Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 90 - Melamar Airyn


__ADS_3

Flashback on..


Arjuna terdiam di kamar nya, ponsel nya yang berdering beberapa kali tidak dia hiraukan sama sekali. Saat ini perasaan nya benar-benar kacau, namun pikiran nya saat ini di penuhi oleh Airyn. Hanya wanita itu yang kini di pikirkan nya. 


Juna asik melamun, hingga tak menyadari kalau sedari tadi ada Mamak yang melihat gerak-gerik putra nya itu. Dia merasa khawatir dengan hubungan Juna dan Airyn. Mereka terlihat seperti menjaga jarak, padahal saat di kampung mereka sangat lengket. Dia yakin kalau saat ini mereka tengah memiliki masalah. 


Dengan pelan, Mamak mengetuk pintu kamar Juna yang memang sudah terbuka. Membuat Juna menoleh dan menatap sang ibu dengan tatapan yang tak dapat di artikan. 


"Boleh Mamak masuk, Nak?" Tanya Mamak sambil tersenyum. Juna menganggukan kepala nya, Mamak pun masuk ke kamar putra nya setelah dia mengizinkan. 


"Kamu kenapa, kok diem aja dari tadi? Gak makan? Mamak udah masakin makanan kesukaan kamu lho." Ucap Mamak, tapi Juna hanya menunjukkan wajah datarnya. 


"Juna lagi gak nafssu makan." 


"Kenapa? Ada masalah ya sama Airyn? Mamak perhatikan kalian diam-diaman aja dari kemarin." 


"Airyn tuh udah dewasa tapi kayak anak kecil, Mak. Juna kesel, tapi Juna juga cinta banget sama dia." Jawab Arjuna, membuat Mamak tersenyum.


"Namanya juga wanita, Nak. Usia nya yang dewasa bukan berarti sifat nya juga, disini kamu yang bertindak sebagai kekasihnya kan? Berarti kamu yang harus dewasa, tidak peduli meskipun usia kamu jauh lebih muda dari Airyn." 


"Jadi, kamu kesel kenapa? Cerita sama Mamak, Nak. Jangan di pendam sendiri, nanti kamu bisa sakit lho." Ucap Mamak sambil mengusap pundak lebar Juna. 


"Juna tahu, mungkin Mamak akan marah besar kalau tahu yang sebenarnya. Perlu Mamak tahu kalau anak yang selama ini Mamak bangga-banggakan ternyata tidak lebih dari seorang pria brengseek." Juna menundukkan kepala nya. 


Mamak menatap putranya dengan tatapan sendu, dari cara putranya mengatakan hal itu, sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang terjadi dan masalah apa yang tengah menimpa putranya saat ini. 


"Cara bicaramu seperti mengatakan semuanya, Nak. Katakan kalau apa yang Mamak pikirkan itu salah."


"Maaf, Mak. Tapi itu benar, maafkan Juna. Tapi sekarang, mungkin Airyn sedang mengandung anak Juna." Lirih Arjuna sambil menatap Mamak dengan sendu, lalu segera menundukkan kepala nya. Dia tidak bisa menatap tatapan kecewa dari sang ibu, sejauh ini dia tidak pernah mengecewakan ibunya. Tapi sekarang, dia malah mengecewakan sosok wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan masalah sebesar ini. 


"Juna.."


"Maafkan Juna, Mak.."


"Lalu, apa yang membuatmu kesal dan menilai Airyn kekanakan?" Tanya Mamak, dia mencoba tegar. Dia tidak ingin menangis dan mengotori janji sang putra yang sudah berjanji untuk tidak pernah membuatnya meneteskan air mata. Bahkan disaat seperti ini saja, disaat dia di kecewakan oleh Juna, dia masih memikirkan putranya. Hebatnya seorang ibu menyayangi putranya. 

__ADS_1


"Dia bilang belum siap hamil, Mak. Dia bilang ingin fokus pada karir nya dulu, seperti nya dia berniat membunuh anak kami, padahal saat melakukan nya dia tidak menunjukkan penyesalan apapun." 


"Jangan terburu-buru menilai sesuatu yang mungkin belum kamu ketahui, Nak. Airyn itu bukan kekanakan, tapi dia memikirkan nasibnya ke depannya akan bagaimana. Kalian belum menikah, tapi dia sudah hamil. Lalu apa yang akan di katakan oleh orang-orang tentang kalian?" Tanya Mamak membuat Juna mendongak dan menatap wajah sang ibu. 


"Saat ini, Airyn menjabat di perusahaan kan? Sebagai apa?"


"CEO, Mak."


"Kamu berpikir kalau dengan berita kehamilan nya itu akan membuat perusahaan nya berantakan, Nak? Lalu, mengejar karir? Tentu, karena dari awal pun Airyn adalah wanita karir. Dengan apa yang dia pegang dan dia miliki saat ini, itu bukanlah pencapaian yang kecil, Nak. Perlu usaha yang gigih dan kerja keras untuk bisa sampai di posisi itu."


