Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 60 - Kekesalan Maudy


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Airyn, sudah satu jam mereka bermain namun Juna belum menunjukan tanda-tanda kalau dia akan segera menyelesaikan permainan nya. 


"Hmm, apa?"


"Masih lama?" Tanya Airyn, dia juga menikmati permainan Juna. Namun, rasanya agak sedikit pegal jika terus berada di posisi ini.


"Enggak tau, kenapa memang nya? Udah sakit ya?"


"Bukan gitu, pinggang aku pegel. Ganti gaya yuk?" Ajak Airyn sambil tersenyum. 


"Gaya gimana?" Tanya Juna, tanpa menghentikan gerakan tubuh nya. 


"Aku yang di atas, gimana?"


"Kamu bisa?" Tanya pemuda itu. Airyn pun meminta Juna untuk turun, dia pun menurut dan menarik miliknya dari sang kekasih. Airyn bersusah payah untuk bangkit dari rebahan nya, gantian kini Juna yang berbaring di bawah Airyn. 


"Aawwhhss.." Airyn meringis pelan, jujur saja miliknya masih terasa sakit dan belum terbiasa dengan milik Juna yang ukuran nya terlalu besar seperti terong ungu. Tapi, dia suka. 


"Sakit banget ya? Udah, jangan di lanjut kalau sakit."


"Sakit tapi enak kok ini." Jawab Airyn sambil tersenyum. Dia pun menurunkan tubuh nya secara perlahan, hingga milik Juna berhasil tenggelam sempurna di dalam milik nya.


"Aaassshhh, penuh banget.." Lirih wanita itu, Juna terlihat memejamkan mata nya menikmati gerakan Airyn yang benar-benar membuat nya candu, belum lagi melihat pemandangan tubuh Airyn yang tersaji sempurna di depan mata. 


"Enak, yang. Teruskan.." Pinta Juna, Airyn tersenyum lalu menundukkan kepala nya dan mencium bibir Arjuna. Pria itu juga membantu agar gerakan Airyn lebih cepat. 


"Aaahhhh.." Airyn mendesaah panjang saat dia berhasil mendapatkan klimaaks nya yang entah ke berapa kali nya.


"Aku banjir.." lirih wanita itu membuat Juna terkekeh. 


"Enak ya?"


"Iya, tapi sakit juga. Kamu kok lama sih keluar nya? Udah satu jam lho. Tau gini, aku ngajak nya nanti malam aja."


"Astaga, sayang. Kita harus kerja kan ya?" Ucap Juna seolah dia baru ingat kalau hari ini mereka harus bekerja. 


"Kita libur saja ya?"


"Baiklah, apapun untukmu." Jawab Juna. Dia pun kembali bermain dengan Airyn, hingga beberapa menit kemudian pemuda itu juga berhasil mendapatkan klimaaks nya yang pertama setelah satu jam setengah kedua nya bermain. 

__ADS_1


"Sayang, aku harus mengeluarkan nya dimana? Di luar atau di dalam."


"Hah? Kamu mau keluar?"


"Iya, cepatlah. Aku sudah tidak tahan lagi." Jawab Juna, wajah nya memerah menahan gelombang yang menghantam tubuh bagian bawah nya.


"Di dalam saja." Putus Airyn, Juna pun menganggukan kepala nya lalu mempercepat gerakan maju mundur nya. Hingga akhirnya, pemuda itu pun mengerang panjang penuh kepuasan. Pemuda itu pun ambruk menindih tubuh polos sang kekasih, kedua nya tengah menetralkan nafas yang memburu seolah habis di kejar hantu. 


"Terimakasih, sayang." Bisik Juna membuat tubuh Airyn merinding seketika. 


"I love you.." ucap Juna lagi, tepat di telinga sang kekasih. 


"I love you more than anything." Balas Airyn sambil tersenyum.


"Capek.." Lirih Airyn.


"Kamu di atas nya cuma bentaran doang, aku yang main lama."


"Iya deh, si paling lama." Jawab Airyn sambil terkekeh pelan. 


"Puas gak main nya?"


