Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 66 - Saling Melengkapi


__ADS_3

Sesampai nya di apartemen, Juna memarkir mobil nya dengan hati-hati. Setelah nya kedua nya turun dan melihat ada sebuah motor yang terlihat sangat familiar bagi Juna. Kening pemuda itu mengernyit, dia terlihat berpikir sekarang. 


"Kenapa, yang?"


"Ini motor keliatan familiar deh." Jawab Juna, membuat Airyn tersenyum kecil. 


"Ohh ya? Kamu pernah liat dimana emang nya?"


"Hmm, bentar. Aku pikir-pikir dulu, yang." Jawab Juna sambil berusaha mengingat-ingat, dimana dia pernah melihat motor yang sama persis dengan ini.


"Mungkin di ponsel aku, yang."


"Nahh, iya bener. Kamu mau beliin hadiah buat sepupu kamu kan?"


"Iya.."


"Tapi kok ini ada disini? Salah kirim kali."


"Enggak, mana ada salah kirim. Aku nulis alamat nya jelas kok." Jawab Airyn sambil tersenyum kecil. Dia suka melihat ekspresi Juna yang terlihat kebingungan.


"Terus? Kok ini motor nya disini? Aahh, mungkin punya orang kali ya. Pabrik nya gak cuma produksi satu motor kayak gini doang kan?"


"Hahaha, itu emang motor punya aku, sayang."


"Kamu? Emang bisa naik motor?" Tanya Juna dengan heran. Airyn tak tahan lagi, wanita itu tertawa begitu mendengar pertanyaan Juna. 


"Malah ketawa kamu, Bby. Gak ada yang lucu juga."


"Kamu tuh lucu, gemesin banget deh." 


"Hemm, aku tau sih aku emang gemesin." Jawab Juna sambil tersenyum, membuat Airyn mencebik sebal. Lucu plus gemesin sih, tapi gak harus sepede ini juga. 


"Cihh, pede."


"Kan kamu yang bilang, sayang."


"Cobain motor nya nanti malem yuk?"


"Jadi ini beneran motor kamu, Bby?" Tanya Juna lagi. Airyn menganggukan kepala nya mengiyakan. 


"Kamu udah punya mobil, ngapain beli motor? Udah enak pake mobil, gak bakalan kepanasan, kehujanan. Malah beli motor, buat apa?" Tanya Arjuna lagi. 


"Motor nya buat kamu, sayang. Aku beliin buat kamu, biar kalo berangkat kerja atau pulang kerja gak usah nebeng sama temen kamu kalau aku lagi gak bisa jemput." Jawab Airyn yang membuat Juna membulatkan kedua mata nya.


"Yang, kamu ini gabut apa gimana sih? Gak lucu banget gabut nya sampai beli motor."


"Hahaha, iya aku gabut. Soalnya kamu tuh susah kalo di ajakin belanja, jadi yaudah aku beliin kamu motor aja." Jawab Airyn dengan enteng, seolah mengeluarkan uang sebanyak itu bukanlah hal yang berat baginya. Padahal, harga motor ini nyaris menyentuh seratus juta. 


"Orang kaya gabut.."


"Hahaha, jadi yuk malam nanti jalan-jalan ke alun-alun kota. Mau gak?"

__ADS_1


"Boleh, sayang. Tapi ini.."


"Udah, gak usah protes. Yuk kita masuk, aku kangen pengen manja-manjaan sama kamu." Jawab Airyn sambil menggelayut manja di lengan besar Arjuna. 


"Ayo, aku juga pengen jatah."


"Jatah jatah, kayak orang udah nikah aja."


"Gak boleh?" Tanya Juna sambil menatap Airyn. Wanita itu tersenyum lalu berjinjit dan mencium pipi kanan Juna singkat. Berhasil, Juna luluh. 


"Boleh kok, makanya ayo. Sebagai upah karena aku bakalan ngasih kamu jatah, kita jalan-jalan nanti malem. Oke?"


"Oke, cantik." Jawab Juna. Kedua nya pun berjalan masuk ke dalam apartemen, tanpa menyadari kalau sedari tadi ada orang yang mengawasi kedua nya dari jarak yang lumayan jauh. 


'Mereka sudah pulang, seperti nya Airyn dan pemuda itu tinggal bersama di salah satu unit apartemen ini. Aku yakin, mereka memang tengah menjalin hubungan. Terlihat dari Airyn yang bersikap manja dan pemuda itu tidak mempermasalahkan nya sama sekali.' 


'Bagus, awasi mereka terus. Kalau semua nya sudah jelas, baru kita beraksi.' 


'Baik.' Jawab nya dengan suara datar. Dia mematikan sambungan telepon dan segera pergi dari tempat pengintaian nya itu. 


Juna dan Airyn pun melangkah masuk ke dalam apartemen, seperti biasa. Suasana nya sama seperti tadi pagi, bersih dan rapih. Ini semua hasil kerja keras Arjuna, pemuda itu yang setiap hari nya bersih-bersih sebelum berangkat kerja. 


