Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 99 - Welcome Baby Arshaka


__ADS_3

Jonathan melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, dia seolah tidak mempedulikan apapun, dia hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah sakit karena melihat keadaan putrinya yang tengah menahan rasa sakit, membuatnya tidak tega. 


"Mamak, sakit.." Rengek Airyn, membuat Mirna juga ikut khawatir apalagi mendengar rengekan menantu nya. Dia terpaksa meninggalkan Nana yang masih tertidur karena tak mungkin dia meninggalkan Airyn, sedangkan Airyn sangat manja padanya. Wanita itu pasti sangat membutuhkan dirinya. 


"Sabar ya, sayang. Nanti juga kalau adik bayi nya udah keluar, gak bakalan sakit lagi kok." Ucap Mamak Mirna sambil mengusap-usap perut Airyn dengan lembut. 


Juna? Jangan tanyakan bagaimana keadaan Juna. Dia sudah pucat pasi saat ini, tadi saja dia sempat mengompol di celana. Untung nya Mamak sadar dan meminta putranya itu untuk segera berganti pakaian sebelum pergi ke rumah sakit. Kalau tidak, mungkin satu mobil ini di penuhi oleh bau pesing. 


"Jun, peluk dan tenangkan istrimu. Mamak mau ambil minyak kayu putih dulu." Ucap Mamak Mirna. Juna pun dengan segera memeluk sang istri, juga membisikkan kata-kata yang menenangkan untuk sang istri.


"Sayang, sakit ya?"


"Heem, sakit banget yang."


"Tapi sebentar lagi kita akan bertemu sama anak kita, kamu pasti senang kan?" Tanya Juna sambil mengusap-usap puncak kepala Airyn. Tangan nya terus mengusap perut buncit Airyn. 


"Iya, sebenarnya aku gak sabar pengen ketemu sama anak kita. Tapi aku gak tahu kalau rasanya bakalan sesakit ini, sayang."


"Kamu wanita yang kuat, pasti bisa melewati ini semua. Berjanji sama aku, kalau kamu bakalan kuat, sayang."


"A-aku gak bisa janji, yang. Sekarang saja, rasanya aku sudah ingin menyerah." Lirih Airyn membuat Juna gemetar. Sungguh, dia tidak bisa melihat istrinya yang lemah begini. Sehari-hari, dia selalu melihat sosok wanita yang kuat dan tegar dari Airyn. Tapi sekarang, Airyn sedang menunjukkan sisi lemahnya dan Juna tidak tahan melihat hal itu.


"Tidak, kamu wanita yang sangat kuat. Aku percaya kalau kamu bisa melewati ini semua, sayang."


"Aku akan mengusahakan nya, sayang. Tolong tetap berada di samping ku ya?" Pinta Airyn.


"Tentu saja, aku akan selalu ada di sampingmu kapanpun. Aku akan menemani mu, sayang. Bersabarlah sebentar lagi." Ucap Arjuna. Dia menggenggam erat tangan Airyn yang basah karena keringat juga terasa dingin karena gugup mungkin. 


Tak berselang lama, akhirnya Jo pun menghentikan laju kendaraan nya itu di parkiran. Dengan cepat, Juna menggendong sang istri ala bridal style. 


"Suster, tolong istri saya. Dia akan melahirkan.."


"Baik, sebentar saya ambil brankar dulu." Jawabnya. Perawat wanita itu langsung berjalan dengan cepat menuju ke sebuah ruangan dan kembali dengan mendorong sebuah brankar. 


Juna pun membaringkan sang istri di atas brankar itu, dengan cepat suster itu pun kembali membawa Airyn ke dalam sebuah ruangan.


"Silahkan tunggu sebentar, kami akan mengecek pembukaan nya terlebih dulu." Ucap perawat itu membuat Juna frustasi karena dia tak bisa ikut masuk untuk menemani sang istri. 


"Tunggu dulu disini, Jun."


"Aku disini saja." Jawab Juna, dia berdiri di depan pintu ruangan itu dengan menggigiti jemari nya. Kebiasaan Juna, jika dia merasa gugup maka dia akan menggigiti jemari nya sebagai pelampiasan rasa gugupnya itu. 


Juna berjalan kesana kemari sambil menunggu perawat keluar dari ruangan, membuat Jonathan yang sedari tadi melihat Juna seperti itu menghembuskan nafas nya dengan kasar. 

__ADS_1


"Duduk, Juna. Kamu ini kesana kemari terus kayak setrikaan, duduk disini."


"Dad.."


"Daddy tahu kalau kamu khawatir juga gugup dengan keadaan istrimu, tapi cobalah untuk tenang. Kamu percaya dengan istrimu, bukan?" Tanya Jo, membuat Juna langsung menjawab dengan anggukan kepala nya.


"Iya, Dad. Juna percaya sama istri Juna."


"Kalau kamu percaya sama istri kamu, sini duduk dan tenanglah. Berdoa untuk keselamatan istri dan juga anakmu." Ucap Jo, membuang Juna akhirnya menurut dan duduk di samping papa mertua nya. 


Jo memang terlihat garang dan tegas, tapi di dalamnya dia sangat lembut. Pria paruh baya itu menepuk pundak menantu nya untuk memberikan sedikit kekuatan. 


"Kau gugup, Juna?"


"Hehe, iya Dad." 


"Tenang saja, jangan takut. Mana ada bapak CEO ngompol di celana cuma karena istrinya mau melahirkan?" Goda Jonathan sambil terkekeh, membuat wajah Arjuna memerah. Sialnya, kenapa pula dia harus mengompol tadi? Tapi ya namanya juga orang panik kan, sampai ngompol di celana juga gak kerasa saking paniknya. 


"Daddy.."


