga-bungaan pada petugas resort untuk kemudian ia taburkan kedalam bathub. Saat Amanda bangun, ia meminta istrinya itu untuk berendam disana dengan air hangat dan juga aroma terapi. Amanda benar merasa dimanjakan seperti ratu. Setelah mandi, ia pun kembali tertidur.


Malam harinya, setelah cukup istirahat. Amanda terbangun sekitar pukul 02:15 dini hari. Ia tak mendapati Arka disampingnya. Perlahan gorden pun tersibak. Dari kaca, Amanda bisa melihat Arka yang tengah berada di luar. Berdiri menghadap ke arah view yang disajikan tempat itu. Pada lampu-lampu yang terang nun jauh dibawah sana.


"Ka." Amanda menyusul Arka.


Arka menoleh dan mengulurkan tangan, untuk menangkap pinggang istrinya. Amanda mendekat dan kini ia berada dalam pelukan Arka.


"Liat deh kebawah." ujar Arka.


"Waw."


Amanda berujar dengan penuh takjub. Ia baru tahu jika malam hari, tempat ini menjadi lebih indah. Tadi ia tertidur diwaktu yang masih agak sore.

__ADS_1


"Tenang banget ya, Ka. Aku suka tempat ini." ujarnya kemudian.


Arka mencium pipi Amanda, keduanya kini sama-sama melihat pemandangan. Tak ada handphone, tak ada pesan yang mesti di urusi, tak ada sosial media yang mesti dipedulikan. Dan yang terpenting tak ada kegaduhan kantor, yang mesti menyita perhatiannya.


Hidup yang sebenarnya kini ada didepan mata, tinggal menikmati dan mensyukurinya saja. Beberapa saat mereka habiskan untuk berbincang. Sampai kemudian,


"Masuk yuk, dingin." ujar Arka kemudian.


"Kamu duluan aja, aku bentar lagi." ujar Amanda.


Arka melangkah menuju pintu masuk.


"Ka, aku udah nggak mau sama kamu. Lebih baik kamu lepasin aku."


Arka menghentikan langkahnya dan tersenyum Ia tau itu merupakan sebuah kode. Arka pun lalu berbalik.


"Apa kamu bilang?. Hmm?"


Arka mendekati Amanda, wanita itu membuat gerakan seolah memberontak. Arka menahan laju tubuhnya dan memberi wanita itu ciuman paksa.


"Lepasin aku, Arka."


"Bilang sekali lagi?" tangan Arka mulai menjelajah dan bergerilya di area-area sensitif istrinya.


"Aku nggak mau sama kamu."


Arka mengunci kata-kata istrinya dengan ciuman. Tak lama setelah itu di balikkannya tubuh istrinya itu, hingga Amanda berpegang pada pinggiran pagar balkon atau anjungan.


"Kamu perempuan yang harus diberi pelajaran."


Arka memulai aksinya. Ia melepas bagian penutup di bawah dari dirinya dan,


"Aaakkkh."


"Hmmmh."


"Arkaaaa."


Ia mulai membuat istrinya terhentak-hentak.


"Arkaaa."


"Ini akibatnya kalau kamu mau pergi dari aku. Rasakan ini Amanda, kamu tau aku cinta sama kamu. Kamu hamil karena perbuatan aku, ingat itu."


Arka sedikit menjambak rambut istrinya, namun tak terlalu kasar. Hanya sekedar penambah greget suasana.


Amanda terus meracau sambil menyebut-nyebut nama suaminya itu. Mereka berdua pun larut dalam buai kehangatan yang begitu nikmat.


Amanda memang suka adegan seperti ini, ia suka ketika didominasi oleh suaminya. Sedang Arka, melihat penolakan Amanda sebagai gerakan yang begitu sexy. Hingga membuatnya kian bergairah dan merasa dirinya adalah laki-laki perkasa.


Malam merayap menjemput pagi, Keduanya berteriak panjang hingga menimbulkan gema. Usai merasakan sesuatu yang hangat mengalir didalam sana, keduanya kini sama-sama tersenyum puas.


"Kita didenger orang nggak ya, Ka?" tanya Amanda kemudian. Arka tertawa seraya masih mengatur nafasnya.


"Paling besok kita malu, tapi yang penting seneng dulu." ujarnya kemudian.

__ADS_1


Arka kian mempererat pelukannya, sementara Amanda merasa semakin rileks.


__ADS_2