
Hari-hari terasa cepat sekali berlalu, hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Juna dan Airyn. Dimana, hari ini mereka akan mengikat janji suci di hadapan Tuhan. Juna terlihat sangat gagah dengan mengenakan jas hitam yang membalut tubuhnya.
Di hadapan nya, ada Airyn yang berjalan pelan melewati karpet merah yang terbentang dengan rapih. Wanita cantik yang tengah berbadan dua itu berjalan dengan Jonathan yang menggandeng putrinya. Keduanya berjalan dengan perlahan, hingga sampai di hadapan Juna yang sudah lama menunggu kedatangan sang mempelai perempuan.
"Aku menyerahkan tanggung jawab atas putriku padamu, Arjuna Reksa. Mulai saat ini, jagakan putriku, putri kesayangan ku satu-satunya, putri yang selalu aku banggakan setiap saat. Kini aku memberikan hak padamu, cintai dan sayangi dia dengan tulus." Ucap Jonathan lirih. Suara nya terdengar bergetar ketika mengatakan hal itu.
Jujur saja, ini adalah tugas yang cukup berat bagi Arjuna karena mulai saat ini tanggung jawabnya bertambah, ada Mamak Mirna, Nana sang adik dan kini istri juga anak yang tengah Airyn kandung.
"Jika pun nanti kau sudah tidak menginginkan putriku lagi, kembalikan dia secara baik-baik sebagaimana saat kau datang padaku untuk meminang nya. Aku akan kembali menerima putriku, tangan ku akan senantiasa merengkuh dan memeluk erat putriku." Ucap Jonathan lagi.
"Saya akan melakukan nya, Dad. Terimakasih karena sudah mempercayai saya untuk menjagakan putri anda."
"Jangan sia-siakan kepercayaan ku ini, Arjuna."
"Saya tidak bisa berjanji, tapi saya akan mengusahakan yang terbaik untuk Airyn dan anak kami." Jawab Arjuna. Jonathan menepuk pelan pundak Juna, lalu dia pun kembali ke tempat duduknya. Airyn dan Juna pun melanjutkan langkah mereka ke depan pemuka agama yang sudah menunggu di atas altar.
__ADS_1
Keduanya pun mengikat janji suci, Juna mengatakan nya dengan lantang dan tegas. Dia tidak ragu sama sekali, begitu pun dengan Airyn. Acara puncak itu pun terlaksana dengan sempurna tanpa ada halangan apapun. Setelah ini, mereka pun resmi menjadi pasangan suami istri.
Mamak Mirna mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air mata, dia merasa sangat bahagia atas pernikahan putranya. Tapi dia juga merasa sedih, karena acara sakral ini dia hanya melihatnya sendiri. Harusnya di sampingnya ada sang suami yang juga melihat saat putranya bersanding dengan wanita pujaan.
"Pak, putra kita sudah dewasa sekarang. Bahkan saat ini dia sudah memiliki istri dan calon anak, meskipun caranya salah tapi dia adalah pria yang bertanggung jawab kan, Pak? Dia menerima hukuman dari seorang ayah karena telah merusak putrinya tanpa rasa gentar, dia menerima nya dengan lapang dada."
"Pak, bapak melihat nya kan? Arjuna terlihat sangat gagah dan tampan, sama seperti bapak dulu. Mamak rindu, Pak. Nanti malam, datang ke mimpi Mamak ya, Pak." Gumam Mamak dengan lirih. Rasanya sangat menyesakkan dada tatkala dia mengingat semua tentang mendiang sang suami.
Andai saja beliau masih disini, dia pasti sangat bahagia dan mungkin hal semacam ini takkan terjadi. Maksudnya, Juna tak mungkin merusak seorang wanita hingga wanita itu hamil dan mengandung bakal calon pewaris keturunan nya.
Pasangan suami istri itu pun berjalan mendekat ke arah Mamak Mirna duduk, tanpa banyak kata yang keluar dari mulut Juna, pemuda itu langsung bersujud di kaki sang ibu dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajah tampan nya.
"Juna.."
"Mak, maafin Arjuna karena udah bikin Mamak kecewa, maafin Juna, Mak.." lirih Arjuna dengan sesenggukan.
__ADS_1
"Nak, Mamak sudah memaafkan kamu. Tolong jangan begini, ini hari bahagiamu, Nak." Ucap Mirna yang berusaha membuat Juna berdiri.
"Juna merasa sangat bersalah karena Juna sudah buat Mamak nangis. Maafin Juna gak bisa nepatin janji Juna yang gak bakalan bikin Mamak nangis. Tapi pada kenyataan nya, Juna cuma jadi sumber rasa sakit buat Mamak. Maafin Juna, Mak."
"Arjuna, Mamak sudah memaafkan semua kesalahan kamu, Nak. Demi Tuhan dan semua orang sebagai saksi, mamak sudah memaafkan kekhilafan kamu, Nak."
"Mamak.." Tanpa ragu, Juna segera memeluk sang ibu dengan erat. Hanya Mamaklah yang dia miliki sekarang, dia yang melahirkan dan membesarkan nya sendirian, bagi Juna sang ibu adalah malaikat nya, pahlawan yang paling berjasa dalam hidupnya.
"Mamak, Airyn juga minta maaf. Ini juga bukan sepenuhnya salah Juna, ini juga salah Airyn, maafin Airyn juga ya, Mak." Airyn bersiap untuk melakukan hal yang sama dengan sang suami, tapi Mamak langsung menahan niat wanita itu. Dia malah memeluk tubuh wanita itu dan mengecup kening Airyn beberapa kali.
"Mamak sudah memaafkan kesalahan kalian berdua, jangan menunduk seperti itu, Nak. Ingat kamu sedang mengandung, jangan melakukan hal-hal yang tak penting seperti ini ya. Mamak sudah memaafkan kamu juga Juna, selamat berbahagia. Mamak selalu mendoakan apapun yang terbaik untuk kalian berdua."
......
🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1