"Hahaha, iya baiklah. Kamu harus kuat, Juna. Kamu tahu kenapa Airyn milih kamu jadi suami nya kan? Karena kamu lebih dewasa di bandingkan usia mu. Tunjukkan hal itu sekarang, jangan takut. Tenang saja, semua orang juga pernah mengalami hal ini. Mereka juga sama panik dan gugup, tapi semua itu tidak akan terasa lagi setelah melihat buah hati kalian." 


"Apa Daddy juga sama seperti Juna saat Mommy melahirkan Airyn?"


"Daddy, malu ihhh.." Ucap Juna yang membuat Jonathan tertawa kecil. 


"Ya, intinya kamu harus kuat. Kalau kamu saja begini, bagaimana bisa kamu akan menguatkan istrimu nanti? Disaat seperti ini, dia sangat membutuhkan kamu Jun." Ucap Jonathan lagi.


"Iya, Dad. Juna bakalan terus ada di samping Airyn kok."


"Baguslah, good luck." Ucap Jonathan sambil menepuk bahu lebar Arjuna sambil menampilkan senyum nya. Ini adalah pertama kalinya Juna melihat Jonathan tersenyum, karena biasanya dia hanya menunjukkan wajah datar nya. Bahkan super duper datarnya. 


Ceklek..


Pintu terbuka, seorang perawat keluar dengan pakaian steril nya. 


"Keluarga pasien atas nama Airyn Prameswari?" Tanya nya, Juna segera bangkit dari duduknya.


"Saya suaminya, suster."


"Pembukaan nya sudah lengkap, Nona Airyn sudah bisa melahirkan sekarang."


"Benarkah? Aaahh syukurlah, istriku tidak terlalu lama menahan sakit." Ucap Juna sambil mengusap dadanya. 

__ADS_1


"Siapa yang akan menemani Nona Airyn ke ruang bersalin?"


"Saya, suster." Jawab Juna tanpa ragu.


"Baiklah, mari ikut saya." Ucap perawat itu, Juna pun menganggukan kepala nya lalu mengekor di belakang tubuh perawat itu dan masuk ke dalam ruangan untuk mengenakan pakaian steril. 


Setelah menggunakan pakaian itu, Juna pun ikut membawa Airyn ke ruang persalinan. Sungguh, ini adalah saat-saat yang mendebarkan bagi Juna. Dia akan bertemu putranya setelah sembilan bulan lamanya? Astaga, rasanya ini seperti mimpi karena tidak lama lagi status nya akan berubah menjadi seorang ayah. 


"Kuatlah, sayang. Istriku adalah wanita yang paling kuat, aku mencintaimu."


"A-aku lebih mencintaimu, Arjuna ku." 


"Bertahan ya? Kita akan bertemu dengan anak kita setelah ini." Jawab Juna. Airyn menganggukan kepala nya sambil tersenyum. Pinta ruangan tertutup, situasi yang benar-benar menegangkan dapat Juna rasakan. Tapi dia harus ingat kata-kata Jonathan tadi, dia harus kuat agar bisa menguatkan istrinya. 


"Nona, kalau mulas nya terasa ngeden saja ya." Ucap seorang dokter, Airyn menganggukan kepala nya. Perutnya memang sudah mulas sedari tadi. Tapi katanya harus menunggu sampai pembukaan nya lengkap terlebih dulu baru bisa melahirkan. Kalau tidak, akan banyak sekali jahitan nantinya. 


Airyn pun mengikuti intruksi dari dokter, hingga hanya dalam waktu yang cukup singkat, dia bisa mendengar suara tangis bayi yang terdengar sangat kencang. Airyn menangis saat mendengar tangisan pertama buah hati nya, dia menangis terharu karena akhirnya waktu yang dia tunggu-tunggu kini datang juga. 


"Sayang, terimakasih. Kamu berhasil, kamu berhasil, sayang! Aku sangat mencintaimu, Airyn."


"Aku juga.." Jawab Airyn lirih, dia merasa sangat lemas tapi dia sangat bahagia saat ini karena akhirnya perjuangan nya tidak sia-sia sama sekali. 


"Selamat, Tuan dan Nona. Bayi nya laki-laki, lahir dengan sehat dan sempurna tidak ada kurang satu apapun. Berat nya 3,5 kilogram dengan tinggi 54 centimeter." Ucap perawat itu sambil mendekatkan sang bayi pada ibunya. 


"Hello, baby boy.." Sapa Airyn sambil mengusap pipi kemerahan putranya, dia sangat tampan sama seperti Juna.


"Ingin mencoba menggendong nya, Tuan? Sementara Nona Airyn akan kami bersihkan terlebih dulu."


"Aduh, gemetaran sus. Gapapa?"


"Tidak apa-apa, ini hal yang biasa terjadi." Jawab Perawat itu sambil terkekeh. Juna pun mencoba menggendong putra nya dengan perlahan. 


Dia menatap bayi kecil yang ada di gendongan nya, sangat tampan dan sempurna. Hidung nya bangir dengan bulu mata yang lentik, bibir nya mungil berwarna kemerahan. 


"Sungguh indah ciptaan mu, dia anak ku. Anak pertama ku.." Lirih Juna sambil mengusap lembut wajah tampan putranya. 


"Hello, baby boy. Ini Papa, sayang. Kamu mengenali suara Papa gak? Papa sering sekali ngajakin kamu ngobrol dulu." Ucap Juna sambil mengusap-usap pipi sang putra yang sudah terlihat berisi padahal dia baru saja lahir. 


"Arshaka Davin Anggara. Itu nama yang Papa berikan untukmu, Nak. Agak panjang ya? Gapapa, bisa di panggil baby Shaka nanti. Tumbuh menjadi anak yang berbakti sama mama papa ya." 


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2