Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 64 - Pukis Sebelum Kerja


__ADS_3

"Sayang, kamu yakin mau kerja?" Tanya Juna. Dia menatap sang kekasih dengan khawatir, berjalan saja terlihat kesakitan apalagi kalau di bawa bekerja. 


"Iya, aku udah gapapa kok. Jangan khawatir ya? Aku baik-baik saja."


"Bagaimana bisa aku gak khawatir, yang? Lihat kamu jalan aja aku ngilu." Jawab Juna sambil mengusap wajah nya.


"Ini udah gak terlalu sakit kok, yang. Gapapa, walaupun agak sedikit kurang nyaman sih. Hehe." 


"Besok aja ke kantor nya, Bby." Bujuk Juna.


"Terus aku ngapain disini? Kamu kan harus kerja, terus aku gimana?" Tanya Airyn membuat Juna di landa kebingungan sendiri. 


"Ya gak gimana-gimana, tiduran aja istirahat." 


"Aku udah gapapa kok, sayangku. Aku tahu kamu khawatir, tapi percaya sama aku ya? Aku baik-baik saja." 


"Hmm, kamu memang keras kepala, sayang." Jawab Juna lirih, dia menghembuskan nafas nya dengan kasar. Mau bagaimana pun juga, dia memang tidak bisa melarang sang kekasih untuk pergi bekerja hari ini.


"Jangan gitu dong, yang. Aku janji bakalan kerja sesuai kemampuan aku aja, kalau aku gak bisa, aku gak bakalan maksain kok."


"Yaudah, tapi hati-hati ya. Jangan kecapean kerja nya, kalau ada apa-apa kamu harus bilang sama aku." Pasrah Juna. Airyn segera menganggukan kepala nya mengiyakan. 


"Ayo berangkat." Ajak Juna. Airyn pun menggandeng lengan besar Juna dan berjalan berdampingan. Airyn tidak bisa berjalan cepat seperti biasa nya, selain karena dia memakai sepatu hak tinggi, dia juga masih merasakan rasa sakit dan perih di area pribadi nya. 


"Aku saja yang mengemudi, sayang." Ucap Juna. 


"Hmm, ini kunci nya." Airyn memberikan kunci mobil nya pada Juna. Pemuda itu menerima kunci yang di berikan sang kekasih. Ya, Juna sudah bisa mengemudi sekarang, hanya saja belum memiliki SIM. 


"Sayang.." Panggil Airyn setelah beberapa menit kedua nya berkendara.


"Iya, sayang. Kenapa?"


"Setelah ini, bikin SIM ya?"


"Iya, sayang. Nanti kalau aku udah punya uang."


"Gapapa, aku bayarin. Sekalian bikin SIM motor juga."


"Aahh ngapain bikin SIM motor, gak punya motor ini." Jawab Juna enteng. Airyn menguluum senyum nya. 


"Bikin aja, kan kamu suka minjem motor temen kamu. Berabe nanti kalau di tilang polisi gara-gara gak punya SIM." 


"Hmm, nanti aja deh. Kalo udah punya uang sendiri."

__ADS_1


"Sayang, biar aku yang bayarin." 


"Gak usah, sayang. Aku gak mau bergantung terus menerus sama kamu, aku malu sama orang-orang."


"Dih, gak usah di peduliin, jangan di dengerin aja kali, yang." 


"Ya tetep aja kedengeran, sayang." Jawab Juna. Dia terlihat fokus mengemudi, namun terlihat dari cara nya menyetir sekarang, sudah jelas kalau Juna sudah handal mengemudi. Dia terlihat tenang saat mengemudi. 


"Pake headset, nanti aku beliin." Jawab Airyn, membuat Juna melirik sekilas ke arah sang kekasih. Dia pun meraih tangan Airyn dan menggenggam nya.


"Yang, lepasin dulu. Kan lagi nyetir.."


"Gapapa, nyetir bisa pake sebelah tangan. Aku masih kangen kamu, apalagi setelah aku mendapatkan hal itu." Juna tersenyum kecil, berbeda dengan wajah Airyn yang sudah memerah seperti tomat. 


"Nanti malem, kamu pulang kemana?" Tanya Juna lagi. Tubuh Airyn membeku, namun aneh nya bagian bawah nya terasa sedikit basah. Padahal hanya mendengar suara Juna yang bertanya seperti biasa, tidak ada unsur kata-kata vulgar atau apapun. Tapi aneh saja, otak Airyn merespon lain. Pikiran nya jauh melanglang buana ke arah hal-hal yang mesuum. 


