Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 79 - Kebaikan Hati Airyn


__ADS_3

"Hey, sayang.." Juna tersenyum ketika melihat Airyn masih tertidur dengan lelap di baluyi dengan selimut tebal nya. Malam tadi, Airyn merengek ingin tidur bersama Juna. Jadi, mau tak mau pun Mirna mengizinkan Airyn dan Juna untuk tidur sekamar. Tidak apa-apa, mereka juga sudah akan menikah dalam waktu dekat. 


"Enghh.." Airyn melenguuh pelan sambil membuka kedua mata nya. Juna terlihat tampan dengan memakai pakaian rumahan. Hanya celana pendek selutut dan kaos berlengan pendek. 


"Bangun, cantik nya Juna." 


"Masih pagi lho, yang."


"Iya, tahu. Memang nya siapa yang bilang kalau udah siang? Ini memang masih pagi, sayang." Jawab Juna sambil mengusap kepala sang kekasih dengan lembut. 


"Tapi ini masih pagi buat bikin aku salting, sayang."


"Oh, kamu salting? Hahaha, udah sering juga aku panggil cantik. Karena kamu memang cantik, sayang."


"Aaaaa, sayang. Aku malu.." Rengek Airyn sambil menutup wajah nya dengan selimut, Juna tergelak melihat tingkah menggemaskan sang kekasih. 


"Sudah, ayo bangun kamu nya. Mau ikut aku jalan-jalan pagi gak?"


"Mau, tapi dingin.."


"Pake sweater, sayang." 


"Dingin, tapi kalo aku gak ikut nanti kamu di lirik gadis desa sini ya."


"Posesif amat sih, sayang." Goda Juna sambil menjawil dagu sang kekasih. 


"Bodo amat di bilang posesif, toh kamu punya kamu."


"Iya iya, aku punya kamu." Jawab Juna. 


"Jadinya, mau ikut jalan-jalan atau enggak, sayang?" Tanya Juna lagi.


"Ayo deh, aku juga udah lama gak jalan-jalan pagi. Apalagi itu jalan-jalan nya sama kamu." Jawab Airyn sambil tersenyum kecil. 


"Udah, jangan ngegombal. Bangun, cuci muka terus ganti baju." 


"Iya iya, bawel deh." Ucap Airyn, dia pun menuruti ucapan sang kekasih. Dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah nya lalu mengganti pakaian nya. Kedua nya pun pergi dengan tangan yang saling bergandengan mesra, layaknya pasangan suami istri yang lainya. 


"Udara disini masih sejuk banget ya.."


"Iya, sayang. Masih banyak kebun sama sawah." Ucap Juna. Airyn menganggukan kepala nya, sepanjang perjalanan yang mereka lewati memang di penuhi dengan sawah dan kebun-kebun milik warga. Tak jarang, mereka pun berpapasan dengan banyak warga yang berlalu lalang, mereka akan pergi bekerja ke ladang atau ke kebun masing-masing. 


"Eehh, Nak Arjuna? Anak nya Buk Mirna kan?" Tanya salah satu warga dengan ramah. 


"Eehh, iya. Saya Juna, hehe."


"Wah, udah gede ternyata. Ganteng lagi, padahal dulu kamu anak yang sering filek terus ingus nya di peperin ke anak saya." Ucap warga itu membuat wajah Juna memerah. Airyn menahan tawa nya sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan.


"Itu kan pas saya masih kecil, sekarang kalo ingusan ya di peperin nya ke tissu."


"Hahaha iya, kamu kapan pulang dari kota?"


"Kemarin siang, Bik."


"Ini siapa? Cantik sekali, kayak artis."


"Kenalkan, ini Airyn. Pacar nya Juna."


"Walah, cantik sekali. Neng Airyn sama Juna pasangan serasi, Juna nya ganteng Neng Airyn nya cantik. Dapet jodoh tah dari kota."


"Hehe, terimakasih bik. Salam kenal, saya Airyn."


"Iya, Neng. Ya sudah, bibik mau ke kebun dulu. Kalau mau singkong atau ubi, nanti mampir ke rumah Bibik ya. Kebetulan, hari ini bibik mau panen ubi sama kacang tanah."

__ADS_1


"Makasih, Bik. Nanti Juna mampir yaa.."


"Bibik tunggu ya, Jun."