"Sayang, geli.." Ucap Airyn, bukan nya membuat Juna berhenti, justru dia semakin menjadi. Seperti istilah yang mengatakan, sebuah larangan adalah perintah. 


"Sayang.." 


"Hehe, iya maafin. Habis nya gemes." Jawab Juna sambil menduselkan wajah nya di punggung Airyn. Dia mengecupi pundak wanita itu, bahkan menggigit nya pelan hingga meninggalkan bekas. 


"Astaga, sayang. Sakit.."


"Mending geli apa sakit, yang?"


"Gak mau kedua nya, yang."


"Hmmm, baiklah. Kamu gak capek?" Tanya Arjuna sambil mengecupi mesra puncak kepala Airyn yang tersuru di dada Juna. Sekarang, posisi mereka saling berpelukan. 


"Capek, kamu?"


"Capek juga, bobok yuk?" Ajak Juna yang membuat Airyn mendongak lalu tersenyum. Dia pun menganggukan kepala nya dengan perlahan. 

__ADS_1


"Baiklah, kita tidur saja." Jawab Airyn. Mereka pun memutuskan untuk tidur setelah bermain, untuk mengisi tenaga yang terkuras setelah bermain kuda-kudaan selama satu jam lebih. 


Sedangkan di kantor, Maudy merasa ada sesuatu yang terjadi, dia terus saja melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya. 


"Kemana Nona Airyn? Dia berjanji akan datang jam sembilan, tapi ini sudah jam sepuluh. Apa terjadi sesuatu ya?" Gumam Maudy. Dia pun berusaha untuk menghubungi nomor sang atasan, dia berniat menanyakan apakah Airyn akan pergi ke kantor hari ini atau tidak. Karena ini sudah ngaret satu jam dari jam yang dia katakan. 


"Gak di angkat? Aduh, Nona Airyn. Anda kemana sih? Bikin aku khawatir saja." Gumam nya lagi. 


"Sudahlah, mungkin dia sedang bermanja-manja dengan Juna. Biarkan saja, nanti juga kalau mau ke perusahaan juga dia bakalan kesini." 


Maudy pun kembali ke ruangan nya dan mengerjakan semua pekerjaan nya, termasuk pekerjaan Airyn juga. Dia juga mewakili beberapa meeting yang harusnya di hadiri oleh dirinya dan Airyn, namun bukan Maudy nama nya jika dia tidak pandai membujuk investor. 


Dia mengatakan kalau Airyn tengah berhalangan hadir karena seseorang tengah sakit, mereka pun percaya dan meeting pun di mulai. 


'Nona, Anda harus menaikan gaji saya karena saya sudah bekerja sangat keras.' Batin Maudy. 


Setelah meeting, Airyn juga memiliki satu tugas lagi yang di berikan oleh Airyn secara khusus. Yakni mencarikan motor yang bagus untuk di berikan pada Juna. Saat ini, dia pergi bersama sang suami ke dealer terbesar yang untung nya tidak jauh dari cafe tempat dia meeting. 


"Nona Airyn nyari motor buat siapa sih, Yang?"


"Buat Juna, Mas. Katanya kasian kalau dia nebeng terus sama temen nya." Jawab Maudy sambil melihat ponsel nya, pesan yang dia kirim beberapa menit lalu masih belum di baca sama sekali. Bahkan hanya centang satu, artinya wanita itu sedang tidak aktif kan?


"Terus, Nona Airyn nya mana?"


"Gak tau aku, Mas. Terakhir aku komunikasi sama dia tuh tadi pagi, dia bilang mau ke kantor jam sembilan pagi. Tapi sampai sekarang gak ada ke kantor, aku khawatir. Dia kemana ya?"


"Udah nyoba telpon Juna? Dia pasti lagi sama Juna kan?"


"Gak punya nomor ponsel nya, Mas."


"Hmm, Mas juga gak punya nomor Juna." 


"Kalau gak punya kenapa nyaranin sih, Mas?"


"Hahaha, jangan sensi gitu dong, Yang. Kamu gemesin tau gak kalo lagi ngomel gini." 


"Nyebelin!" Ucap Maudy sambil menyedekapkan kedua tangan nya di dada, pertanda kalau dia sedang kesal saat ini. 


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2