"Gak tau, kenapa memang nya?"


"Mau lagi, yang. Hehe." Jawab Juna sambil tersenyum. Seerrr, tubuh Airyn seketika lemas. Bagian bawah nya semakin terasa basah, mungkin banjir saat ini.


"Lihat situasi aja dulu ya, nanti aku kabarin."


"Oke, sayang. Aku udah nyampe." Ucap Juna. Pemuda itu menghentikan laju kendaraan beroda empat itu di basement mall. 


"Hmm, baiklah. Kamu hati-hati kerja nya, jangan nakal atau lirik-lirik cewek ya?"


"Iya iya, paham sayang." Jawab Airyn sambil tersenyum. Dia suka saat Juna posesif begini.


"Baguslah, kamu harus ingat kalau kamu milik ku!"


"Astaga, iya sayangku." Jawab Airyn sambil tersenyum.


"Pukis dulu sini sebelum kerja." 


"Pukis apaan, yang? Itu kue kan, yang mirip kue pancong." Jawab Airyn yang membuat wajah Juna di tekuk seketika.


"Hahaha, iya sayang iya. Sini dulu." Airyn merentangkan kedua tangan nya, pemuda itu langsung menghambur memeluk tubuh Airyn dan menduselkan wajah nya di ceruk leher Airyn dan mengendus aroma nya. 


Dia juga mencium bibir Airyn dengan mesra dan liar seperti biasa nya, wanita itu menerima nya bahkan ikut membalas permainan Juna yang selalu tidak sabaran seperti ini. 


Beberapa menit kemudian, ciuman nya pun selesai. Juna melepaskan bibir nya, tak lupa mengecup nya singkat untuk menyudahi sesi ciuman mesra mereka. 


"Aku keluar dulu, kamu hati-hati ya di jalan nya. Atau mau minta jemput sama kak Maudy aja?"

__ADS_1


"Gak usah, sayang. Aku bisa sendiri kok, yaudah aku berangkat dulu ya." Pamit Airyn. Juna menganggukan kepala nya, lalu melambaikan tangan nya setelah dia melihat mobil itu mulai melaju secara perlahan. 


Juna pun memilih untuk masuk dan mulai bekerja seperti biasa nya. Pemuda itu di sambut oleh teman nya, siapa lagi kalau bukan Andika yang pagi ini terlihat sedikit murung.


"Nape Lu, Dik?"


"Motor gue, mogok. Mana gajian masih lama." Jawab Dika sambil menopang dagu dengan sebelah tangan nya. 


"Walah, kenapa kok bisa mogok?"


"Nabrak kucing kemaren, sial aja mungkin jadi nya mogok tadi pagi. Mana di tengah jalan lagi mogok nya."


"Jadi sekarang di bengkel dong motor lu?"


"Heem, Jun." Jawab Dika. 


"Lu gak punya duit dulu buat bayar bengkel kagak, Jun? Minjem dulu lah, ntar gajian gue bayar."


"Ada, tapi uang nya cewek gue. Harus di balikin ya, gue gak enak kalo pake duit cewek gue buat ngasih lu."


"Iyee, minjem lah cepe."


"Cukup kagak?"


"Lima lembar." Jawab Andika yang membuat Juna mendelikan kedua mata nya.


"Sialan lu.."


"Hehe, buat jaga-jaga kalo gak cukup. Gue cuma megang tiga ratus doang." Jawab Andika. 


"Oke, gue transfer aja nanti ya. Sekarang kerja dulu."


"Iyee, omong-omong kemaren kemana lu? Kok gak masuk kerja?" Tanya Dika lagi. 


"Momong cewek gue di apartemen, manja dia habis gue terkam." Jawab Juna dengan wajah datar nya, seolah apa yang dia katakan bukanlah hal yang besar.  


"Anjir, jadi lu udah kagak perjaka dong?"


"Diem-diem aja lu." 


"Juna gilaa anjir, udah unboxing aja lu."


"Dia nya ngajak, yaudah." Jawab Juna dengan enteng nya. Seolah tiada beban, berbeda dengan Dika yang terlihat kaget dengan jawaban yang di ucapkan oleh Juna. Gilaa, mulut laki-laki memang tidak bisa di percaya. Mereka terlalu jujur jika di ajak bicara oleh teman mereka. Termasuk Juna, dia mengatakan dengan jujur pada Dika. 

__ADS_1


.......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2