Airyn sendiri sudah melarang sang kekasih untuk bersih-bersih setiap hari, karena awalnya dia sudah menyewa asisten rumah tangga yang bertugas bersih-bersih setiap hari nya disini. Tapi Juna tetap kekeuh dengan keinginan nya dan akhirnya Airyn pasrah, lalu memecat asisten rumah tangga itu atas permintaan Juna. 


"Yang, jadi?" Tanya Arjuna. Airyn yang sedang melihat-lihat isi kulkas, dia berniat untuk mengambil minuman untuk sekedar membasahi tenggorokan nya yang terasa kering.


"Apa?"


"Nanti ya, masih capek. Emang nya kamu gak capek apa?"


"Kalau buat itu sih aku gak pernah capek." Jawab Juna sambil tersenyum kecil.


"Gilaa, kamu punya banyak tenaga gitu dari mana?"


"Gak tau, soalnya kalau buat masalah itu aku suka aja." Jawab Juna lagi membuat Airyn menggelengkan kepala nya, ada-ada saja kekasih nya ini. Membuat dia keheranan sendiri, kenapa bisa begitu? Padahal, melakukan hal itu juga sama-sama melelahkan. Terlebih, melakukan nya setelah seharian bekerja. 


Airyn sih bekerja hanya duduk, namun otak nya yang bekerja. Berbeda dengan Juna yang mengandalkan tenaga nau untuk mengerjakan pekerjaan nya. 


"Doyan kamu mah."


"Nah itu, bener. Hehe." Jawab Arjuna sambil tertawa. 


"Nih minum, haus gak?" Tawar Airyn sambil memberikan satu kaleng minuman pada Juna. Pemuda itu menerima nya, lalu meminum nya secara perlahan.


"Laper, Bby."


"Yaudah, makan dulu. Itung-itung ngisi tenaga dulu sebelum main." Jawab wanita itu sambil tersenyum lagi. Juna pun mengambil beberapa bahan, dia akan memasak sesuatu untuk makan malam nya hari ini.


"Lagi pengen makan apa, Bby?"


"Ada terong gak sih?" 

__ADS_1


"Ada, ini.." Jawab Juna sambil menunjuk ke arah bawah nya. 


"Isshh, bukan terong yang itu. Seriusan ini.."


"Hahaha, ada kok. Mau bikin apa?"


"Terong balado, kayaknya enak deh." Jawab Airyn.


"Oke, masak terong balado." 


"Aku bantu motong-motong terong nya yaa." Putus Airyn dan Juna hanya menganggukan kepala nya, dengan senang hati dia menerima bantuan dari Airyn. 


"Hati-hati motong nya, pisau itu tajam banget." Peringat Juna. 


"Iya iya, bawel deh."


"Yeehh, aku bawel karena aku khawatir ya. Kamu kan biasa nya cero.."


"Aawwhhss.." Airyn meringis sambil mengipas-ngipaskan tangan nya yang teriris pisau. Juna mengambil tangan Airyn yang berdarah lalu memasukan nya ke dalam mulut. 


"Tuh kan, apa aku bilang. Belom ada lima menit padahal aku ngomong nya, kamu udah luka aja!"


"Hehe, maafin.."


"Udah, sana duduk. Gak usah bantuin aku, biar aku aja yang masak." Jawab Juna, Airyn pun menurut dan memilih duduk di salah kursi yang berada tak jauh dari tempat Juna berdiri sekarang. 


Itulah Airyn, dia terlalu ceroboh kalau melakukan sesuatu. Seperti yang baru saja terjadi, tangan nya teriris padahal Juna sudah memperingatkan nya. Belum juga dia selesai bicara, tapi tangan Airyn sudah keburu luka duluan. 


"Yang.."


"Hmm, apa?" Tanya Juna. Dia tengah menggoreng terong nya sebelum di masak dengan bumbu balado yang sudah dia blender sebelum nya. 


"Aku nyusahin banget gak sih?"


"Mana ada, enggak tuh."


"Kamu ngerasa aku nyusahin kamu gak sih?" Tanya Airyn lagi. Juna berbalik dan menatap wajah cantik Airyn yang terlihat sedikit murung. Ada apa dengan wanita nya? Kenapa berubah seperti ini padahal baru saja, dia terlihat sangat baik. 


"Lho, enggak sama sekali. Kamu kenapa sih? Ada sesuatu yang bikin kamu begini? Aku gak ngerasa kalau kamu nyusahin aku, sayang. Malahan yang ada, aku malah ngerasa sebaliknya. Aku yang terlalu bergantung sama kamu."


"Siapa yang bilang begitu? Gak ada lho, aku suka kalau kamu bergantung sama aku, meskipun aku tuh gak ngerasa kalau kamu bergantung sama aku." Jelas Airyn.


"Ya sama berarti, aku juga suka di repotin sama kamu padahal aku gak ngerasa kalau kamu ngerepotin aku sama sekali."


"Kita pasangan, jadi harus saling melengkapi kekurangan masing-masing kan?"


"Tentu saja, sayang." Jawab Juna sambil tersenyum, Airyn beranjak dari duduknya dan seperti biasa dia akan merecoki Juna yang tengah memasak. Tapi, meskipun begitu Juna tidak pernah keberatan sama sekali. Dia justru senang saat Airyn seperti ini.


......


🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2