Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 68 - Bertemu Orang Tua Airyn


__ADS_3

Setelah selesai tadi bersiap-siap, kedua nya pun berangkat menggunakan sepeda motor yang baru saja di beli oleh Airyn. Wanita itu terlihat sangat antusias, dia memeluk pinggang Arjuna dengan erat. Dia juga menyandarkan dagu nya di pundak Juna. 


"Kamu senang, sayang?" Tanya Juna sedikit keras, karena kedua nya mengenakan helm juga karena hembusan angin yang cukup kuat membuat suara nyaris tidak terdengar.


"Seneng banget, yang. Ternyata jalan-jalan pake motor begini menyenangkan banget ya?"


"Haha, menyenangkan gimana? Dingin lho ini, kena angin." 


"Aku suka, aku bahagia banget apalagi kalau itu sama kamu, sayang." Jawab Airyn yang membuat Juna tersenyum.


"Mulai deh gombal nya."


"Idih, mana ada aku gombal. Aku seriusan lho ini, yang. Aku bakalan bahagia terus, kalau sama kamu." Jawab Airyn lagi membuat Juna hanya tersenyum lalu kembali memutar gas kendaraan roda dua itu, membuat Airyn tertawa. Dia bahagia, sungguh. Ini adalah pengalaman nya yang pertama, dia memang baru pertama kali jalan-jalan malam seperti ini naik motor bersama orang terkasih. Istilah anak sekarang tuh night ride. 


"Yang, mau jajan dong." Pinta Airyn. 


"Jajan apa, yang? Street food mau?" Tanya Juna. Airyn langsung menganggukan kepala nya mengiyakan, entahlah makanan bermicin itu terasa menari-nari di dalam pikiran nya. 


"Mau mau mauuu.." Ucap Airyn, Juna tertawa mendengar jawaban Airyn.


"Oke, sayang." 


Tinggal beberapa menit lagi mereka akan sampai, namun mereka terjebak lampu merah. Juna mengentikan laju kendaraan nya, sambil menunggu lampu berganti menjadi hijau kembali, Juna mengusap-usap kedua lutut sang kekasih. Membuat Airyn tersenyum, sambil mengeratkan pelukan nya di pinggang Juna.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya lampu nya pun berubah menjadi hijau, Juna kembali melajukan kendaraan nya dengan kecepatan rata-rata. 


"Yang, mau itu gak?" Tanya Juna sambil menunjuk ke arah salah satu stand makanan yang terlihat menarik. Dia masih mampu kalau hanya membelikan Airyn makanan seperti ini. 


"Gak mau, aku mau nya tuh telur gulung. Kata Maudy, itu enak."


"Enak, tapi ya gitu berminyak. Apa kamu gak takut kulit kamu rusak?" Tanya Juna. Airyn tergelak mendengar ucapan Juna.


"Enggak lah, mana ada kulit aku rusak. Gak bakalan kok, ayo cepet." 


"Oke deh." Jawab Juna. Dia pun kembali fokus melajukan kendaraan nya, masih dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya, segelas beberapa menit berlalu, kedua nya pun sampai di sebuah pasar malam. Disana ada banyak sekali orang-orang yang berjualan makanan ala street food.


"Sayang, aku mau ini, terus ini sama itu." Tunjuk Airyn dengan antusias. Juna tersenyum lucu, lalu menggenggam tangan mungil Airyn dan menarik nya secara perlahan. 


"Mau yang mana duluan?"


"Telur gulung, of course!" Jawab Airyn, Juna tertawa melihat reaksi Airyn yang bagk nya terlihat sangat menggemaskan.


"Yaudah, ayoo.." Juna pun mengajak Airyn ke pedagang telur gulung. 


"Mau berapa?"

__ADS_1


"H-ahh? Apanya?"


"Telur gulung nya, sayang."


"Ohh, terserah kamu aja." Jawab Airyn. Pemuda itu pun menganggukan kepala nya mengiyakan. 


"Bang, telur gulung nya 15 ribu." 


"Siap, kak. Duduk dulu."


"Yuk duduk dulu, yang." Ajak Juna. Airyn menurut, dia tidak melepaskan genggaman tangan Juna sedetik pun, dia tidak mau hilang disini. Karena tempat nya sangat ramai, maklum lah ini adalah malam Minggu. Jadi, tempat nya pasti ramai oleh para pemuda pemudi yang berjalan-jalan dengan orang terkasih, termasuk Juna dan Airyn.


"Yang, ini malam minggu ya?"


"Iya, ini malem Minggu, sayang. Kenapa?"


"Gapapa, pantesan aja rame gini."


"Hahaha, kamu gak pernah malam mingguan gitu?" Balik tanya Juna lagi. 


"Enggak pernah, yang."


"Hah?"


