
"Yang.." Panggil Juna. Membuat Airyn yang juga sedang bekerja di meja yang ada di samping meja Juna pun menoleh. Ya, sekarang di ruangan Airyn ada dua meja kerja. Satu nya milik Juna dan yang satu nya lagi milik dirinya sendiri.
"Iya, sayang. Kenapa?"
"Pusing, yang. Ini gimana sih? Kok eror terus." Tanya Arjuna sambil merengek. Airyn beranjak dari duduk nya, lalu melihat kinerja Juna.
"Wah, pacarku hebat juga ya. Ini udah jauh lho buat kamu yang baru sehari kerja."
"Udah dulu muji nya, ini di gimanain?" Tanya Juna lagi.
"Yang ini salah langkah nya, sayangku." Jawab Airyn, dia pun mengajari Juna cara mengerjakan file ini dengan benar. Tetapi, Juna malah salah fokus dengan buah apel sang kekasih yang terasa menyentuh punggung nya.
"Hey, fokus dong." Ucap Airyn membuat Juna kembali fokus melihat layar komputer yang menyala dan sedang di otak atik oleh Airyn.
"Maaf, Bby. Habisnya kamu wangi banget."
"Dih, malah salah fokus aja kamu Bby." Ucap Airyn sambil menjawil gemas hidung mancung sang kekasih.
"Salahin aroma tubuh kamu tuh, terlalu memikat." Jawab Juna sambil tersenyum.
"Udah, sana fokus kerja. Udah aku ajarin kan? Paham belum?"
"Hehe, udah kok."
"Yaudah, semangat kerja nya, sayang."
"Terimakasih, sayang." Jawab Juna, Airyn mengusap puncak kepala sang kekasih lalu dia kembali ke tempat kerja nya.
Tapi disaat sedang fokus-fokusnya, ponsel Juna malah berdering dengan nyaring, membuat Airyn menoleh sedangkan Juna terlihat panik. Dia takut Airyn akan merasa kesal karena terganggu dengan bunyi ponsel nya yang mengganggu.
"Maaf, yang.."
"Gapapa, sayang. Angkat, barangkali penting."
"Iya, cantik ku." Jawab Juna. Dia melihat kalau yang menelpon nya adalah sang ibu dari kampung.
"Hallo, Mak.." Ucap Juna setelah dia mengangkat panggilan dari sang ibu.
__ADS_1
'Hallo, Jun. Apa kabar, sayang?' Tanya Mamak Juna di seberang telepon.
"Juna baik kok, Mak. Mamak sama Nana gimana?" Balik tanya Juna. Dia tersenyum, namun kedua mata nya berkaca-kaca. Dia merindukan sosok sang ibu dan juga adik nya, terhitung sudah setahun dia berada di rantau, meninggalkan ibu dan juga adik nya di kampung.
'Nana juga baik kok, bulan depan Nana mau masuk TK.'
"Wah, gak kerasa ya adik Juna udah gede, udah mau sekolah aja."
'Iya, sayang. Kapan kamu akan pulang, Nak? Mamak rindu..' Pertanyaan yang terasa pedih bagi Juna. Dia tidak bisa menjanjikan kapan dia akan pulang, disini dia tengah berjuang untuk masa depan adik nya. Dia ingin, Nana sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi dari dirinya.
"Juna juga rindu sama Mamak, tapi disini Juna lagi berjuang buat kalian, buat Mamak sama Nana." Jawab Juna lirih, air mata nya menetes begitu saja. Namun Juna langsung mengusap nya dengan jemari nya, dia tak ingin terlihat lemah di depan Airyn.
Airyn yang melihat hal itu segera mendekati Juna, lalu memeluk pria itu dari belakang.
"Yang, aktifin speaker nya dong." Pinta Airyn dan Juna mengiyakan permintaan kekasih nya.
'Kamu lagi sama siapa, Nak?' Tanya Mamak lagi.
"Juna lagi sama Airyn, Mak."
"Hehe, iya Mak. Airyn pacar Juna."
"Hallo, Mamak. Aku Airyn, pacar nya Juna." Sapa Airyn dengan ramah, membuat Mamak terkekeh.
'Hallo, Nak Airyn.'
"Mak, Juna lagi kerja. Syukurlah kalau Mamak sama Nana baik-baik saja, udah dulu ya? Juna lagi kerja. Sekarang, Juna kerja di perusahaan nya Airyn."
'Yasudah, semangat kerja nya. Jangan lupa berterimakasih sama pacar kamu karena dia udah mau bawa kamu kerja di perusahaan nya. Kerja yang bener, jangan manja ya.'
"Iya Mamak, emang nya kapan sih Juna manja. Juna kan anak yang mandiri dan pekerja keras." Ucap Juna sambil terkekeh.
'Mamak tahu, kamu memang mandiri dan dewasa, nak. Kamu di dewasakan oleh keadaan yang membuat kamu harus bekerja keras untuk Mamak dan Nana. Maafin Mamak ya, karena gak bisa bahagiain kamu.'
"Mamak kok bicara kayak gitu sih? Gapapa, Juna ikhlas kerja buat kita. Udah tugas Juna juga sebagai anak tertua."
'Tetap saja, Mamak merasa bersalah karena gak bisa memberikan kamu kebahagiaan seperti anak yang lain.'
__ADS_1
"Mamak, jangan bikin Juna nangis.."
'Jangan cengeng, Jun. Kamu udah punya pacar masa cengeng sih? Kamu kan anak yang kuat, jadi jangan nangis karena hal apapun ya.'
"Iya, Mamak."
'Yaudah, mamak matikan dulu telepon nya ya. Mamak mau nyuci dulu di belakang, Nana habis main lumpur.'
"Iya, Mak. Jangan terlalu kecapean ya, Mak."
'Iya, Nak. Kamu juga, jaga kesehatan ya.' Juna pun mengiyakan dan panggilan pun selesai. Juna menatap layar ponsel miliknya yang sudah mati dengan perasaan tak karuan. Dia merindukan sosok ibu nya juga sang adik, tapi dia harus menahan nya karena tak mungkin dia mengajukan cuti di hari pertama bekerja di perusahaan Airyn kan?
"Sayang, are you oke?" Tanya Airyn. Juna mendongak, lalu memaksakan sedikit senyuman nya.
"Ya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa."
"Kamu merindukan ibu dan juga adikmu?"
"Tentu, sayang. Sudah satu tahun aku disini." Jawab Juna sambil tersenyum kecut, ternyata berada jauh dari keluarga memang tidak semenyenangkan itu.
"Kita pulang besok ya? Gimana?"
"Gak usah, yang. Aku gak enak sama Daddy kamu, masa baru sehari kerja udah.."
"Gak usah mikir kesana, urusan Daddy biar jadi urusan ku."
"Tapi.."
"Kalau kamu rindu sama orang tua kamu, ayo pulang besok, aku anter sekalian ketemu camer. Ya?"
"Baiklah, kalau sudah begini apa aku bisa menolak? Lagian, kamu kan gak suka di bantah."
"Nah itu tahu, pinter deh pacar aku." Ucap Airyn sambil mencium pipi Juna dengan lembut.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1