
"Ayang, kok diem aja sih?" Tanya Airyn, sedari tadi Juna diam saja. Dia tidak bicara apapun, hanya sesekali melirik ke arah Airyn. Kedua nya memang makan siang bersama, tapi tidak ada obrolan sama sekali. Mereka sibuk dengan makanan masing-masing.
Biasa nya, Arjuna akan banyak bicara, ngoceh tanpa bosan. Tapi sekarang dia malah diam, berbeda sekali dan itu membuat Airyn tidak suka. Akhirnya dia lah yang membuka percakapan lebih dulu meskipun rasanya agak cukup gengsi, tapi demi bisa bicara dengan Arjuna, Airyn melupakan sejenak gengsi nya itu.
"Sayang.."
"Apa?" Tanya Juna singkat.
"Gimana kursus nya, lancar?"
"Hmm.." Juna hanya menjawab dengan deheman saja. Dia benar-benar acuh, bahkan tidak mau menatap wajah sang kekasih. Hati nya masih di penuhi oleh kecemburuan yang membuat nya kepanasan sendiri.
"Sayang, kamu kenapa? Kok pendiem gini sih? Biasa nya kamu banyak omong." Ucap Airyn sambil menatap Arjuna dengan tatapan nanar nya. Dia tidak suka di diamkan seperti ini, sungguh. Dia lebih memilih Juna yang banyak tingkah dan banyak omong di bandingkan Juna yang pendiam seperti ini.
"Gapapa."
"Juna, astaga sayang. Aku gak suka di diemin gini."
"Aku juga gak suka pas kamu senyam-senyum genit gitu sama cowok lain." Jawab Juna sambil melirik ke arah Airyn dengan sinis.
"Kamu masih cemburu, yang?"
"Enggak tuh, aku cuma gak suka."
"Ya ampun, ngaku aja sih kalo kamu cemburu. Gengsi amat deh."
"Aku gak cemburu!"
"Terus?"
"Cuma gak suka, karena kamu milih aku!"
"Iya, aku milik kamu. Jadi, udah dong jangan ngambek. Aku cuma punya kamu." Jawab Airyn sambil tersenyum tapi Arjuna malah mendelik.
"Gak percaya aku, kamu senyum kesenangan tadi pas dia muji kamu cantik."
"Astaga, yang. Dia cuma basa basi aja kali, nama nya juga sama klien. Yaudah, aku ngaku salah deh udah senyum sama Tuan Mateo, aku minta maaf ya?" Bujuk Airyn yang membuat Juna tersenyum kecil.
"Tapi jangan di ulangi."
__ADS_1
"Iya, gak bakalan kok, sayang." Jawab Airyn sambil tersenyum.
"Yaudah, aku maafin."
"Beneran? Wah, makasih sayang." Ucap Airyn sambil menggenggam tangan Arjuna yang berada di atas meja.
"Sayang, aku takut banget tadi sama pelatih kursus itu."
"Takut kenapa? Dia galakin kamu apa gimana, yang?" Tanya Airyn. Juna menggeleng, dia memang tidak memarahi atau berbuat hal yang tidak dia sukai, tapi dia tetap saja takut melihat wajah dan perawakan pria bernama Heru itu. Dia terlihat seperti preman dengan tatto yang hampir memenuhi tubuh nya.
"Takut aja, yang. Muka nya nyeremin."
"Haha, tapi dia baik kok, yang."
"Ya baik sih, tapi tetep aja nakutin, hehe." Jawab Juna sambil terkekeh. Syukurlah Arjuna sudah mau bicara lagi, dia lebih suka Arjuna yang banyak bicara seperti ini. Jika sudah banyak bicara, Airyn hanya akan menyimak saja sambil melihat wajah tampan sang kekasih dengan senyuman manis nya.
"Gapapa kok, dia baik. Lagian dia tempat kursus terbaik di kota ini, dulu juga aku kursus mengemudi disana, sayang."
"Benarkah?"
"Iya dong, karena itu aku bisa mengenal nya dengan baik, sayangku." Jawab Airyn.
"Heem, nanti kamu pulang jam berapa?" Tanya Airyn sambil menyuap makanan dengan lahap.
"Jam tujuh, aku sudah di rumah. Kamu?"
"Aku usahakan pulang lebih awal, sayang." Jawab Airyn.
"Baiklah, aku merindukan mu. Bisakah?"
"Jangan macam-macam, sayang. Kita masih di restoran." Jawab Airyn sambil celingukan. Restoran ini cukup ramai oleh pengunjung yang sedang menikmati makan siang mereka.
"Kangen.."
"Nanti aja di rumah, gimana?" Tanya Airyn. Biasanya dia yang suka begini, tapi sekarang malah Juna.
"Susu?"
"Oke, sayang." Jawab Airyn sambil tersenyum, membuat Arjuna tersenyum kesenangan. Susu, dia suka susu. Tapi bukan susu sapi, tapi susu yang lain. Benda itu tidak menghasilkan susu tapi membuat candu jika sudah bermain-main disana.
__ADS_1
"Asik, nyenengin banget deh."
"Gimana kalo aku jemput nanti?"
"Boleh, Bby. Aku tunggu ya.."
"Iya, bocil posesif ku."
"Dih, aku posesif cuma sama kamu ya."
"Hehe, aku suka kamu posesif gitu tapi." Jawab Airyn sambil terkekeh.
"Maaf kalo aku bikin kamu risih, Bby."
"Gapapa kok, aku bahagia sama kamu." Jawab wanita itu sambil tersenyum manis.
"Aku juga, ayo habiskan makanan nya. Kamu harus pergi ke kantor lagi kan?"
"Heemm, iya sayang. Masih ada meeting lagi." Jawab Airyn sambil menyuap makanan nya yang masih tersisa cukup banyak di piring nya karena kedua nya keasikan mengobrol bersama.
"Ya sudah, semangat sayangku."
"Kamu juga, semangat kerja nya." Ucap Airyn. Juna menganggukan kepala nya, lalu kedua nya pun fokus dengan makanan nya. Mereka makan dengan lahap, sesekali di selingi canda dan tawa yang membuat suasana makan siang mereka terasa lebih hangat dan romantis.
Jam makan siang pun selesai, kedua nya pun terpaksa harus berpisah namun tidak lama, mereka akan bertemu beberapa jam lagi untuk pulang.
"Sayang, aku pergi dulu ya."
"Iya, sayang. Hati-hati di jalan nya dan jangan genit-genit sama cowok, aku gak suka!"
"Iya bocilku."
"Bocil bocil, aku bukan bocil. Aku udah gede lho, Bby."
"Badan doang yang gede, bagi aku kamu tetep bocil, hehe." Jawab Airyn sambil terkekeh. Sedangkan Arjuna hanya mendelik mendengar ucapan sang kekasih, meskipun benar usia nya jauh lebih muda sepuluh tahun dari Airyn. Mau tidak mau, dia harus terima kalau di panggil bocil karena dia memang bocil kalau versi Airyn.
"Iya deh iya, aku bocil." Jawab Juna pasrah, demi cinta apapun bisa di relakan, meskipun Juna tidak suka ada yang memanggil nya bocil tapi kalau itu Airyn maka bisa di bicarakan secara baik-baik.
........
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