"Iya, Bik." Jawab Juna sambil tersenyum, wanita itu pun pergi sambil membawa keranjang yang di ikat dengan kain jarik. Karena dia akan memanen singkong, kacang tanah dan juga ubi jalar katanya. 


"Sayang.." panggil Airyn, membuat Juna menoleh dengan senyum kecil nya. 


"Hmm, apa?"


"Gak nyangka aku kalau kamu sejahil itu dulu."


"Nama nya juga anak kecil, yang. Tau gak? Temen aku tuh sampe gak masuk sekolah tiga hari gara-gara aku peperin ingus."


"Hah, beneran? Hahahaha, ya kali aja sih kamu iseng nya kebangetan itu mah. Siapa sangka, anak kecil jahil itu sekarang udah tumbuh jadi cowok ganteng."


"Haha, iya sayang." Jawab Juna sambil tertawa kecil. 


Selesai jalan-jalan, mereka pun pulang. Juna dan Airyn pun duduk di teras sambil mengobrol. Tak lama, Nana keluar dari dalam rumah dengan pakaian sederhana. 


"Aunty.." Panggil Nana sambil tersenyum.


"Nana, apa Abang bilang? Panggil nya kakak cantik ya.."


"Aahh, Nana lupa, Bang." Jawab Nana sambil tersenyum. Nana langsung duduk di pangkuan Airyn. Wanita itu tidak menolak sama sekali, dia terlihat nyaman-nyaman saja saat Nana langsung duduk di pangkuan nya. 


"Kakak cantik habis dari mana sama Abang?"


"Habis jalan-jalan aja, sayang. Tadi Nana belum bangun pas kami berangkat." Jawab Airyn dengan lembut. 


"Ambil sisir gih, sama karet. Kakak cantik iketin rambut Nana, biar cantik." Ucap Airyn dengan lembut. Nana pun langsung beranjak dari duduknya dan mengambil sisir, juga karet rambut. 


Tak lama, Nana datang membawa sisir dan juga karet rambut. Setelahnya, Nana pun menyisir dan mengikat rambut Nana dengan perlahan dan mengkreasikan nya dengan lucu. Juna yang melihat hal itu tersenyum kecil ketika melihat Airyn yang terlihat telaten mengurus adiknya. 


"Udah kakak cantik iketin rambut nya, sekarang Nana terlihat cantik banget." Ucap Airyn sambil mencubit pelan pipi Nana dengan gemas. 


Beberapa saat kemudian, ada pedagang pikulan yang menjajakan jajanan khas daerah ini. Cuanki kuah, aroma nya tercium membuat perut Airyn yang memang belum di isi sedari tadi pagi pun meronta-ronta.


"Yang, itu apa?" Tanya Airyn sambil menunjuk ke pedagang yang membawa semacam pikulan di pundaknya. Mana pedagang nya sudah terlihat berumur, Airyn tidak tega melihatnya. Jiwa sosial nya tergerak ingin membawa bapak penjual makanan itu.


"Cuanki kuah, yang. Enak sih kalo di makan pagi-pagi gini mana dingin."


"Aku mau jajan, kamu mau?"


"Hehe.." jawab Juna. Dia belum gajian, uang pesangon dari restoran pun belum di transfer, mungkin dia akan menanyakan nya pada Dika nanti. 


"Pesen aja, aku yang bayar. Nana mau? Tawarin Mamak juga, sayang." Ucap Airyn. Juna beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah untuk membawa mangkuk. 


"Iya, sayang." 


Airyn beranjak dari duduknya, lalu menggendong Nana tanpa perasaan canggung sedikit pun.


"Pak, beli."


"Iya, Neng. Berapa porsi?"


"Satu porsi berapa, Pak?" Tanya Airyn lagi.


"Lima ribu." Jawab bapak itu sambil tersenyum. Airyn menganga, di jaman sekarang masih ada makanan semurah itu? Belum lagi, bapaknya berjualan dengan cara di pikul. 


"Gak salah Tah, Pak? Lima ribu dapet apa aja?"


"Cuanki ikan tiga, bakso kecil nya dua, sayur sama siomay kecil satu." Jawab nya. Speechless, itulah yang di rasakan oleh Airyn. Culture shock, baru kali ini Airyn menemukan makanan semurah ini tapi dapat banyak. 

