
'Sayang, kamu masih di kantor?' Tanya Airyn di balik telepon.
"Iya, yang. Masih belum kelar ini kerjaan, kenapa?" Tanya Juna. Dia sedang mencuci piring, dengan ponsel yang di apit diantara pundak dan telinga.
'Aku di bawah, nungguin kamu.'
"Sayang, tunggu dulu ya. Sebentar lagi kok, ini lagi nyuci piring. Bentar lagi selesai kok." Jawab Arjuna lagi.
'Iya, aku sabar nungguin.' Balas Airyn. Juna pun langsung mengerjakan pekerjaan nya dengan cepat. Entahlah, mendengar kalau sang kekasih sudah menunggu di bawah, dia merindukan wanita itu. Sejak malam itu, dia seringkali merindukan kebersamaan nya dengan wanita kesayangan nya itu.
"Di kebut nyuci piring nya, kenapa lu?" Tanya Andika saat melihat Juna seperti terburu-buru.
"Cewek gue udah nunggu di bawah, jadi gue buru-buru. Lu selesaikan ya?"
"Hmm, kebiasaan Lu. Dahlah, sono pergi Lo." Ucap Andika, Juna pun segera pergi dia harus cepat karena tidak ingin membuat Airyn menunggu.
"Thanks ya, Dik."
"Gue dukung Lu sama Airyn." Jawab Dika sambil tersenyum. Juna pun menganggukan kepala nya lalu pergi. Dia mengganti pakaian kerja nya dengan Hoodie yang dia pakai tadi pagi. Juna memang lebih suka mengenakan Hoodie di bandingkan kemeja. Paling kaos oblong, itupun jika di rumah.
Juna berjalan dengan cepat, bahkan setengah berlari. Pemuda itu berjalan sambil mengecek tas kecil di pundak nya, setelah yakin tidak ada barang miliknya yang tertinggal, Juna pun berlari. Yang ada di dalam pikiran nya sekarang, hanyalah ingin cepat-cepat bertemu dengan kekasih nya yang sudah menunggu nya.
Akhirnya, Juna sampai di basement. Dia celingukan mencari keberadaan Airyn, namun nihil. Dia tidak menemukan Airyn dimana pun. Juna merogoh ponsel nya dan berniat untuk menghubungi nomor ponsel sang kekasih. Tapi, ada sepasang tangan yang melingkar di pinggang nya.
"Sayang.." Panggil suara yang sangat familiar bagi Juna, siapa lagi kalau bukan Airyn.
"Hey, kamu ngagetin aku."
"Hehe, maafin aku." Jawab Airyn, dia tersenyum kecil lalu kembali memeluk tubuh Juna dengan mesra. Juna membalas pelukan hangat sang kekasih, juga mengusap-usap puncak kepala wanita itu dengan lembut.
"Gapapa, sayang. Kamu jemput aku, tumben?"
"Lagi pengen aja, pulang yuk. Aku kangen, pengen manja-manjaan sama kamu."
"Malem ini kamu nginep atau pulang?" Tanya Juna. Airyn tersenyum lalu mencolek gemas hidung bangir Arjuna.
"Tebak dong, aku nginep atau pulang?"
"Dari wajah kamu sih, aku yakin kalau kamu nginep di apart, hehe." Jawab Juna yang membuat Airyn terkekeh pelan.
__ADS_1
"Betul, seratus buat kamu."
"Beneran, mau nginep?"
"Iya, aku nginep di apartemen. Besok baru pulang ke rumah." Jawab Airyn yang membuat wajah Juna berbinar seketika.
"Asik, jadi malam ini aku bisa main sama kamu dong." Ucap Juna sambil menaik turunkan alis nya dengan genit.
"Hahaha, boleh. Mau berapa ronde memang nya hmm?" Tanya wanita itu yang terdengar seperti tantangan bagi Juna.
"Nantangin nih? Aku mampu sepuluh ronde juga, tinggal kamu nya aja. Aku takut kamu nangis."
"Mana ada aku nangis sih." Ucap Airyn membuat Juna terkekeh.
"Beneran ya? Awas aja kalau baru lima ronde kamu udah nangis."
"Sayang, jangan sepuluh dong. Tiga deh ya?" Bujuk Airyn. Dia tahu seperti apa jika Juna sudah bermain. Selain itu, dia tahu seberapa besar milik Juna jika sudah sedang mode mengamuk meminta di puaskan, dia juga tahan lama. Pokoknya paket komplit, besar, panjang, berurat dan tahan lama.
