Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 43 - Kebaikan Airyn


__ADS_3

"Hallo, Mak. Ada apa?" Tanya Arjuna, sedangkan Airyn diam saja menyimak. Kadang, dia merebahkan kepala nya di pangkuan Juna dan pemuda itu langsung mengusap-usap rambut nya dengan lembut.


'Apa kabar, Nak?'


"Juna baik-baik saja disini, Mak. Mamak sama Nana apa kabar?" Tanya Juna sambil tersenyum, sudah lama semenjak mereka bertukar kabar terakhir kali nya. 


'Justru karena itu Mamak menghubungi mu, Nak.'


"Ada apa, Mak? Nana kenapa? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Juna panik, dia langsung menghentikan usapan tangan nya di kepala Airyn. Tentu saja, hal itu membuat Airyn mendongak, dia menatap wajah tampan Arjuna yang terlihat sedikit panik dan khawatir. 


'Nana sakit, harus di bawa ke rumah sakit karena demam nya tidak kunjung turun juga.' 


"Bawa Nana ke rumah sakit, Mak. Lakukan perawatan yang terbaik, Juna gak bisa pulang dalam waktu dekat." Ucap Arjuna yang membuat Airyn langsung bangkit dari rebahan nya. Lagi-lagi dia menatap wajah tampan Juna yang ekspresi nya masih sama seperti tadi.


'Uang yang kamu berikan sisa separuh, Nak. Mamak belikan kebutuhan rumah dan bayar listrik.' Jelas Mamak Juna yang membuat kepala Juna pening. Dari mana dia akan mendapatkan uang sekarang? Gajian pun masih cukup lama karena ini baru pertengahan bulan. 


"Juna akan mengusahakan untuk biaya nya, sekarang bawa saja Nana ke rumah sakit ya, Mak. Secepatnya Juna akan transfer uang nya."


'Baik, Nak. Terimakasih, maafkan Mamak ya?'


"Tidak perlu meminta maaf sama Juna, Mak." Jelas Juna.


'Kalau begitu, Mamak akan membawa Nana ke rumah sakit sekarang, Nak.'


"Hati-hati ya, Mak. Kabari Juna terus tentang keadaan Nana ya, Mak." 


'Tentu saja.' 


"Ya sudah, Mak. Juna matikan dulu panggilan nya ya.."


'Iya, Nak. Selamat beristirahat, sayang.' Ucap Mamak Juna. Panggilan pun selesai, Juna menghela nafas nya saat melihat panggilan yang sudah selesai, layar ponsel keluaran lama itu padam. 


"Kenapa, sayang?" Tanya Airyn.


"Nana sakit, Bby."


"Nana siapa, sayang?" 


"Asik aku, sayang." Jawab Juna lirih, jelas terlihat kalau sekarang Juna tengah kebingungan.


"Apa sudah di bawa ke rumah sakit, sayang?"


"Mamak baru mau bawa Nana ke rumah sakit, tapi katanya uang yang aku kasih tinggal separuh." Jelas Juna membuat Airyn tersenyum, dia mengambil ponsel yang tergeletak di meja lalu mengetikkan sesuatu.


"Nomor rekening kamu mana?"

__ADS_1


"Buat apa, Bby? Aku gak minta kok, aku bakalan minjem sama bos aku di restoran besok." Jawab Arjuna.


"Masih mending kalau di kasih, kalau enggak gimana? Jangan mengambil resiko, sayang. Adik kamu harus segera di tangani."


"Tapi.."


"Cepatlah.." Pinta Airyn, akhirnya Juna pun menyebutkan nomor rekening nya.


"Sudah, di cek sana terus transfer ke rekening Mamak kamu."


Juna mengecek notifikasi di ponsel nya, seketika itu juga Juna membulatkan kedua mata nya saat melihat nominal uang yang di kirimkan oleh Airyn padanya.


"L-lima puluh juta?"


"Kenapa sih?"


"Sayang, ini uang nya banyak banget lho. Dari mana nanti aku ngembaliin nya? Butuh dua tahun bekerja di restoran biar dapet uang segitu." 


"Aku gak minjemin, sayang. Itu buat kamu, kasih setengah nya ke Mamak kamu, setengah nya lagi simpan di rekening mu dan gunakan jika suatu saat kamu membutuhkan nya, sayang." Jelas Airyn membuat kedua mata Arjuna berkaca-kaca. 


"Lho kok malah nangis?"


"Terimakasih, sayang." Ucap Arjuna lirih sambil menghambur memeluk Airyn dengan erat. Airyn tersenyum lalu mengusap-usapkan tangan nya di punggung Juna.


"Iya, sayang."


