Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 56 - Kunjungan Orang Tua Airyn


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, kedua nya pun berangkat ke tempat kerja masing-masing. Hari ini, Juna tidak pergi ke tempat kursus mengemudi karena orang yang biasa mengajari nya sedang pulang kampung katanya, entah berapa lama. Jadi, karena itu Juna pun mengambil sift pagi untuk beberapa hari ke depan, dan memutuskan untuk mengambil sift siang juga malam juga. 


Awalnya, Juna selalu menolak mengambil sift malam karena dia khawatir kalau meninggalkan kekasih nya di apartemen sendirian, tapi sekarang wanita itu pulang ke rumah orang tua nya. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk nya tidak mengambil sift malam kalau ada kesempatan. 


"Sayang, aku kerja dulu ya.."


"Iya, semangat kerja nya, sayangku." Balas Airyn, dia tersenyum manis menatap wajah tampan Arjuna yang terlihat segar pagi ini. Mungkin karena rasa rindu nya sudah tersalurkan, jadi membuat mood nya membaik sekarang. 


"Kamu juga, sayang. Aku cinta kamu.." Ucap Juna sambil mencium bibir Airyn singkat, namun tanpa mengurangi kemesraan di antara kedua nya.


"Aku juga cinta sama kamu, bocilku."


"Yaudah, aku kerja dulu. Nanti malem kamu pulang ke apartemen gak?"


"Kayaknya enggak, sayang. Maaf ya?"


"Hmm, gapapa deh. Jangan minta maaf gitu, sayang. Kalau kamu gak pulang ke apart, aku ngambil sift malam nanti."


"Pulang jam berapa? Jangan malem-malem pulang nya. Apalagi kamu pulang sendirian, aku khawatir sama keselamatan kamu."


"Aku pulang sama Dika kok, di bonceng pake motor, sayang. Jangan khawatir, aku bakalan baik-baik aja kok. Aku kan cowok kuat." Jawab Juna sambil menunjukkan otot bisep nya yang memang terlihat besar, membuat Airyn ngeri sendiri apalagi mengingat kalau tubuh nya berbeda jauh dengan Juna. Bagaimana kalau dia di geprek sama Juna ya? 


"Kamu butuh motor, sayang?"


"H-aahh? Enggak kok, yang." Jawab Arjuna. Sebenarnya, dia memang memerlukan kendaraan sendiri agar dia bisa bebas bepergian kemana pun tanpa harus nebeng pada Dika. Dia juga merasa tidak enak pada teman nya itu karena terlalu sering meminjam dan nebeng pada nya. Padahal, Dika tidak pernah keberatan sama sekali. 


"Yaudah, sana kerja. Semangat ya, sayangku."


"Iya, hati-hati bawa mobil nya. Jangan ngebut ya, sayangku." Peringat Juna dan langsung di angguki oleh sang kekasih. Juna pun turun dari mobil dan wanita itu pun segera melajukan kendaraan nya dengan kecepatan rata-rata.


Juna pun masuk ke dalam kawasan mall itu, dia bersiap untuk bekerja seperti biasa nya. Disana, sudah ada Dika yang terlihat sedang mencuci piring dan juga membereskan meja.

__ADS_1


"Dik.."


"Ehh, baru dateng lu, Jun?" Tanya Andika. 


"Hmm, iya nih."


"Tumben siang, biasa nya tuh Lo datang paling pagi." Jawab Dika. Memang, biasa nya Juna datang pertama, sebelum yang lain datang, Juna sudah menyapu dan mengelap meja juga mengatur posisi meja dan kursi agar terlihat lebih rapih. 


"Biasa lah, kangen-kangenan dulu sama ayang."


"Ckk, bucin amat Lo, Jun." Ledek Andika yang membuat Juna memutar mata nya dengan jengah. 


"Sirik aja Lo jomblo."


"Dih ngeselin, awas aja ya.."


"Hahaha, sorry sorry." Jawab Juna sambil terkekeh, dia pun segera mengambil alat pel dan juga sapu. Tak lupa, dia mengenakan seragam nya juga topi khas restoran siap saji tempat dia bekerja. 


