Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 81 - Kolak Candil


__ADS_3

Siang hari nya, Mamak datang dengan membawa beberapa kresek berisi kacang tanah, ubi dan juga singkong. Wanita paruh baya itu di sambut oleh Juna dan langsung membawakan barang bawaan sang ibu dengan sigap tanpa harus di mintai tolong. 


Keringat membasahi wajah renta nya, wanita yang sudah hidup puluhan tahun itu nampak kelelahan. Dia berjalan tertatih menahan bobot tubuh nya sendiri, Airyn yang melihat hal itu dari dalam rumah merasakan nyeri di hatinya. 


Bagaimana bisa orang yang sudah berumur seperti ini masih bekerja serabutan? Harusnya, di usia nya saat ini beliau sudah hidup santai bersama anak dan cucu nya. Tapi tidak dengan Mirna, dia masih menjadi butuh serabutan disini hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, dia selalu merasa tak enak pada Juna karena dia terlh bergantung pada putra sulung nya itu. 


"Mamak.." Panggil Airyn lirih. Mirna mendongak dan menatap wajah cantik Airyn yang sedang duduk dengan Nana yang duduk manis di pangkuan wanita cantik itu. 


"Iya, Nak."


"Baru pulang?"


"Iya, sayang."


"Mamak capek ya? Sini Airyn pijit." Tawar Airyn, membuat Mirna tersenyum hingga mata nya menyipit.


"Tidak usah, Nak. Mamak sudah biasa, nanti juga di oles minyak angin pasti sembuh."


"Mamak.."


"Tak apa, sayang. Mamak ke belakang dulu ya, mau mandi." Pamit Mamak, Airyn menganggukan kepala nya dan membiarkan Mamak pergi ke belakang untuk membersihkan tubuh nya yang kotor terkena tanah. 


Juna keluar dari dapur, dia baru saja selesai membersihkan ubi, kacang dan juga singkong nya. Pemuda itu duduk di samping Airyn dan bersandar manja di pundak sang kekasih. 


"Yang, kamu sudah memikirkan nya?"


"Belum, yang."

__ADS_1


"Aku gak tega lihat Mamak kecapean, Jun. Kamu tega lihat Mamak begitu?" Tanya Airyn lagi. Juna menegakan kepala nya lalu menatap wajah cantik Airyn dengan tatapan yang sulit di artikan. 


"Enggak, sayang."


"Jadi, apa sulitnya? Kamu tinggal bicara pada Mamak, kalau kita akan membawa nya ke kota." 


"Tapi membujuk Mamak itu bukan hal yang mudah, sayang." Jawab Juna lirih. 


"Biar aku yang bicara, kamu jangan khawatir."


"Baiklah, sayang. Aku akan mencoba bicara pada Mamak." Ucap Juna membuat Airyn tersenyum manis. Dia senang karena akhirnya Juna setuju untuk membawa orang tua dan juga adiknya ke kota. Kebetulan, sekarang apartemen nya kosong jadi Mamak dan Nana bisa tinggal disana untuk sementara waktu sampai Airyn dan Juna membeli rumah setelah menikah, nantinya mereka akan mengajak Mamak dan Nana tinggal bersama. 


"Kamu kelihatan seneng banget, yang."


"Seneng banget, karena aku bakalan ketemu terus sama Nana." Jawab Airyn sambil menggerak-gerakkan tangan Nana dengan gemas. 


"Iya dong, dia kan adek aku. Si gemes.." 


"Suka banget sama anak kecil?"


"Suka, yang. Apalagi kalo bayi yang masih wangi minyak telon, yang."


"Jadi, kapan kita bikin bayi?"


"Kapan aja bisa, aku sih ayo-ayo aja." Jawab Airyn membuat Juna mencebikan bibir nya. 


"Kalau kita udah nikah nanti, langsung aja ya? Jangan menunda."

__ADS_1


"Siap, usia aku juga udah cukup untuk punya anak. Kamu mau berapa?" Tanya Airyn membuat Juna terdiam, dia terlihat sedang berpikir. 


"Kata orang, melahirkan itu sakit. Aku gak mau dan gak tega kalo kamu kesakitan, jadi dua aja deh. Sepasang, satu cewek, satu lagi cowok." Jawab Juna sambil tersenyum kecil, dia membayangkan keluarga kecil nya nanti. Aaahhh, baru saja membayangkan nya sudah membuat hati nya senang. 


"Itu sudah kodrat wanita, sayang."


"Iya, aku tahu. Tapi tetap saja, aku gak bakalan tega lihat kamu kesakitan." Ucap Juna sambil mengusap kepala Airyn dengan lembut. 


"Nak.." Panggil Mirna. Dia sudah berganti pakaian dan sudah bersih. 


"Iya, Mak. Kenapa?" Tanya Juna. 


"Kita bikin kolak yuk?"


"Wah, Airyn suka kolak. Mau mau mau.." Ucap Airyn dengan antusias, Juna dan Mirna yang melihat hal itu kompak melengkungkan bibir mereka. Jujur saja, Juna tidak menyangka kalau Airyn akan mudah menyesuaikan dirinya dengan kehidupan ala kampung. Tapi ternyata, Airyn bisa dengan mudah berbaur. Tidak canggung sama sekali, bahkan satu hari setelah dia disini, dia sudah bisa merebut hati Nana. 


"Kolak candil, suka?"


"Candil itu apa ya, Mak?"


"Candil itu terbuat dari ubi, Nak. Di campur sama tapioka terus di bulet-bulet, nanti di rebus kasih gula merah sama santan. Jadi deh, mau?"


"Wah, mau. Airyn mau, Mak. Yuk, Airyn bantu." Ucap Airyn sambil beranjak dari duduknya. Dia pun mengikuti Mamak ke belakang untuk membuat kolak candil. Juna yang melihat hal itu mengusap dada nya dengan lega. Jujur saja, dia senang karena Airyn bisa dengan mudah mengakrabkan diri dengan keluarga nya. 


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2