"Ya sudah, segera kirim uang nya biar Mamak kamu punya pegangan, setelah itu kita tidur." Ucap Airyn. Juna pun mengangguk, dia mengambil ponsel dan mengirim uang sejumlah 25 juta sesuai dengan perintah sang kekasih dan setengah nya lagi dia simpan di rekening nya. Tak lupa, Juna juga mengirimkan pesan pada sang ibu dan langsung mendapatkan balasan. Beliau mengatakan kalau saat ini, adik Juna sudah di tangani di rumah sakit terdekat dari rumah. 


Pemuda itu menghela nafas lega, dia bisa merasa tenang sekarang karena adiknya sudah di tangani oleh dokter. Dia harus banyak-banyak berterimakasih pada Airyn, berkat bantuan sang kekasih, adiknya bisa di tangani dokter. 


"Hufftt, terimakasih sayang." Gumam Arjuna. Tak lama, Airyn sudah kembali dari dapur dan mengajak sang kekasih untuk pergi ke kamar dan beristirahat.


"Ayo kita tidur, sayang." Ajak Airyn, Juna langsung menganggukan kepala nya. Dia pun mengekor di belakang sang kekasih, sesekali dia menepuk pantaat sintal dan berisi sang kekasih dengan jahil.


"Sayang, jangan nakal."


"Hehe, habisnya itu kenyal."


"Kebiasaan kamu tuh ya, awas aja gak aku kasih kiss seminggu."


"Hey, jangan gitu dong. Mana boleh kamu gitu sama aku." Rengek Juna membuat Airyn terkekeh pelan.


"Yaudah, jangan nakal dong."


"Cuma nepuk aja, maaf.."

__ADS_1


"Aku suka sih sebenernya, hehe."


"Kenapa kamu melarang kalau kamu suka, Bby?" Tanya Juna sambil menangkap tubuh Airyn dan mendudukan tubuh sang kekasih di pangkuan nya. 


"Gak tahu tuh."


"Dih kamu.." ucap Juna sambil menggesekan hidung bangir nya ke hidung Airyn karena gemas.


"Bobok yuk? Besok kamu kerja?"


"Iya, tapi lusa sih libur. Kamu?"


"Sama, lusa tuh aku juga libur, sayang." Jawab Airyn sambil tersenyum kecil.


"Kamu punya rencana apa buat habisin hari weekend?" Tanya Juna sambil membelai wajah cantik sang kekasih, sesekali dia menghidu aroma yang menguar lembut dari leher sang kekasih. 


"Tidur aja sih, hehe. Kamu?"


"Apa aja yang penting sama kamu."


"Dih, yang bener?"


"Seriusan." Jawab Arjuna yang membuat Airyn langsung menduselkan wajah nya di dada bidang sang kekasih. 


"Yaudah, kita tidur yuk? Kepala ku agak kliyengan ini."


"Yuk, aku puk puk biar tidur nya nyenyak." Ucap Juna. Kedua nya pun berbaring, Juna memeluk Airyn dan menepuk-nepuk kepala sang kekasih. Sesekali Juna melayangkan kecupan mesra di puncak kepala Airyn, membuat wanita itu merasa nyaman dan dia bisa tertidur hanya dalam hitungan menit saja. 


"Yang.." Panggil Juna. Tapi wanita itu tidak menjawab, membuat Juna menundukan kepala nya dan melihat ternyata Airyn sudah tertidur pulas.


"Sudah tidur ya? Cepet banget tidur nya." Ucap Juna sambil tersenyum. Dia pun kembali memeluk tubuh Airyn dan memejamkan mata nya, tak lama Juna pun menyusul Airyn ke dunia mimpi.


Di rumah, Jonathan sedang merasa sangat kesal saat ini. Sudah dua Minggu berlalu sejak pertengkaran terakhir bersama Airyn, putrinya. Tapi sampai sekarang, dia tidak bisa bertemu dengan perempuan itu lagi, bahkan saat dia sengaja datang ke perusahaan, Airyn seolah menghindar. Dia tidak pernah ada di perusahaan saat dia datang.


"Apa putriku sudah benar-benar membenci ku? Padahal aku hanya ingin yang terbaik untuknya." Lirih Jonathan membuat sang istri terkekeh pelan.


"Yang terbaik menurut kita dan menurut putri kita itu berbeda, Pah. Biarkan saja dia menikmati masa muda nya, dia bisa mencari pria idaman nya sendiri, Airyn sudah dewasa, Pah. Biarkan dia memilih calon nya sendiri."


"Tapi, Maa.."


"Kalau Papah sayang sama Airyn, biarkan dia mencari kebahagiaan nya sendiri. Lagi pula ini bukan jaman nya lagi dengan perjodohan." Ucap nya, membuat Jonathan terdiam. Apa yang di katakan oleh istrinya membuat dia terdiam. Benar, ucapan sang istri memang benar. Sudah tidak jaman lagi dengan yang nama nya perjodohan.


.......


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2