"Cemen kamu, masa cuma tiga ronde."
"Sayang, kamu mau bunuh aku ya?"
"Mana ada aku mau bunuh kamu?"
"Oke, tiga ronde juga kalo durasi nya satu jam persatu ronde, ya berarti main nya tiga jam." Jawab Juna yang membuat Airyn terkejut. Tapi dia sendiri yang sudah meminta tiga ronde, wanita itu meringis ngilu hanya dengan membayangkan nya saja. Bayangkan saja, tiga jam bermain dengan milik Juna yang sebesar itu? Apa dia akan baik-baik saja esok hari?
"Sayang.."
"Iya, kenapa?"
"Aku yang nyetir ya?"
"Iya, sayang. Ini kunci nya, biasa." Jawab Airyn sambil memberikan kunci mobil nya pada Juna.
Juna pun masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Airyn. Wanita itu duduk dan memasang seatbelt, begitu juga Juna. Pemuda itu mulai melajukan kendaraan nya dengan kecepatan rata-rata.
"Sayang, berhenti dulu di pertigaan yang mau ke apartemen dong."
"Ngapain?" Tanya Juna.
__ADS_1
"Gak tau kenapa, kok pengen makan martabak telur." Jawab Airyn sambil tersenyum.
Ciitt..
"Aduh, sayang! Kenapa sih ngerem mendadak?" Tanya Airyn, untung saja dia mengenakan seatbelt kalau tidak dia bisa terbentur ke dashboard.
"Yang, baru tadi malem lho."
"Apa nya?"
"Kita ngelakuin nya, sayang. Masa langsung jadi sih?" Tanya Juna dengan wajah panik nya.
"Apa sih? Kamu kenapa panik gitu, Bby."
"Kamu ngidam martabak kan? Kamu hamil? Tapi, kita kan baru ngelakuin itu kemarin. Masa langsung jadi."
Mendengar pernyataan Juna, Airyn tergelak. Sedangkan Juna mengernyitkan kening nya, dia heran kenapa Airyn malah tertawa? Apa ada yang salah dengan ucapan nya ya?
"Memang nya, kalau ngidam itu harus hamil ya?"
"H-aahh? Y-ya enggak sih."
"Udah, gak usah banyak pikiran. Mana ada kemarin baru pecah perawaan terus besokan nya hamil." Jawab Airyn sambil terkekeh. Juna pun ikut tertawa, dia merasa lucu sendiri. Padahal tadi, dia yang mengatakan hal seperti itu.
Tepat di pertigaan, Juna pun menghentikan laju kendaraan nya dan turun dari mobil untuk membeli martabak telur pesanan sang kekasih. Sedangkan Airyn memilih untuk tetap berada di dalam mobil.
Juna menunggu dengan kesal, dia kesal bukan karena mengantri. Mengantri adalah hal yang wajar kalau membeli, terlebih kedai ini cukup terkenal karena rasa nya yang enak. Tapi dia kesal karena banyak gadis yang menggoda nya. Bukan nya senang, dia malah kesal setengah mati. Dari dulu, dia memang tidak suka di godain seperti ini. Tapi anehnya, Juna senang-senang saja saat Airyn yang mendekati nya.
"Lho, kok wajah nya di tekuk gitu sih, Yang?"
"Sebel aja, yang. Habis aku di godain cewek." Jawab Juna sambil memeluk wajah nya, Airyn tertawa mendengar jawaban Arjuna.
"Hahaha, biasa nya kan cowok suka tuh di godain cewek. Kok kamu malah sebaliknya?"
"Gak tahu, bawaan nya kesel aja. Sebel gitu, bikin bad mood." Jawab Juna yang membuat Airyn tersenyum. Baguslah, artinya Juna tidak akan mudah di goda oleh wanita. Ternyata Juna adalah tipe pria yang setia, sangat setia. Sesuai dengan kriteria nya.
"Yaudah, berarti kamu bisa di percaya ya."
"Mauu dong martabak nya, suapin." Pinta Juna. Airyn pun menyuapi sang kekasih dengan martabak telur yang di beli nya. Sesekali, mereka terlibat candaan yang membuat suasana di dalam mobil itu terasa hangat. Secara langsung, Airyn juga ingin mengembalikan mood Juna yang memburuk karena di godain gadis-gadis genit di tukang martabak.
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