
Pagi harinya, Airyn pun mencoba testpack yang sudah dia beli kemarin malam, saat akan menjemput Mamak dan Nana di apartemen. Wanita itu terlihat ragu-ragu, tapi dia juga penasaran, sebenarnya apa yang terjadi padanya belakangan ini. Apakah benar kalau dia hamil saat ini? Jawaban nya akan segera dia ketahui lewat testpack ini.
Dengan perlahan, Airyn pun mencelupkan ujung benda itu ke wadah kecil berisi air seni nya. Setelah beberapa detik, dia pun meletakan benda itu untuk menunggu hasilnya. Dada Airyn berdebar kencang, sungguh dia sangat gugup saat ini.
Selang beberapa menit, akhirnya hasil nya keluar, Airyn pun mengangkat benda itu dan melihat ada dua garis yang terbentuk, satunya terlihat agak samar, namun Airyn tahu benar kalau itu tetap positif.
Airyn membulatkan kedua matanya, dia tidak percaya kalau saat ini dia sedang hamil? Rasanya agak tidak percaya, tapi ini nyata.
"A-aku hamil?" Gumam Airyn sambil menutup mulut nya dengan satu tangan. Air matanya menetes, namun kali ini bukanlah tangisan kesedihan. Entah kenapa, jujur saja dia memang tidak mengharapkan kehamilan ini, tapi dalam hatinya saat ini dia merasa sangat bahagia.
"Terimakasih sudah hadir, maaf kalau Mama sempat tidak menginginkan kehadiran mu. Tapi sekarang, Mama dan Papa akan menjagamu dengan baik, sayang. Kita beritahu Papa ya?" Ucap Airyn sambil mengusap perut nya yang masih rata.
Setelah mengetahui kalau dirinya tengah mengandung, Airyn pun menjadi lebih hati-hati dalam bertindak. Wanita cantik itu pun bersiap untuk pergi bekerja, pagi ini dia berangkat kerja sendirian dengan menggunakan supir pribadi keluarga nya.
Juna pun berangkat dari apartemen menggunakan sepeda motor nya yang di berikan oleh Airyn beberapa bulan lalu. Pemuda itu berangkat dengan menggunakan kendaraan itu, dia melajukan nya dengan kecepatan rata-rata. Tentunya, dengan keadaan pagi hari, dia tidak mungkin bisa ngebut karena jalanan yang ramai oleh pengendara lain.
Airyn lebih dulu sampai di kantor, wanita itu masuk ke dalam ruangan nya. Di luar ruangan, wanita itu di sambut hangat oleh Maudy, asisten pribadi nya.
"Selamat pagi, Nona."
"Pagi, Airyn."
"Nona.." Panggil Maudy, membuat Airyn menoleh menatap asisten pribadi nya itu.
"Kenapa, Dyy?" Tanya Airyn sambil menatap Maudy.
"Apa anda baik-baik saja?"
"Iya, memang nya kenapa?" Balik tanya wanita itu.
"Anda kelihatan pucat sekali, Nona." Ucap Maudy sambil menatap wajah Airyn yang memang terlihat pucat.
"Belakangan ini, aku memang agak gak enak badan, Dyy. Tapi gapapa kok, kalau ada apa-apa masih ada Juna."
"Baiklah, Nona. Selamat beraktivitas."
__ADS_1
"Terimakasih, Maudy." Ucap Airyn. Dia pun masuk ke dalam ruangan, begitupun dengan Maudy. Keduanya pun mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Ceklek..
Pintu ruangan Airyn terbuka, menampilkan Juna yang baru saja datang dengan wajah di tekuk. Dia kesal bukan main, pasalnya tadi dia malah di serempet oleh mobil yang ugal-ugalan hingga membuat nya jatuh ke solokan. Untung saja solokan nya kering, jadi pakaian nya tidak kotor. Tapi tetap saja tubuhnya terasa sakit, terutama bagian lutut. Kaki nya juga membiru, seperti nya terkilir.
"Kamu kenapa, Jun? Jalan nya kok pincang gitu?" Tanya Airyn sambil beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Juna yang duduk di sofa sambil menekuk wajahnya.
"Habis jatoh di serempet mobil." Jawab Juna dengan wajah datarnya.
"Mana yang sakit, sayang?" Tanya Airyn lagi dengan nada khawatir.
"Kaki doang sih, lebam. Sama lutut kena batu, gapapa kok. Tapi.."
"Tapi apa, Jun?"
"Motor nya baret, terus lampu depan nya pecah. Maaf ya?" Ucap Juna, dia menatap wajah Airyn dengan sendu. Dia masih agak kesal pada wanita itu tentang masalah kehamilan, tapi dia benar-benar takut kalau Airyn akan marah karena dia sudah merusakan motor pemberian nya.
"Lho, kenapa minta maaf segala? Gapapa, sayang. Asal kamu nya baik-baik aja, motor bisa di perbaiki nanti ke bengkel."
"Udah, gapapa. Jangan sedih gitu, nanti aku panggil orang bengkel buat ambil motor nya. Nanti sore pulang nya sama aku."
"Yang.."
"Hmm, kenapa?"
"Peluk.." Rengek Arjuna dengan manja, membuat Airyn terkekeh lalu memeluk sang kekasih dengan erat.
"Juna.."
"Apa, baby?"
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu."
"Iya, tinggal bicara aja. Tentang apa?"
__ADS_1
"A-aku.."
"Ayolah, sayang. Apa? Jangan bikin aku penasaran."
"Aku hamil, Jun."
"Benarkah?" Tanya Juna, dia melerai pelan pelukan Airyn lalu menatap wajah cantik wanita itu. Airyn menganggukan kepala nya.
"Iya, aku hamil. Aku udah test tadi pagi, ini hasilnya." Airyn menunjukkan testpack yang tadi dia gunakan. Juna mengambilnya dan melihat memang ada dua garis disana, namun satunya masih samar. Tapi sudah bisa di pastikan kalau Airyn memang tengah mengandung saat ini.
"Sayang, apa kamu masih bersikukuh untuk.."
"Tidak, aku tidak akan menyakiti anakku. Aku akan merawatnya dengan baik, bersamamu." Jawab Airyn sambil tersenyum.
"Kamu serius?"
"Iya, aku sudah memikirkan nya dengan baik seperti apa yang kamu katakan, sayang. Terimakasih karena sudah sabar menghadapi aku, ya?"
"Aaaahhh, aku sangat senang mendengarnya, sayang. Terimakasih, kita akan menjaga nya bersama-sama. Secepatnya aku akan melamar mu."
"Kamu siap menghadapi Daddy?" Tanya Airyn lagi.
"Tentu saja aku siap, sayang."
"Tapi Daddy nyeremin kalau marah, Sayang."
"Gapapa, seseram harimau pun akan aku hadapi, sayang." Jawab Arjuna yang membuat Airyn segera memeluk pemuda itu lagi.
"Terimakasih.."
"Jangan terus berterimakasih untuk hal yang memang sudah seharusnya aku lakukan, aku mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu, Arjunaku." Balas Airyn lalu kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Juna.
Pemuda itu terdiam sambil mengusap-usap puncak kepala Airyn. Dia ingat benar apa nasihat yang di berikan oleh sang ibu tadi malam sehabis pulang dari rumah orang tua Airyn.
__ADS_1
nanti, ada flashback nya Juna yaww