__ADS_1


"Aku mau dua porsi di gabung deh, Pak. Pedes ya.."


"Siap, Neng. Orang kota ya, Neng?"


"Hehe iya, kesini buat main sekalian ketemu sama mama mertua." Jawab Airyn sambil tersenyum kecil.


"Mama mertua? Mak Mirna?"


"Iya, Pak."


"Pacar nya Juna ya, Neng?"


"Hehe, iya Pak." Jawab Airyn sambil tersenyum. 


"Wah, pacar nya Juna ayu tenan."


"Ayu?"


"Iya, ayu itu cantik, sayang." Jawab Juna sambil tersenyum. Dia membawa mangkuk dan memberikan nya pada penjual cuanki itu.


"Ini porsi nya di samain semua?"


"Iya, Pak. Cuma satu di bening, buat Nana." Jawab Airyn. Juna menatap Airyn, tidak seberapa memang. Tapi Juna senang karena Airyn paham dan pengertian meskipun tanpa diminta, dia tetap memesankan makanan di bening untuk adiknya. Sederhana namun bermakna.


Ada beberapa anak kecil yang berlalu lalang, di daerah ini memang rata-rata penduduk nya hidup dengan sederhana. Tidak ada rumah megah disini, hanya ada rumah panggung sederhana. Paling mewah, hanya ada yang memiliki sepeda motor. Maka dari itu, pas mobil milik Airyn parkir di depan salah satu rumah warga, semua nya heboh dan bertanya-tanya mobil milik siapa yang parkir disana. 


"Dek, mau cuanki?" Tawar Airyn. 


"Gak punya uang, teh."


"Sini, biar aku yang bayar. Yuk sini kalau mau." Jawab Airyn membuat anak-anak yang jumlah nya cukup banyak itu segera mendekat dan memesan cuanki itu.


"Teh, boleh mesen dua porsi gak teh? Saya inget sama adik saya di rumah, pasti dia pengen juga."


"Boleh, pesen aja sesuka kalian. Biar saya yang bayar ya, jangan ragu, jangan sungkan. Sok aja ambil." Jawab Airyn sambil tersenyum. Lagi-lagi, Juna di buat kagum dengan kebaikan hati sang kekasih. Dia baik hati dan tidak pandang bulu, dia baik pada semua orang. Tidak pilih-pilih. 


"Terimakasih, teh."


"Sama-sama, dek." Jawab Airyn. 


Setelah selesai membuatkan semua pesanan, Airyn pun memberikan Nana pada Arjuna. Pemuda itu pun mwmbawa Nana ke rumah, meskipun agak sulit membujuk adiknya itu untuk bisa lepas dari pelukan Airyn. Juna sampai heran sendiri, disini dialah yang kakaknya Nana, tapi Nana malah nempel pada Airyn. Mengherankan, tapi tak apa. Dia senang karena Airyn bisa merebut hati Nana dengan cepat. 


"Jadi berapa total nya, Pak?"


"Sama yang anak-anak tadi jadi 95 ribu, Neng." Jawab bapak-bapak itu. Jangan salahkan total nya, karena anak-anak nya juga banyak plus mereka juga membungkus juga sebagian untuk orang di rumah. Airyn mempersilahkan, tanpa melarang anak-anak itu. Dia membebaskan anak-anak itu untuk membawa pulang jika ingin. 


"Ini uang nya, Pak." Airyn memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada bapak itu. 


"Neng, ini kebanyakan uang nya."


"Gapapa, buat bapak aja lebihnya. Terimakasih, Pak."


"Terimakasih, Neng. Semoga di lancarkan rezeki nya, di panjang usia nya."


"Aamiin, Pak. Saya masuk dulu."


"Iya, Neng." Jawab bapak itu. Airyn pun masuk ke dalam rumah sederhana berdinding bilik bambu itu. Bapak itu tersenyum melihat punggung Airyn yang menghilang di balik pintu sederhana itu. Tak terasa, air mata nya menetes namun dengan cepat dia mengusapnya dengan menggunakan tangan nya yang sudah keriput. 


"Masih ada di jaman sekarang orang sebaik dia ya? Sudah cantik, hatinya juga baik. Juna beruntung dan pintar memilih pendamping hidup. Semoga hubungan kalian di restui Tuhan."


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2