
"Sa-yang.." Lirih Airyn dengan suara terputus-putus.
"Enghh.." Juna menggeliat lalu membuka kedua mata nya dengan perlahan. Dia masih merasa sangat mengantuk, ini memang masih tengah malam. Waktunya dia untuk beristirahat setelah seharian kelelahan bekerja di perusahaan.
"Sayang.. Ssshhhhh.." Panggil Airyn lagi dengan suara yang lebih lirih, di sertai ringisan seolah dia tengah menahan rasa sakit.
"Apa, yang?" Tanya Juna. Dia menoleh ke arah sang istri yang sudah terbangun dengan keringat yang membanjiri kening nya.
"P-perut aku sakit, sayang." Jawab Airyn sambil memegangi perutnya. Kedua mata Juna membeliak karena terkejut, dia melihat wajah cantik sang istri yang sudah terlihat pucat.
"Sayang, kenapa bisa sakit?"
"Aku gak tahu, tapi ini sakit sekali."
"Kayak gimana sakit nya? Kamu gak makan makanan sembarangan selama aku kerja kan?" Tanya Juna. Airyn menggelengkan kepala nya. Hari ini, dia hanya memakan makanan rumahan. Bahkan saat dia merengek ingin makan bakso, dengan sigap Monica dan Mamak membuatkan nya. Mulai dari mie nya mereka membuatnya ala rumahan, setelah hamil Airyn memang jarang memakan makanan dari luar karena Juna melarang keras.
Kenapa? Karena tidak ada yang tahu apa yang ada di dalamnya kan? Bagaimana cara membuatnya pun tidak ada yang tahu karena itu rahasia perusahaan kan, bagaimana kalau tidak higienis?
"Aku cuma makan bakso aja tadi, sama sup. Tapi bakso nya di bikin sama Mami kok, Mamak juga yang bikin."
"Mie nya?"
"Mamak yang bikin, semuanya bikin di rumah termasuk bumbu nya, yang."
"Makan pedes kan, makanya perut kamu sakit."
"Enggak, bisa-bisa di timpuk sama sapu aku sama Mami." Jawab Airyn sambil menahan rasa sakit di perut bagian bawahnya.
"Ya terus kamu kenapa, sayang?"
"Gak tahu, sayang."
"Atau kamu mau lahiran?"
"Gak mungkin, sayang. Kan kata dokter nya masih dua mingguan lagi." Jawab Airyn. Hingga Juna beranjak dari duduknya, lalu menyalakan lampu utama dan menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya yang polos. Jangan tanyakan kenapa Airyn bisa polos tanpa mengenakan pakaian, sudah pasti kalau pasangan suami istri sudah melakukan ritual suami istri.
"Ya kan kita gak tahu kalau ternyata di bacil pengen keluar sekarang. Tuh, kasurnya basah. Kenapa coba? Kamu ngompol ya?" Tuduh Juna membuat Airyn mengernyit lalu melihat ke bawah.
Benar, kasur di sekitar nya sudah basah bahkan ada sedikit lendir yang bercampur dengan darah. Juna melotot melihat hal itu, dia pun mengambil bathrobe dan meminta Airyn untuk memakai nya.
"Pakai, sayang."
"Buat apa?"
"Ya buat nutupin tubuh kamu, aku mau panggil Mamak dulu."
"Iya, sayang." Airyn pun mengangguk, dia pun memakai bathrobe itu dan membiarkan suaminya pergi ke kamar ibu mertuanya.
__ADS_1
Hari ini, Monica dan Jonathan juga sedang menginap disini, jadi rumah ini terasa jauh lebih ramai karena kedatangan mereka. Bukan tanpa alasan mereka menginap disini, karena kandungan Airyn sudah besar dan sebentar lagi akan melahirkan jadi mereka ingin menjadi calon nenek dan kakek yang siaga. Jaga-jaga kalau putri mereka merasa kontraksi malam-malam karena Airyn memutuskan untuk melahirkan secara normal saja.
Juna keluar dari kamar nya, kebetulan di luar ternyata ada Jonathan yang masih menonton bola. Dia memang senang sekali melihat siaran sepak bola tengah malam seperti ini.
"Kebangun, Jun?" Tanya Jo, dia melihat raut wajah yang aneh pada menantu nya itu.
"Daddy, itu lho Airyn sakit perut.."
"H-ahh? Apa dia salah makan?" Tanya Jonathan sambil beranjak dari duduknya.
"Katanya makan bakso tadi."
"Gak mungkin karena makan bakso, Daddy juga makan bakso itu tapi gapapa tuh." Jawab Jonathan. Dia masuk ke dalam kamar dan melihat putrinya sudah duduk di sisi ranjang.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Sakit, Dad."
"Kamu ada salah makan atau gimana?" Tanya Jonathan dengan khawatir.
"Gak ada, Dad. Tahu sendiri kalau aku cuma makan makanan rumahan sesuai buatan Mommy sama Mamak."
"Terus kenapa?"