"Mamak rasa, ada wajarnya kenapa Airyn mengatakan belum ingin hamil dan fokus akan karir terlebih dulu. Tapi membunuh janin yang tidak berdosa juga tidak akan pernah Mamak benarkan karena itu perbuatan keji, Nak." Ucap Mamak sambil menatap Juna yang juga menatap ke arahnya. 


"Masalah ini, seharusnya bisa di selesaikan dengan kepala dingin. Jangan terlalu terburu-buru dalam membuat keputusan, karena bagaimana pun anak itu tidak bersalah. Jika ada yang bersalah disini adalah kalian sebagai orang tuanya. Kenapa melakukan hal itu sebelum menikah? Kalian sudah sama-sama dewasa dalam menyikapi hal ini, kenapa tidak berpikir dua kali sebelum melakukan itu hmm?" Tanya Mamak Mirna, lagi-lagi Juna menundukkan kepala nya. Dia malu pada sang ibu saat ini. 


"Dengan kalian melakukan hal itu, meskipun memakai pengaman atau tidak, hal ini pasti akan terjadi sebagai resiko. Kalian tahu itu bukan?"


"Maaf, Mak. Juna di buatkan nafssu.."


"Biarlah itu menjadi urusan kalian berdua, tapi khusus untukmu, kamu adalah seorang laki-laki yang memiliki tanggung jawab besar, Nak. Maka dari itu, secepatnya lamar dia pada orang tua nya, nikahi Airyn sebelum kehamilan nya semakin besar, Nak." Ucap Mamak Mirna, membuat Juna menangis sesenggukan sambil memeluk sang ibu.


"Agak sedikit membutuhkan waktu untuk bisa memaafkan kesalahan mu yang ini, Nak. Ini kesalahan yang sangat besar dan fatal, kamu berjanji takkan pernah merusak wanita kan? Lalu kenapa bisa sampai menghamili seorang wanita tanpa mengingat janji itu, Nak?" 


"Mamak, maafin Juna.."


"Lakukan permintaan Mamak, Nak. Baru setelah itu Mamak akan memaafkan mu, untuk sekarang biarlah Mamak memikirkan semuanya."


"Mak.."


"Mamak ke kamar dulu, Nana mungkin terbangun. Kamu makan ya? Tidak baik menahan lapar, nanti perut kotak-kotak kamu mengempis dan berubah jadi adonan bolu." Ucap Mamak, lalu pergi dan menutup pintunya dengan perlahan. 


Juna bisa melihat raut wajah penuh kekecewaan yang di tunjukkan oleh sang ibu, tapi dia pantas mendapatkan hal itu karena kesalahan nya bukan? Ini memang kesalahan yang sangat besar dan mungkin tak pantas di maafkan.


"Maafin Juna, Mak. Juna gak bisa nepatin janji Juna buat gak pernah bikin Mamak nangis. Sekarang, Juna malah bikin Mamak nangis karena ulah Juna. Maaf, Mak. Juna harap Mamak bisa memaafkan kesalahan Juna.." 


Flashback Off..

__ADS_1


Sore harinya, Juna dan Airyn datang ke mansion. Disana sudah ada Jo dan Monica yang menatap pasangan kekasih itu dengan raut wajah datarnya. Seperti nya, mereka sudah memiliki feeling kenapa Juna datang kemari tanpa di dampingi oleh sang ibu. 


Tapi pasangan itu masih bisa tersenyum, namun genggaman tangan yang begitu erat bisa menyiratkan semuanya. 


"Selamat malam, Dad."


"Hmm, malam kembali. Juna kamu kesini? Ibu mu tak ikut?" Tanya Jonathan. 


"Nana lagi sakit, Dad." Jawab Juna sambil tersenyum canggung, memang Nana sedang demam saat ini. Tadi pagi, dia mendadak demam. 


"Ohh, bagaimana pekerjaan kalian?"


"Lancar-lancar saja kok, Dad." Jawab Airyn sambil menarik tangan Juna untuk duduk di sampingnya.


"Kenapa wajahmu begitu gugup, Juna? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Jonathan. Juna yang mendengar hal itu mengeratkan genggaman tangan nya di tangan Airyn, sungguh demi apapun dia gugup dan takut saat ini. Tapi dia laki-laki, jadi dia harus berani bukan? Berani berbuat, berarti berani dengan semua konsekuensinya.


"Dad, Juna ingin meminta izin untuk menikahi Airyn."


"Menikah? Kenapa mendadak? Kalian tidak melakukan kesalahan kan?" Tanya Jonathan, matanya menatap tajam ke arah Airyn dan Juna.


"Katakan!" Tegas Jonathan. 


"A-anu, Dad.."


"Jangan bertele-tele, pasti ada alasan kenapa kau ingin menikahi Airyn kan?" Tanya pria paruh baya itu. 


"M-maaf Dad.."


"Maaf untuk apa, Airyn?" Tanya Monica, akhirnya wanita itu juga turut mengeluarkan suaranya.


"Airyn hamil, Mom." 


"H-hahh?..."


......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2