"Seriusan deh, keluar malem-malem pake motor juga baru kali ini doang, sama kamu." Jawab Airyn yang membuat Juna merasa bangga. Karena, dia adalah pria pertama bagi Airyn. Pertama karena dia yang sudah merenggut kesucian nya, pertama juga yang mengajak nya jalan-jalan malam keluar rumah, jajan di pinggir jalan naik motor malem mingguan.


"Punten, ini telur gulung nya." Ucap abang-abang penjual telur gulung itu. Juna pun menerima nya dan dia memberikan uang nya pada abang-abang itu.


"Kamu boleh jajan sesuka kamu dengan budget seratus ribu ya?"


"Hah, aku bisa beli pake uang aku sendiri, sayang." Jawab Airyn. 


"Tidak, kali ini biarkan aku yang membelikan mu jajanan. Aku sadar, aku tidak bisa membelikan mu barang-barang mewah, atau membahagiakan mu dengan uang, tapi untuk masalah seperti ini aku masih mampu." Jelas Arjuna, yang mana itu membuat Airyn tersanjung. Dia merasa Juna memang sangat-sangatlah cocok dengan nya. 


"Baiklah."


"Selanjutnya, ayang mau makan apa?"


"Itu, aku mau itu." Tunjuk Airyn ke arah pedagang jajanan yang menjual cilok. 


"Oke, ayo beli." 


Juna pun membelikan apapun yang di inginkan oleh Airyn, wanita itu hanya tinggal menunjuk saja makanan yang dia inginkan dan Juna segera membelikan nya. 


"Yang, kue cubit nya ngantri. Ayang duduk dulu disini, biar aku aja yang ngantri." Ucap Juna. Airyn pun menganggukan kepala nya, Juna pun mengambil kursi dan membiarkan sang kekasih duduk disana, sembari menunggu Juna mendapatkan kue cubit nya, Airyn memakan telur gulung nya dengan lahap. Rasanya sangat enak, gurih dan lembut. Hanya saja memang berminyak dan juga bermicin. 

__ADS_1


Namun itu tidak menjadi masalah bagi Airyn karena dia suka. Lagipun, kalau dia memakan nya hanya sekali-sekali saja, mungkin itu masalah. 


"Lho, Airyn. Kamu disini?"


Kedua mata Airyn terhenyak ketika melihat kedua orang yang kini berdiri di depan nya, dia menelan ludah nya dengan susah payah sekarang. Bagaimana ini?


"Sayang, ini kue cubit nya." Ucap Juna sambil memberikan kotak berisi kue cubit pesanan Airyn. Kue cubit rasa coklat yang menjadi pilihan wanita cantik itu dan Juna berhasil mendapatkan nya.


"Kamu pelayan yang waktu itu di restoran kan?" 


"Aahh iya, selamat malam Tuan dan Nyonya." Sapa Juna dengan ramah. Berbeda dengan Airyn yang sedari tadi hanya diam saja. Dia bungkam, dengan wajah yang memerah. 


Haruskah orang tua nya mengetahui hubungan nya dengan Juna sekarang? Jujur, dia belum siap untuk mempertemukan Juna dan kedua orang tua nya, karena dia merasa tidak yakin dengan respon mereka nanti. 


"Malam.."


"Ada hubungan apa antara kau dan putriku?" Tanya nya, yang membuat Juna terdiam. 


"Maksud nya, Tuan?"


"Kau memanggil dia dengan panggilan sayang tadi."


"Dia putri anda?" Tanya Juna dengan wajah polos nya. Jonathan menganggukan kepala nya, membuat Juna membeku seketika. Apa ini? Kenapa harus sekarang? Disaat Juna berpenampilan ala kadarnya seperti ini. 


"Dia putriku satu-satunya, jadi katakan ada hubungan apa kau dengan nya?" Tanya Jonathan lagi. 


"Dia pacar Airyn, Dad. Tolong, jangan membuat Juna ketakutan."


"Lho, siapa memang nya yang menakut-nakuti pacar mu? Perasaan Daddy tidak menakut-nakuti nya, Daddy hanya bertanya apa kalian memiliki hubungan. Itu saja." Jawab Jonathan sambil menyedekapkan tangan di dada nya. 


"Dan sekarang, Daddy sudah mengetahui nya kan?"


"Lalu, kenapa kau tidak memperkenalkan pacar mu pada Daddy hmm?"


"Belum, Airyn belum siap mengenalkan Daddy dan Mami bertemu dengan nya. Itu saja."


"Baiklah, perkenalkan kekasih mu sekarang." Pinta Monica, pada putri nya.


"Juna, Arjuna. Dia pacar Airyn, puas?"


"Dia bekerja di restoran di mall xxx kan?"


"Mami.."


"Benar, Nyonya. Saya bekerja disana." Jawab Juna dengan senyum simpul nya, dia terlihat ramah dan seperti biasa, selalu di penuhi oleh energi positif. 

__ADS_1


......


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2