"Gak tahu, tapi perut aku sakit banget disini." Jawab Airyn sambil menunjuk perut bagian bawahnya.
"Astaga, itu ranjang kamu basah gitu. Kamu ngompol atau gimana? Atau kalian habis main sampai basah begitu?" Tanya Jonathan dan menoleh ke arah Juna yang terlihat salah tingkah.
"Hehe, Juna sama Airyn memang main tadi. Tapi gak sampai basah gitu kok, Dad. Coba lihat deh, itu ada lendir yang berdarah gitu." Juna menunjuk ke arah ranjang yang basah dan terdapat darah yang mulai mengering.
"Panggil Mamak mu sana, dia yang lebih berpengalaman. Jangan panggil Mommy dulu, dia suka panikan." Jawab Jonathan, membuat Juna segera pergi untuk memanggil Mamak ke kamarnya.
Juna terlihat mulai panik, seperti nya dia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Hatinya berdebar tak karuan saat ini, bagaimana kalau Airyn ternyata benar akan melahirkan sekarang? Bahagia? Jelas, tapi dia juga merasakan takut dalam waktu yang bersamaan.
"Mamak.." Panggil Juna sambil mengguncang pelan tubuh Mamak yang masih terlelap sambil memeluk Nana. Sejujurnya, dia tidak tega untuk membangunkan Mamak, tapi mau bagaimana lagi, dia butuh orang untuk mengetahui apakah ini memang sudah waktunya atau belum.
"Iya, Jun. Kenapa?" Tanya Mamak lirih. Suara nya masih serak karena dia baru saja bangun tidur.
"Tolong liatin Airyn, Mak."
"Istrimu kenapa?" Tanya Mamak sambil mengikat rambutnya ketika mendengar Juna menyebut nama Airyn.
"Perutnya sakit."
"Sudah lama?"
"Mungkin skekitar setengah jam, Mak."
__ADS_1
"Kenapa tidak memanggil Mamak dari tadi hmm?" Tanya Mamak, dia langsung berjalan meninggalkan Juna. Dia khawatir oldengan keadaan menantu nya.
"Juna kira itu cuma sakit perut biasa, Mak."
"Mana ada sakit perut sampai setengah jam." Jawab Mamak. Dia pun masuk ke kamar Airyn dan Juna. Dia melihat sudah ada Jo yang terlihat panik disana, perasaan nya sudah menuju ke satu arah saat ini ketika melihat keadaan Airyn.
"Sayang.." Panggil Mamak, membuat Airyn menoleh.
"Huaaaa, Mamak sakit.." Seketika Airyn yang tadinya terlihat kuat menahan rasa sakitnya itu menangis ketika melihat Mamak yang datang.
"Sayang, tahan sedikit ya."
"Mau peluk.." Rengek Airyn. Beginilah Airyn pada Mamak, dia sangat manja pada Mamak karena dia sudah merasa seolah Mamak adalah orang tua kandung nya juga. Bahkan Monica sendiri seolah di lupakan jika Airyn sudah bersama Mamak.
"Iya, sini peluk." Airyn memeluk perut Mamak, sedangkan Mamak menyusupkan tangan nya dan meraba pinggang Airyn.
"Jun, siapkan mobil. Istrimu mau lahiran ini, kenapa malah di diemin."
"Melahirkan, Mak? Sekarang? Tapi kan kata dokter.."
"Apa itu penting sekarang? Cepatlah panaskan mobil, kita harus membawa Airyn ke rumah sakit sekarang."
"I-iya.." Jawab Juna, pria itu pun berlari keluar dari kamar untuk mengeluarkan mobil dari garasi dan memanaskan nya terlebih dulu.
"Airyn akan melahirkan?"
"Iya, ini kayaknya sudah pecah ketuban."
"Pantesan kasur nya basah." Ucap Jo lirih.
"Bisakah anda membangunkan nyonya Monica?"
"Ya, akan aku lakukan." Jo pun segera berlari ke kamar untuk membangunkan istrinya.
"Mamak.."
"Iya, sayang. Kenapa?" Ucap Mamak sambil mengusap lembut rambut Airyn.
"Airyn takut, Mak. Melahirkan itu sakit kan, Mak?"
"Tapi, setelah melihat buah hati kalian, Mamak jamin kalau rasa sakit itu akan hilang seketika, sayang. Jangan takut, ada Mamak, Juna, ada Daddy dan juga Mommy." Ucap Mamak sambil mengecup pelan kening menantu nya.
"Mamak ambilin kamu pakaian ganti dulu ya, masa cuma pakai handuk begini."
"Jangan lama, Mak."
"Iya, sayang." Jawab Mamak. Dia pun melerai pelukan nya dan pergi ke lemari untuk mencari pakaian. Sebisa mungkin, Mamak terlihat tenang meskipun hatinya juga merasa cemas karena moment seperti ini menular. Kalau wanita yang akan melahirkan merasa sakit, maka yang pernah melahirkan pun akan merasakan sakit yang sama juga.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