Juna mengusap keringat nya, sekarang tugas nya adalah mencuci piring yang kotor lalu mengelap nya menggunakan tissu. Disaat berkeringat seperti itu, bukan nya di jauhi karena bau asam keringat, namun para wanita malah akan bergantian mendekati nya. Juna terlihat berkali-kali lipat jauh lebih tampan disaat dia berkeringat. 


"Hai.." Sapa seorang gadis yang terlihat manis, dia tersenyum pada Juna yang membuat kening pemuda itu mengernyit. Dia sudah biasa seperti ini, disaat sibuk bekerja pasti ada saja yang membuat dirinya kesal. Seperti saat ini, dia sering kali di datangi oleh gadis-gadis untuk meminta nomor ponsel atau semacam nya. 


"Hmm, ada apa ya? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Juna. 


"Ada, boleh minta nomor ponsel nya gak, kak?"


"Nomor ponsel saya cuma satu, jadi gak bisa di kasih sama siapapun, maaf ya." 


"08 berapa, kak?"


"Gak usah ngeyel, nanti pacar saya marah." Jawab Juna dengan wajah datar nya, membuat gadis itu mengerucutkan bibir nya lalu memilih pergi sebelum Juna mengeluarkan kata-kata pedas dari mulut nya. 

__ADS_1


"Ckk, cewek-cewek napa pada gatel dah? Emang bener, cuma cewek gue yang normal. Dia mana ada gatel." Gumam Arjuna sambil menggelengkan kepala nya. 


Siang hari nya, disaat makan siang. Suasana restoran sangat ramai oleh pengunjung yang akan makan siang di restoran yang cukup mewah dan berkelas ini. Namun harga makanan nya tidak terlalu mencekik. Tetap saja, di lihat dari keadaan ekonomi orang nya dulu. Kalau untuk anak kost an seperti Juna, makanan disini cukup menguras kantong terlebih dia harus berhemat agar bisa memberikan uang secara rutin ke kampung.


Sepasang suami istri masuk dengan sang wanita yang menggandeng mesra lengan suami nya. Kedua nya nampak menyoroti restoran ini lalu memilih duduk di salah satu meja yang kosong. 


"Selamat siang, Tuan dan Nona. Mau pesan apa? Ini menu nya." Sapa Juna dengan ramah. Dia tersenyum manis, itulah Juna dia terkenal sebagai pelayan yang ramah, namun hanya pada pelanggan saja. Dia juga pilih-pilih orang, kalau orang nya gak sopan, gak mungkin harus di baikin kan? Ogah bener. 


"Siang, kami ingin memesan menu terbaik disini. Best seller nya apa?"


"Menu terbest seller disini yang ini, Tuan. Steak Wagyu A5."


"Seperti nya enak, pesan dua porsi. Medium rare ya." Jawab pria itu sambil tersenyum kecil.


"Baik, di tunggu sebentar Tuan dan Nona."


"Siapa nama mu, anak muda?" Tanya nya lagi, Juna tersenyum lalu menyebutkan nama nya tanpa rasa curiga sedikitpun.


"Arjuna, anda bisa memanggil saya Juna atau Arjun." Jawab Juna. Pria paruh baya itu menyunggingkan senyuman tipis nya, lalu Juna pun berpamitan untuk segera memberikan pesanan itu pada chef di dapur agar pelanggan tidak terlalu lama menunggu. 


"Ma.." Panggil Jonathan, ya pasangan suami istri yang datang berkunjung ke restoran itu adalah Jonathan dan Sintia. Kedua orang tua Airyn. 


Awalnya, Jonathan terlihat sangat terkejut saat melihat kalau pemuda yang hari itu bersama Airyn ternyata bekerja di restoran ini sebagai seorang waiters atau pelayan. 


"Iya, Pa. Kenapa?"


"Menurut Mama, bagaimana pemuda yang barusan?"


"Ramah sih, anak nya keliatan baik terus sopan. Ganteng juga, kayaknya tipe pemuda yang mandiri deh, soalnya keliatan dari wajah nya sih masih muda tapi udah mau kerja." Jelas Sintia sambil tersenyum kecil. Penilaian yang sama seperti Airyn dan memang benar, Juna adalah pemuda yang mandiri dan pekerja keras. Dia menanggung beban berat di pundak nya, menjadi tulang punggung keluarga di usia nya yang masih sangat muda. 


"Dia adalah pemuda yang Papa ceritakan itu, Ma."

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2